Claim Missing Document
Check
Articles

INTEGRASI PRINSIP ETIKA QUR’ANI DALAM TEETIKA QUR’ANI DALAM MANAJEMEN ORGANISASI DAKWAH MODERNORI ORGANISASI MODERN Novandika, Dida; Mahmud, Hamidullah
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v19i2.3912

Abstract

Globalization and digital transformation have significantly reshaped the governance of Islamic da’wah institutions, creating an urgent need to reinforce ethical and spiritual accountability in organizational management. This study aims to examine the integration of Qur’anic ethical values amanah (trust), musyawarah (deliberative participation), ‘adl (justice), and muhasabah (self-evaluation) into the management of modern da’wah organizations. Employing a qualitative approach through library research, this study applies thematic analysis to scholarly works published over the past five years that address Islamic ethics and da’wah management. The findings reveal that amanah establishes the moral foundation for accountability and transparency; musyawarah strengthens participatory decision-making and institutional legitimacy; ‘adl ensures distributive and procedural justice in serving the ummah; and muhasabah functions as a reflective mechanism for sincerity and performance improvement in da’wah activities. The integration of these four principles forms an ethical management paradigm that harmonizes the spiritual, social, and professional dimensions of da’wah organizations. The study concludes that the application of Qur’anic ethics not only reinforces moral legitimacy but also enhances public trust and organizational sustainability. This conceptual review provides a theoretical foundation for developing a Qur’anic value-based da’wah governance model grounded in maqāṣid al-sharī‘ah and social responsibility.Keywords: Qur’anic Ethics; Da’wah Management; Accountability; Organizational Justice.[Fenomena globalisasi dan transformasi digital telah mendorong perubahan mendasar dalam tata kelola lembaga dakwah, sehingga menuntut penguatan prinsip etika dan akuntabilitas spiritual dalam pengelolaan organisasi. Dalam konteks ini, kajian ini bertujuan untuk menelaah integrasi nilai-nilai etika Qur’ani amanah (kepercayaan), musyawarah (partisipasi deliberatif), ‘adl (keadilan), dan muhasabah (evaluasi diri) dalam manajemen organisasi dakwah modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research) melalui analisis tematik terhadap literatur ilmiah lima tahun terakhir yang berkaitan dengan etika Islam dan manajemen dakwah. Hasil kajian menunjukkan bahwa amanah membentuk dasar akuntabilitas moral dan transparansi lembaga dakwah; musyawarah memperkuat partisipasi dan legitimasi pengambilan keputusan; ‘adl memastikan keadilan distributif dalam pelayanan umat; sementara muhasabah menjadi mekanisme reflektif untuk menjaga keikhlasan dan kualitas kinerja dakwah. Integrasi keempat prinsip ini melahirkan paradigma manajemen dakwah etis yang menyeimbangkan orientasi spiritual, sosial, dan profesional lembaga. Kajian ini menyimpulkan bahwa penerapan etika Qur’ani dalam organisasi dakwah bukan hanya memperkuat legitimasi moral, tetapi juga meningkatkan kepercayaan publik dan keberlanjutan lembaga. Penelitian ini memberikan dasar konseptual bagi pengembangan model tata kelola dakwah berbasis nilai Qur’ani yang berorientasi pada maqāṣid al-syarī‘ah dan tanggung jawab sosial umat].Kata Kunci: Etika Qur’ani; Manajemen Dakwah; Akuntabilitas; Keadilan Organisasi.
IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN PROFETIK DALAM MANAJEMEN DAKWAH (Studi Atas Fungsi Perencanaan Dalam Al-Qur’an) Nufus, Siti hayati; Mahmud, Hamidullah
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v19i2.3945

