Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Penerapan Penilaian COVID-19 Berdasarkan Wilayah Paling Diwaspadai di DKI Jakarta dengan Menggunakan Metode SAW (Simple Additive Weighting) Sulthan Hakym Pratama; Fiki Setiawan; Riyad Emiliano Salomo; Rengga Rizky Septian; Muhammad Danu Susyanto
Journal of Informatics and Advanced Computing (JIAC) Vol 2 No 2 (2021): Journal of Informatics and Advanced Computing
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jiac.v2i2.3258

Abstract

Pada tahun 2019 muncul sebuah virus COVID-19 yang menyebar masuk ke dunia. Kemudian pada tahun 2020 virus COVID-19 mulai masuk ke Indonesia. Kemunculannya di Indonesia disebabkan adanya individu yang tertular dari negara asing. Penyebarannya yang cepat di berbagai wilayah menjadi hal yang patut diwaspadai. Maka dari itu perlu adanya sebuah penyaluran dan penyaringan informasi daerah mana saja yang aman atau yang diwaspadai ketika melakukan perjalanan agar masyarakat dapat mengetahui, menghindari tempat yang tidak aman dan membantu meminimalkan orang orang terkena COVID-19 khususnya di wilayah DKI Jakarta. Pada kasus ini, informasi yang diolah menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dalam memecahkan masalah dan membantu pengambilan keputusan. Hasilnya yaitu dapat menentukan daerah mana yang paling diwaspadai di DKI Jakarta berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Sehingga didapatkan bahwa daerah Jakarta Timur menjadi daerah yang paling diwaspadai dari seluruh wilayah DKI Jakarta.
The “Anjir” utterances in everyday communication of Gen-Z students Zul Fauzi, Arief; Hasan, Imam; Kamal, Bahri; Setiawan, Fiki
JPTK : JURNAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS Vol 4 No 1 (2025): May : IJOLEH
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/ijoleh.v4i1.313

Abstract

This study aims to analyze the meaning and function of the word "anjir" in the communication of Gen Z students at Harapan Bersama Polytechnic. The word "anjir" is a form of slang that has shifted in meaning from a curse to a symbol of emotional expression, social, and group identity. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, digital conversation documentation, and semi- structured interviews. The results of the analysis show that the word "anjir" is used in various forms such as "anjay", "bjir", "jir", and so on, each of which reflects a certain emotional intensity. In meaning, "anjir" is used to express annoyance, admiration, empathy, and cuteness. Functionally, this word acts as a spontaneous expression, a filler for casual conversation, and a strengthener of social relations among students. The findings show that the word "anjir" has become part of Gen Z's distinctive communication style that is more open, egalitarian, and contextual. This research is expected to contribute to sociolinguistic studies and an understanding of the language dynamics of the younger generation.
Exploring an Artificial Intelligence as Automated Feedback Program in EFL Writing Fiki Setiawan; Annas Alkhowarizmi
ETERNAL (English Teaching Journal) Vol. 16 No. 1 (2025): February
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FPBS, Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/eternal.v16i1.1206

Abstract

This study investigates the effectiveness of Artificial Intelligence (AI) tools, namely Grammarly, QuillBot, and Ginger Software, in providing automated feedback for English as a Foreign Language (EFL) writing among Indonesian undergraduate students. It examines the potential of these AI-powered applications in identifying and correcting grammatical, punctuation, and clarity issues and paraphrasing in student writing. This research applied a descriptive qualitative method involving document analysis and interviews. The study involved comparing these tools' corrective feedback and conducting interviews with EFL writing students to understand their perceptions of using these tools. The research findings indicate varying levels of error detection and correction suggestions across the tools, with some differences in their efficiency. While Grammarly, QuillBot, and Ginger Software show promise in enhancing EFL writing skills, the study highlights the importance of not solely relying on these tools. Key findings reveal that Grammarly excels in grammatical accuracy, QuillBot offers superior paraphrasing capabilities, and Ginger provides limited feedback in comparison.  It suggests that integrating AI feedback with traditional methods of teacher and peer reviews can lead to optimal writing outcomes. The paper also discusses students' perceptions of using these tools, noting a preference for Grammarly due to its simplicity and effectiveness. Students reported improved grammar and motivation but exhibited tendencies toward over-reliance, potentially limiting critical thinking and independent writing skills. However, some students exhibited over-reliance on these tools, potentially hindering their critical thinking and independent writing skills. The study emphasizes the importance of using AI-powered tools strategically, alongside human editing and critical thinking practices, to maximize EFL writing development.
Skrining Bank Darah untuk Pemeriksaan Hepatitis C di Kelurahan Tukmudal Kecamatan Sumber Ikhwani, Ikhwani; Setiawan, Fiki; Prambudi, Hery
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i6.14945

