Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENERAPAN PARAMETER PITCH UNTUK MENGEVALUASI INFORMASI CITRA CT SCAN KEPALA TRAUMA DI RSUD CARUBAN Fadli, Azkya Octara; Mufida, Widya; Dewi, Sofie Nornalita
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.44693

Abstract

Tulang tengkorak kepala sangat rentan untuk mengalami cedera dengan beberapa alasan seperti kecelakaan mobil atau motor, jatuh, cedera saat olahraga, dan sebagainya. Pasien trauma sering kali berada dalam kondisi kritis dan kurang kooperatif sehingga proses diagnostik dipercepat dengan tanpa mengorbankan informasi citra yang berguna untuk mengambil keputusan medis yang tepat. Untuk menegakkan diagnosis tentu harus memperhatikan pengaturan parameter yang tepat dengan memperhatikan keseimbangan antara kualitas gambar yang dibutuhkan untuk diagnosis dan dosis radiasi yang diberikan kepada pasien. Penggunaan parameter pitch rendah pada pemeriksaan CT Scan kepala kasus trauma direkomendasikan untuk menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi dan meminimalkan artefak, yang penting untuk diagnosis detail. Di RSUD Caruban penggunaan pitch yang digunakan pada pemeriksaan ct scan kepala rutin dan trauma yaitu 0,55 namun, pada kasus tertentu seperti pasien mengalami gelisah dan non kooperatif lainnya pengunaan pitch diatur menjadi 1. Berdasarkan latar belakang diatas tujuan penelitian ini yaitu mengetahui penerapan parameter pitch CT Scan kepala trauma untuk mengevaluasi informasi citra yang dihasilkan di instalasi radiologi RSUD Caruban. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode pengaturan parameter pitch di RSUD Caruban. Jenis data pada penelitian ini yaitu data sekunder dikarenakan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan data  pasien yang telah menjalani pemeriksaan CT Scan kepala sebanyak dua orang dengan kasus trauma kepala dengan penggunaan pitch 1 dan 0,55. Pengambilan data dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan pada bulan Maret 2025 di Instalasi Radiologi RSUD Caruban. Subyek pada penelitian ini melibatkan 3 radiografer yang bertugas melakukan pemeriksaan CT Scan kepala, dan 1 dokter spesialis radiolog. Untuk obyek yaitu mengenai pengaturan parameter pitch dan informasi citra pada pemeriksaan CT Scan kepala dengan kasus trauma kepala di instalasi radiologi RSUD Caruban. Parameter pitch yang digunakan pada pemeriksaan CT Scan kepala pada kasus trauma kepala di instalasi radiologi RSUD Caruban sama dengan rutin yaitu 0,55 karena sudah cukup menghasilkan informasi citra yang detail untuk menentukan patologi pasien. Perubahan pitch biasanya dilakukan jika kondisi pasien kurang kooperatif walaupun sudah didampingi oleh keluarganya maka pitch dinaikkan menjadi 1 dan itu hampir jarang dilakukan sehingga tidak ada pengaturan pitch khusus untuk kasus trauma kepala. Di instalasi radiologi RSUD Caruban tidak ada pengaturan pitch khusus untuk kasus trauma kepala pada pemeriksaan CT Scan kepala. Pada kasus trauma kepala sama dengan rutin yaitu 0,55. Penggunaan pitch 1 hanya dilakukan pada kasus tertentu yang melibatkan waktu pemeriksaan yang lebih cepat. Meskipun hasil citra pitch 1 memiliki lebih banyak noise dari pada 0,55 hal ini tidak membuat dokter radiolog kesulitan untuk menginterpretasikan hasil radiografnya.
PROSEDUR PEMERIKSAAN CT-SCAN KEPALA PEDIATRIC DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD KABUPATEN TEMANGGUNG Virzio Tri Pradana; Sofie Nornalita Dewi; Arnefia Mei Yusnida
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Head CT scans performed at the Pediatric Radiology Unit of Temanggung Regency Hospital use the adult head protocol (Head Helical). This differs from the theory that specific head protocols are required for each age group. The purpose of this study was to determine the pediatric head CT scan procedure at the Radiology Unit of Temanggung Regency Hospital, the rationale for using the adult head CT scan protocol for pediatric head CT scans, and the radiation protection measures implemented during pediatric head CT scans. Methods: This study employed a descriptive qualitative method with a case study approach. