Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Aktivitas Panitia Lomba Agustusan dengan Keluhan Kelelahan dan Gangguan Kesehatan Ringan Wiyono, Mohamad; Setyawan, Yuswanto
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22199

Abstract

ABSTRACT  This study explores the relationship between the activity intensity of community committees during Indonesian Independence Day celebrations and the occurrence of fatigue-related health complaints such as dizziness, mild fever, and “masuk angin” (a common local term for malaise). The purpose was to analyze whether increased organizational workload is associated with higher risk of health disturbances among volunteers. The research applied an observational analytic design using a cross-sectional approach with a sample of 135 respondents, analyzed using Chi-Square and Spearman correlation tests. The results indicated a significant relationship between committee activity levels and reported health complaints, confirming that excessive workload and insufficient rest may increase the risk of mild health disorders. The study concludes that proper task distribution, adequate rest, and preventive health education are essential to protect committee members’ well-being during large-scale community events. Future research is recommended to integrate psychosocial, environmental, and lifestyle factors for a more comprehensive understanding of health risks associated with volunteer workloads. Keywords: Committee Activity, Fatigue, Health Complaints, Community Events  ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara intensitas aktivitas panitia pada perayaan Hari Kemerdekaan dengan munculnya keluhan kesehatan terkait kelelahan seperti pusing, meriang, dan masuk angin. Tujuan penelitian adalah menganalisis apakah beban kerja panitia yang meningkat berhubungan dengan risiko gangguan kesehatan ringan pada relawan. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 135 responden, serta analisis dilakukan dengan uji Chi-Square dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat aktivitas panitia dengan keluhan kesehatan, sehingga dapat disimpulkan bahwa beban kerja berlebih dan kurangnya waktu istirahat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ringan. Penelitian ini menekankan pentingnya pembagian tugas yang proporsional, istirahat yang cukup, serta edukasi pencegahan kelelahan untuk menjaga kesehatan panitia dalam kegiatan komunal berskala besar. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengintegrasikan faktor psikososial, lingkungan, dan gaya hidup guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai risiko kesehatan akibat beban kerja panitia. Kata kunci: Aktivitas Panitia, Kelelahan, Keluhan Kesehatan, Kegiatan Masyarakat
Korelasi Konsumsi Kopi Kekinian dengan Gejala GERD pada Generasi Z Setyawan, Yuswanto
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 5 No 2 (2024): Jurnal teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v5i2.369

Abstract

Generasi Z menjadikan kopi kekinian sebagai gaya hidup yang lumrah tanpa memperhatikan batasan konsumsi wajar dan dampanya pada kesehatan pencernaan terutama organ lambung. Penelitian ini bertujuan menambah literatur terkait GERD karena konsumsi kopi kekinian yang berlebih pada generasi Z seiring banyaknya brand kopi kekinian. Data diolah menggunakan SPSS dan dianalisis korelasi spearman. Pada penelitian ini memiliki total sampel 100 dengan 50 wanita dan 50 pria partisipan dari generasi Z. dengan kriteria minimal mengonsumsi kopi kekinian minimal 4x dalam seminggu Berdasarkan data didapat bahwa 65% generasi Z mengalami GERD. Partisipan pria, 25 orang (25%) mengalami GERD, sedangkan 18 orang (18%) tidak mengalami GERD. Pada partisipan wanita, 40 orang (40%) mengalami GERD dan 17 orang (17%) tidak mengalami GERD. Partisipan wanita cenderung lebih banyak mengalami gerd dibandingkan dengan partisipan pria. Pada uji korelasi Spearman menunjukkan nilai P value sebesar 0.0001, lebih kecil dari 0.05, yang mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin yang berbeda dan kejadian GERD. Koefisien korelasi sebesar 0,703 berada pada kategori kuat karena mendekati +1 artinya semakin sering generasi Z mengonsumsi kopi kekinian semakin meningkat pula kejadian GERD yang dialami. Sebagai saran, untuk penelitian mendatang melakukan penelitian dengan kuesioner GERD-HRQL yang betujuan untuk menilai hasil simptomatik dan efek terapeutik dengan variable tambahan seperti tingkat stress, intensitas olahraga dan lainnya serta dan ditambahkan metode seperti wawancara agar mendapatkan informasi lebih mendalam secara personal pada masing-masing partisipan dan keterkaitannya dengan kopi kekinian dan penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Hubungan Lama Konsumsi Obat Antihipertensi dengan Fungsi Ginjal (EGFR) pada Pasien Hipertensi Stadium 2 Christian Kutanggas, Rivo; Setyawan, Yuswanto
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.22889

