p-Index From 2021 - 2026
7.171
P-Index
This Author published in this journals
All Journal SAINS MEDIKA : JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Universa Medicina Jurnal Kedokteran Anatomica (Anatomica Medical Journal) Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Journal of Islamic Medicine Alami Journal (Alauddin Islamic Medical) Journal Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Jurnal Medika Malahayati Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG) Viva Medika: Jurnal Kesehatan, Kebidanan dan Keperawatan Health and Medical Journal Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Journal of the Indonesian Medical Association : Majalah Kedokteran Indonesia UMI Medical Journal Jurnal PORKES Nommensen Journal of Medicine AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Al-Iqra Medical Journal : Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung) International Islamic Medical Journal The Avicenna Medical Journal GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Indonesian Journal of Cancer Ahmad Dahlan Medical Journal Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Prominentia Medical Journal Healthcaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Medical and Health Journal Biomedika Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Jurnal Widya Medika
Claim Missing Document
Check
Articles

Kasus Langka Pseudoaneurisma Arteri Radial Pasca Angiografi Koroner Laksono, Sidhi; Kusharsamita, Hillary
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 74 No 6 (2024): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.74.6-2024-1531

Abstract

Introduction: Radial artery pseudoaneurysm is a rare but potentially severe complication that may occur after coronary angiography. Although uncommon, promptly identifying and addressing the issue is crucial to avoid further complications. Case Report: Here, we describe the case of a 65-year-old female patient who developed a radial artery pseudoaneurysm after undergoing coronary angiography to evaluate her chest discomfort. The diagnosis of a pseudoaneurysm was confirmed by Doppler ultrasonography, which identified a swirling flow pattern. Persistent pain symptoms and ineffective conservative treatment necessitated surgery.Case Discussion: This case highlights the importance of vigilance in identifying rare complications such as radial artery pseudoaneurysm following coronary angiography. Conclusion: Prompt diagnosis and appropriate management strategies, including surgical intervention, when necessary, are crucial for optimal patient outcomes.
Perundungan dalam Kardiologi: Bagaimana Bersikap sebagai Kardiolog yang Beretika Laksono, Sidhi
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 74 No 5 (2024): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.74.5-2024-1533

Abstract

The foundation of decision-making in the health care system is patient care and results. For patient care delivery to be successful overall, staff members must be courteous, cooperative, and respectful of one another. The delivery of healthcare is positively impacted by cohesive health care teams and efficient communication. However, encounters in the health care industry are not always courteous. Among 5,931 cardiologists (77% male; 23% female), 44% reported a hostile work culture, and 79% of those who worked in a hostile work environment reported negative impacts on professional activities with coworkers and patients. These findings are supported by the Global Prevalence and Impact of Hostility, Discrimination, and Harassment in the Cardiology Workplace survey.
Intervensi Koroner Percutan pada Kegagalan Cangkok Vena Safena: Laporan Kasus Laksono, Sidhi; Syahirah, A Tenri
Alami Journal (Alauddin Islamic Medical) Journal Vol 9 No 1 (2025): JANUARY
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/alami.v9i1.49954

Abstract

Bypass graft surgery for coronary arteries is an essential therapy for those diagnosed with multivessel arterial stenosis, particularly in patients with diabetes. Internal thoracic artery grafts are the most suitable choice for revascularizing severe arterial disease due to their durability and longevity. However, complete revascularization is challenging to achieve only with grafts from the artery, which means it requires using saphenous vein grafts (SVGs). Unfortunately, saphenous vein grafts lack the same level of structural integrity, and their malfunction is associated with substantial negative cardiac consequences and higher death rates. In this case, the patient is an 80-year-old male suffering from CABG surgery 13 years prior. He had cold sweats and frequent chest pain that shot up his back. Diabetes, hypertension, and smoking were among his risks. Electrocardiography showed significant ischaemia, and echocardiography indicated mild diastolic dysfunction and impaired left ventricular systolic function with a 48% ejection fraction. Laboratory results indicated increased troponin I production and random blood glucose. After percutaneous coronary intervention and DES implantation into the diagonal saphenous vein grafts, the patient was given beta-blockers, nitrates, and statins as dual antiplatelet treatment.
Sindroma Koroner Akut pada Pasien Kanker: Pendekatan Manajemen Kardio-Onkologi Laksono, Sidhi
ANATOMICA MEDICAL JOURNAL | AMJ Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/amj.v8i1.21637

