Claim Missing Document
Check
Articles

Quality of Life Among Male Patients Undergoing Hemodialysis: A KDQOL-SF-Based Study Iriane, Vincentia Maria; Setyawan, Yuswanto
PROMOTOR Vol. 8 No. 3 (2025): JUNI
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/pro.v8i3.1489

Abstract

This study aims to explore the quality of life of male patients undergoing hemodialysis using the KDQOL-SF (Kidney Disease Quality of Life Short Form) instrument. Hemodialysis is a crucial therapy for patients with chronic kidney disease (CKD), but it has a significant impact on the patients' quality of life, both physically and psychosocially. The population selected in this study consists of CKD patients currently undergoing hemodialysis in Malang. The sample will include 100 patients aged 50-70 years in Malang. The collected data will then be statistically analyzed using Chi-square and Spearman's rank correlation test. Based on the Spearman correlation, the quality of life of chronic kidney patients increased by 59% and was shown to have a significant effect. Men generally tend to be less emotionally expressive and are more likely to internalize their burdens. If they lack a supportive psychosocial environment, feelings of loneliness and isolation increase, worsening depressive symptoms. Kidney disease causes an accumulation of toxins (uremia), which is known to affect brain function and mood. Hormonal imbalances due to kidney dysfunction may also lead to decreased levels of serotonin and testosterone, contributing to depression and reduced energy. It is recommended to conduct longitudinal studies to observe the psychological changes in male patients from the start of therapy to the following years. It is also important to explore gender-sensitive approaches, as men and women have different ways of coping with chronic illness. Focusing on masculinity, social roles, and self-identity could be a relevant research theme.
HUBUNGAN FREKUENSI KONSUMSI MAYONES DENGAN KELUHAN DISPEPSIA FUNGSIONAL PADA PEGAWAI KANTOR Ledo, Naldi; Setyawan, Yuswanto
Jurnal LENTERA Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal LENTERA
Publisher : Stikes Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Functional digestive disorders or dyspepsia are common complaints frequently experienced by office workers, mainly due to sedentary lifestyles and unhealthy eating patterns. One often overlooked trigger is the consumption of high-fat foods such as mayonnaise, which is commonly found in instant and fast foods. This community service activity was conducted in Pasuruan City with the aim of providing nutrition education and increasing awareness of the relationship between the frequency of mayonnaise consumption and symptoms of functional dyspepsia. The program included an initial questionnaire on mayonnaise consumption habits and digestive complaints, followed by interactive health education sessions, training on low-fat meal planning, simulations on how to read nutrition labels, and group discussions based on case studies. A total of 150 office employees actively participated in the two-day program. Data evaluation using Chi-square and Spearman correlation tests revealed a significant relationship between high-frequency mayonnaise consumption and the occurrence of dyspeptic symptoms such as nausea, epigastric pain, and bloating. Additionally, there was an observed increase in participants' nutritional understanding and their commitment to adopting healthier eating behaviors. These findings indicate that educational interventions in the workplace can be an effective strategy for preventing digestive disorders related to excessive fat intake.
STRESS MENYEBABKAN DIARE PADA PEKERJA KANTORAN Setyawan, Yuswanto
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.43848

Abstract

Pravelensi diare di Indonesia terus meningkat setiap tahun, hal tersebut juga dialami para pekerja kantoran yang diduga disebabkan oleh stress. Tujuan penelitian ini menambah literatur terkait diare dan stress khususnya terkait pekerja kantor baik swasta maupun pemerintahan. Total partisipan yaitu 155 pekerja kantoran yang ada di Surabaya. Selanjutnya data diolah menggunakan SPSS dan korelasi spearman. Kriteria penelitian yaitu pekerja kantoran yang mengalami gejala stress minimal 2x dalam 1 bulan. Hasilnya Dari 155 partisipan mayoritas mengalami kejadian stress presentase diatas 70% dengan penyebab tertinggi yaitu kesulitan untuk tenang setelah sesuatu yang mengganggu 74,2% dan pada kejadian diare gejala tertinggi yang dialami yaitu tinja encer atau berair sebesar 68,4%. Hubungan Stress terhadap Diare memiliki nilai koefisien korelasi r hitung 0.737 tergolong kategori Kuat maka semakin tinggi tingkat stress dapat meningkatkan kejadian diare pada pekerja kantoran. Saran bagi penelitian selanjutnya dapat menggunakan depression anxiety stress scales (dass 42) sebagai kuesioner dan melakukan pemeriksaan feses untuk mengetahui tingkat keparahan diare pada masing masing partisipan Kata Kunci : Diare, Stress, Pekerja Kantoran
POLA MAKAN TIDAK TERATUR DENGAN KEJADIAN DISPEPSIA PADA IBU RUMAH TANGGA DI WILAYAH PERKOTAAN Wijaya, Wilson Gani; Setyawan, Yuswanto
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48322

