Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Artefak

NILAI FILOSOFIS BUSANA PENGANTIN ADAT KEPRABON INTEN KADATON GALUH Anisa Nurazizah Yahya; Yat Rospia Brata; Agus Budiman
Jurnal Artefak Vol 8, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.135 KB) | DOI: 10.25157/ja.v8i2.6392

Abstract

Busana pengantin adat Keprabon Inten Kadaton Galuh merupakan busana pengantin daerah khas Kabupaten Ciamis yang telah dipatenkan dan dibakukan secara nasional pada tanggal 14 Februari 2001. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai asal-usul busana, pakem pemakaiannya dan nilai filosofis yang terkandung di pakaiannya sehingga dapat menjadi salah satu sumber untuk mengenalkan busana pengantin adat Keprabon Inten Kadaton Galuh secara luas khususnya untuk masyarakat di Kabupaten Ciamis sendiri. Metode dalam penelitian ini menggunakn metode penelitian sejarah dengan mengguakan dua teknik penelitian yaitu teknik observasi dan teknik wawancara disertai dokumentasi yang dibutuhkan. Teknik observasi dan wawancara digunakan untuk mengamati pakem pemakaian busana pengantin adat Keprabon Inten Kadaton Galuh serta mengetahui bagaimana nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa busana pengantin adat Keprabon Inten Kadaton Galuh merupakan hasil rekonstruksi busana melalui penelitian sejarah, babad, naskah hingga dokumentasi pernikahan khususnya penggalian mengenai kebesaran Prabu Siliwangi untuk menghadirkan nuansa keagungan, kemegahan dan syarat akan berbagai makna dan siloka. Busana pengantin adat Keprabon inten Kadaton Galuh diilhami dari bentuk-bentuk riasan cirebon-Sumedan-Sukapura yang dikombinasikan. Secara keseluruhan busana ini memiliki banyak filosofis tentang kehidupan untuk kedua mempelai sebagai bekal hidup, namun sayangnya busana ini baru dipakai sebatas untuk pagelaran baik ditingkat nasional maupun asia, dan belum pernah dipakai di daerahnya sendiri yaitu di Kabupaten Ciamis dalam sebuah upacara pernikahan sehingga hampir tidak dikenali oleh masyarakat.Fashion custom wedding Keprabon Inten Kadaton Galuh is a bridal fashion distinctive region of Ciamis District that had been patented and standardized nationally on February 14, 2001. This study aims to obtain data about the origins of fashion, pakem use and philosophical values contained in the clothes so it can be one of the sources to introduce the bridal fashion custom Keprabon Inten Kadaton Galuh widely, especially to the community in the District of Ciamis own. The method in this research uses the method of historical research uses two research techniques, namely observation techniques and interview techniques accompanied by the required documentation. Observation and interview techniques used to observe the grip the use of fashion custom wedding Keprabon Inten Kadaton Galuh as well as knowing how philosophical values contained in it. The results showed that the bridal fashion custom Keprabon Inten Kadaton Galuh is the result of the reconstruction of fashion through historical research, the chronicle, the script to the documentation of the wedding in particular the excavation of the greatness of the King Siliwangi to bring the feel of the majesty, the splendor and the terms will be a variety of meanings and siloka. Fashion custom wedding Keprabon inten Kadaton Galuh inspired from the forms of makeup cirebon-Sumedan-Sukapura combined. Overall this dress has a lot of philosophical about life to both the bride as a provision for life, but unfortunately this fashion new used merely for performances at both national and asia, and has never been used in their own area in the District of Ciamis in a wedding ceremony so that it is almost not recognizable by the public.
PERANG SHIFIN Yat Rospia Brata
Jurnal Artefak Vol 3, No 1 (2015): Maret (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.531 KB) | DOI: 10.25157/ja.v3i1.1111

Abstract

Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang terjadinya Perang Shifin, proses terjadinya Perang Shifin, dan akibat yang ditimbulkan dari adanya Perang Shiffin. Metode yang digunakan adalah metode historis yang meliputi heuristik (pengumpulan data), kritik (pengujian), interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penulisan karya ilmiah). Teknik pengumpulan data yang dugunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Studi ini dilakukan melalui pengumpulan data dengan mempelajari sumber-sumber pustaka yang dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk membahas, memahami, dan menunjang terhadap penelitian. Perang Shifin merupakan peperangan antara pihak Ali bin Abi Thalib  dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Diawali ketika khalifah Ali bin Abi Thalib meminta Muawiyah meletakan jabatan gubernurnya, namun Muawiyah menolaknya, bahkan secara terang-terangan menentang Ali bin Abi Thalib.  Penolakan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk meletakan jabatan gubernurnya, hal ini memaksa Ali untuk bertindak melawan Muawiyah bin Abi Sofyan. Maka terjadilah pertempuran antara pihak Ali melawan Muawiyah di kota tua Shifin dekat Sungai Eufrat, pada tahun 37 H. Dalam peperangan ini sebenarnya pasukan Muawiyah telah terdesak kalah dengan 7000 pasukannya terbunuh, dan menyebabkan mereka mengangkat Al Quran sebagai tanda damai dengan cara Tahkim. Adanya Perang Shifin yang diakhiri dengan peristiwa Tahkim yaitu perselisihan yang diselsaikan oleh dua orang penengah sebagai pengadil, namun tidak menyelesaikan masalah, kecuali menegaskan bahwa gubernur yang makar itu mempunyai kedudukan yang setingkat dengan khalifah, dan menyebabkan lahirnya golongan Khawarij, yaitu golongan yang keluar dari barisan Ali.Kata kunci: Perang Shifin dan Tahkim
DINAMIKA BUDAYA DAN SOSIAL DALAM PERADABAN MASYARAKAT SUNDA DILIHAT DARI PERSPEKTIF SEJARAH Yat Rospia Brata; Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.366 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3380

