Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pemberdayaan dan Peran Masyarakat pada Pengembangan Desa Pariwisata di Desa Mayangan Kec. Gumukmas Kab. Jember Rudianto; Wazirotus Sakinah; Hery Indria Dwi Puspita; Kusnadi; L. Dyah Purwita Wardani SWW; Akhmad Ganefo; Abul Haris Suryo Negoro; Didin Erma Indahyan; Prehatin Trirahayu Ningrum; Yanuar Nurdiansyah
Journal of Community Development Vol. 7 No. 1 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v7i1.1911

Abstract

Mitra pengabdian kepada masyarakat "Pemberdayaan dan Peran Masyarakat Pada Pengembangan Desa Pariwisata" adalah Pemerintah Desa dan kelompok sadar wisata (POKDARWIS) Tri Bahari Lestari, yang berlokasi di Desa Mayangan Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember. Letak geografis Desa Mayangan dialiri Sungai yang bermuara di Kali Tanggul, dimana lokasi tersebut dapat dijadikan area wisata yang bisa di nikmati oleh warga sekitar maupun pendatang. Hasil observasi dan wawancara di lapangan menunjukkan bahwa area wisata di Desa Mayangan pada dasarnya sudah hampir terbentuk, namun ada terkendala beberapa hal terutama terkait pemasaran khususnya digital marketing. Sehingga tempat wisata belum banyak dikunjungi oleh warga maupun penduduk, serta minimnya fasilitas pendukung area wisata. Oleh karena itu diperlukan adanya sosialisasi serta pendampingan bagaimana cara menanggulangi hal tersebut, selain itu diperlukan jug pelatihan terkait pemasaran khususnya digital marketing. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah mitra dapat memahami pengembangan potensi desa pariwisata terutama daerah muara sungai dan digital marketing melalui branding potensi pariwisata lokal pada media sosial serta website. Secara umum, Pokdarwis dan dan Pemerintah Desa siap untuk membuka destinasi wisata di Desa Mayangan. Selain itu dari masyarakat juga berkenan dibuatnya destinasi wisata di Desa Mayangan dan mendukung kegiatan tersebut, karena hal ini dapat meningkatkan perekonomial lokal dan perekonomian kawasan pesisir khususnya.
Agency Dilemma and the Existence of Women Coffee Workers in Jember Ghanesya Hari Murti; Erna Cahyawati; L. Dyah Purwita Wardani; Imam Basuki
Anaphora : Journal of Language, Literary, and Cultural Studies Vol. 8 No. 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Prodi sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/anaphora.v8i2.13116

Abstract

This study aims to understand the agency and existence of women coffee workers in Jember through café and coffee shop practices, using Pierre Bourdieu's theoretical framework, namely habitus, and forms of capital. A qualitative approach explored the gender dimensions, legitimacy, and cultural dynamics that distinguish café and coffee shop practices for women to thrive. Data were obtained through in-depth interviews, participatory observation, and then analyzed using a thematic approach. The results showed that women in cafés tend to have high cultural capital through mastery of modern coffee serving techniques and service aesthetics, which creates bourgeois legitimacy. In contrast, women in coffee shops rely on community-based social capital to build interpersonal relationships that create popular legitimacy. Masculine and feminine dimensions also influence coffee consumption practices, with male customers demonstrating cultural dominance by expecting female service. Although women in cafés are often seen as an aesthetic element that enhances the place's attractiveness, their habitus remains a decisive factor in the business's success. In coffee shops, more informal relationships reflect local traditions that strengthen customer loyalty. This research concludes that women's agency in the coffee sector is strongly influenced by the habitus played in the doxa of coffee aena. As such, café and coffee shop practices reflect differences in bourgeois and popular legitimacy relevant to social and cultural dynamics in Jember.