Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Scientific Journal

Hubungan Intensitas Penggunaan Earphone dengan Derajat Gangguan Pendengaran pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Erlanda Putra Negara , Mohd; Triansyah , Irwan; Hasni, Dita; Yulhasfi Febrianto, Budi
Scientific Journal Vol. 1 No. 3 (2022): SCIENA Volume I No 3, May 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.365 KB) | DOI: 10.56260/sciena.v1i3.49

Abstract

Alat pemutar musik yang tersambung melalui Earphone semakin digemari di kalangan mahasiswa untuk mendengarkan musik. Kebiasaan tersebut dapat memicu timbulnya gangguan pada pendengaran. Musik yang didengar melalui earphone dalam telinga memiliki intensitas bising lebih besar dari pada intensitas bising musik yang didengar tanpa menggunakan headset dengan volume yang sama karena jarak sumber suara lebih dekat. Untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan earphone dengan derajat gangguan pendengaran pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah  Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik komparatif kategorikal tidak berpasangan dengan pendekatan cross-sectional. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah  dengan 42 sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase dan analisa bivariat menggunakan uji fisher exact test dan pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi 16.0. Penggunaan earphone <8 jam dan penggunaan earphone >8 jam sama banyak pada mahasiswi yaitu 21 orang (50,0%), Hasil pemeriksaan audiometri kanan dan normal yaitu 41 orang (97,6%), derajat gangguan pendengaran terbanyak adalah normal yaitu 41 orang (97,6%) dan tidak terdapat hubungan penggunaan earphone dengan gangguan pendengaran pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah angkatan 2016 (p value = 0,500). Kesimpulan : tidak terdapat hubungan intensitas penggunaan earphone dengan derajat gangguan pendengaran secara statistik tapi terdapat responden yang mengalami tuli sensori neural ringan yang merupakan penngguna earphone  ≥8 jam/minggu.
Kejang Demam Anggraini, Debie; Hasni, Dita
Scientific Journal Vol. 1 No. 4 (2022): SCIENA Volume I No 4, July 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.308 KB) | DOI: 10.56260/sciena.v1i4.62

Abstract

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang timbul akibat kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38̊ C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranial. Beberapa faktor yang berperan menyebabkan kejang demam antara lain adalah demam, demam setelah imunisasi DPT dan morbili, efek toksin dari mikroorganisme, respon alergi atau keadaan imun yang abnormal akibat infeksi, perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit. Kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung kurang dari 15 menit, kejang tonik klonik umum, sembuh spontan, tanpa kejang fokal, dan tidak berulang dalam 24 jam.  Kejang demam tipe ini adalah 80% di antara seluruh kejang demam. Kejang demam kompleks adalah kejang fokal atauparsial, berlangsung lebih dari 15 menit, berulang dalam 24 jam, didapatkan abnormalitas status neurologi. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan atas indikasi misalnya darah perifer, elektrolit, dan gula darah. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam
Pathogenesis of Sepsis Anggraini, Debie; Hasni, Dita; Amelia, Rinita
Scientific Journal Vol. 1 No. 4 (2022): SCIENA Volume I No 4, July 2022
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.762 KB) | DOI: 10.56260/sciena.v1i4.63

Abstract

Sepsis is a clinical condition caused by the body's immune response to infection and manifests as SIRS. Systemic inflammatory response syndrome is a state of systemic inflammatory response characterized by two or more of the following conditions. Etiology  Sepsis can be caused by various microorganisms and the most etiology of sepsis is bacterial. Gram-negative bacteria cause sepsis about 60% - 70% in developing countries, but in the United States the causes of infection by Gram-positive bacteria begin to increase. This may be due to the large number of uses of invasive procedures, increased hospital acquired pneumonia (HAP) and antibiotic resistance. The body also has anti-inflammatory mechanisms including increased levels of anti-inflammatory cytokines and glucocorticoid hormones. The hormone inhibits the synthesis of cytokines by monocytes and decreases the ability of neutrophils to attach to the vascular endothelium. The inflammatory process in sepsis is not controlled leading to the occurrence of excessive discharge of inflammatory mediators over a long time and goes beyond the anti-inflammatory mechanisms of the body. This leads to various organ dysfunctions including cardiovascular, liver, pulmonary and renal dysfunctions
Hubungan Pola Konsumsi Lemak Dan Sodium Terhadap Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Perempuan Etnis Minangkabau Salsabila Irwanto, Fiola; Hasni, Dita; Anggraini, Debbie; Yulhasfi Febrianto, Budi
Scientific Journal Vol. 2 No. 2 (2023): SCIENA Volume II No 2, Maret 2023
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v2i2.82

