Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Larutan Kencur (Kaempferia galanga) Pada Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Benih Ikan Lele (Clarias sp) Prajayati, Vini Taru; Akbarurrasyid, Muhammad; Sudinno, Dinno; Wicaksono, Ronggo; Samsuharapan, Sri Budiani
Jurnal Salamata Vol 5, No 2 (2023): Desember
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v5i2.12828

Abstract

Pada kegiatan budidaya penggunaan suplemen pakan sangat diperlukan untuk meningkatkan nutrisi pada pakan sehingga memberikan pertumbuhan yang maksimal. Salah satu tanaman herbal dari bahan rempahrempah yang cocok dijadikan suplemen dalam pakan adalah kencur. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui efektivitas larutan kencur pada pakan komersial sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan lele. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Pada penelitian ini perlakuan 3 memberikan hasil yang terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 5,2 cm dan bobot mutlak sebesar 4,5 gram. Pada perlakuan kontrol didapatkan hasil terendah dengan nilai panjang mutlak sebesar 4,6 cm dan bobot mutlak sebesar 3,7 gram. Tingkat kelulushidupan benih ikan lele selama pemeliharaan dengan nilai sebesar 94.3%.
NILAI PARAMETER KUALITAS AIR PADA PEMELIHARAAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) Astiyani, Wahyu Puji; Humaira, Fatma; Febriani, Vini Taru; Akbarurrasyid, Muhammad; Prama, Ega Aditya
Jurnal Salamata Vol 6, No 1 (2024): Juni
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v6i1.13647

Abstract

Kualitas air merupakan salah satu indikator yang sangat mempengaruhi keberhasilan pemeliharaan lobster. Sumber air merupakan pertimbangan yang sangat penting dalam pemeliharaan lobster air tawar (Cherax quaricarinatus) karena untuk memelihara lobster air tawar memerlukan air yang cukup, serta  air  yang digunakan harus berkualitas baik sehingga pertumbuhan lobster menjadi lebih cepat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai parameter kualitas air pada pemeliharaan lobster air tawar (Cherax quaricarinatus). Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengukur parameter kualitas air yang meliputi suhu, derajat keasaman (pH), Dissolved Oxygen (DO), amoniak dan total alkalinitas. Nilai rata-rata parameter kualitas air pada tandon meliputi suhu dengan nilai 26-28°C; pH dengan nilai 6-7 ppm; DO dengan nilai 3,3-6,8 ppm; amoniak dengan nilai 0; dan total alkalinitas dengan nilai 297,4-310,6 ppm. Nilai rata-rata parameter kualitas air pada kolam pemeliharaan meliputi suhu dengan nilai 26-32°C; pH dengan nilai 6,5-8,4 ppm; DO dengan nilai 57,4 ppm; amoniak dengan nilai 0.01 ppm; dan total alkalinitas dengan nilai 304,2-339,6 ppm. Nilai rata-rata pada kolam IPAL meliputi suhu 26,4-29,4°C; pH dengan nilai 7,4-8 ppm; DO dengan nilai 5,3-7,6 ppm; amoniak dengan nilai 0.01 ppm; dan total alkalinitas 332,971-351,6 ppm.
Identifikasi Plankton pada Tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Teaching Factory Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran Kristiana, Indra; Astiyani, Wahyu Puji; Pietoyo, Atiek; Maulidia, Annisa Intan; Akbarurrasyid, Muhammad
Samakia : Jurnal Ilmu Perikanan Vol 15 No 1 (2024): Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan
Publisher : Faculty of Science and Technology University Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/jsapi.v15i1.4546

