Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Preferensi Penggerek Batang Padi Putih Scirphopaga innotata Walker pada Tiga Varietas Padi Irfan, M.; Syarifuddin, Rifni Nikmat; Asra, Reza
Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab Vol 8, No 2 (2026): Agroekoteknologi Tropika Lembab Volume 8 Nomor 2 Februari 2026
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jatl.8.2.2026.21361.62-68

Abstract

Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama yang penting karena kandungan karbohidratnya sebagai sumber energi. Permintaan terhadap padi terus meningkat, terutama di kalangan petani Indonesia. Namun, produktivitasnya sering menurun akibat serangan hama, salah satunya Scirpophaga innotata atau penggerek batang padi putih. Hama ini menyebabkan kerusakan serius seperti kematian tunas utama (sundep) dan gangguan pembentukan malai beluk. Secara empiris, peningkatan 1% sundep dapat menurunkan hasil hingga 32,68 kg/1ha, sedangkan beluk 1% menyebabkan kehilangan hasil sekitar 0,9–1%. Oleh karena itu, identifikasi varietas padi tahan hama menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian ramah lingkungan.Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons tiga varietas padi Ciherang, Mekongga, dan CL 284 terhadap serangan S. innotata, serta mengidentifikasi karakter fenotipik yang mendukung ketahanan alami. Penelitian dilaksanakan di Green House BRMP (Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian) Aneka Tanaman Umbi (ex. Loka Penelitian Penyakit Tungro), Lanrang, Kabupaten Sidenreng Rappang, mulai bulan Februari – Mei 2025. menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 45 unit percobaan. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa imago betina Scirpophaga innotata memiliki variasi preferensi yang berbeda terhadap tiga varietas padi yang di uji yaitu ciherang, mekongga, Cl 284. Varietas Cl 284 secara konsisten menjadi pilihan utama dengan jumlah telur tertinggi baik pada uji bebas memilih inang maupun uji tidak bebas milih inang sebaliknya di susul varietas mekongga dan varietas Ciherang menunjukkan jumlah telur terendah yang mengindikasi tingkat ketahanan yang lebih tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa Ciherang bukan merupakan pilihan utama sebagai tanaman inang oleh hama tersebut.
ANALISA POTENSI JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK SAPI POTONG MELALUI PENDEKATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG Asra, Reza; Irwan, Muh.
Jurnal Sains dan Teknologi Industri Peternakan Vol 2 No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jstip.v2i1.622

Abstract

Kebutuhan produk peternakan bagi masyarakat mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat dan terbukanya cara pandang masyarakat terhadap peternakan. Namun, peningkatan kebutuhan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produk peternakan itu sendiri terutama yang bersumber dari sapi pedaging yang mengakibatkan kebutuhan daging sapi masih dipenuhi melalui impor. Salah satu penyebab hal itu terjadi karena faktor pakan yang belum tersedia secara maksimal Tanpa penyelesaian faktor pakan maka upaya pengembangan sapi pedaging tidak akan maksimal dan Indoensia pasti akan menjadi negara importir yang berkepanjangan. Permasalahan lain yang dihadapi oleh peternak sapi potong adalah degradasi padang penggembalaan yang berimplikasi terhadap penurunan produksi pakan ternak. Padahal pakan yang bersumber dari padang penggembalaan termasuk pakan yang paling murah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengetahui sebaran luasan sawah dan produksi jerami di Kabupaten Sidrap dan selanjutnya dikonversi ke dalam satuan ternak. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan maka diperoleh hasil jumlah luasan sawah di Kabupaten Sidrap adalah 50097,11 Ha dengan total produksi jerami sebesar 601.164.793 kg per tahun dalam kondisi (506.300.989 dalam kondisi kering). Produksi jerami tersebut dapat menampung 221940,16 ST per tahun jika digunakan secara tunggal dengan nilai konversi 6,25 Kg bahan kering per ST per hari. Berdasarkan hasil pemetaan dengan sistem informasi geografis dan konversi kebutuhan ternak maka diperoleh hasil bahwa produksi jerami di Kabupaten Sidrap mampu menyediakan pakan sebesar 221940,16 ST per tahun dalam penggunaan tunggal. Meskipun demikian, penggunaan secara tunggal tidak disarankan karena faktor pembatas pada jerami tersebut.
IDENTIFIKASI POLA KEMITRAAN DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAKAO Mursalat, Aksal; Padapi, Astrini; Wulandary, Ayu; Asra, Reza
SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 20, No 1 (2023): FEBRUARY
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/sepa.v20i1.56263