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review at the Radiology Unit of Temanggung Regency Hospital. Subjects included three radiographers and one radiation protection officer, with the pediatric head CT scan procedure as the object of the study. Data were analyzed through observation, interviews, and documentation. Interview results were transcribed and then summarized using a categorization table. The summarized data were presented in narrative form and explained with a theoretical basis to draw conclusions. Results: Pediatric head CT scans performed at the Radiology Department of Temanggung District Hospital used the adult protocol (Head Helical) without modifications based on age classification. Parameters such as tube voltage (120 kV) and current (300 mAs) were the same for infants and children, resulting in CTDIvol (78.1 mGy) and DLP values exceeding the BAPETEN IDRL standard. Although diagnostic imaging results were considered good, the risk of high radiation exposure remains a concern. Several reasons for the lack of protocol adjustments for pediatric head CT scans include: habit, timeliness, culture, and prioritizing good image quality. Radiation protection for patients and caregivers was implemented according to standards, including the use of aprons and educational procedures. Conclusion: The procedure was largely in accordance with theory from a technical and protective perspective, but the use of the adult protocol without adjustments increases the risk of overdose in pediatric patients. Periodic evaluation and implementation of pediatric-specific protocols based on the ALARA principle are strongly recommended for pediatric patient safety
PROSEDUR PEMERIKSAAN COLON IN LOOP PEDIATRIK DI INSTALASI RADIOLOGI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL (Studi Kasus Pada Pasien Dengan Klinis Konstipasi Kronis Berusia 3 Tahun) Reksal Makaramah; Sofie Nornalita Dewi; Ayu Mahanani
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The Colon in Loop examination is an important radiographic procedure for evaluating cases of chronic constipation in pediatric patients. At PKU Muhammadiyah Bantul Hospital, there are differences in procedures compared to existing literature, particularly regarding patient preparation, types of contrast media used, and projection techniques. The aim of this study is to determine the procedure for the Colon In Loop examination, patient preparation, types of contrast media used, and projection techniques at the Radiology Installation of PKU Muhammadiyah Bantul Hospital.Method: This research employed a qualitative approach with a descriptive method and case study design. The study was conducted at the Radiology Installation of PKU Muhammadiyah Bantul Hospital from May to June 2025, involving three radiographers and one radiology specialist as subjects. Data collection methods included observation, interviews, documentation, and literature review. Data analysis was performed through data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing.Result: The results indicated that the Colon In Loop examination procedure only required general preparation and did not involve any special preparation. The contrast media used was water-soluble, and the antero-posterior (AP) projection was employed, as it was adjusted to the non-cooperative condition of pediatric patients. Conclusion: The procedure for the Colon In Loop examination in pediatric patients at the Radiology Installation of PKU Muhammadiyah Bantul Hospital involved only general preparation without any special preparation. The contrast media used was a water-soluble mixture of iohexol and NaCl, administered gradually, as its non-ionic nature prevents excessive absorption by the body and provides stability when entering the bloodstream, making it safer for patients. The use of the antero- posterior (AP) projection was tailored to the non-cooperative condition of pediatric patients. It is recommended that examinations be conducted using X-ray equipment equipped with fluoroscopy to visualize the flow of contrast media
PROSEDUR PEMERIKSAAN COLON IN LOOP PADA KLINIS CARCINOMA COLON DI INSTALASI RADIOLOGI RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG Muhammad Yandi Arafah; Sofie Nornalita Dewi; Ari Anggraeni