Abstract

Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) are one of the mainstays of Indonesia's aquaculture sector, which has great export potential. The development of Millennium Shrimp Farming (MSF) or millennial generation of shrimp farming means that the younger generation is encouraged to actively farm shrimp in a millennial way with the concept of cultivation using small amounts of land, low salinity and maximizing the regulation of water quality. Water quality in vannamei shrimp cultivation is managed by utilizing the application of probiotics and plankton growth. Plankton plays an important role in aquaculture, as natural food and an indicator of the fertility and stability of water bodies. Plankton itself is one of the main components in the food chain system and food web in vannamei shrimp cultivation. The aim of this research was to determine the type of plankton found in the vannamei shrimp ponds of Pangandaran Marine and Fisheries Polytechnic Teaching Factory. The data analysis method used is descriptive quantitative. The test parameters in this research were: plankton abundance, plankton diversity, plankton uniformity and dominance of plankton species found in vannamei shrimp ponds. The results of plankton identification in vannamei shrimp cultivation ponds in Pangandaran Maritime and Fisheries Polytechnic Teaching Factory revealed 7 species of plankton, including: (50-71)% from the Chlorophyta (green algae) group; (16-32)% from the Cyanophyta group (blue-green algae); (2-13)% from the Chrysophyta group (diatoms); 1% from the Phyrrophyta group (dinoflagellates); (2-3)% from the group of protozoa; (1-2)% from the Branchiopoda group and (2-8)% from the Euglenophyta group. The observation results show that the water in vannamei shrimp ponds has moderate biota community stability with plankton uniformity index values ​​under moderate or unstable conditions. Otherwise, there is no individual dominance in the shrimp pond waters.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NP DAN TRACEMETAL DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Tetraselmis sp. PADA SKALA LABORATORIUM DI PT CENTRAL PROTEINA PRIMA HATCHERY ANYER, BANTEN Wahyu Puji Astiyani; Indra Kristiana; Gilang Alifudin Ghofar; Muhammad Akbarurrasyid; Atiek Pietoyo
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 4 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i4.388

Abstract

Pupuk tracemetal adalah larutan yang terdiri dari FeCl3.6H2O, EDTA, CuSO4.5H2O, CoCl2.6H2O, MnCl2.4H2O, Na2MoO4.H2O, ZnSO4.7H2O. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh perbedaan pemberian dosis pupuk pada peningkatan pertumbuhan dan kepadatan Tetraselmis sp. Pupuk NP adalah larutan yang terdiri dari NaNO3 dan DSP. Metode penelitian dilakukan menggunakan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu perlakuan A pengurangan dosis pupuk NP 30% (7 ml) dan penambahan pupuk tracemetal 70% (17 ml), perlakuan B penambahan dosis pupuk NP (70%) (17 ml) dan pengurangan pupuk tracemetal 40% (7 ml), perlakuan C penambahan pupuk NP 60% (16 ml) dan pengurangan pupuk tracemetal 40% (6 ml), dan kontrol (K). Parameter yang diamati yaitu kepadatan sel harian, laju pertumbuhan harian, waktu generasi, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan larutan penambahan dan pengurangan dosis pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kepadatan Tetraselmis sp. dengan perlakuan B dengan dosis terbaik yaitu kepadatan sel sebesar 95 x 104 sel/mL dan laju pertumbuhan harian sebesar 3.99936 sel/mL/hari.
PEMANFAATAN SILASE DAUN KELOR (Moringa oleifera) DALAM FORMULASI PAKAN TERHADAP EFISIENSI NUTRIEN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Muhammad Akbarurrasyid; Vini Taru Febriani Prajayati; Achmad Sofian; Dinno Sudinno; Ega Aditya Prama; Wahyu Puji Astiyani; Indra Kristiana
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 2 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i2.539

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan baku lokal yang memiliki kandungan protein nabati sebesar 21,49% sehingga dapat dijadikan alternatif dalam penyusunan formulasi pakan buatan. Potensi penggunaan daun kelor sebagai bahan baku dalam formulasi pakan dapat dilakukan dalam bentuk silase. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan dan persentase silase daun kelor dalam formulasi pakan terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakasana dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penelitian dilakukan dengan mengindetifiksi potensi silase daun kelor, persiapan pakan perlakuan dan uji biologi terkait efesiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Hasil penelitian menunjukan pemanfaatan silase daun kelor memiliki potensi yang sama seperti pakan komersial terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Nilai efisiensi nutrient tidak menunjukan perbedaan signifikan antara pakan formulasi silase dan tanpa silase daun terhadap rasio konversi pakan dan retensi energi (P>0.05), sebaliknya mengalami perbedaan signifikan terhadap rasio efisiensi protein (P<0.05). Pertumbuhan ikan nila yang diperoleh tidak menunjukan perbedaan signifikan antara formulasi silase dan tanpa formulasi terhadap pertumbuhan bobot mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan tingkat kelangsungan hidup (P>0.05), hal ini menujukan bahwa kualitas pakan formulasi silase sama dengan pakan tanpa formulasi tapi memiliki tingkat rasio efisiensi protein yang rendah.  
KEANEKARAGAMAN TEMPORAL PLANKTON SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN DI AREA TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Muhammad Akbarurrasyid; Vini Taru Febriani Prajayati; Mustika Katresna; Dinno Sudinno; Sofian Sofian
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 3 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i3.621

