Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Влияние исследования и эксплуатации космических природных ресурсов на Индонезию с точки зрения аспектов национального права (The Legal Implications of Exploration and Exploitation of Space Natural Resources for Indonesia) Junior, Laurentius Raymond; Farhani, Athari
Jurnal Cita Hukum Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v9i2.22193

Abstract

The commercialization of space in this century has become a new phenomenon that includes all kinds of activities that lead to exploration and even exploitation in space. These activities are carried out by the private sector or certain countries that have advanced technology capabilities in conducting exploration in space. Exploration activities in space are not only limited to the placement of remote sensing satellites, astronomical observations, power plants, or communication facilities but also led to the exploitation of natural resources in space. This certainly has an impact on Indonesia considering that national legal guarantees are not yet comprehensive in regulating space. Therefore this research was conducted to analyze how national laws regulate aspects of space and how the impact of exploration and exploitation of natural space resources for Indonesia. The results of this study illustrate that the existence of space has an important role for every country, especially Indonesia. Considering the existence and rapid development of space, Indonesia needs to provide a more comprehensive legal guarantee in regulating space, especially in the use of natural space resources.Keywords: Space; Exploration and Exploitation; Natural Resources Dampak Eksplorasi dan Eksploitasi Sumber Daya Alam Ruang Angkasa Bagi Indonesia Ditinjau Dari Aspek Hukum Nasional AbstrakKomersialisasi ruang angkasa di abad ini menjadi fenomena baru yang meliputi segala macam aktivitas yang mengarah pada eksplorasi bahkan eksploitasi di ruang angkasa. Aktivitas tersebut dilakukan oleh swasta maupun negara tertentu yang memiliki kemampuan teknologi canggih dalam melakukan penjelajahan di ruang angkasa. Kegiatan eksplorasi di ruang angkasa tidak hanya sebatas pada penempatan satelit penginderaan jarak jauh, observasi astronomi, pembangkit tenaga, atau sarana komunikasi namun juga sudah mengarah pada eksploitasi sumber daya alam di ruang angkasa. Hal tersebut tentu memberikan dampak bagi Indonesia mengingat jaminan hukum nasional belum begitu komprehensif mengatur berkenaan dengan ruang angkasa. Maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis bagaimana hukum nasional mengatur aspek ruang angkasa serta bagaimana dampak eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam ruang angkasa bagi Indonesia. Adapun hasil dari penelitian ini  memberikan gambaran bahwa keberadaan ruang angkasa memiliki peranan penting bagi setiap negara, khususnya Indonesia. Mengingat keberadaan serta perkembangan ruang angkasa begitu pesat, sehingga Indonesia perlu memberikan jaminan hukum yang lebih komprehensif dalam pengaturan ruang angkasa khususnya dalam pemanfaatan sumber daya alam ruang angkasa.Kata Kunci : Ruang Angkasa; Eksplorasi dan Eksploitasi; Sumber Daya Alam. Влияние исследования и эксплуатации космических природных ресурсов на Индонезию с точки зрения аспектов национального права АннотацияКоммерциализация космоса в этом столетии стала новым явлением, которое включает в себя все виды деятельности, ведущие к исследованию и даже эксплуатации космоса. Подобные действия осуществляются частным сектором или некоторыми странами, которые обладают передовыми технологическими возможностями для проведения исследований в космосе. Исследовательская деятельность в космосе не только ограничивается размещением спутников дистанционного зондирования, астрономическими наблюдениями, электростанциями или средствами коммуникации, но также ведет к эксплуатации природных ресурсов в космосе. Это, безусловно, влияет на Индонезию, учитывая, что национальные правовые гарантии еще не являются исчерпывающими в регулировании космоса. Таким образом, это исследование было проведено для анализа того, как национальное законодательство регулирует аспекты космоса и как влияют исследование и эксплуатация природных космических ресурсов на Индонезию. Результаты этого исследования показывают, что существование космоса играет важную роль для каждой страны, особенно для Индонезии. Учитывая существование и быстрое развитие космоса, Индонезии необходимо предоставить более всеобъемлющие правовые гарантии в регулировании космоса, особенно в использовании природных космических ресурсов.Ключевые слова: Космос, исследование и эксплуатация, природные ресурсы 
Justice in Proportional Inheritance Distribution Based on Contemporary Perspective Dedi Pahroji; Puti Priyana; Margo Hadi Pura; Athari Farhani; Faiqah Nur Azizah
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 24 No. 1 (2025): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v24i1.6090

Abstract

This research focuses on the application of a sense of justice in the distribution of inheritance according to contemporary Fiqh Mawaris and compares it with Islamic inheritance law and analyzes the judge's considerations in related cases. This research uses normative juridical methods with a literature approach (statute approach), comparative analysis, concept analysis and case analysis. The results of this research conclude that the sense of justice that develops in society must be taken into account when determining the distribution of inheritance. The concept of dividing inheritance property 2:1 as regulated in the Compilation of Islamic Law and referring to the arguments of the Al-Qur'an is a proportional distribution, but in certain conditions it is also not an absolute basis without considering the current conditions of society. Where currently it is not uncommon for women to take on the role of men in certain conditions, so that in terms of inheritance the division between men and women with the 1:1 concept can be considered to fulfill a sense of justice and can be said to be a proportional distribution as well
PERLINDUNGAN HUKUM PEKERJA SEKTOR PARIWISATA PASCA DISAHKANNYA UNDANG-UNDANG CIPTA KERJA Imam Budi Santoso; Wiwin Triyunarti; Faiqah Nur Azizah; Athari Farhani
Seminar Nasional Pariwisata dan Kewirausahaan (SNPK) Vol. 3 (2024): APRIL
Publisher : Sahid University Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/snpk.vol3.2024.285