Abstract

This study analyzes the implementation of prophetic leadership in da’wah management, focusing on the planning function based on Qur’anic values. In the context of globalization and rapid social change, da’wah organizations require a leadership model that is not only managerially effective but also rooted in spirituality and prophetic ethics. This approach emphasizes four core prophetic values ṣidq (truthfulness), amanah (trustworthiness), fathonah (wisdom), and tablīgh (conveyance) as fundamental principles in decision-making and strategic planning. Through theoretical review and empirical insight, the study demonstrates that prophetic leadership enhances the quality of da’wah planning by strengthening spiritual vision, transparency, member participation, and the social relevance of programs. The proposed implementation model involves stages of vision formulation, strategic planning, value-based execution, and continuous moral evaluation. The findings affirm that prophetic values not only shape the leader’s integrity but also internalize an ethical and spiritually driven organizational culture. This study contributes to the advancement of Islamic management theory by integrating revelation, prophetic morality, and organizational strategy into a cohesive framework that reinforces the effectiveness and sustainability of contemporary da’wah initiatives.Keywords: Prophetic Leadership, Da’wah Management, Strategic Planning, Qur’anic Values[Penelitian ini menganalisis implementasi kepemimpinan profetik dalam manajemen dakwah dengan fokus pada fungsi perencanaan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an. Dalam konteks tantangan globalisasi dan perubahan sosial, organisasi dakwah membutuhkan model kepemimpinan yang tidak hanya efektif secara manajerial, tetapi juga berlandaskan spiritualitas dan etika profetik. Pendekatan ini menekankan empat nilai utama Nabi Muhammad SAW yakni ṣidq (kejujuran), amanah (tanggung jawab), fathonah (kebijaksanaan), dan tablīgh (penyampaian), sebagai prinsip dasar dalam pengambilan keputusan dan perencanaan strategis. Melalui kajian teoritis dan temuan empiris, penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan profetik mampu meningkatkan kualitas perencanaan dakwah melalui penguatan visi spiritual, transparansi, partisipasi anggota, dan relevansi sosial program. Model implementasi yang ditawarkan meliputi tahapan perumusan visi, perencanaan strategis, pelaksanaan berbasis nilai, serta evaluasi moral yang berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan nilai profetik bukan hanya membentuk integritas pribadi pemimpin, tetapi juga menginternalisasi budaya organisasi yang beretika dan berorientasi spiritual. Penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori manajemen Islam dengan mengintegrasikan wahyu, moralitas profetik, dan strategi organisasi sebagai satu kesatuan yang harmonis dalam memperkuat efektivitas dakwah kontemporer].Kata Kunci: Kepemimpinan Profetik, Manajemen Dakwah, Perencanaan Strategis, Nilai Al-Qur’an
Interpretation of the Qur'anic Managerial Commentary on Caliphate, ‘Ibad, and Amanah in the Context of Human Responsibility Mujadid, Shofam Amim; Mahmud, Hamidullah
Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 2 (2025): Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Jawa Timur: Prodi. Ilmu Al Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAI Tarbiyatut Tholabah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/alfurqan.v8i2.4281

Abstract

The ongoing leadership crisis, low integrity, and weak organizational governance highlight the need for a managerial paradigm grounded not only in technical competence but also in moral and spiritual values. This article aims to reconstruct the Qur’anic concept of human responsibility by integrating three key notions—khalifah (leadership mandate), ‘ibad (servanthood and value orientation), and amanah (trust and accountability)—into the framework of Qur’anic Managerial Responsibility (QMR). The study employs a qualitative approach using thematic (maudhu‘i) interpretation and hermeneutical analysis, examined through the lens of contemporary Islamic management theory. Data are derived from Qur’anic verses, classical and modern tafsir literature, and scholarly works on Islamic leadership and management. The findings demonstrate that khalifah represents a strategic leadership mandate and sustainable stewardship, ‘ibad constitutes the spiritual–ethical foundation guiding leadership behavior, and amanah functions as a structure of moral and institutional accountability. The integration of these three pillars forms a holistic Qur’anic leadership model conceptualized as Leader–Servant–Trustee. Furthermore, the study shows that QMR is not merely theoretical but can be operationalized in Islamic finance, education, and business sectors through ethical governance and accountability practices. Theoretically, this research bridges the epistemological gap between Qur’anic exegesis and Islamic management studies, offering a value-based leadership framework relevant to contemporary organizational contexts.
DAGING SINTESIS DALAM AL-QU’RAN : STUDI TEMATIK AYAT-AYAT TENTANG MAKANAN HALAL Rahman , Khoiruddin Ali; Mahmud, Hamidullah
Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Al-Mubarak
Publisher : LP2M IAIM Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-mubarak.v10i2.4262

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep kehalalan daging sintesis dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan studi tematik (maudhu‘i) terhadap ayat-ayat makanan halal. Kajian ini berfokus pada relevansi ayat seperti QS. Al-Baqarah:168, QS. Al-Mā’idah:3, dan QS. Al-Mu’minūn:51 dalam menilai bahan awal, proses kultur sel, media pertumbuhan, dan potensi istihālah dalam produksi daging sintesis. Metode penelitian menggunakan analisis kualitatif berbasis kepustakaan dengan menelaah tafsir klasik–kontemporer, jurnal bioteknologi pangan, dan dokumen fatwa terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging sintesis berpotensi dinyatakan halal apabila bahan awal berasal dari hewan halal yang diambil secara etis, media kultur tidak mengandung unsur haram seperti darah (FBS), serta proses pembuatannya higienis dan memenuhi prinsip halalan ṭayyiban. Selain itu, konsep istihālah dapat menjadi dasar perubahan hukum apabila terjadi transformasi zat secara sempurna. Kajian ini menegaskan bahwa daging sintesis dapat diterima secara syariat jika memenuhi persyaratan bahan, proses, dan kemaslahatan sesuai maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ an-nafs dan ḥifẓ al-bi’ah.
Meritokrasi Dalam Konsep Wewenang dan Pendelegasian: Respon al-Qur’an Terhadap Isu Nepotisme dan Kesenjangan Sosial di Indonesia Yuzril Mahendra; Hamidullah Mahmud
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2794