Abstract

ABSTRAK Transfusi darah adalah bagian paling penting bagi pelayanan kesehatan bila digunakan dengan baik dengan alasan menyelamatkan jiwa. Transfer darah membawa risiko penularan penyakit menular yang ditularkan melalui darah seperti hepatitis C, serta risiko transfusi darah lainnya yang dapat mengancam jiwa. Efek penyakit menular lewat transfusi darah bergantung pada banyak faktor, misalkan pravelensi penyakit di masyarakat, efektifitas skrining yang digunakan, kekebalan tubuh penerima dan jumlah donor tiap unit darah. Kegiatan PKM ini bertujuan membantu puskesmas Watubelah dalam mendata warga Keluahan Tukmudal yang sehat dan bebas dari virus hepatitis C. Teknik pengupulan data menggunakan pedoman wawancara dan observasi dengan lembar kuisioner untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil skrining bank darah di dapatkan rata-rata hemoglobin 13,69 g/dl pada wanita dan 14,15 g/dl pada laki-laki sedangkan rata-rata pada keseluruhan yaitu 13,59 g/dl, persentase golongan darah A 31% dengan jumlah 15 orang, golongan darah B 34% dengan jumlah 16 orang, golongann darah O 33% dengann jumlah 16, golongan darah AB 2% dengan jumlah 1 orang. Pemeriksaan imuneserologi yang meliputi pemeriksaan HIV, HCV, HBsAg, sifilis dengan hasil non-reaktif pada 48 responden. Kata Kunci: Skrining Bank Darah,Tranfusi Darah, Hepatitis C, HCV  ABSTRACT Blood transfusion is the most important part of health services if used properly for the reason of saving lives. Blood transfers carry the risk of contracting blood-borne infectious diseases such as hepatitis C, as well as other risks of blood transfusions that can be life-threatening. The effect of a disease transmitted by blood transfusion depends on many factors, such as the prevalence of the disease in the community, the effectiveness of the screening used, the immunity of the recipient, and the number of donors per unit of blood. This PKM activity aims to help the Watubelah Health Center by recording data on residents of the Tukmudal Village who are healthy and free from the hepatitis C virus. The data collection technique used interview and observation guidelines with questionnaire sheets for further examination. Blood bank screening results showed an average hemoglobin of 13.69 g/dl in women and 14.15 g/dl in men while the overall average was 13.59 g/dl, the percentage of blood group A was 31% with a total of 15 people, blood type B 34% with a total of 16 people, blood group O 33% with a total of 16, blood type AB 2% with a total of 1 person. Immunoserology examination which includes examination for HIV, HCV, HBsAg, and syphilis with non-reactive results in 48 respondents. Keywords: Blood Bank Screening, Blood Transfusion, Hepatitis C, HCV
Skrining Bank Darah untuk Pemeriksaan Golongan Darah di Kelurahan Tukmudal Kecamatan Sumber Supenah, Pipin; Ikhwani, Ikhwani; Setiawan, Fiki
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i1.12186