Abstract

Salah satu sektor yang membantu pemulihan ekonomi nasional adalah sektor pariwisata. Bahkan, banyak negara menjadikan sektor pariwisata sebagai pilar dalam menghasilkan devisa. Penyerapan tenaga kerja menjadi kunci keberhasilan pembangunan negara pada sektor pariwisata. Perluasan penyerapan tenaga kerja ditentukan pula oleh keseimbangan kekuatan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja yang mempengaruhi upah pekerja di sektor pariwisata. Pasca terbitnya Undang-undang Cipta Kerja, kebijakan pengupahan menjadi upaya pemerintah dalam mewujudkan hak pekerja/buruh untuk dapat pengupahan yang layak bagi kemanusiaan. Namun di lain sisi, jika terjadi kenaikan upah minimum pada sektor pariwisata, maka berpengaruh pada adanya penurunan pekerja sektor pariwisata yang mengakibatkan terjadinya berbagai gejala sosial masyarakat. Maka diperlukan upaya perlindungan hukum bagi pekerja sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa persoalan tenaga kerja sektor pariwisata dan pengaturan upah minimum, pengaruh upah minimum terhadap penyerapan tenaga kerja pada sektor pariwisata, dan perlindungan hukum pekerja sektor pariwisata pasca disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian ini bahwa upah minimum menjadi batas terendah upah yang memberikan jaminan penghidupan layak bagi pekerja dan produktivitas kerja perusahaan, untuk itu perusahaan tidak boleh memberikan upah di bawah standar ketentuan upah minimum. Penentuan upah minimum memberikan pengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, sebab pemberian upah tinggi akan mempengaruhi peningkatan pelamar kerja. Perlindungan terhadap pekerja sektor pariwisata harus diiringi dengan upaya pemerintah dalam melakukan pengawasan pemberian upah dan pemerintah harus melakukan evaluasi secara intensif demi mewujudkan keseimbangan ekonomi nasional pada sektor pariwisata.
State Recognition of Indigenous Peoples’ Territorial Rights under International Human Rights Law: A Comparative Study of Indonesia and Russia Gemilang, Kharisma; Sulistiyandari, Sulistiyandari; Kartono, Kartono; Handayani, Sri Wahyu; Farhani, Athari
Lampung Journal of International Law Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Law Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/lajil.v7i2.4904

Abstract

This study analyzes the recognition and protection of indigenous peoples’ territorial rights in Indonesia and Russia within the framework of international human rights law and identifies factors affecting their effectiveness. Using a normative legal method with conceptual and comparative approaches, the study finds that Indonesia has a relatively progressive framework through constitutional recognition of indigenous communities, yet implementation remains weak due to fragmented sectoral regulations and reliance on regional administrative recognition. Russia, by contrast, adopts a centralized model that recognizes only small-numbered indigenous peoples and limits collective ownership and meaningful participation. Both countries face tensions between state sovereignty over natural resources and international obligations to protect indigenous collective rights. The study recommends adopting a multi-level governance model that balances national interests and indigenous autonomy, alongside legal reforms to strengthen implementation of the Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) principle, enabling more effective integration of international human rights norms into domestic legal systems..
Analisis Konstitusionalitas Perpol Nomor 10 Tahun 2025 dalam Perspektif Hierarki Peraturan Perundang-Undangan, Netralitas Aparatur Negara, dan Reformasi Sektor Keamanan Nur Ali Rahman; Athari Farhani
Jurnal Surya Kencana Satu : Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol. 17 No. 1 (2026): JURNAL SURYA KENCANA SATU: DINAMIKA MASALAH HUKUM DAN KEADILAN
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terbitnya Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2025 (Perpol 10/2025) yang mengatur penugasan anggota Polri di luar struktur organisasi, termasuk pada kementerian dan lembaga negara, memunculkan problematika konstitusional yang signifikan. Persoalan ini semakin kompleks pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 114/PUU-XXIII/2025 yang menegaskan bahwa anggota Polri aktif tidak dapat menduduki jabatan sipil tanpa terlebih dahulu mengundurkan diri atau pensiun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik normatif antara Perpol 10/2025 dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta peraturan terkait lainnya dalam perspektif hierarki peraturan perundang-undangan, asas-asas umum pemerintahan yang baik, dan teori negara hukum. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perpol 10/2025 berpotensi bertentangan dengan prinsip hierarki norma (Stufenbau Theory), asas legalitas, asas kepastian hukum, serta doktrin netralitas aparatur negara. Selain itu, praktik penugasan anggota Polri aktif dalam jabatan sipil berpotensi mengaburkan batas antara fungsi keamanan dan fungsi sipil serta menghambat konsolidasi reformasi sektor keamanan di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi regulasi, penegasan status kepegawaian, dan penguatan pengawasan untuk memastikan kesesuaian dengan prinsip konstitusional.