Abstract

The present study aims to uncover the historical development of Sundanese people’s local entities of cultural and social dynamics from the old and recent frame and its relationship with current trends of “life” digitalization. Local wisdom growing in Sundanese social structure reflects its cultural and social identities of people as each time period indicates. Culturally, life constructs of Sundanese people refers to the Kagaluhan values that promote high civilization as reflected from arts, musical, and local traditional performances such as dances and puppets, which suggest uniquely genuine local identities. Socially, the Sundanese’s people ways of Socializing process proved egalite. The study include steps of data collection through analyzing historical sites, artefacts, and documents, and interpreting them with reference to the civilization process of each time. Moreover, the analysis of both dynamics is also encountered by the reality of current trend of disruption of digital era. The study shows that Sundanese people’cultural and social constructs represent high quality of meaningful life.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perkembangan  sejarah budaya dari entitas lokal masyarakat Sunda dan dinamika sosial budaya dari sudut pandang masa lampau dan masa kini serta hubungannya dengan tren saat ini yaitu digitalisasi "kehidupan". Kearifan lokal yang berkembang dalam struktur sosial masyarakat Sunda mencerminkan identitas budaya dan sosial masyarakatnya seiring berjalannya waktu. Dari sudut pandang budaya, tatanan kehidupan masyarakat Sunda  mengacu pada nilai Kagaluhan yang mempromosikan peradaban tinggi yang tercermin dari seni, musik, dan pertunjukkan tradisi lokal seperti tarian dan wayang, yang menunjukkan identitas lokal asli dan unik. Dari sudut pandang sosial, cara masyarakat Sunda dalam proses sosialisasi membuktikan bahwa mereka adalah kaum egaliter. Kajian ini mencakup beberapa langkah pengumpulan data seperti menganalisis situs sejarah, artefak, dan dokumen, dan serta menafsirkannya dengan mengacu pada proses peradaban tiap-tiap jaman. Selain itu, analisis masing-masing dinamika juga dihadapkan pada realitas adanya tren masa kini berupa “gangguan” di era digital ini. Kajian ini menunjukkan bahwa budaya dan tatanan masyarakat Sunda merepresentasikan tingginya kualitas kehidupan yang bermakna.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal Tradisi Ruwahan Desa Sindangsari - Banjarsari Kabupaten Ciamis Neli Rahmawati; Yat Rospia Brata; Agus Budiman; Sudarto Sudarto
Jurnal Artefak Vol 10, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i2.12232

Abstract

This study aims to determine the implementation and reveal the values of local wisdom in the Ruwahan Tradition in Sindangsari Village, Banjarsari District, Ciamis Regency. The method used in this study is historical qualitative, namely 1) heuristics, 2) criticism, 3) interpretation, and 4) historiography. Besides that, it also uses the Anthropological Method, a Socio-Cultural research method (culture domain), by using triangulation or several methods when collecting and analysing analyses simultaneously (observations, interviews, literature studies, and field notes). The data collection used in this research is 1) a Literature Study and) a Field Study. The results of this study indicate that the Ruwahan Tradition is still being preserved to this day. At the same time, the local wisdom values of the Ruwahan Tradition can be seen from the Relationship between Humans and humans (hablum minannas), Human Relations with Nature (hablum minalalam), Human Relations and God (hablum minallah). The benefit of this research is as information material about the Ruwahan Tradition in Sindangsari Village, Banjarsari District, Ciamis Regency, and it is hoped that the community will feel proud and continually preserve it as a local cultural entity in a region.
Potensi Sintren Sebagai Sumber Nilai dan Spiritual Masyarakat Petani Patimuan Sudarto, Sudarto; Nurholis, Egi; Brata, Yat Rospia
Jurnal Artefak Vol 11, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v11i2.16437

