Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Upaya Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Desa Wangun Harja Tentang Hipertensi Dewi, Masita Sari; Amelia Putri Cahyaningtyas; Rama Adhitiya; Nurwulandari; ⁠Syadiah Puji Lestari; Uswatun Hasanah
Jurnal Dimas Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53359/dimas.v6i1.80

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah dimana tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolic meningkat melebihi 140/90 mmHg Faktor hipertensi yang tidak dapat diubah seperti usia, gen atau keturunan dan jenis kelamin, sedangkan yang dapat di ubah seperti pola hidup yang tidak sehat, berat badan berlebih, kebiasaan merokok dan kurangnya olahraga. Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatakan pengetahuan dan kepedulian masyarakat mengenai bahayanya penyakit hipertensi, karena dari penyakit hipertensi inilah dapat menimbulkan banyak penyakit berbahaya lainnya. Metode yang digunakan pada pengabdian masyarakat ini adalah penyuluhan, pemeriksaan kesehatan gratis seperti pengecekan tekanan darah dan berat badan , presentasi materi dengan media powerpoint dan pelaksanaan pretest serta posttest. Kegiatan ini dilakukan di Desa Wangunharja dengan melibatkan Sebagian masyarakat RT 03/RW 01 dan ibu ibu PKK. Terdapat 32 orang warga yang terlibat dalam kegiatan ini. Hasil pemeriksaan tensi darah menunjukan bahwa sebagian masyarakat yang mengikuti kegiatan penyuluhan mengalami penyakit hipertensi.
Strategi Peningkatan Pemahaman Terhadap DAGUSIBU di Desa Sukamanah Kecamatan Sukatani Dewi, Masita Sari; Muslih, Hamdan Faisal; Azizah, Muflikhatun; Marselina, Marselina; Siffa, Naila Azizatus; Kamilah, Shakilla noor; Khasanah, Umiatul
JURNAL PENGABDIAN FARMASI DAN SAINS Vol. 2 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jpsf.2024.v2.i2.16885

Abstract

Perkembangan zaman membawa dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap DAGUSIBU. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai Dagusibu khususnya antibiotik. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mewujudkan kesadaran kolektif dalam pengelolaan obat di dalam keluarga terutama antibiotik. Metode yang dilakukan berupa pemaparan materi kepada responden dengan menggunakan alat peraga berupa leaflet, dalam kegiatan ini dilakukan pretest terlebih dahulu untuk menilai pengetahuan umum para responden, dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diakhiri dengan postest yang dilakukan untuk membandingan tingkat pengetahuan responden. Hasil dari pretest yang ditanyakan mendapatkan nilai 90 dari 5 soal yang dijawab dari 5 peserta yang bisa menjawab pertanyaan tesebut, dan hasil dari post test setelah diberikan pemaparan materi didapatkan sebanyak 19 orang mendapatkan nilai>70 atau sekitar 57,57% dari total peserta serta mayoritas nilai sikap responden sebanyak 19 orang memberikan hasil yang positif. Kesimpulan dari kegiatan ini berupa meningkatnya pemahaman dan pengetahuan peserta setelah diberikan edukasi pentingnya DAGUSIBU antibiotik.
Analisis Biaya Pengobatan Pasien Demam Tifoid Rawat Inap BPJS Rumah Sakit Kabupaten Cibinong Tahun 2024 Fatah, Fadly Agung; Rosiana, Rosiana; Dewi, Masita Sari; Prakoso, Anom Dwi
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit endemik dengan angka kejadian yang masih tinggi di Indonesia. Penyakit ini umumnya diobati menggunakan antibiotik, namun tingginya angka resistensi antibiotik menjadi tantangan besar dalam terapi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas pengobatan demam tifoid dengan berbagai jenis terapi antibiotik, baik tunggal maupun kombinasi, sehingga dapat ditentukan pilihan terapi yang lebih efektif dari segi biaya dan hasil klinis. Penelitian ini menggunakan analisis Cost-Effectiveness Analysis (CEA) dengan rancangan retrospektif melalui pengambilan data rekam medik pasien demam tifoid di RS Kabupaten Cibinong pada periode Januari–Desember 2024. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 28 pasien.  Penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok terapi tunggal, cefixime memiliki efektivitas 66,66% dan ceftriaxon juga sebesar 66,66%. Sementara itu, pada kelompok kombinasi ceftriaxon dan cefixime, efektivitas mencapai 100%. Dari segi biaya, nilai Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan ceftriaxon memiliki biaya Rp70.827, sedangkan cefixime Rp79.563. Kombinasi ceftriaxon dan cefixime justru lebih efisien dengan nilai Rp45.998. Analisis Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) menunjukkan bahwa penggunaan cefixime sebagai pengganti ceftriaxon membutuhkan biaya tambahan Rp582.307 untuk menurunkan suhu tubuh dan leukosit. Kesimpulannya, kombinasi ceftriaxon dan cefixime memberikan efektivitas terbaik dengan biaya yang lebih efisien dibanding terapi tunggal, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai pilihan utama dalam pengobatan demam tifoid.
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN DAN PENGETAHUAN PASIEN TERHADAP PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS MEKARMUKTI TAHUN 2025 Evellia Priastuti; Dewi, Masita Sari; Adiwisastra, Nuzul Gyanata; Marselina, Marselina
Jurnal Buana Farma Vol 5 No 4 (2025): Jurnal Buana Farma
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jbf.v5i4.1506

