Claim Missing Document
Check
Articles

CORRELATION BETWEEN HIGH-PURINE DIET PATTERNS AND URIC ACID LEVELS AMONG THE ELDERLY IN PASURUAN REGENCY Setyawan, Yuswanto
HEARTY Vol 14 No 1 (2026): FEBARURI
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v14i1.21814

Abstract

Hyperuricemia is a common metabolic disorder among the elderly and is closely associated with gout, renal impairment, and cardiovascular disease. A high-purine diet is one of the major modifiable factors influencing serum uric acid levels, yet evidence among Indonesian older adults remains limited. This study aimed to examine the correlation between high-purine dietary patterns and serum uric acid levels among elderly individuals in Pasuruan Regency, East Java. A cross-sectional analytic observational design was applied to 120 respondents aged ≥60 years, selected using a simple random sampling technique. Data were obtained through structured interviews, a validated Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), and laboratory testing of serum uric acid levels. The results revealed a moderate positive correlation between the High-Purine Diet Score (HPDS) and serum uric acid concentration (r=0.42; p<0.001). The overall prevalence of hyperuricemia was 23.3%, with the highest proportion (37.5%) observed among participants with high HPDS. The study concludes that higher purine intake is significantly associated with elevated serum uric acid levels in the elderly, emphasizing the need for dietary counseling and public health interventions focused on balanced nutrition in older populations.
Hubungan Paparan Suara Bising dari Sound Horeg dengan Kejadian Vertigo pada Masyarakat di Kota/Kabupaten Malang Vincentia Maria Iriane; Yuswanto Setyawan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v18i2.3082

Abstract

Noise exposure from sound horeg is an environmental factor that may affect hearing and body balance. This study aimed to analyze the relationship between sound horeg noise exposure and the incidence of vertigo among residents in Malang Regency. This research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach involving 316 respondents living near sound horeg activity areas. Data were collected using questionnaires and a sound level meter to measure noise intensity, then analyzed using the Chi-Square test. The results showed a significant relationship between noise levels and the incidence of vertigo (p < 0.05), indicating that higher noise intensity increases the risk of vertigo occurrence. It was concluded that sound horeg noise exposure can trigger vestibular system disturbances that affect body balance. The study recommends stricter regulation of noise levels and increased public awareness of the health impacts of loud sound exposure. Keywords: noise exposure, sound horeg, vertigo, vestibular system, public health
Sanitasi Destinasi dan Ketahanan Tubuh: Diare sebagai Risiko Tersembunyi Wisatawan Anik Suharna; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.21837

Abstract

ABSTRACT Traveler’s diarrhea remains one of the most frequent health issues encountered during travel, especially in destinations with inadequate sanitation. Environmental factors such as water quality, waste disposal, and food hygiene play a critical role in determining exposure to enteric pathogens. Additionally, the immune resilience of the traveler significantly affects susceptibility to gastrointestinal infections. This study aimed to examine the correlation between destination sanitation and immune resilience with the incidence of diarrhea among tourists. A quantitative cross-sectional design was employed, involving 100 respondents who had visited tropical areas within the past six months. Data were collected using a questionnaire adapted from the Health Belief Model and analyzed using chi-square and Spearman correlation tests. The results revealed a significant association between poor sanitation and diarrhea incidence (p 0.05), while lower immune resilience was positively correlated with increased diarrhea risk (ρ = 0.452; p 0.01). These findings highlight the need for comprehensive prevention strategies, including health education, immunization, and improved hygiene infrastructure at tourism destinations. Traveler’s diarrhea, although often overlooked, poses a serious threat to travel comfort and safety. Keywords: Traveler’s Diarrhea, Sanitation, Immune Resilience, Healthy Tourism  ABSTRAK Diare wisatawan merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap terjadi selama perjalanan, terutama ketika mengunjungi destinasi dengan tingkat sanitasi yang buruk. Faktor lingkungan seperti kualitas air, pengolahan limbah, dan kebersihan makanan berperan besar dalam memengaruhi risiko diare. Di sisi lain, ketahanan tubuh individu juga menentukan seberapa rentan seseorang terhadap infeksi enterik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara kondisi sanitasi destinasi dan ketahanan tubuh terhadap kejadian diare pada wisatawan. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang terhadap 100 responden yang melakukan perjalanan ke daerah tropis dalam enam bulan terakhir. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang dikembangkan berdasarkan model Health Belief Model, dianalisis menggunakan uji chi-square dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanitasi buruk secara signifikan berhubungan dengan kejadian diare (p 0,05), sementara ketahanan tubuh yang rendah juga memperbesar risiko diare secara bermakna (ρ = 0,452; p 0,01). Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap faktor lingkungan dan kondisi kesehatan wisatawan sebelum melakukan perjalanan. Strategi pencegahan berupa edukasi kesehatan, vaksinasi, dan peningkatan sanitasi destinasi dapat mengurangi risiko diare sebagai penyakit tersembunyi yang mengancam kenyamanan wisata. Kata Kunci: Diare Wisatawan, Sanitasi, Ketahanan Tubuh, Pariwisata Sehat
Analisis Hubungan Riwayat Konsumsi Kopi Terhadap Gangguan Tidur Pada Pegawai Kantor Felicia Kwando; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.21514