Abstract

Isu nepotisme yang mengakar dalam praktik pendelegasian wewenang di Indonesia menunjukkan lemahnya penerapan sistem meritokrasi yang berkeadilan dan berorientasi pada kemaslahatan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep meritokrasi, wewenang, dan pendelegasian dalam perspektif al-Qur’an serta relevansinya sebagai solusi normatif terhadap praktik nepotisme dan kesenjangan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka melalui metode tafsir tematik (maudhu‘i) dan analisis isi terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang relevan, didukung oleh hadis, kitab tafsir, literatur manajemen modern, dan artikel jurnal akademik. Hasil kajian menunjukkan bahwa meritokrasi dalam perspektif al-Qur’an tidak hanya bertumpu pada kompetensi intelektual, tetapi juga menekankan nilai-nilai moral seperti amanah, keadilan, integritas, profesionalisme, dan kerja keras sebagai satu kesatuan dalam pendelegasian wewenang. Al-Qur’an secara normatif menolak favoritisme dan diskriminasi, serta menegaskan bahwa jabatan dan kekuasaan merupakan amanah yang harus diberikan kepada pihak yang berhak dan mampu. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa penerapan meritokrasi berbasis nilai-nilai Qur’ani berpotensi memperkuat tata kelola organisasi dan pemerintahan yang adil, mengurangi praktik nepotisme, serta mendorong terciptanya mobilitas sosial dan efisiensi pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Perencanaan Strategis Dakwah Dalam Perspektif Al-Qur’an : (Telaah Atas Konsep Tadbir Dan Hikmah) Nurul Alvi Chindi Fadhilah; Hamidullah Mahmud
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2818

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggali nilai-nilai konseptual al-Qur’an tentang tadbīr dan ḥikmah sebagai dasar perencanaan strategis dakwah. Menggunakan pendekatan konseptual Qur’ani, kajian ini berfokus pada Qur’an surah As-Sajdah ayat 5 dan Qur’an surah An-Naḥl ayat 125 yang merepresentasikan keterpaduan antara rasionalitas dan kebijaksanaan dalam pengelolaan dakwah. Analisis dilakukan melalui studi pustaka terhadap tafsir klasik dan modern, serta literatur manajemen dakwah kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tadbīr mencerminkan perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan dakwah yang sistematis, sedangkan ḥikmah menekankan etika, kepekaan sosial, dan kebijaksanaan komunikasi. Integrasi keduanya melahirkan model dakwah Qur’ani yang strategis, humanistik, dan relevan dengan konteks modern. Dengan demikian, perencanaan strategis dakwah dalam perspektif al-Qur’an merefleksikan nilai ketuhanan yang menyatukan rasionalitas, kebijaksanaan, dan orientasi spiritual.
Actuating Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Implementasinya Pada Manajemen Ibadah Haji Dan Umrah Sa’idahtul Akmala Yusuf; Hamidullah Mahmud
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2989

Abstract

Penelitian ini membahas konsep actuating (penggerakan) dalam pandangan Al-Qur’an serta pelaksanaannya pada manajemen ibadah haji dan umrah. Actuating dipahami sebagai fungsi manajemen yang menggerakkan, mengarahkan, dan memotivasi manusia supaya bekerja dengan efektif agar mencapai tujuan dari organisasi. Dalam Islam, proses penggerakan tersebut diperkaya dengan dimensi spiritual seperti tauhid, amanah, ihsan, syura, tasamuh, dan tartib. Nilai-nilai Qur’ani tersebut tidak hanya mengatur etika pemimpin, tetapi juga memberikan landasan moral bagi setiap individu untuk bekerja dengan kesadaran ibadah. Penelitian ini menemukan bahwa implementasi actuating Qur’ani dalam manajemen haji dan umrah tercermin melalui pembinaan spiritual petugas, profesionalisme kerja, koordinasi lintas lembaga, pelayanan humanis, serta pengaturan sistem operasional yang rapi dan tertib. Integrasi antara prinsip manajemen modern dan nilai-nilai Qur’ani menghasilkan pelayanan yang lebih efektif, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan jamaah.
Pengawasan dalam Dakwah: Memahami Konsep ‘Amr Ma'ruf Nahi Munkar’ dalam Alquran Syf Miftahul Rahmah; Hamidullah Mahmud
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3191