Abstract

Dispepsia merupakan gangguan pencernaan fungsional yang prevalensinya tinggi di wilayah perkotaan, terutama pada kelompok ibu rumah tangga. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti kembung, nyeri ulu hati, dan mual, yang dapat menurunkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pola makan tidak teratur dan kejadian dispepsia pada ibu rumah tangga di daerah perkotaan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sampel berjumlah 120 ibu rumah tangga yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner terstruktur yang memuat informasi frekuensi dan keteraturan makan, serta riwayat gejala dispepsia. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki pola makan tidak teratur, seperti melewatkan waktu makan atau makan pada jam yang berbeda setiap hari, dan mengalami gejala dispepsia. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan tidak teratur dengan kejadian dispepsia (p<0,05). Ketidakteraturan waktu makan berpotensi menyebabkan gangguan motilitas lambung, peningkatan sekresi asam, serta ketidakseimbangan hormon gastrointestinal. Disimpulkan bahwa pola makan tidak teratur merupakan faktor risiko penting terjadinya dispepsia pada ibu rumah tangga di wilayah perkotaan. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi gizi, peningkatan kesadaran akan pentingnya jadwal makan teratur, serta pengelolaan stres.
Korelasi Kualitas Tidur Pekerja Pabrik Dengan Kejadian Vertigo Setyawan, Yuswanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i2.2558

Abstract

Vertigo is a strange condition that is often not realized and/or undiagnosed in the workplace, characterized by dizziness, blurred vision, loss of balance, nausea and vomiting. The aim of this research is to determine the impact of sleep quality on the incidence of vertigo. This research is a quantitative cross sectional and was tested using the chi square test and Spearman correlation. This study used a population of all factory workers in the city of Sidoarjo. The sample used was 100 factory workers who experienced dizziness at least once a month. The questionnaire used is the Vertigo symptom scale. The results show that there is a relationship between the Sleep Quality variable and Vertigo with a strong relationship strength category with a correlation value of -0.572, meaning that 57% of sleep quality influences the incidence of vertigo in factory workers. Suggestions for future researchers can use qualitative methods with interviews to get more detailed results for each respondent. Suggestions for future researchers can use methods in the form of interviews.
Pengaruh Intervensi Jus Alpukat Tanpa Gula Selama 14 Hari terhadap Kadar LDL dan HDL pada Dewasa dengan Risiko Hiperkolesterolemia Abdillah , Winda; Setyawan, Yuswanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i2.2825

Abstract

Hiperkolesterolemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh intervensi selama 14 hari menggunakan jus alpukat tanpa gula terhadap kadar kolesterol LDL dan HDL pada orang dewasa dengan risiko hiperkolesterolemia yang meningkat. Penelitian ini merupakan studi analitik kuantitatif dengan desain eksperimen pre–post tanpa kelompok kontrol, melibatkan 176 responden dewasa berusia 25–55 tahun di Surabaya, Indonesia. Partisipan dipilih secara purposive, dan data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur serta pemeriksaan profil lipid puasa pada Hari ke-0 dan Hari ke-15. Intervensi terdiri dari konsumsi harian 200 mL jus alpukat segar tanpa gula yang dibuat dari 100 gram daging alpukat matang. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji t berpasangan atau uji Wilcoxon signed-rank, Chi-Square, dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan penurunan signifikan kadar LDL (rata-rata penurunan = 14,2 mg/dL; p < 0,001) dan peningkatan signifikan kadar HDL (rata-rata peningkatan = 4,6 mg/dL; p < 0,001). Analisis Spearman juga menunjukkan korelasi signifikan antara tingkat kepatuhan dengan perubahan LDL (r = –0,423; p < 0,001) dan HDL (r = 0,388; p < 0,001). Tidak ditemukan efek samping serius selama intervensi. Kesimpulannya, konsumsi jus alpukat tanpa gula setiap hari selama 14 hari secara signifikan memperbaiki profil lipid dan berpotensi menjadi strategi alami alternatif untuk pengelolaan kolesterol pada individu dengan risiko tinggi. Kata kunci: Jus alpukat; Kolesterol LDL; Kolesterol HDL; Hiperkolesterolemia; Intervensi diet; Pangan fungsional.
Identifikasi gejala, faktor risiko, dan pola paparan suhu rendah terhadap alergi dingin pada masyarakat tropis Ledo, Naldi; Setyawan, Yuswanto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1306