Abstract

Tuberculosis (TB) is a global and national public health problem, as well as an important indicator of achieving the Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia continues to face a high burden of tuberculosis, ranking second after India with millions of cases each year. Treatment success rates have not yet reached the national target, while West Java, including Bekasi Regency, records the highest cases. At Mekarmukti Health Center, in 2016 there were 81 new smear-positive pulmonary TB cases and 16 old cases, with a total of 97 patients, highlighting the importance of sustainable control at primary health services. This study aims to analyze the relationship between knowledge and treatment adherence among TB patients at Mekarmukti Health Center. This quantitative research employed an observational method with a total sampling technique involving 95 respondents. The instrument used was a questionnaire, and data analysis was conducted using the chi-square test. The results showed a relationship between age and knowledge (p=0.000), education and knowledge (p=0.041), as well as treatment category and knowledge (p=0.028). Age was also associated with adherence (p=0.002). However, knowledge was not significantly associated with adherence (p=0.337).
HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN DENGAN KEPATUHAN ANTIHIPERTENSI DAN LUARAN KLINIS Dewi, Antih Puspita; Marselina, Marselina; Adiwisastra, Nuzul Gyanata; Dewi, Masita Sari
Jurnal Buana Farma Vol 5 No 4 (2025): Jurnal Buana Farma
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jbf.v5i4.1521

Abstract

Hypertension is a highly prevalent chronic disease in Indonesia. Patients’ knowledge is considered a key factor in improving adherence, but its association with blood pressure control remains inconsistent. To evaluate the relationship between patients’ knowledge, antihypertensive medication adherence, and blood pressure control among hypertensive patients at Cikarang Primary Health Center. This cross-sectional analytic study involved 51 hypertensive patients who had received therapy for at least three months. Instruments included the Hypertension Knowledge-Level Scale (HK-LS) to assess knowledge, the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) to measure adherence, and medical records to determine blood pressure control. Data were analyzed using Chi-Square and Pearson correlation tests. Most respondents demonstrated high knowledge (70.59%), yet nearly half showed low adherence (47.06%). Knowledge was significantly associated with adherence (p=0.039), while no significant relationship was found between knowledge and blood pressure control (p=0.733). Higher knowledge improves medication adherence but does not necessarily lead to optimal blood pressure control. Comprehensive strategies beyond knowledge enhancement are needed for effective hypertension management.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT DAN LUARAN KLINIS PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS SETU 1 KABUPATEN BEKASI TAHUN 2025 Putri, Intan Auliya; Marselina, Marselina; Dewi, Masita Sari; Adiwisastra, Nuzul Gyanata
Jurnal Buana Farma Vol 5 No 4 (2025): Jurnal Buana Farma
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jbf.v5i4.1534

Abstract

Hypertension is a non-communicable disease that is a major health problem in Indonesia, especially in industrial areas such as Bekasi Regency. Patient knowledge of hypertension affects adherence to treatment and the success of therapy as measured by clinical outcomes in the form of blood pressure achievement. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge with medication adherence and clinical outcomes in hypertensive patients at the Setu 1 Community Health Center in Bekasi Regency. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach, involving 91 respondents selected using a purposive sampling technique. The instruments used included the HK-LS questionnaire to assess knowledge, the MMAS-8 for adherence, and medical record data for clinical outcomes. The analysis results showed a significant relationship between the level of knowledge with medication adherence (p = 0.009) and clinical outcomes of blood pressure (p = 0.003). It can be concluded that the higher the patient's level of knowledge, the higher the adherence to treatment and the success of achieving target blood pressure.
TINGKAT PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS CIKARANG Damayanti, Nanda; Dewi, Masita Sari; Adiwisastra, Nuzul Gyanata; Rosiana, Rosiana
Jurnal Buana Farma Vol 5 No 4 (2025): Jurnal Buana Farma
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jbf.v5i4.1542

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, including Bekasi Regency, which has a high disease burden. A decline in quality of life is commonly experienced by TB patients due to clinical symptoms, social stigma, and adverse drug effects. Although patient knowledge and treatment adherence are widely believed to influence therapeutic outcomes, evidence regarding their impact on quality of life remains inconsistent and limited, particularly in the Cikarang region. This study aimed to examine the relationship between knowledge level and treatment adherence with the quality of life of pulmonary tuberculosis patients at Puskesmas Cikarang Utara. A cross-sectional design was employed involving 93 outpatient pulmonary TB patients who met the inclusion criteria, including age 17–65 years, undergoing category I/II therapy, able to communicate, and willing to participate, as well as exclusion criteria of having significant comorbid conditions. Participants were selected using purposive sampling. Data were collected using a structured knowledge questionnaire, the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), and the Short Form-36 (SF-36). Statistical analysis was performed using the Chi-Square test. The majority of respondents demonstrated good knowledge (86%), moderate to high treatment adherence (86%), and a high quality of life (55.9%). Chi-Square analysis indicated no significant association between knowledge level and quality of life (p = 0.468), nor between treatment adherence and quality of life (p = 0.962). These findings suggest that knowledge and adherence alone are insufficient determinants of quality of life among pulmonary TB patients. Therefore, improving patients’ quality of life requires comprehensive interventions. Beyond treatment adherence.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS TELAGA MURNI, CIKARANG Salamah, Hanifah Ikka; Dewi, Masita Sari; Adiwisastra, Nuzul Gyanata; Marselina, Marselina
Jurnal Buana Farma Vol 5 No 4 (2025): Jurnal Buana Farma
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jbf.v5i4.1549