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pemeriksaan colon in loop merupakan prosedur radiografi penting dalam evaluasi kinis Carcinoma colon. di Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Gombong, terdapat perbedaan dalam pelaksanaan prosedur, mulai dari persiapan pasien, alat dan bahan yang digunakan, teknik pemasukan media kontras, hingga pemilihan proyeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan, alasan modifikasi tahapan, dan fungsi masing-masing proyeksi. Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dilaksanakan pada Agustus–Juli 2025. Subjek penelitian adalah tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, lalu dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan pasien terdiri dari persiapan umum dan khusus, persiapan alat dan bahan tidak menggunakan alat fluoroscopy. Teknik pemeriksaan diawali dengan proyeksi Anteroposterior (AP) abdomen polos, dilanjutkan pemasukan media kontras barium menggunakan proyeksi anteroposterior post kontras. Kemudian dilakukan teknik full filing dengan campuran 30cc media kontras positif dan 30cc negatif dimasukkan secara bersamaan, menggunakan proyeksi anteroposterior dan left posterior oblique (LPO). Modifikasi prosedur dilakukan untuk memperluas lumen usus, memastikan ada tidaknya sumbatan oleh tumor, serta meningkatkan efisiensi waktu. Proyeksi anteroposterior digunakan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh colon, sedangkan oblique untuk memperjelas lekukan colon pada flexura hepatika dan lienalis. Kesimpulan : Prosedur di RS PKU Muhammadiyah Gombong tidak menggunakan fluoroscopy, serta menggunakan kombinasi proyeksi anterioposterior dan oblique. Disarankan penggunaan modalitas sinar-X dengan fluoroscopy dan teknik double kontras serta proyeksi post evakuasi untuk hasil diagnostik yang lebih optimal.
PROSEDUR PEMERIKSAAN ABDOMEN AKUT MENGGUNAKAN PROYEKSI LATERAL DORSAL DECUBITUS (Studi Kasus pada Pasien Suspect Ileus di RSUD Sidoarjo Barat) Febi Meito Lauhanda; Sofie Nornalita Dewi; Lutfiana Desy Saputri
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Teknik pemeriksaan abdomen akut adalah pemeriksaan yang digunakan pada kasus kegawatdaruratan abdomen, berfungsi untuk mendeteksi udara bebas dan air fluid level pada rongga peritoneum. Terdapat perbedaan prosedur yang dilakukan pada pemeriksaan abdomen akut di Instalasi Radiologi RSUD Sidoarjo Barat, yaitu pada penambahan proyeksi Lateral Dorsal Decubitus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pemeriksaan abdomen akut pada suspect ileus di Instalasi Radiologi RSUD Sidoarjo Barat, mengetahui masing-masing proyeksi yang digunakan serta alasan menggunakan proyeksi Lateral Dorsal Decubitus di Instalasi Radiologi RSUD Sidoarjo Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD Sidoarjo Barat dilakukan pada bulan September 2024 - Mei 2025. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi, dan wawancara. Dilakukan dengan 3 radiografer, 1 dokter spesialis radiologi, dan 1 dokter pengirim. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, transkrip wawancara, penyajian data, kemudian ditarik kesimpulan. Hasil: Prosedur pemeriksaan abdomen akut pada suspect ileus dilakukan melalui tahapan sistematis, termasuk persiapan pasien dan alat, serta pelaksanaan teknik pemeriksaan menggunakan tiga proyeksi yaitu: AP supine, LLD, dan Lateral Dorsal Decubitus. Masing-masing proyeksi memiliki tujuan diagnostik berbeda yang saling melengkapi, seperti mendeteksi distribusi gas, menilai adanya air-fluid level, serta mengidentifikasi udara bebas di rongga abdomen. Proyeksi Lateral Dorsal Decubitus digunakan sebagai alternatif ketika pasien tidak mampu berdiri atau duduk. Kesimpulan: Pemeriksaan radiografi abdomen pada kasus suspect ileus di RSUD Sidoarjo Barat sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur Rumah Sakit, tetapi terdapat penambahan proyeksi Lateral Dorsal Decubitus. Ketiga proyeksi yang digunakan memiliki fungsi saling melengkapi dalam menunjang diagnosis. Proyeksi Lateral Dorsal Decubitus memberikan nilai diagnostik tambahan dalam kondisi keterbatasan posisi pasien dan efektif untuk visualisasi air-fluid level secara lateral. Sebaiknya pada pemosisian dan pengaturan eksposi pasien pemeriksaan abdomen akut lebih diperhatikan
Prosedur Pemeriksaan Fistulografi Pada Kasus Fistula Periumbilical Di Unit Radiologi RS PKU Muhammadiyah Wonosobo Maghfiroh, Hidayatul; Dewi, Sofie Nornalita; Astari, Fisnandya Meita
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 4 No 2 (2025): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol4.Iss2.1852