Abstract

ABSTRAK Untuk memastikan keamanan dan keberhasilan transfusi darah, pemeriksaan golongan darah dalam bank darah sangat penting. Artikel ini membahas skrining bank darah untuk menentukan golongan darah pendonor dengan tepat, mengurangi risiko reaksi transfusi, dan memastikan kompatibilitas yang optimal. Sistem ABO adalah metode utama yang dianalisis selama proses pemeriksaan golongan darah [1]. Telah dilakukan penelitian tentang antibodi yang ada di dalam serum golongan darah A, B, dan O. Reaksi serum golongan darah dengan antigen ditunjukkan dengan aglutinasi.   Penelitian ini mengolah data secara statistik menggunakan metode statistik non parametrik Kruskal Wallis. Hasilnya menunjukkan bahwa serum golongan darah A, B, dan O dapat digunakan sebagai pengganti reagen anti A, anti B, dan anti AB untuk menentukan golongan darah. Pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus (Rh). Ini penting untuk mencegah inkompabilitas golongan darah dan menentukan kemungkinan seorang wanita mengalami ketidakcocokan rhesus dengan janinnya. Reaksi transfusi imunologis, yang dapat menyebabkan anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian, dapat terjadi karena transfusi darah dari golongan darah yang tidak kompatibel. Hasil dari skrining bank darah dari 48 responden didapatkan golongan darah A 31% sebanyak 15 orang, golongan darah B 34% sebanyak 16 orang, golongan darah O 33% sebanyak 16 orang, golongan darah AB 2% sebanyak 1 orang. Kesimpulannya pada kegiatan pengabdian ini yakni terlaksana dengan baik dan lancar[2]. Kata Kunci: Golongan Darah, Skrinning Bank Darah, Sistem ABO ABSTRACT To ensure the safety and success of blood transfusions, blood group screening within the blood bank is essential. This article discusses blood bank screening to correctly determine the donor's blood type, reduce the risk of transfusion reactions, and ensure optimal compatibility. The ABO system is the main method analyzed during the blood group screening process [1]. Research has been conducted on the antibodies present in the serum of blood groups A, B, and O. The reaction of blood group serum with antigen is indicated by agglutination. This study processed data statistically using the Kruskal Wallis non-parametric statistical method. The results show that blood group A, B, and O serum can be used as a substitute for anti-A, anti-B, and anti-AB reagents to determine blood type. ABO and Rhesus (Rh) blood group examination. This is important to prevent blood group incompatibilities and determine the possibility of a woman having a rhesus incompatibility with her fetus. Immunological transfusion reactions, which can lead to hemolysis anemia, renal failure, shock, and death, can occur due to blood transfusions of incompatible blood groups. The results of the blood bank screening of 48 respondents obtained blood type A 31% as many as 15 people, blood type B 34% as many as 16 people, blood type O 33% as many as 16 people, blood type AB 2% as many as 1 person. In conclusion, this service activity was carried out well and smoothly [2].  Keywords: Blood Type, Blood Bank Screening, ABO System
Deteksi Dini Pencegahan Stunting pada Remaja melalui Pemeriksaan Laboratorium : Kalsium Darah Al Sas, Oktafirani; Setiawan, Fiki; Aji, Rizal Ibrahim
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.19913