Abstract

ABSTRACT Caffeine, commonly found in coffee, is widely consumed by working adults to maintain alertness. However, excessive intake may interfere with sleep regulation. This study aimed to analyze the relationship between coffee consumption history including frequency and daily caffeine dose and sleep disturbances among office employees. This research used a quantitative correlational design involving 150 office workers in City X. Data were collected using validated questionnaires and analyzed with Spearman correlation tests. There was a significant negative correlation between coffee consumption frequency and sleep onset (ρ = -0.482; p 0.001), daily caffeine intake and sleep quality (ρ = -0.524; p 0.001), as well as a combined effect of frequency and dose on overall sleep disturbance (ρ = -0.496; p 0.001). Coffee consumption is a notable factor influencing sleep among office workers. Both how often and how much coffee is consumed impact sleep onset and quality, making this behavior a relevant aspect in workplace health management. Keywords: Coffee Intake, Caffeine, Sleep Quality, Office Workers, Spearman Correlation ABSTRAK Kafein yang terkandung dalam kopi merupakan stimulan yang umum dikonsumsi oleh pekerja untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, asupan berlebih dapat mengganggu kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara riwayat konsumsi kopi meliputi frekuensi dan dosis harian kafein—dengan gangguan tidur pada pegawai kantor. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 150 responden pegawai kantor di Kota X. Data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Ditemukan hubungan negatif yang signifikan antara frekuensi konsumsi kopi dan onset tidur (ρ = -0,482; p 0,001), jumlah kafein harian dan kualitas tidur (ρ = -0,524; p 0,001), serta kombinasi keduanya terhadap tingkat gangguan tidur secara keseluruhan (ρ = -0,496; p 0,001). Konsumsi kopi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap gangguan tidur pada pegawai kantor. Baik frekuensi maupun dosis harian kafein memiliki peran terhadap kualitas dan kemudahan tidur, sehingga penting untuk diperhatikan dalam program kesehatan kerja. Kata Kunci: Konsumsi Kopi, Kafein, Kualitas Tidur, Pegawai Kantor, Korelasi Spearman
Frekuensi Konsumsi Pepaya Sebagai Prediktor Gejala Wasir: Cross Sectional Study Wargiati Wargiati; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22225