Abstract

Fistulografi merupakan pemeriksaan radiologi menggunakan media kontras water soluble  yang diinjeksikan ke dalam lubang fistula untuk memvisualisasikan jalur fistula. Belum banyak laporan yang menjelaskan variasi prosedur radiologi di rumah sakit daerah  khususnya pemeriksaan radiologi pada kasus fistula periumbilical. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan, alasan dilakukan modifikasi pada pemasukan media kontras, dan alasan dilakukan masing-masing proyeksi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada satu pasien dengan diagnosa fistula periumbilical yang menjalani pemeriksaan fistulografi di Unit Radiologi RS PKU Muhammadiyah Wonosobo. Metode pengumpulan data meliputi observasi langsung, dokumentasi,  wawancara, dan studi kepustakaan. Data dianalisis dengan  cara reduksi data, penyajian data, dan ditarik kesimpulan. Prosedur pemeriksaan fistulografi pada kasus fistula periumbilical di Unit Radiologi RS PKU Muhammadiyah Wonosobo tidak memerlukan persiapan khusus dan dilakukan dengan menggunakan proyeksi AP pendahuluan, lateral dorsal decubitus post kontras, dan AP post kontras. Pemasukan media kontras dilakukan dengan menggunakan abocath ukuran 18 dan spuit 20 cc dengan total media kontras 60 ml yang dibagi menjadi 3 tahap pemasukan. Penggunaan proyeksi tersebut sudah mampu mengidentifikasi adanya fistula pada umbilical. Sebaiknya pemeriksaan fistulografi dilakukan dengan fluoroscopy untuk memperoleh gambaran secara real-time atau CT-Scan untuk memperoleh detail anatomi yang lebih baik.
TEKNIK PEMERIKSAAN LOPOGRAFI PADA KLINIS VENTRAL HERNIA DI INSTALASI RADIOLOGI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG Nisa, Salsabila Aidatun; Dewi, Sofie Nornalita; Wati, Retno
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.49688

Abstract

Lopografi adalah pemeriksaan kolon menggunakan media kontras yang dimasukkan melalui kolostomi untuk mengevaluasi fungsi anatomi dan fisiologi kolon distal hingga anus, khususnya pada kondisi klinis ventral hernia. Di Instalasi Radiologi RSI Sultan Agung Semarang, prosedur lopografi pada kasus ventral hernia menggunakan media kontras water soluble dengan volume 400 ml dan perbandingan 1:6, yang berbeda dari teori umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan lopografi serta alasan penggunaan media kontras water soluble dengan volume dan perbandingan tersebut pada kasus ventral hernia di fasilitas tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dilakukan antara Oktober 2024 hingga Juli 2025. Subjek penelitian terdiri dari tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi, sedangkan objek penelitian adalah teknik pemeriksaan lopografi pada ventral hernia. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan studi pustaka, kemudian dianalisis dengan tahapan pengumpulan, reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan persiapan pasien hanya meliputi penandatanganan informed consent dan pelepasan benda logam. Proyeksi pemeriksaan menggunakan posisi AP, lateral, RPO, dan LPO. Media kontras water soluble dimasukkan melalui stoma dengan volume 400 ml perbandingan 1:6 tanpa menggunakan alat takar. Media kontras ini mudah diserap tubuh dan dikeluarkan melalui urin serta keringat. Volume dan perbandingan tersebut memungkinkan media kontras melewati kolon asenden hingga rektum dengan cepat tanpa adanya obstruksi. Kesimpulannya, penggunaan media kontras water soluble dipilih karena sifatnya yang mudah diserap dan diekskresikan, serta volume 400 ml dengan perbandingan 1:6 sesuai dengan letak kolostomi di distal kanan dan mencukupi untuk menyelimuti kolon.  
Prosedur Pemeriksaan CT Scan Kepala Polos pada Kasus Microcephaly di Instalasi Radiologi RS Roemani Muhammadiyah Semarang : (Studi Kasus pada Pasien Pediatrik Usia 5 Bulan) Shintanaya Anggraeni; Sofie Nornalita Dewi; Ike Ade Nur Liscyaningsih
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Juli: Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v5i2.6074

Abstract

Microcephaly is a condition in which a child's head circumference is smaller than the average for age and gender. The diagnosis can be made using a CT Scan, which should be adjusted to the patient's age according to the IAEA protocol (2012), with an ideal effective dose of 1.8–3.8 mSv for a tube current of 200 mAs. However, at the Radiology Installation of Roemani Muhammadiyah Hospital Semarang, the examination was carried out without differentiating age, resulting in an excess dose of 9.317 mSv. This study aims to evaluate the procedures, diagnostic information, and radiation protection in plain head CT Scans of pediatric patients with microcephaly. This study used a qualitative approach through observation, interviews, and documentation of 3 radiographers, 1 PPR, and 1 radiologist. The results showed no protection for patients and only basic protection for companions. CT Scans showed decreased brain volume and ventriculomegaly. It is recommended that the CT Scan protocol be adjusted to the child's age to reduce the radiation dose, through the setting of exposure factors, slice thickness, and pitch.
PROSEDUR PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA DENGAN KLINIS STROKE HEMORRHAGIC DI RS PKU MUHAMADIYAH YOGYAKARTA Helmida, Sri Liana; Dewi, Sofie Nornalita; Widyasari, Dina
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.7153