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak karena kekurangan makanan bergizi, sering sakit, atau kurang stimulasi. Kekurangan protein dan mikronutrien, termasuk kalsium, merupakan faktor risiko utama stunting. Berdasarkan data tahun 2014 menunjukkan bahwa 23,8% anak di seluruh dunia dan 33,5% anak di negara-negara berkembang mengalami stunting atau pertumbuhan terhambat. Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi stunting pada remaja mencapai 35,1%. Provinsi Jawa Timur prevalensi stunting pada remaja mencapai 31,1%, sebanyak 10,8% dikategorikan sangat pendek dan 20,3% lainnya dikategorikan pendek. Pemeriksaan kalsium darah pada remaja awal sangat penting karena kalsium tidak hanya penting untuk pertumbuhan tulang, tetapi juga berperan dalam berbagai fungsi tubuh lainnya, seperti kontraksi otot, transmisi saraf, dan pembekuan darah. Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, kekurangan kalsium dapat dideteksi dini dan segera diberikan pencegahan yang tepat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang sejak dini, terutama terkait dengan peran kalsium dalam pertumbuhan tulang. Manfaat pemeriksaan kadar kalsium darah, diharapkan dapat mendeteksi potensi risiko stunting pada generasi mendatang dan mendorong remaja untuk melakukan gaya hidup sehat. Kegiatan ini di laksanakan di SMAN 1 Dukupuntang, Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Pelaksanaan kegiatan PKMD ini pada tanggal 02 September 2024 sampai tanggal 09 September 2024. Hasil pemeriksaan kadar kalsium darah pada seluruh responden (48 orang) menunjukkan bahwa 100% memiliki kadar kalsium di bawah normal. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Kalsium Darah  ABSTRACT Stunting is the impaired growth and development of children due to lack of nutritious food, frequent illness or lack of stimulation. Protein and micronutrient deficiencies, including calcium, are major risk factors for stunting. Based on 2014 data, 23.8% of children worldwide and 33.5% of children in developing countries experience stunting or stunted growth. In Indonesia, based on the results of the Basic Health Research in 2013, the prevalence of stunting in adolescents reached 35.1%. In East Java, the prevalence of stunting in adolescents reached 31.1%, with 10.8% categorized as very short and 20.3% categorized as short. Checking blood calcium in early adolescents is very important as calcium is not only essential for bone growth, but also plays a role in various other bodily functions, such as muscle contraction, nerve transmission, and blood clotting. By conducting regular checks, calcium deficiency can be detected early and appropriate prevention can be given immediately. The purpose of this activity is to increase knowledge about the importance of balanced nutrition from an early age, especially related to the role of calcium in bone growth. Through checking blood calcium levels, it is expected to detect the potential risk of stunting in future generations and encourage adolescents to adopt a healthy lifestyle. This activity was carried out at SMAN 1 Dukupuntang, Dukupuntang, Cirebon Regency. The implementation of this PKMD activity was on September 02, 2024 to September 09, 2024. The results of checking blood calcium levels in all respondents (48 people) showed that 100% had calcium levels below normal. Keywords: Stunting, Adolescents, Blood Calcium
Investigating the Influence of Socio-Emotional Learning Intervention on Student Motivation and Academic Self-Efficacy in Indonesian Schools Abid Nurhuda; Fiki Setiawan; Nadine Souheil Hasan Haidar
Educational Dynamics: International Journal of Education and Social Sciences Vol. 1 No. 1 (2024): January: Educational Dynamics: International Journal of Education and Social Sc
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70062/educationaldynamics.v1i1.268

Abstract

This study investigates the impact of a Social and Emotional Learning (SEL) intervention on student motivation and academic self-efficacy in junior high schools in Indonesia. The research utilized a quasi-experimental design with pre-test and post-test assessments to measure changes in intrinsic motivation and academic self-efficacy among the participants. A total of 200 students were divided into an experimental group, which participated in the SEL program, and a control group, which did not receive the intervention. The SEL program, delivered over one semester, focused on improving students' emotional regulation, social skills, and self-awareness, with an emphasis on autonomy, competence, and relatedness. The results demonstrated significant improvements in both intrinsic motivation and academic self-efficacy for the experimental group, with average increases of +19.2 and +17.4 points, respectively. Statistical analysis showed that the SEL intervention had a significant positive effect, with t-values of 7.56 (motivation) and 6.32 (self-efficacy) and p-values less than 0.01. In contrast, the control group exhibited minimal changes in both variables. These findings suggest that SEL interventions can foster a more balanced approach to learning by enhancing both emotional and academic development. The study highlights the importance of incorporating SEL programs into the curriculum to support students' holistic growth and academic success.