Abstract

ABSTRACT Hemorrhoids remain a common anorectal disorder with increasing prevalence, often associated with low dietary fiber intake. This study aims to determine the relationship between papaya consumption and hemorrhoidal symptoms among adults. A cross-sectional analytical study was conducted involving 220 respondents, equally divided between men and women. Data were collected through food frequency questionnaires and the Hemorrhoidal Symptom Score (HSS), which assesses bleeding, pain, itching, swelling, and incomplete evacuation. The analysis used Chi-Square and Spearman correlation tests. The results showed a strong negative correlation between papaya consumption frequency and hemorrhoid symptom severity. Respondents who consumed papaya more than five times per week had notably milder or no symptoms compared to those who rarely or never consumed it. This finding suggests that regular papaya intake, due to its high fiber, papain enzyme, and anti-inflammatory content, may significantly reduce the risk and severity of hemorrhoids. The study concludes that papaya can be promoted as a practical, affordable, and culturally acceptable preventive food option for hemorrhoid control in community settings. Keywords: Papaya, Hemorrhoids, Dietary fiber, Hemorrhoidal Symptom Score, Prevention  ABSTRAK Wasir tetap menjadi gangguan anorektal yang umum dengan prevalensi yang meningkat, seringkali terkait dengan asupan serat makanan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi pepaya dan gejala wasir pada orang dewasa. Studi analitik potong lintang dilakukan dengan melibatkan 220 responden, terbagi sama antara laki-laki dan perempuan. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi makanan dan Hemorrhoidal Symptom Score (HSS), yang menilai perdarahan, nyeri, gatal, pembengkakan, dan evakuasi yang tidak tuntas. Analisis menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang kuat antara frekuensi konsumsi pepaya dan tingkat keparahan gejala wasir. Responden yang mengonsumsi pepaya lebih dari lima kali per minggu mengalami gejala yang lebih ringan atau bahkan tidak mengalami gejala dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak pernah mengonsumsinya. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi pepaya secara teratur, karena kandungan serat, enzim papain, dan sifat antiinflamasi yang tinggi, dapat secara signifikan mengurangi risiko dan keparahan wasir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pepaya dapat dipromosikan sebagai pilihan makanan pencegahan yang praktis, terjangkau, dan dapat diterima secara budaya untuk pengendalian wasir di masyarakat. Kata Kunci: Pepaya, Wasir, Serat makanan, Hemorrhoidal Symptom Score, Pencegahan
Kebiasaan Hidrasi dan Kaitannya dengan Luaran Klinis pada Pasien dengan Diabetes Insipidus (DI) Indratiawati Indratiawati; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22094

Abstract

ABSTRACT Diabetes insipidus (DI) is a rare water balance disorder characterized by polyuria and polydipsia, potentially leading to dehydration, hypernatremia, and reduced quality of life. Adequate hydration is crucial to prevent complications and improve clinical outcomes. This study aimed to determine the relationship between hydration habits and clinical outcomes in DI patients.A cross-sectional study was conducted involving 150 DI patients at RS X in Surabaya from January to June 2025. Hydration habits were measured using a validated structured questionnaire, while clinical outcomes were assessed from serum sodium levels, urine osmolality, and hospitalization frequency. Data analysis used Chi-square and Spearman’s correlation tests with a significance level of p 0.05.Patients with good hydration habits had a lower incidence of hypernatremia (12.5% vs. 47.8%) and fewer hospitalizations (mean 0.6 vs. 2.1 times/year) compared to those with poor hydration (p = 0.004). Spearman’s correlation showed a significant positive correlation between hydration scores and clinical outcomes (r = 0.642, p 0.001). Good hydration habits are significantly associated with improved clinical outcomes in DI patients, supporting the importance of patient education and continuous hydration monitoring. Keywords: Diabetes Insipidus, Hydration Habits, Clinical Outcomes, Hypernatremia  ABSTRAK  Diabetes insipidus (DI) merupakan kelainan keseimbangan cairan yang jarang terjadi, ditandai dengan poliuria dan polidipsia, yang dapat mengakibatkan dehidrasi, hipernatremia, dan penurunan kualitas hidup. Kebiasaan hidrasi yang memadai sangat penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan luaran klinis. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kebiasaan hidrasi dengan luaran klinis pada pasien DI.Penelitian potong lintang dilakukan pada 150 pasien DI di RS X Surabaya periode Januari–Juni 2025. Kebiasaan hidrasi diukur menggunakan kuesioner terstruktur yang telah divalidasi, sedangkan luaran klinis dinilai dari kadar natrium serum, osmolaritas urin, dan frekuensi rawat inap. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p 0,05.Pasien dengan kebiasaan hidrasi baik memiliki kejadian hipernatremia lebih rendah (12,5% vs. 47,8%) dan frekuensi rawat inap lebih sedikit (rata-rata 0,6 vs. 2,1 kali/tahun) dibandingkan dengan kebiasaan hidrasi buruk (p = 0,004). Korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara skor hidrasi dan luaran klinis (r = 0,642; p 0,001).Kebiasaan hidrasi yang baik berhubungan signifikan dengan perbaikan luaran klinis pada pasien DI, sehingga edukasi pasien dan pemantauan hidrasi berkelanjutan sangat diperlukan.  Kata Kunci: Diabetes Insipidus, Kebiasaan Hidrasi, Luaran Klinis, Hipernatremia
Hubungan Aktivitas Panitia Lomba Agustusan dengan Keluhan Kelelahan dan Gangguan Kesehatan Ringan Mohamad Wiyono; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22199