Abstract

This study was motivated by variations in head CT scan protocols for hemorrhagic stroke cases. While general practice uses a 5-8 mm slice thickness, PKU Muhammadiyah Hospital Yogyakarta employs a 2 mm slice thickness, accompanied by hemorrhage volume calculations. This discrepancy between general practice and the specific protocol necessitates an in-depth analysis. Therefore, this study focuses on describing the examination procedure, analyzing the rationale for using a 2 mm slice thickness, and understanding the role of hemorrhage volume calculations. This study employed a qualitative method with a case study approach involving three radiographers, one radiologist, and one patient. Data collection was conducted through observation, interviews, and documentation. The results showed that the procedures implemented were in accordance with theoretical standards. Key findings revealed that the use of a 2 mm slice thickness aims to produce higher image detail, allowing for clearer visibility of intracerebral hemorrhage. Furthermore, automatic hemorrhage volume calculations play a crucial role in determining neurosurgical procedures. It was concluded that this specific protocol is effective for diagnosis and treatment planning, but additional fixation and radiation protection of the ocular lens are recommended to optimize patient safety. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya variasi protokol dalam pemeriksaan CT Scan kepala untuk kasus strok hemoragik, di mana praktik umum menggunakan slice thickness 5-8 mm, sedangkan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta diterapkan slice thickness 2 mm disertai perhitungan volume perdarahan. Kesenjangan antara praktik umum dengan protokol spesifik ini mendorong perlunya analisis mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan prosedur pemeriksaan, menganalisis alasan penggunaan slice thickness 2 mm, dan mengetahui peran perhitungan volume perdarahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang melibatkan tiga radiografer, satu dokter spesialis radiologi, dan satu pasien. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur yang diterapkan telah sesuai dengan standar teori. Temuan utama mengungkap bahwa penggunaan slice thickness 2 mm bertujuan untuk menghasilkan detail citra yang lebih tinggi sehingga perdarahan intraserebral dapat terlihat lebih jelas. Selain itu, perhitungan volume perdarahan secara otomatis berperan krusial dalam menentukan tindakan bedah saraf. Disimpulkan bahwa protokol spesifik ini efektif untuk diagnosis dan perencanaan terapi, namun direkomendasikan penambahan fiksasi dan proteksi radiasi pada lensa mata untuk mengoptimalkan keamanan pasien.
PENILAIAN POSISI BACKGROUND DAN BIODISTRIBUSI PADA TIROID SCAN DENGAN METODE UPTAKE Mukmin, Amril; Za’im, Muhammad; Fakhrurreza, Muhammad; Dewi, Sofie Nornalita
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v4i3.1996

Abstract

The study was conducted at RSPAD Gatoet Soebroto with activity measurement method using dose calibrator and counting gamma cameras with ROI (region of interest) technique in the total thyroid area and outside the thyroid gland called background. With sample of 30 people, the age range is 25-60 years with clinical hyperthyroidism. The thyroid gland is performed by injecting Tc-99m pertechnetate as much as 3-5 mCi intravenously, then imaging the thyroid gland for 10-15 minutes after injection using a dual headspect gamma camera. The purpose of this study was to determine the effect of position change, background ROI distance and radioisotope biodistribution on the Tc-99m pertechnetate uptake value on thyroid scan examination. The results showed the percentage of thyroid uptake at distance of 2 cm various background positions obtained mean 24.106 ± 3.476%, at distance of 4 cm various background positions were obtained averaging 24,107 ± 3,476% and at distance of 6 cm various background positions obtained a mean of 24,108 ± 3,476%. While biodistribution showed in the area of the thyroid gland and surrounding salivary glands in hyperthyroid disease, the mean value of the thyroid gland was 562293.167 ± 122587,58 count, the pharynx was obtained at an average of 23344,36 ± 13573,35 count, on the right mandible was obtained at 8745,66 ± 4200,01 count, and the left mandible obtained a mean of 9610.66 ± 4479.10 count. The relationship between percentage of thyroid uptake in the background of 2 cm and thyroid hormone levels is shown in the equation line Y (T3) = - 0.1586X + 6.3315 (r = - 0.5378 where the relationship is strong and meaningful p = 0.0580), Y (FT4) = 0, 9374X - 16,738 (r=0.5118 strong relationship, and means p = 0.0738), and Y (TSH) = 0.1775X - 2.2629 (r = 0.1715 weak relationship and not meaningful p = 0.5754). In conclusion there is a strong relationship between the percentage of uptake with thyroid hormone T3 and FT4, on the contrary a weak relationship with TSH hormone.