Abstract

Penurunan fungsi ginjal merupakan salah satu komplikasi jangka panjang pada pasien hipertensi, terutama hipertensi stadium 2 yang tidak terkontrol. Evaluasi fungsi ginjal umumnya menggunakan estimasi laju filtrasi glomerulus (estimated Glomerular Filtration Rate/eGFR) berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama konsumsi obat antihipertensi dengan nilai eGFR pada pasien hipertensi stadium 2. Penelitian dilakukan secara analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 150 pasien hipertensi stadium 2 di sebuah fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan pemeriksaan laboratorium serum kreatinin untuk menghitung eGFR menggunakan rumus CKD-EPI. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama konsumsi obat antihipertensi dengan fungsi ginjal berdasarkan nilai eGFR (p<0,05). Pasien dengan durasi konsumsi ≥10 tahun cenderung memiliki eGFR normal (≥90 mL/min/1.73m²), sementara kelompok dengan durasi konsumsi <5 tahun lebih banyak mengalami penurunan eGFR <60 mL/min/1.73m². Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa konsumsi obat antihipertensi jangka panjang berhubungan dengan fungsi ginjal yang lebih baik pada pasien hipertensi stadium 2.
Correlation of Seblak Consumption to Hypertension in Generation Z: Korelasi Konsumsi Seblak Terhadap Hipertensi Pada Generasi Z Setyawan, Yuswanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i1.2528

Abstract

This research aims to find out how spicy eating (seblak) is related to hypertension in generation Z. The research method used was cross-sectional with a descriptive model analyzed using SPSS with the chi-square test and Spearman correlation test. The population is all generation Z who consume seblak in Sidoarjo Regency, a total sample of 100 consisting of 50 women and 50 men. The results of this research are that based on research and analysis carried out on generation Z consumption of seblak and hypertension, it was found that out of 100 people who consumed seblak, 50 men and 50 women related to the tendency to experience hypertension, women were accompanied by the most symptoms, namely dizziness with a percentage of 19-28% and on average generation Z did not know if they had hypertension, the most symptom was heart palpitations with a percentage of 23-28%. This research shows that consuming seblak can increase the risk of hypertension in generation Z, especially women. As a suggestion for further research, it is hoped that research will focus more on UPF foods or ultra-processed foods contained in spicy foods and their impact on generation Z.   Keywords: Spicy Food, Hypertension, Generation Z
Korelasi Kualitas Tidur Pekerja Pabrik Dengan Kejadian Vertigo Setyawan, Yuswanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i2.2558

Abstract

Vertigo is a strange condition that is often not realized and/or undiagnosed in the workplace, characterized by dizziness, blurred vision, loss of balance, nausea and vomiting. The aim of this research is to determine the impact of sleep quality on the incidence of vertigo. This research is a quantitative cross sectional and was tested using the chi square test and Spearman correlation. This study used a population of all factory workers in the city of Sidoarjo. The sample used was 100 factory workers who experienced dizziness at least once a month. The questionnaire used is the Vertigo symptom scale. The results show that there is a relationship between the Sleep Quality variable and Vertigo with a strong relationship strength category with a correlation value of -0.572, meaning that 57% of sleep quality influences the incidence of vertigo in factory workers. Suggestions for future researchers can use qualitative methods with interviews to get more detailed results for each respondent. Suggestions for future researchers can use methods in the form of interviews.
The Effect of Industrial Noise Exposure on Hypertension Incidence Among Factory Workers in Surabaya Sholihah, Puput Mar'atus; Setyawan, Yuswanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i1.2647