Abstract

Sintren sebagai seni pertunjukan tradisional warisan budaya masyarakat petani, muncul sebagai ekspresi budaya yang signifikan dalam masyarakat petani Patimuan. Artikel ini mengeksplorasi potensi kesenian Sintren sebagai sumber nilai dan spiritualitas, dengan menekankan perannya dalam identitas masyarakat, kohesi sosial, dan pengayaan spiritual. Fokus utamanya pada nilai spiritual dalam sintren, nilai budaya serta perubahan dan tantangan di era globalisasi yang makin menggerus seni tradisional tersebut. Melalui analisis kualitatif dan keterlibatan masyarakat, studi ini menyoroti bagaimana kesenian Sintren yang tidak hanya sebagai upaya melestarikan warisan budaya tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki dan tujuan tertentu di antara para petani. Berdasarkan penggalian potensinya didapatkan hasil bahwa Sintren sebagai sumber nilai dan spiritualitas masyarakat petani Patimuan, sekaligus sebagai media mentransmisikan cerita-cerita dan ajaran spiritual dari generasi ke generasi. Sebagai upaya mendidik masyarakat tentang pentingnya hidup selaras dengan norma-norma budaya dan agama.
PERANAN ABU UBAIDAH BIN JARRAH DALAM PERANG YARMUK TAHUN 636 M Brata, Yat Rospia; Gustina, Rina Dwi
Jurnal Artefak Vol 2, No 1 (2014): Maret (Media Cetak)
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.647 KB) | DOI: 10.25157/ja.v2i1.303

Abstract

ABSTRAKAbu Ubaidah bin jarrah r. a salah satu sahabat Nabi yang tidak  mementingkan jabatan ataupun posisi istimewa dipemerintahan, melaikan hanya menjalankan dengan kesungguhannya sebagai umat Islam. Abu Ubaidah bin Jarrah r. a merupakan sahabat Nabi yang membawa pengaruh terhadap peradaban islam dalam melakukan ekpansi wilayah di luar Arab. Sehingga menjadikan banyak daerah yang dapat dibebaskan dan kekuasaan islam semakin kuat. Atas upaya dan kesungguhannya, Alloh menjanjikan Abu Ubaidah bin Jarrah r. a. sebagai Assabiqunaal Awwalun (masuk surga). Abu Ubaidah bin Jarrah r. a. mengajarkan pentingnya berjalan di agama alloh dengan kesungguhan, keiklasan, tanpa kesombongan ataupun pamrih. Semua dijalankan berdasarkan mencari keridoan Alloh. Abu Ubaidah bin jarrah dipercaya oleh Umar bin Khttab sebagai panglima perang dalam peristiwa yarmuk tahun 636 M dimana peristiwa tersebut dimenangkan oleh umat muslim dalam penaklukan pertamanya di luar Jazirah Arab melawan Romawi Timur. Dengan strategi perang membag tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Serta, karena kehebatannya sebagai panglima beliau berhasil membunuh komandan Romawi. Kata Kunci: Abu Ubaidah dan Peranga YarmukABSTRACTAbu Ubaidah bin jarrah ra one of the companions of the Prophet were not concerned with the post or privileged position the groverenment, but only run with sincerity as Muslims. Abu Ubaidah bin Jarrah ra is a companion of the Prophet who had an impact on the Islamic civilization in doing expansion outside the Arab region. So that makes a lot of areas that can be freed and Islamic power is getting stronger. The efforts and sincerity, Allah promises Abu Ubaidah bin Jarrah ra as Assabiqunaal Awwalun (go to heaven). Abu Ubaidah bin Jarrah r. a. taught the importance of walking in the religion of Allah with sincerity, keiklasan, without vanity or self-interest. All are run by looking keridoan Allah. Abu Ubaidah bin jarrah trusted by Umar bin Khttab as a warlord in the event of Yarmuk in 636 AD where the event was won by the Muslims in the first conquest beyond the Arabian Peninsula against the East. With war strategy divide army into five parts, the front, rear, right, left and center. As well, because of his prowess as a commander, he managed to kill the Roman commander. Keyword: Abu Ubaidah and Yarmuk
Tari Jalungmas Cilacap: Representasi Masyarakat Pesisir, Makna, Simbol, dan Refleksi Karakter dalam Perspektif Ekologi Sudarto, Sudarto; Nurholis, Egi; Brata, Yat Rospia; Ramdani, Dadan
Jurnal Artefak Vol 12, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v12i2.22132

Abstract

Jalungmas dance is a new dance created by the people of Cilacap, Indonesia. This dance is adapted from Jaipong and Calung Banyumasan dances, formed from the cultural background of coastal communities, which not only feature beautiful movements and music, but also contain deep meanings that reflect their lives, values, and characters. The research aims to analyze Jalungmas dance as a representation of coastal communities, uncover the meanings and symbols contained within it, and examine the reflection of character from an ecological perspective. Using qualitative methods and an interdisciplinary approach, including observation, interviews, and documentation studies. The results of the study show that this dance represents the close relationship between the community and its natural surroundings, reflected in the movements, props, and musical accompaniment of the dance. Its meaning encompasses harmony, unity, togetherness, independence, and respect for nature. The symbols used reinforce the community's identity as fishermen. This dance also reflects a resilient, adaptive character that upholds local wisdom in living a life close to the sea. In addition, it represents and reflects a hard-working character that is adaptive to the environment. This dance is a medium for preserving local culture and strengthening identity. The research is expected to provide new insights into understanding dance as a representation of society and preserving a cultural heritage that is rich in meaning and noble values.