Abstract

ABSTRACT  This study explores the relationship between the activity intensity of community committees during Indonesian Independence Day celebrations and the occurrence of fatigue-related health complaints such as dizziness, mild fever, and “masuk angin” (a common local term for malaise). The purpose was to analyze whether increased organizational workload is associated with higher risk of health disturbances among volunteers. The research applied an observational analytic design using a cross-sectional approach with a sample of 135 respondents, analyzed using Chi-Square and Spearman correlation tests. The results indicated a significant relationship between committee activity levels and reported health complaints, confirming that excessive workload and insufficient rest may increase the risk of mild health disorders. The study concludes that proper task distribution, adequate rest, and preventive health education are essential to protect committee members’ well-being during large-scale community events. Future research is recommended to integrate psychosocial, environmental, and lifestyle factors for a more comprehensive understanding of health risks associated with volunteer workloads. Keywords: Committee Activity, Fatigue, Health Complaints, Community Events  ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara intensitas aktivitas panitia pada perayaan Hari Kemerdekaan dengan munculnya keluhan kesehatan terkait kelelahan seperti pusing, meriang, dan masuk angin. Tujuan penelitian adalah menganalisis apakah beban kerja panitia yang meningkat berhubungan dengan risiko gangguan kesehatan ringan pada relawan. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 135 responden, serta analisis dilakukan dengan uji Chi-Square dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat aktivitas panitia dengan keluhan kesehatan, sehingga dapat disimpulkan bahwa beban kerja berlebih dan kurangnya waktu istirahat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ringan. Penelitian ini menekankan pentingnya pembagian tugas yang proporsional, istirahat yang cukup, serta edukasi pencegahan kelelahan untuk menjaga kesehatan panitia dalam kegiatan komunal berskala besar. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengintegrasikan faktor psikososial, lingkungan, dan gaya hidup guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai risiko kesehatan akibat beban kerja panitia. Kata kunci: Aktivitas Panitia, Kelelahan, Keluhan Kesehatan, Kegiatan Masyarakat
Korelasi Konsumsi Kopi Kekinian dengan Gejala GERD pada Generasi Z Yuswanto Setyawan
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 5 No 2 (2024): Jurnal teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v5i2.369