Abstract

Kanker dan penyakit jantung koroner saling berhubungan karena memiliki faktor risiko yang sama, dimana pasien kanker akan memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner dan serangan jantung atau sindroma koroner akut. Selain itu, terapi kanker baik obat-obatan, kemoterapi atau radioterapi dapat menyumbang patofisiologi terjadinya sindroma koroner akut. Gejala klinis nya pun bervariasi dan tidak khas, sehingga diperlukan penegakan diagnosis menggunakan pemeriksaan penunjang lainnya. Manajemen sindroma koroner akut pada pasien kanker sesuai dengan pendekatan kardio-onkologi, berupa evaluasi risiko trombosis atau perdarahan, stadium atau jenis kanker, penyulit anemia, angka harapan hidup dan prognosis. Hal inilah yang menyebabkan tatalaksana sindroma koroner akut (SKA) pada pasien kanker sangatlah tergantung kondisi pasien tersebut.Kata kunci: kanker, sindroma koroner akut, tatalaksana
STENOSIS ARTERI KAROTIS Laksono, Sidhi; Pertiwi Suhandoko, Lidya
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 22 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v22i2.527

Abstract

Penyebab kematian tertinggi kelima di Amerika dan penyebab morbiditas dan mortalitas tertinggi di United Kingdom (UK) adalah stroke. Sementara itu di Indonesia, stroke menjadi penyebab kematian dan kecacatan tertinggi. Faktor risiko terjadinya stroke antara lain hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, gagal jantung, hiperlipidemia, merokok, dan usia lanjut. Modifikasi dan pencegahan faktor risiko merupakan hal yang penting dalam mengatasinya. Data dari Amerika menunjukkan bahwa 20-25% dari semua kejadian stroke merupakan stenosis aterosklerosis dari arteri karotis. Dalam menangani stenosis arteri karotis, penggunaan kriteria diagnosis yang tepat serta pencitraan yang akurat untuk mendeteksi dan menilai derajat beratnya stenosis arteri karotis penting terutama untuk menentukan prognosis dan pertimbangan terapi. Penilaian risiko stroke pasien sangatlah penting karena akan menjadi pertimbangan untuk pemilihan terapi optimal. Dengan tercapainya terapi optimal, diharapkan dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas dari pasien dengan stenosis arteri karotis.
ELEKTROKARDIOGRAM YANG MENYERUPAI ELEVASI SEGMEN ST: SUATU DIAGNOSIS BANDING : A COMPARATIVE REVIEW OF THE DIFFERENTIAL DIAGNOSIS OF ST-SEGMENT ELEVATION ON ELECTROCARDIOGRAM Laksono, Sidhi
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 14 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v14i1.765

Abstract

Infark miokard akut dengan peningkatan segmen ST (IMAEST) merupakan oklusi total pembuluh darah koroner yang harus diatasi segera dengan tatalaksana intervensi secara farmakologi atau perkutan, dimana penegakan diagnosis dalam waktu 10 menit sudah dapat dilakukan dengan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Namun, terdapat gambaran EKG lain yang menyerupai IMAEST sehingga diperlukan pengetahuan dokter untuk melakukan diagnosis. Gambaran tersebut dinamakan elevasi segmen ST non iskemik, dimana dapat berupa radang perikard atau miokard (pericarditis/miokarditis), kardiomiopati takotsubo, sindroma Brugada, repolarisasi dini, blok cabang berkas kiri, irama pacu jantung ventrikel kanan, hipertrofi ventrikel kiri dan hiperkalemia. Diharapkan para dokter dapat melakukan penegakan diagnosis yang tepat dari IMAEST dengan melihat gambaran EKG yang menyerupai elevasi segmen ST ini.
Doping Terhadap Kardiovaskular Laksono, Sidhi; Hosea, Grace Trifena
Jurnal Porkes Vol 5 No 1 (2022): PORKES
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/porkes.v5i1.5407

Abstract

Nowadays sports, especially competitive sports have a big role in the economy, business, entertainment, and politics. The use of doping, which is a product in the form of drugs or blood that is used to improve athletes' performance, can have a negative impact on the health of athletes, including cardiovascular health, so the use of doping is prohibited. The objective of this article is to provide information to readers on the dangers of doping, especially on cardiovascular. This article was written based on a comprehensive search using Google Scholar and Pubmed. Various kinds of doping can be used according to the needs of athletes in certain sports. One of the most commonly used doping substances is anabolic-androgenic steroids (SAA) which can be used to increase muscle mass and strength but have many negative effects such as increasing blood pressure during exercise and rest, high-density lipoprotein (HDL), myocardial infarction, arrhythmia, left ventricular dysfunction, sudden cardiac death and was assessed as cardiotoxic. In addition to SAA, other substances are also considered harmful to the health of athletes and other users who are not athletes, although there are substances whose effects on the cardiovascular system are still unclear.
Primary Percutaneous Coronary Intervention in a 24-hour PCI Capable Hospital in Indonesia Laksono, Sidhi; Hosanna, Cliffian; Angkasa, Irwan Surya; Nurbaeti, Putri
Jurnal Medis Islam Internasional Vol 7 No 1 (2025): June
Publisher : UNUSA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/iimj.v7i1.6531