Abstract

In Surabaya, as one of Indonesia's industrial centers, many factory workers are exposed to high noise levels daily. However, specific data on the relationship between industrial noise exposure and hypertension incidence among factory workers in Surabaya is still limited. This study aims to assess the association between industrial noise exposure and hypertension among factory workers in Surabaya. This study aims to assess the association between industrial noise exposure and hypertension among factory workers in Surabaya. The collected data were analyzed using appropriate statistical tests, such as the Chi-Square test and Spearman correlation. The Spearman correlation analysis indicates that industrial noise exposure contributes to a 62% increase in the incidence of hypertension among factory workers in Surabaya, particularly affecting women at a higher rate than men. Higher noise levels correlate with a greater risk of developing hypertension. Noise from factory machinery also increases hypertension risks more significantly among female workers and employees over 40 years old, regardless of gender. Keywords; Industrial noise exposure; Hypertension; Factory workers
Pengaruh Intervensi Jus Alpukat Tanpa Gula Selama 14 Hari terhadap Kadar LDL dan HDL pada Dewasa dengan Risiko Hiperkolesterolemia Abdillah , Winda; Setyawan, Yuswanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i2.2825

Abstract

Hiperkolesterolemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh intervensi selama 14 hari menggunakan jus alpukat tanpa gula terhadap kadar kolesterol LDL dan HDL pada orang dewasa dengan risiko hiperkolesterolemia yang meningkat. Penelitian ini merupakan studi analitik kuantitatif dengan desain eksperimen pre–post tanpa kelompok kontrol, melibatkan 176 responden dewasa berusia 25–55 tahun di Surabaya, Indonesia. Partisipan dipilih secara purposive, dan data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur serta pemeriksaan profil lipid puasa pada Hari ke-0 dan Hari ke-15. Intervensi terdiri dari konsumsi harian 200 mL jus alpukat segar tanpa gula yang dibuat dari 100 gram daging alpukat matang. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji t berpasangan atau uji Wilcoxon signed-rank, Chi-Square, dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan penurunan signifikan kadar LDL (rata-rata penurunan = 14,2 mg/dL; p < 0,001) dan peningkatan signifikan kadar HDL (rata-rata peningkatan = 4,6 mg/dL; p < 0,001). Analisis Spearman juga menunjukkan korelasi signifikan antara tingkat kepatuhan dengan perubahan LDL (r = –0,423; p < 0,001) dan HDL (r = 0,388; p < 0,001). Tidak ditemukan efek samping serius selama intervensi. Kesimpulannya, konsumsi jus alpukat tanpa gula setiap hari selama 14 hari secara signifikan memperbaiki profil lipid dan berpotensi menjadi strategi alami alternatif untuk pengelolaan kolesterol pada individu dengan risiko tinggi. Kata kunci: Jus alpukat; Kolesterol LDL; Kolesterol HDL; Hiperkolesterolemia; Intervensi diet; Pangan fungsional.
Correlation Between Probiotic Use And Blood Pressure In Hypertensive Adults: A Cross-Sectional Study Sultan, Dharma; Setyawan, Yuswanto
Jurnal Pharmacopoeia Vol 4 No 2 (2025): September 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jp.v4i2.1081