Abstract

Background: Cold allergy, or cold urticaria, is commonly reported in subtropical countries during extreme winter seasons. However, in tropical areas such as Indonesia, with increasing climate variability, there is a rising tendency of cold allergy symptoms in highland regions. The lack of adaptation to low temperatures in tropical populations may result in immunological hypersensitivity responses. Purpose: To identify symptoms, risk factors, and patterns of low temperature exposure to cold allergy in tropical communities. Method: This study used a cross-sectional design involving 200 respondents from Trawas, Prigen, and Pandaan. Cold exposure was assessed through questionnaires, categorized as high or low exposure. The dominant allergic symptoms, risk factors, and cold exposure patterns were identified. Chi-Square analysis tested the association between location and cold exposure, while Spearman correlation examined the relationship between exposure level and number of symptoms. Results: Chi-Square test showed a significant association between location and cold exposure (p = 0.0125), while Spearman correlation showed a moderate positive correlation between cold exposure and number of symptoms (ρ = 0.421; p = 0.0031). Trawas showed the highest rate of cold exposure with dominant symptoms being urticaria and itching, while Prigen showed prolonged exposure and symptoms like rash due to high humidity. Conclusion: There is a significant association between location and level of cold exposure, and a moderate positive correlation between cold exposure and number of allergic symptoms. Cold allergy is present even in tropical climates, especially in highland areas, indicating the need for clinical attention and climate-adaptive public health strategies. Suggestion: Further research should be conducted by adding more specific environmental variables such as air humidity, actual temperature in objective units, and the level of chronic exposure to low temperatures.   Keywords: Cold Allergy; Exposure to Low Temperatures; Symptoms; Tropical Communities.   Pendahuluan: Alergi dingin atau urtikaria dingin umumnya terjadi di negara subtropis saat musim dingin ekstrem. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, khususnya daerah dataran tinggi, fluktuasi suhu akibat perubahan iklim mulai memicu peningkatan kasus alergi dingin. Kurangnya adaptasi tubuh terhadap suhu rendah dapat menimbulkan reaksi imun berupa hipersensitivitas. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gejala, faktor risiko, dan pola paparan suhu rendah terhadap alergi dingin pada masyarakat tropis. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 200 responden dari Trawas, Prigen, dan Pandaan. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup tingkat paparan suhu, jumlah gejala alergi, dan lokasi tempat tinggal. Uji Chi-Square digunakan untuk menguji hubungan antar variabel kategori, sedangkan uji Spearman digunakan untuk melihat korelasi antara paparan dan gejala. Hasil: Uji Chi-Square menunjukkan hubungan signifikan antara lokasi dan paparan suhu dingin (p = 0.0125). Uji Spearman menunjukkan korelasi positif sedang antara tingkat paparan suhu dan jumlah gejala alergi (ρ = 0.421; p = 0.0031). Trawas memiliki tingkat paparan tertinggi dengan gejala dominan berupa gatal dan biduran, sedangkan Prigen menunjukkan paparan dingin berkepanjangan dengan gejala berupa ruam karena kelembaban tinggi.Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara lokasi dan tingkat paparan suhu dingin, serta korelasi positif sedang antara paparan dan gejala alergi. Fenomena alergi dingin dapat terjadi pada masyarakat tropis, terutama di dataran tinggi, sehingga diperlukan perhatian klinis dan strategi kesehatan berbasis adaptasi iklim. Saran: Penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan dengan menambahkan variabel lingkungan yang lebih spesifik seperti kelembaban udara, suhu aktual dalam satuan objektif, serta tingkat paparan kronis terhadap suhu rendah.   Kata Kunci: Alergi Dingin; Gejala; Masyarakat Tropis; Paparan Suhu Rendah.
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK PEKERJA KONSTRUKSI TERHADAP CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE Sholihah, Puput Mar'atus; Setyawan, Yuswanto
Menara Medika Vol 8, No 1 (2025): VOL 8 NO 1 SEPTEMBER 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v8i1.6431