Abstract

Introduction: Chest pain may be a symptom of a life-threatening disease such as S ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI). Immediate primary percutaneous coronary intervention (PPCI) is recommended for virtually all STEMI patients who present in a PCI-capable hospital. Objective: We would like to present data on Door-to-Balloon (DTB) times and the factors affecting it. Methods: This is a single-center retrospective study. Patients are STEMI patients, undergoing primary PCI from 1st January 2024 to 30th April 2024. Secondary data are obtained from the medical records and analyzed. Results: A total of 60 patients undergo PPCI during the study period. Patients are generally male patients, aged 53.67 years old, with 2 traditional cardiovascular risk factors, presenting to the emergency department (ED) with an average of 5.88 hours of chest pain. DTB time was 86.25 minutes during the study period. We identified the onset of chest pain and referred patients to be associated with DTB time. Referred patients had longer onset since chest pain but faster DTB time. We found no association between age, gender, presenting time, diagnosis, Killip class, and physician factor to significantly affect DTB time. Conclusions: We have identified factors that may help us improve our DTB time. Patient knowledge should also be improved to increase awareness of symptoms of chest pain, minimizing patient delay and improving total ischemic time. 
Gagal Jantung Akut di Unit Gawat Darurat: Apa yang Harus Kita Lakukan? Laksono, Sidhi; Oktaverina, Danisa
Nommensen Journal of Medicine Vol 9 No 2 (2024): Nommensen Journal of Medicine: Edisi Februari
Publisher : Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36655/njm.v9i2.1121

Abstract

Latar Belakang: Gagal jantung akut merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai di unit gawat darurat. Gagal jantung akut didefinisikan serangan cepat dari tanda baru atau memburuknya suatu tanda gejala pada gagal jantung. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk tinjauan pustaka mengenai diagnosis dan tata laksana gagal jantung akut di instalasi gawat darurat. Metode: Metode penulisan artikel ini adalah penelusuran menggunakan Google Scholar mencari topik yang sesuai dengan diagnosis dan tata laksana gagal jantung akut. Hasil: Didapatkan 23 artikel yang berhubungan dengan penanganan AHF di IGD. Empat artikel berbahasa Indonesia dan 19 artikel berbahasa Inggris. Dari 23 artikel tersebut dapat dibagi menjadi definisi, diagnosis, manajemen atau tata laksana, serta tindakan penanganan AHF di IGD. Kemudian dilakukan pengelompokan sub bab dalam pembahasan tinjauan pustaka ini.Kesimpulan: Kondisi gagal jantung akut mengancam kehidupan dan harus ditangani dengan segera. Diagnosis mungkin tidak langsung dan kadang-kadang sulit pada pasien yang tidak dapat dibedakan. Namun, evaluasi dan diagnosis yang cepat penting untuk manajemen yang optimal dari gagal jantung akut. Dalam pembahasan ini, meninjau banyak aspek dalam mendiagnosis, mengobati, serta evaluasi pasien gagal jantung akut di unit gawat darurat. Evaluasi tersebut tidak hanya saat pasien sedang serangan saja, tetapi sebagai seleksi dan pengamatan atau monitor yang tepat untuk terapi serta mencegah kasus rawat kembali di rumah sakit.
Konsep Aksis Jantung dan Saluran Cerna: Hubungan Gangguan Keseimbangan Mikrobiota Saluran Cerna dan Gagal Jantung Laksono, Sidhi; Surya Angkasa, Irwan
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 6 No. 2 (2025): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V6i2.5633

Abstract

Diperkirakan sekitar 64,3 juta pasien di dunia mengalami penyakit gagal jantung. Di negara berkembang, diperkirakan prevalensi orang yang diketahui menderita gagal jantung sebesar 1-2% dari populasi orang dewasa. Sampai saat ini sudah banyak penelitian yang membahas tentang tatalaksana gagal jantung sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun prognosis penderita gagal jantung masih terbilang kurang baik dan Quality of Life (QoL) mereka menurun. Studi studi beberapa dekade terakhir menunjukan bahwa keseimbangan mikrobiota di saluran pencernaan turut serta dalam patogenesis dari aterosklerosis, penyakit jantung koroner, dan gagal jantung. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran hubungan antara gagal jantung dengan keseimbangan mikrobiota saluran cerna serta tatalaksana yang dapat diberikan sebagai alternatif yang dapat memberikan hasil optimal terhadap pasien.