Abstract

Pendahuluan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi lemak dan sodium terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi perempuan etnis Minangkabau. Metoda: Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dan menggunakan desain penelitian case control. Populasi dalam penelitian ini adalah perempuan etnis Minangkabau. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel diperoleh 59 kontrol dan 59 kasus. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan perempuan etnis Minangkabau yang mengkonsumsi lemak dengan kategori kurang yang mengalami kejadian hipertensi sebanyak 48 sampel (58.5%). Konsumsi lemak dengan kategori kurang yang tidak mengalami kejadian hipertensi sebanyak 34 sampel (41.5%). Konsumsi lemak dengan kategori cukup+lebih yang mengalami kejadian hipertensi sebanyak 11 sampel (30,6%). Konsumsi lemak dengan kategori cukup+lebih yang tidak mengalami kejadian hipertensi sebanyak 25 sampel (69.4%). Sedangkan untuk konsumsi sodium dengan kategori kurang yang mengalami kejadian hipertensi sebanyak 58 sampel (51.8%). Konsumsi asupan sodium dengan kategori kurang yang tidak mengalami kejadian hipertensi sebanyak 54 sampel (48.2%). Konsumsi sodium dengan kategori cukup+lebih yang mengalami kejadian hipertensi sebanyak 1 sampel (16.7%). Konsumsi sodium dengan kategori cukup+lebih yang tidak mengalami kejadian hipertensi sebanyak 5 sampel (83.3%).Hasil uji statistik diperoleh nilai p value dari hubungan konsumsi lemak dengan tekanan darah pada pasien hipertensi perempuan etnis Minangkabau sebesar 0,005. Kesimpulan: Artinya terdapat hubungan konsumsi lemak dengan tekanan darah pada pasien hipertensi perempuan etnis Minangkabau. Sedangkan hasil uji statistik untuk hubungan konsumsi sodium dengan tekanan darah pada pasien hipertensi perempuan etnis Minangkabau diperoleh nilai p value sebesar 0,999. Artinya tidak terdapat hubungan konsumsi asupan sodium dengan tekanan darah pada pasien hipertensi perempuan etnis Minangkabau.
Gambaran Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Siswa MAN 02 Mukomuko Nurhayati; Jelmila, Sri Nani; Rasyid, Rasidin; Hasni, Dita
Scientific Journal Vol. 2 No. 3 (2023): SCIENA Volume II No 3, May 2023
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v2i3.96

Abstract

Pendahuluan: Penyakit tidak menular (PTM) merupakan merupakan ancaman utama bagi kesehatan dan perkembangan manusia saat ini. PTM merupakan penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Resiko PTM dapat terjadi pada semua kelompok umur termasuk remaja. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui faktor risiko penyakit tidak menular pada siswa MAN 02 Mukomuko. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah siswa MAN 02 Mukomuko dengan 96 sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase serta pengolahan data menggunakan program SPSS versi 16.0 Hasil: Usia terbanyak adalah 18 tahun (58,3%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (71,9%), IMT terbanyak adalah kurang (60,4%), tekanan darah terbanyak adalah normal (78,1%), kebiasaan merokok terbanyak adalah bukan perokok (93,8%), aktivitas fisik terbanyak adalah sedang (76,0%) dan tingkat stres terbanyak adalah sedang (44,8%) Kesimpulan: Sebagian besar responden memiliki indeks massa tubuh underweight, lebih dari separuh memiliki tekanan darah normal dan aktifitas fisik sedang serta sebagian besar mengalami stress sedang dan bukan perokok
Gejala Tonsilitis Kronik pada Anak Fitriani, Novia; Herlambang Sulistio, Shidiq; Ruhsyahadati; Yulhasfi Febrianto, Budi; Hasni, Dita
Scientific Journal Vol. 3 No. 2 (2024): SCIENA Volume III No 2, March 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i2.136

Abstract

Pendahuluan: Tonsilitis adalah infeksi dan inflamasi yang terjadi di tonsil. Tonsilitis dapat ditemui dari segi jenis kelamin, ukuran tonsil, dan usia. Anak yang berusia 6 – 12 tahun sering mengalami tonsilitis karena membengkaknya tonsil palatina yang disebabkan oleh infeksi cincin waldeyer. Bermain di area sekolah dan di luar rumah memicu anak – anak sering memakan makanan ringan, makanan cepat saji, dan bahan mengandung monosodium glutamate (MSG) yang merupakan faktor terjadinya tonsilitis pada anak. Kondisi sulit menelan yang sering terjadi berulang – ulang disebut tonsilitis kronik. Literature review ini bertujuan untuk mengetahui gejala tonsilitis kronik pada anak. Metode: Metode yang digunakan adalah study literature dengan mereview berbagai jurnal terkait dengan gejala tonsilitis kronik pada anak. Pencarian artikel menggunakan dua database yaitu Google Scholar dan PubMed. Terdapat 12 jurnal teks lengkap dan sesuai kelayakan. Hasil: Kedua studi memenuhi kriteria menunjukkan bahwa banyak gejala yang dapat penyebabkan tonsilitis kronik pada anak. Kesimpulan: Berdasarkan hasil review dua belas artikel disimpulkan bahwa tujuh dari seluruh provinsi di Indonesia, tonsilitis kronis merupakan penyakit tertinggi setelah nasofaringitis, dilihat dari sampel terbanyak pada penderita tonsilitis berjenis kelamin perempuan, usia yang rentan mengidap tonsilitis kronik yaitu 5 tahun, dilihat dari segi ukuran T3-T3 merupakan ukuran terbanyak pada penderita tonsilitis.
Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Resiko Hipertensi pada Lansia Riyada, Fauziatul; Amanah Fauziah, Suci; Liana, Nana; Hasni, Dita
Scientific Journal Vol. 3 No. 1 (2024): SCIENA Volume III No 1, January 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i1.137