Abstract

Generasi Z menjadikan kopi kekinian sebagai gaya hidup yang lumrah tanpa memperhatikan batasan konsumsi wajar dan dampanya pada kesehatan pencernaan terutama organ lambung. Penelitian ini bertujuan menambah literatur terkait GERD karena konsumsi kopi kekinian yang berlebih pada generasi Z seiring banyaknya brand kopi kekinian. Data diolah menggunakan SPSS dan dianalisis korelasi spearman. Pada penelitian ini memiliki total sampel 100 dengan 50 wanita dan 50 pria partisipan dari generasi Z. dengan kriteria minimal mengonsumsi kopi kekinian minimal 4x dalam seminggu Berdasarkan data didapat bahwa 65% generasi Z mengalami GERD. Partisipan pria, 25 orang (25%) mengalami GERD, sedangkan 18 orang (18%) tidak mengalami GERD. Pada partisipan wanita, 40 orang (40%) mengalami GERD dan 17 orang (17%) tidak mengalami GERD. Partisipan wanita cenderung lebih banyak mengalami gerd dibandingkan dengan partisipan pria. Pada uji korelasi Spearman menunjukkan nilai P value sebesar 0.0001, lebih kecil dari 0.05, yang mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin yang berbeda dan kejadian GERD. Koefisien korelasi sebesar 0,703 berada pada kategori kuat karena mendekati +1 artinya semakin sering generasi Z mengonsumsi kopi kekinian semakin meningkat pula kejadian GERD yang dialami. Sebagai saran, untuk penelitian mendatang melakukan penelitian dengan kuesioner GERD-HRQL yang betujuan untuk menilai hasil simptomatik dan efek terapeutik dengan variable tambahan seperti tingkat stress, intensitas olahraga dan lainnya serta dan ditambahkan metode seperti wawancara agar mendapatkan informasi lebih mendalam secara personal pada masing-masing partisipan dan keterkaitannya dengan kopi kekinian dan penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Relationship between High Fat Diet and Risk of Hyperlipidaemia in Primary School Children in Surabaya Vincentia Maria Iriane; Yuswanto Setyawan
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 6 No 1 (2025): Jurnal teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v6i1.407

Abstract

The prevalence of hyperlipidaemia in children in Indonesia is 84.7%, which is very high. Although the health consequences of overweight in children are still poorly studied compared to adults, overweight in children has been consistently reported as a major risk factor for future metabolic conditions, such as type 2 diabetes mellitus, metabolic syndrome, cardiovascular disease, and some cancers. This study focuses specifically on primary school children only and the research location is in Surabaya. The purpose of this study was to analyse the relationship between the level of fat consumption and blood lipid levels in primary school children. This research method is cross-sectional. In this study, data were collected using the Modified Food Frequency Questionnaire (FFQ) and measurement of total cholesterol, LDL, HDL, and triglyceride levels through blood samples and analysed using chi square test and spearman correlation using SPSS Software. The results found that elementary school children who rarely consume high-fibre foods have a 6x greater risk of hyperlipidemia than in the category of frequent consumption of high-fibre foods. Suggestions for future research are expected to analyse hyperlipidemia in children and be associated with gender in elementary school students in order to know more in-depth differences.
Korelasi Olahraga Renang dan Kejadian Hipotermia pada Anak Yuswanto Setyawan
Jurnal Kesehatan Jasmani dan Olahraga (KEJAORA) Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Kejaora (Kesehatan Jasmani dan Olah Raga)
Publisher : Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/kejaora.v10i2.5194

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis korelasi renang dan hipotermia pada anak.  Penelitian ini merupakan cross sectional meggunakan SPSS dan korelasi spearman dengan 100 partisipan yaitu anak yang berenang minimal 1x dalam 1 minggu. Hasilnya olahraga renang dapat meningkatkan kejadian hipotermia sebanyak 57,2% pada anak apabila dilakukan terlalu sering dengan durasi lama dan kondisi tubuh anak yang kurang sehat. . Upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan pemanasan dan 30-60 menit sebelumnya bisa mengonsumsi makanan seperti buah, roti atau biscuit.  Untuk penelitian selanjutnya diharapkan bisa melakukan observasi lapangan dengan membandingkan antar 2 kelompok yang mendapat perlakuan serta tidak dapat perlakuan khusus.