Abstract

Plankton merupakan mikroorganisme yang memiliki fungsi dan jasa ekosistem penting pada lingkungan perairan. Plankton rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan perairan sehingga dapat dijadikan indikator kualitas lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman temporal plankton sebagai bioindikator kualitas lingkungan perairan pada area sekitar tambak udang vannamei. Penelitian dilakukan dengan cara survey dan identifikasi terhadap plankton dan kualitas air secara temporal. Plankton yang teridentifikasi dilakukan analisis indeks biologi (keanekaragaman, keseragaman dan dominansi), kualitas air dianalisis secara deskriptif kualitatif serta analisis regresi untuk mengetahui peran plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. Hasil penelitian diperoleh kelimpahan dan kepadatan plankton kelompok Chlorophyceae sebesar 78,30% (3 Genus), Cyanophyceae sebesar 12,89% (2 Genus), Bacillariophyceae sebesar 5,98% (3 Genus), Dinoflagelata sebesar 2,52% (2 Genus) dan lain-lain sebesar 0,31% (1 Genus). Kelimpahan dan kepadatan plankton secara temporal berpengaruh terhadap kualitas air. Hasil pengamatan kualitas air mengalami fluktuasi yang mendukung kelimpahan dan kepadatan plankton, sedangkan hasil uji regresi keanekaragaman (R2 = 0,7854), keseragaman (R2 = 0,9643) dan dominansi (R2 = 0,8673) plankton terhadap kualitas air sangat berpengaruh. Hasil penelitian menunjukan bahwa keanekaragaman, keseragaman dan dominansi plankton secara temporal merupakan indikator biologi terhadap kualitas lingkungan perairan.
BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei): TEKNOLOGI, PERTUMBUHAN, KELANGSUNGAN HIDUP DAN KELAYAKAN USAHA Muhammad Akbarurrasyid; Risma Rahmawati Sutisna; Wahyu Puji Astiyani; Dinno Sudinno
Jurnal Perikanan Unram Vol 14 No 1 (2024): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v14i1.794

Abstract

Produksi budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) ditentukan oleh teknologi budidaya yang digunakan. Teknologi budidaya yang diterapkan berkaitan dengan kelayakan usaha budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan teknologi padat tebar, kincir dan blower yang berbeda terhadap pertumbuhan (Mean Body Weight/MBW, Average Daily Growth/ADG, size dan Feed Conversion Ratio/FCR), kelangsungan hidup dan kelayakan usaha (biaya investasi, biaya produksi, penerimaan, keuntungan, Break Evant Point/BEP, Revenue Cost Ratio/R/C ratio, Benefit Cost Ratio/ B/C Ratio dan Payback Period/PP). Penelitian dilaksanakan di tambak daerah Pandeglang, Banten, Indonesia selama tiga bulan. Tambak yang diamati sebanyak 3 petak dengan luasan 2500 m2. Hasil penelitian diperoleh pertumbuhan tertinggi pada tambak A2 berkisar 1,7 – 43,33 gram/ekor untuk MBW, berkisar 0,06 – 1,12 gram/hari untuk ADG, size berkisar 588 – 23 (1,70 – 43,33 gram/ekor), Nilai FCR sebesar 1,8 dan kelangsungan hidup sebesar 56,27%, sedangkan biomassa tertinggi diperoleh pada tambak A1 sebesar 7478,2 kg. Kelayakan usaha tambak A1 lebih tinggi pada variabel komponen biaya investasi sebesar Rp. 398.546.500, biaya produksi sebesar Rp. 739.016.921, penerimaan sebesar Rp. 961.766.878 dan BEP sebesar Rp. 98.822,83 untuk harga dan Rp. 15.560,87. Namun, nilai R/C Ratio, B/C Ratio dan PP terbaik didapatkan pada tambak A2. Secara umum, budidaya udang vaname dengan teknologi padat tebar 161 ekor/m3, penggunaan 14 kincir dengan kapasitas 1 HP (Horse Power) dan 1 buah blower dengan kapasitas 1 HP (Tambak A2) menunjukan hasil yang terbaik terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup dan kelayakan usaha.
Kelimpahan Chlorella sp. dan Clamydomonas sp.: Kualitas Air, Pertumbuhan Dan Feed Convertion Ratio Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Muhammad Akbarurrasyid; Achmad Sofian; Dinno Sudinno; Vani Ilasanti Maryani
Jurnal Perikanan Unram Vol 14 No 3 (2024): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v14i3.1052