Abstract

Pendahuluan : Hipertensi merupakan masalah global dan prevalensinya terus meningkat hingga mencapai tingkat mengkhawatirkan. Penyakit ini sering disebut sebagai the silent killer karena penderitanya tidak mengalami keluhan atau gejala, sehingga penderitanya tidak mengetahui bahwa dirinya terkena hipertensi, dan banyak orang baru mengetahuinya setelah terjadinya komplikasi. Hipertensi menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia setiap tahunnya terutama pada kelompok usia lanjut. Hal inilah yang mendasari WHO menetapkan salah satu target global penyakit tidak menular adalah menurunkan prevalensi hipertensi sebesar 33% antara tahun 2010 dan 2030 (WHO, 2023). Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya resiko hipertensi pada lansia. Metode : Metode yang digunakan adalah systematic/literature review. Penelitian dikumpulkan melalui pencarian di Google Scholar dan PubMed yang dipublikasi dari tahun 2019-2023 dengan kata kunci Faktor, Hipertensi, Lansia. 16.100 hasil ditemukan dari Google Scholer dan 959 Hasil ditemukan dari PubMed, dan terdapat 10 jurnal yang sesuai dengan kelayakan. Hasil : Berdasarkan hasil review jurnal yang telah dilakukan, kejadian hipertensi bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, usia, genetik, jenis kelamin, konsumsi garam dan lemak berlebih, obesitas, stress, aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol dan kopi. Kesimpulan : Seseorang akan lebih rentan mengalami hipertensi apabila terdapat anggota keluarga dengan riwayat penyakit hipertensi. Selain itu, seseorang yang berusia di atas 65 tahun dan mempunyai penyakit seperti obesitas dan gangguan ginjal juga berisiko lebih tinggi mengalami hipertensi. Ketika seseorang yang telah didiagnosis mengalami hipertensi, orang tersebut harus menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari tatalaksana pengendalian tekanan darah/hipertensi. Faktor risiko hipertensi bisa kita kontrol melalui pola makan dan gaya hidup yang sehat, tidak mengkonsumsi rokok dan alkohol, serta kurangi konsumsi garam dan lemak.
Efek Diet Ketogenik pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Hermalia, Beni; Salsabilah, Syifa; Jelmila, Sri Nani; Hasni, Dita
Scientific Journal Vol. 3 No. 1 (2024): SCIENA Volume III No 1, January 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i1.138

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus Tipe 2 (DMT2) adalah penyakit gangguan metabolik yang sampai saat ini masih menjadi masalah tertinggi di dunia dan Indonesia. Manajemen pola makan dianggap sebagai komponen penting dalam manajemen diabetes. Diet ketogenik (DK) dilaporkan memberikan efek yang baik dalam penatalaksanaan terapeutik pasien DMT2 dengan memperbaiki parameter glukosa darah, profil lipid dan antropometri, namun pemahaman yang tepat tentang praktik pemberiannya diperlukan agar efektif dalam meningkatkan parameter DMT2. Metode: Metode yang digunakan adalah study literature dengan mereview berbagai jurnal terkait dengan efek diet ketogenic pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Pencarian artikel menggunakan 2 database Google Scholar dan Pubmed. Terdapat 10 jurnal teks lengkap dan sesuia kelayakan Hasil: Beberapa hasil penelitian menunjukkan Diet Ketogenic (DK) dapat memberikan dampak positif terhadap perbaikan parameter pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Kesimpulan: Berdasarkan hasil review dari 10 artikel dapat disimpulkan bahwa Diet Ketogenik (DK) memiliki perubahan positif pada parameter Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) yaitu pada glukosa darah dan antropometri. Namun pengaruh diet ketogenik terhadap parameter profil lipid tidak selalu memberikan hasil yang baik. Untuk itu diperlukan pengawasan dari tenaga medis/dokter, nutrisionis atau dietesien agar diperoleh pilihan bahan makanan yang baik dan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2).