Abstract

Konsep ‘Amr Ma’ruf Nahi Munkar merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran Islam yang bertujuan menjaga moral dan etika masyarakat dengan cara memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan. Konsep ini memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali-Imran ayat 104, serta hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan tanggung jawab sosial setiap individu dalam mengawal perilaku umat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi literatur terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, termasuk karya tafsir, hadis, penelitian ilmiah, dan data sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘Amr Ma’ruf Nahi Munkar berfungsi sebagai mekanisme pengawasan sosial yang efektif dalam membentuk perilaku positif apabila dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana dan persuasif. Implementasinya dalam masyarakat modern terlihat melalui pendidikan agama, kegiatan dakwah, dan program sosial seperti gerakan anti narkoba, yang terbukti mampu menurunkan angka penyimpangan sosial hingga 30%. Namun demikian, pelaksanaannya menghadapi tantangan seperti resistensi individu, perbedaan interpretasi tentang batasan kebaikan dan keburukan, serta pengaruh nilai-nilai sekuler. Penelitian juga menegaskan pentingnya penggunaan media digital sebagai sarana penyebaran pesan dakwah secara efektif. Dengan pendekatan yang inklusif, dialogis, dan penuh kasih sayang, ‘Amr Ma’ruf Nahi Munkar dapat menjadi strategi dakwah yang relevan dan berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang berakhlak, harmonis, serta responsif terhadap tantangan sosial kontemporer.  
Kewirausahaan dalam Perspektif Al-Qur’an Muhammad Rezky Pratama Marsudi; Hamidullah Mahmud
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13923

Abstract

Islam adalah agama yang tidak hanya memberikan pedoman dalam hal spiritual, tetapi juga hal duniawi, termasuk menjalankan bisnis. Kontribusi utama penelitian ini adalah menjelaskan peran agama dalam mengelola perusahaan dibandingkan dengan karakteristik seorang wirausahawan dan pemimpin yang mengamalkan ajaran Islam dalam menjalankan bisnis. Prinsip-prinsip ini ditujukan bagi para pemimpin dan wirausahawan yang ingin menerapkan kepemimpinan dan kewirausahaan sesuai dengan tuntunan Islam. Karakteristik muslimpreneur mengarahkan pelaku usaha muslim untuk menjalankan kegiatan usahanya berlandaskan al-Quran dan al-Hadits. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau literatur review yakni ikhtisar komprehensif tentang penelitian yang sudah dilakukan mengenai topik yang spesifik untuk menunjukkan kepada pembaca apa yang sudah diketahui tentang topik tersebut dan apa yang belum diketahui, untuk mencari rasional dari penelitian yang sudah dilakukan atau untuk ide penelitian. Studi ini memiliki tujuan untuk mengkaji pandangan Islam mengenai dunia usaha dan bagaimana prinsip-prinsip yang ada dapat membantu pengusaha menjadi penggerak perubahan ekonomi yang berkelanjutan.
Kewirausahaan dalam Perspektif Al-Qur’an Muhammad Rezky Pratama Marsudi; Hamidullah Mahmud
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13923

Abstract

Islam adalah agama yang tidak hanya memberikan pedoman dalam hal spiritual, tetapi juga hal duniawi, termasuk menjalankan bisnis. Kontribusi utama penelitian ini adalah menjelaskan peran agama dalam mengelola perusahaan dibandingkan dengan karakteristik seorang wirausahawan dan pemimpin yang mengamalkan ajaran Islam dalam menjalankan bisnis. Prinsip-prinsip ini ditujukan bagi para pemimpin dan wirausahawan yang ingin menerapkan kepemimpinan dan kewirausahaan sesuai dengan tuntunan Islam. Karakteristik muslimpreneur mengarahkan pelaku usaha muslim untuk menjalankan kegiatan usahanya berlandaskan al-Quran dan al-Hadits. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau literatur review yakni ikhtisar komprehensif tentang penelitian yang sudah dilakukan mengenai topik yang spesifik untuk menunjukkan kepada pembaca apa yang sudah diketahui tentang topik tersebut dan apa yang belum diketahui, untuk mencari rasional dari penelitian yang sudah dilakukan atau untuk ide penelitian. Studi ini memiliki tujuan untuk mengkaji pandangan Islam mengenai dunia usaha dan bagaimana prinsip-prinsip yang ada dapat membantu pengusaha menjadi penggerak perubahan ekonomi yang berkelanjutan.