Abstract

Cocoa development in East Luwu Regency has prospects based on the potential for production and marketing of cocoa beans. However, there are problems including productivity and low cocoa prices. To overcome these problems, it is necessary to develop cocoa agribusiness through a partnership pattern. The purpose of this study was to identify partnership patterns in cocoa agribusiness development and to determine the level of satisfaction of farmers who partnered with PT. Mars Symbioscience Indonesia. The research method is in the form of direct observation and interviews with the parties involved in the implementation of the partnership pattern, then the data is analyzed using descriptive and analysis of the level of conformity through the level of importance and level of satisfaction. The results showed that the partnership pattern in cocoa agribusiness development in East Luwu Regency was included in the plasma core pattern category, as the nucleus was PT. Mars Symbioscience Indonesia provides capital assistance, training, and training as well as marketing of the harvest, while as a plasma, cocoa farmers produce cocoa commodities. The partnership pattern activities include the upstream sector providing and providing some agricultural equipment assistance, providing seeds and experimental gardens to farmers, the farming sector providing guidance in cocoa cultivation and improving the quality of cocoa beans through harvest and post-harvest counseling and the downstream sector developing direct purchasing patterns to farmers. cocoa farmer. In addition, the level of conformity obtained from the questionnaire on the level of importance and the level of satisfaction of the partnership pattern in cocoa agribusiness development shows an average value of >100%, namely 104.78% in the very satisfied category.
Membangun Kemandirian Ekonomi Keluarga: Optimalisasi Pekarangan Berbasis Agropreneurship Sayuran Di Desa Damai Herman, Bahtiar; Mustanir, Ahmad; Rohady Ramadhan, Muhammad; Ahmad, Jamaluddin; Hartati, Hartati; Said, Sunandar; Hermansyah, Sam; Asra, Reza; Irnandi A. S., Erwin; Sellang, Kamaruddin; Ibrahim, Monalisa; Lukman, Lukman; Mursalat, Aksal
ASPIRASI : Publikasi Hasil Pengabdian dan Kegiatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Juli : ASPIRASI : Publikasi Hasil Pengabdian dan Kegiatan Masyarakat
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/aspirasi.v4i4.2928

Abstract

This community service program aims to empower a group of housewives in Damai Village by optimizing a 7x13 meter residential yard into a productive agricultural area. Utilizing a participatory approach, the program integrated intensive horticultural techniques for water spinach (Ipomoea aquatica) cultivation with fundamental marketing strategies to foster household-scale agropreneurship. The activities encompassed the entire supply chain, including technical agricultural training, land preparation, planting, post-harvest handling, packaging, and digital marketing simulations. The results indicate a successful physical transformation of the previously underutilized land, ensuring family food security while generating new economic opportunities. Analyzed through the lens of community capacity building and the Theory of Planned Behavior (TPB), the intervention effectively shifted the community's paradigm from passive, subsistence-oriented planting to proactive micro-agribusiness management. The integration of entrepreneurial education successfully stimulated the participants' attitudes and perceived behavioral control, leading to strong entrepreneurial intentions. In conclusion, the synergy between agricultural practice and entrepreneurial strategy serves as a powerful catalyst for socio-economic empowerment, creating a resilient foundation for sustainable community-based agribusiness.