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a public health problem in Indonesia, with treatment success rates that have not yet reached national targets, partly influenced by patient behavioral factors. Patient knowledge and medication adherence are considered important determinants of TB treatment outcomes. This study aimed to analyze the relationship between patients’ knowledge level and medication adherence with tuberculosis treatment success at Telaga Murni Community Health Center, West Cikarang District. This quantitative study employed a correlational analytical design using a cross-sectional approach. The study sample consisted of 80 adult pulmonary TB patients selected through total sampling. Data were collected through structured interviews using a knowledge questionnaire and the Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8), as well as medical record reviews to assess treatment success. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. The majority of respondents were female (58.7%), aged 17–25 years (35%), had senior high school education (50%), and were unemployed (51.2%). Most respondents received treatment observer (PMO) assistance (58.8%), were in the advanced treatment phase (58.7%), and were classified under treatment category I (97.5%). Good knowledge levels were identified in 90% of respondents, while low medication adherence was observed in 85%. Treatment success was achieved in 12.5% of respondents. Chi-square analysis showed no statistically significant relationship between knowledge level and treatment success (p = 0.827), nor between medication adherence and treatment success (p = 0.365). In conclusion, patient knowledge level and medication adherence were not significantly associated with tuberculosis treatment success, suggesting the need for broader multidisciplinary intervention strategies.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT KEPATUHAN TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS CABANGBUNGIN Mufidah, Destie Elmi; Dewi, Masita Sari; Adiwisastra, Nuzul Gyanata; Rosiana, Rosiana
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i1.24351

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit yang menyerang paru-paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cabangbungin. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik observasional dengan pengambilan data secara prospektif pada periode Juni-Juli tahun 2025 di Puskesmas Cabangbungin. Hasil  Penelitian sebanyak 52 responden, yang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, berusia 26–35 tahun, berpendidikan SMA, dan mayoritas bekerja. Mayoritas responden berada pada fase lanjutan dan termasuk kategori 1. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Tingkat kepatuhan responden paling banyak pada kategori baik. Selain itu, hampir seluruh responden memiliki kualitas hidup yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan. Tidak ditemukan hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kualitas hidup, namun terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan dan kualitas hidup.Kata Kunci : Tuberkulosis, Pengetahuan, Kepatuhan, Kualitas Hidup. 
Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan, Penyimpanan dan Resistensi Antibiotik di Puskesmas Mekarmukti Kabupaten Bekasi Gyanata Adiwisastra, Nuzul; Dewi, Masita Sari; Marselina, Marselina; Muhammad Anwar, La Ode; Rusydi Hashim, Salma Hilmy; Ulfah, Ulyati; Rozak, Abdul
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 4 (2025): Edisi Oktober - Desember
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i4.7361

Abstract

Penggunaan antibotik yang kurang tidak sesuai menjadi penyebab utama meningkatnya resistensi bakteri terhadap pengobatan infeksi di Indonesia. Sebagian besar minimnya pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan, penyimpanan dan informasi bahaya resistensi antibiotik disebebkan tingginya swamedikasi dan ketidakpatuhan dalam konsumsi obat antibiotik menjadi permasalahan dimasyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Puskesmas Mekarmukti Kabupaten Bekasi dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan, penyimpanan, dan bahaya resistensi antibiotik. Metode kegiatan meliputi edukasi menggunakan leaflet, ceramah interaktif dengan presentasi power point dengan adanya indikator pengukuran tingkat pengetahuan melalui pre-test dan post-test terhadap 52 responden menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan hasil posttest tertinggi dengan nilai 75-100 dengan kategori pengetahuan baik meningkat dibandingkan dengan pretest nilai tertinggi 0-35 dengan kategori pengetahuan kurang, sehingga dapat diartikan responden masih kurangnya informasi tentang obat antibiotik. Peningkatan signifikan pengetahuan responden, dimana kategori pengetahuan baik meningkat dari 7 orang menjadi 40 orang, sedangkan kategori kurang menurun dari 27 orang menjadi 0 dengan hasil uji statistik T-test menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (<0,05) menandakan adanya perbedaan bermakna antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi tentang penggunaan, penyimpanan dan informasi bahaya resistensi antibiotik. Temuan ini membuktikan bahwa metode edukasi pemberian informasi kepada masyarakat dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan antibiotik dalam pencegahan resistensi antibiotik dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.