Abstract

Hypertension remains a significant global health burden and is closely linked to cardiovascular morbidity. Emerging evidence suggests that gut microbiota plays an essential role in modulating blood pressure, particularly through the use of probiotics and prebiotics. This study investigated the relationship between the frequency of probiotic consumption and blood pressure control in patients with essential hypertension. A total of 100 hypertensive adults participated in this cross-sectional study, and data were collected through structured interviews, food frequency questionnaires, and blood pressure assessments. Statistical analyses included Chi-square and Spearman correlation tests. The results demonstrated a significant association between higher frequency of probiotic intake and better blood pressure control (p = 0.008), with a moderate negative correlation (r = –0.45) observed between intake duration and systolic blood pressure. Additionally, individuals who consumed both probiotics and prebiotic-rich foods exhibited enhanced blood pressure improvement. These findings support the potential of probiotic-prebiotic synergy in modulating gut microbiota to regulate blood pressure. The incorporation of prebiotics is essential, as they serve as substrates that stimulate the growth and activity of beneficial bacteria, thereby optimizing the efficacy of probiotic supplementation. The study highlights the practical implications of dietary interventions targeting the gut environment as a complementary strategy in hypertension management. Keywords: Hypertension, Probiotics, Prebiotics, Gut microbiota, Blood pressure
Gambaran Status Nutrisi pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Kota Surabaya: Description of Nutritional Status in Patients with Chronic Kidney Diseasepatients Undergoing Hemodialysis in the City of Surabaya Laurensia Budi, Stephanie; Setyawan, Yuswanto; Harsa Sekarputri, Cempaka
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 10 No. 3 (2024): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v10i3.6113

Abstract

Penyakit ginjal kronik adalah penurunan bertahap fungsi ginjal, dimana terjadi kerusakan atau laju filtrasi glomerulus (LFG) di bawah 60 mL/menit selama minimal 3 bulan, menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan cairan. Kasus gagal ginjal yang telah mencapai kategori stadium akhir serta ginjal yang tidak berfungsi, memerlukan hemodialisis untuk mengeluarkan zat racun yang ada di dalam tubuh. Akan tetapi, selain bisa membuang zat berbahaya dan cairan yang berlebih, hemodialisis juga bisa menghilangkan nutrisi yang sangat masih dibutuhkan oleh tubuh, layaknya glukosa, protein, serta juga vitamin larut air, dan mineral. Tujuan: Mengetahui gambaran dari status nutrisi yang ada pada pasien penyakit ginjal kronik yang sudah menjalani terapi hemodialisis di kota Surabaya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara menggunakan kuisioner Dialysis Malnutrition Score serta dilakukan pengukuran antropometri pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di kota Surabaya. Hasil: pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di kota Surabaya mengalami malnutrisi tahap ringansedang sebanyak 65 orang (68%), sebagian besar memiliki indeks massa tubuh yang normal sebanyak 54 orang (56%), sebagian besar memiliki lingkar lengan atas yang normal sebanyak 60 orang (62%), dan Sebagian besar memiliki lingkar perut yang berlebihan sebanyak 45 orang (47%). Kesimpulan: Jumlah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di kota Surabaya sebagian besar mengalami penurunan status nutrisi pada tahap ringan-sedang dengan jumlah 65 orang atau sebesar 68% dari 96 total responden.
Korelasi Olahraga Renang dan Kejadian Hipotermia pada Anak Setyawan, Yuswanto
Jurnal Kesehatan Jasmani dan Olahraga (KEJAORA) Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Kejaora (Kesehatan Jasmani dan Olah Raga)
Publisher : Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/kejaora.v10i2.5194

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis korelasi renang dan hipotermia pada anak.  Penelitian ini merupakan cross sectional meggunakan SPSS dan korelasi spearman dengan 100 partisipan yaitu anak yang berenang minimal 1x dalam 1 minggu. Hasilnya olahraga renang dapat meningkatkan kejadian hipotermia sebanyak 57,2% pada anak apabila dilakukan terlalu sering dengan durasi lama dan kondisi tubuh anak yang kurang sehat. . Upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan pemanasan dan 30-60 menit sebelumnya bisa mengonsumsi makanan seperti buah, roti atau biscuit.  Untuk penelitian selanjutnya diharapkan bisa melakukan observasi lapangan dengan membandingkan antar 2 kelompok yang mendapat perlakuan serta tidak dapat perlakuan khusus.