Abstract

Pendahuluan: Penyakit paru obstruktif kronis (Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD) merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, dengan beban penyakit yang semakin meningkat terutama pada kelompok pekerja berisiko tinggi. Pekerja konstruksi termasuk populasi yang rentan karena terpapar debu, polusi, dan faktor gaya hidup seperti kebiasaan merokok, di mana data WHO menunjukkan lebih dari 80% kasus COPD berkaitan langsung dengan paparan asap rokok. Di Indonesia, prevalensi merokok pada pekerja usia produktif, termasuk di sektor konstruksi, tetap tinggi, sehingga risiko terjadinya COPD semakin besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan merokok dan kejadian COPD pada pekerja konstruksi di Sidoarjo, serta mengukur kekuatan dan arah hubungan tersebut berdasarkan nilai signifikansi dan koefisien korelasi. Metode: penelitian ini menggunakan desain cross-sectional deskriptif dengan metode purposive sampling, mengumpulkan data menggunakan Lung Function Questionnaire (LFQ), dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta uji Korelasi Spearman melalui SPSS pada 200 responden (100 perokok dan 100 bukan perokok). Hasil: penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dan kejadian COPD (Chi-Square, p 0,05) dengan nilai koefisien korelasi Spearman r = 0,426 yang termasuk kategori sedang dengan arah positif, menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas merokok, semakin besar risiko terjadinya COPD. Diskusi: Secara rinci, pekerja berusia 40–49 tahun mengalami gejala COPD 15% lebih sering dibanding kelompok usia lainnya, lama merokok 10–20 tahun meningkatkan risiko COPD sebesar 22%–38%, dan konsumsi lebih dari 5 batang rokok per hari meningkatkan risiko COPD sebesar 22,5%–27,5% dibanding yang tidak merokok. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan spirometri sebagai alat ukur tambahan serta mempertimbangkan faktor genetik yang dapat memengaruhi kerentanan terhadap COPD.
CORRELATION BETWEEN DAILY SODIUM INTAKE AND SYSTOLIC BLOOD PRESSURE IN ELDERLY PATIENTS WITH ESSENTIAL HYPERTENSION Basudewa, I Nyoman Arhi; Setyawan, Yuswanto
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025): JUNI
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v9i2.2862

Abstract

Hypertension remains a major global public health problem, particularly among the elderly. This study aims to analyze the correlation between daily sodium intake and systolic blood pressure in older adults with essential hypertension. A cross-sectional study was conducted on 127 elderly respondents using a validated Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) to assess daily sodium intake and a calibrated Omron HEM-7121 digital sphygmomanometer to measure systolic blood pressure. Data were analyzed using Spearman’s rank correlation test. The results showed a significant positive correlation between daily sodium intake and systolic blood pressure (r = 0.423; p < 0.001). Respondents who consumed more than 4000 mg of sodium per day tended to have systolic blood pressure above 160 mmHg. This finding suggests that excessive sodium intake contributes significantly to elevated systolic pressure in elderly individuals with essential hypertension. The study highlights the urgent need for sodium reduction interventions tailored to the elderly population as part of community-based hypertension control programs.
PETS AS THERAPY: THE ROLE OF CATS AND DOGS IN REDUCING STRESS AND BLOOD PRESSURE Indratiawati, Indratiawati; Setyawan, Yuswanto
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 9 No. 3 (2025): SEPTEMBER
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v9i3.2909

Abstract

Pet ownership, particularly of cats and dogs, has been increasingly recognized as contributing to human health and well-being. Globally, cardiovascular disease and stress-related disorders remain significant health burdens, including in Indonesia where the prevalence of hypertension continues to rise. This study analyzed the relationship between keeping cats and dogs with stress reduction and blood pressure levels among 150 adult respondents in Sidoarjo using chi-square and Spearman correlation tests. The findings demonstrated that individuals who owned or interacted regularly with pets showed significantly lower levels of stress and better cardiovascular responses compared to those without pets. This suggests that cats and dogs can play a complementary role in community-based health promotion strategies by providing natural, non-pharmacological support to mental and physical health. The results further highlight the potential integration of animal-assisted approaches in public health programs, emphasizing their accessibility and sustainability. Future research is encouraged to explore long-term impacts and differences across demographic groups to strengthen the application of pet-assisted health interventions.