Abstract

Chlorophyceae groups, such as Chlorella sp. and Chlamydomonas sp., are a stable group of phytoplankton with the highest abundance in Litopenaneus vannamei ponds. These two types can be used as determinant factors for water quality, growth, and Feed Conversion Ratio (FCR) in L. vannamei farming. This study aims to determine the correlation of Chlorella sp. and Chlamydomonas sp. on the water quality, growth, and FCR in L. vannamei farming. This study was conducted by survey and identification of plankton, water quality, growth, and FCR. The identified plankton was conducted using Principal Component Analysis (PCA) on water quality, growth, and FCR. The results of the study obtained a total abundance of Chlorella sp. and Chlamydomonas sp. of 91.93%. The water quality was found that most parameters comply with standards for L. vannamei farming activities, except for the parameters phosphate, nitrate, nitrite, Total Organic Matter (TOM), and ammonia. The abundance of Chlorella sp. and Chlamydomonas sp. has a strong correlation with a parameter of water quality in all ponds. The growth rate of Mean Body Weight in ponds is 0.4 – 24.43 grams/shrimp and has a strong correlation with the abundance of Chlorella sp. and Chlamydomonas sp. according to the significance value (p-value) of approximately 0.004 – 0.636. FCR value is 0.3-2.23 and has a strong correlation with the abundance of Chlorella sp. and Chlamydomonas sp. according to the eigenvalue of 1.032-1.670. The eigenvalue of the pond represents approximately 54.364% (pond 1), 55.658% (pond 2), 1.236, and 1.032 (pond 3) of the variable diversity. The results of the study showed that the abundance of Chlorella sp. and Chlamydomonas sp. is an indicator that influences the environment quality, growth, and Feed Conversion Ratio.
Cultivation White Shrimp (Litopenaeus vannamei) with Intensive System to Growth Rate, Survival Rate, and Feed Conversion Ratio Akbarurrasyid, Muhammad; Prajayati, Vini Taru Febriani; Astiyani, Wahyu Puji; Nurkamalia, Ilma
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 28 No. 1 (2023): February
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Intensive vannamei shrimp cultivation is a high-density culture to get maximum results with the use of limited cultivation space. High cultivation activities cause high waste production, which inhibits growth, survival rate, and feed conversion ratio (FCR). This study aims to determine the cultivation of vannamei shrimp with an intensive system on growth, survival rate, and FCR. The research was carried out in Legok Jawa, Pangandaran in the period March–May 2022. The research was carried out by means of a survey and analyzed by a quantitative descriptive approach. The results of the study obtained growth values, namely: Mean Body Weight (MBW) ranges from 1.61 to 21.11 g/head, Average Daily Growth (ADG) ranges from 0.14 to 0.62 g/day, size is 49 fish/kg and biomass is 7,680 kg. The survival rate value obtained is around 95.07 – 84.87%, while the feed conversion ratio (FCR) value ranges from 1.2 to 1.5. In general, the results of growth, survival rate, and FCR showed high performance and supported the success of vannamei shrimp culture with intensive systems.
Growth and Business Analysis of Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei) at Pangandaran, West Java Astiyani, Wahyu Puji; Sofian, Achmad; Novitasari, Erina; Prama, Ega Aditya; Akbarurrasyid, Muhammad; Sudinno, Dinno
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 17 No. 2 (2024): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v17i2.2205

Abstract

The purpose of this study was to determine the enlargement technique and feasibility analysis of the Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei ) enlargement in CV. Rido Sejahtera shrimp ponds. The white shrimp rearing technique used a semi-intensive system with a stocking density of 75.52 tails/m2 and a pond area of 4,154 m2. Technical analysis produced indicators of several growth factors. These factors are an average body weight, daily growth, biomass, size, survival weight and feed conversion ratio. Based on our results, the average body weight was measured to be 31,65 gram/tail while the average Daily Growth, was recorded at 0,14 gram/day,. Biomass was recorded to be 6.290 kg or 15,14 ton/ha while the size was measured to be 31,6. Our results also yield a 75% survival rate while the Feed Conversion Ratio was recorded to be at 1,39. Based on our finding from a one year financial analysis, we concluded that the product indicators of investment costs would be Rp.307.695.400. Production costs would be around Rp.507.271.347 while revenues are around Rp.1.083.800.300. Based on these findings we concluded that profits Rp. 576.078.953, BEP production volume 3.059 kg, BEP production prices Rp. 40.359, B /C ratio 1.13, and payback period 0.53 years .The results of the study based on financial analysis concluded that the Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) enlargement financial was feasible to operated, because it was profitable and the B/C ratio value was >1.