Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KONSUMSI BUAH DAN SAYUR PADA ANAK USIA SEKOLAH MELALUI MEDIA GAME EDUKASI (KAJIAN LITERATUR) Wilanada Viyanti; Ayu Rafiony; Jurianto Gambir
Media Gizi Khatulistiwa Vol. 2 No. 2 (2025): Media Gizi Khatulistiwa Edisi Juni 2025
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2804/mgk.1811.1029

Abstract

Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh untuk mengatur proses dalam tubuh. Apabila konsumsi vitamin dan mineral ini tidak memenuhi kebutuhan tubuh, maka tubuh akan mengalami defisiensi vitamin dan mineral yang dapat mengakibatkan berkurangnya daya tahan tubuh. Dalam meningkatkan konsumsi buah dan sayur dibutuhkan tingkat pengetahuan yang baik pula tentang buah dan sayur. Tingkat pengetahuan yang baik dapat dicapai dengan informasi yang disampaikan melalui media yang menarik sehingga lebih mudah dalam memahami isi informasi tersebut. salah satu dari media tersebut ialah game atau permainan. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media game atau permainan edukasi terhadap pengetahuan dan konsumsi buah dan sayur pada anak usia sekolah. Menggunakan studi literatur yang dilakukan melalui pencarian jurnal di internet (Google Scholar, Pubmed, crossref) berkaitan dengan judul atau variabel yang diterbirkan dari tahun 2010 hingga 2020. Hasil menunjukkan ada pengaruh media game atau permainan edukasi terhadap pengetahuan dan konsumsi buah dan sayur pada anak usia sekolah. Pengaruh tersebut dibuktikan berdasarkan hasil 8 artikel yang dikaji, semua artikel menunjukkan hasil adanya pengaruh dari media game atau permainan edukasi terhadap peningkatan pengetahuan serta konsumsi buah dan sayur anak usia sekolah. Kesimpulan dari kajian literatur ini media game atau permainan edukasi dapat digunakan sebagai alat pendidikan gizi dan kesehatan yang baik dan menarik bagi anak usia sekolah dalam menyampaikan informasi buah dan sayur.
PENGARUH EDUKASI GIZI MENGGUNAKAN APLIKASI QUIZIZZ TERHADAP PENGETAHUAN, KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA SISWA DI SMP NEGERI 19 PONTIANAK KOTA Celvinda Dwi Pramesti; Martinus Ginting; Ayu Rafiony; Adelia Rizki Rahmadani
Media Gizi Khatulistiwa Vol. 2 No. 2 (2025): Media Gizi Khatulistiwa Edisi Juni 2025
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2804/mgk.1811.1067

Abstract

Prevalensi kurang mengkonsumsi buah dan sayur penduduk menurut umur di Provinsi Kalimantan Barat prevalensi yang tidak mengkonsumsi buah dan sayur pada umur 10-14 tahun sebsesar 14,49% dan umur 15-19 sebesar 11,42%. Akan tetapi, produksi buah yang tinggi ternyata tidak merefleksikan perilaku konsumsi masyarakat yang tinggi pula. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan remaja yaitu dengan cara edukasi gizi. Proses edukasi gizi tidak terlepas dari pengaruh penggunaan alat peraga atau media yang mampu mendukung berlangsungnya kegiatan edukasi tersebut. Media edukasi yang digunakan adalah aplikasi Quizizz. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi menggunakan aplikasi Quizizz terhadap pengetahuan, konsumsi sayur dan buah pada siswa sekolah menengah pertama. Jenis penelitian yang digunakan yaitu Quasi Eksperiment dengan rancangan pre – post test with kontrol group design, adapun sampel pada kelompok eksperimen yaitu siswa kelas 7 dan 8 SMP Negeri 19 Pontianak sebanyak 23 orang, kelompok kontrol yaitu siswa kelas 7 dan 8 di SMP Negeri 17 Pontianak sebanyak 23 orang. Adanya peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah pada kelompok eksperimen dari rata-rata sebelum yaitu 47,39 menjadi 81,52 dan pada kelompok kontrol dari rata-rata sebelum yaitu 47,83 menjadi 72,61. Konsumsi sayur juga terdapat peningkatan sebelum dan sesudah pada kelompok eksperimen yaitu dari 26,74 menjadi 173,04 dan pada kelompok kontrol yaitu dari 21,74 menjadi 175,87. Konsumsi buah juga terdapat peningkatan sebelum dan sesudah pada kelompok eksperimen yaitu dari 32,61 menjadi 134,78 dan pada kelompok kontrol yaitu dari 30,04 menjadi 124,78. Berdasarkan hasil penelitian juga didapatkan perbedaan pengetahuan pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol tetapi pada konsumsi sayur dan konsumsi buah pada kedua kelompok tidak didapatkan perbedaan yang signifikan. 
MODEL PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENGENDALIAN STUNTING PADA ANAK USIA 0-24 BULAN MELALUI PELATIHAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI : POSYANDU CADRE EMPOWERMENT MODEL TO CONTROL STUNTING IN CHILDREN AGED 0-24 MONTHS THROUGH ANTHROPOMETRIC MEASUREMENT TRAINING Desi; Ayu Rafiony; Didik Hariyadi; Nopriantini; petrika, yanuarti; Kristiana Yulianingsih
GEMA KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v15i2.426

Abstract

Kekerdilan (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak Balita (Bawah Lima Tahun), sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak 1000 HPK. Pemberdayaan kader adalah strategi yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan serta mewujudkan kemandirian kader dalam melakukan peran dan fungsinya dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan kader posyandu dalam mendeteksi stunting bagi balita usia 0-24 bulan di Desa Kapur Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan pendekatan one grup pre-test dan post-test. Sebelum perlakuan diberikan diberikan pre-test dan di akhir diberi post-test, jumlah sampel sebanyak 35 orang. Data diambil dengan menggunakan kuesioner dan lembar obsevasi. Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh pemberdayaan kader posyandu melalui pendampingan ibu hamil terhadap keterampilan kader dalam pengendalian stunting bagi balita usia 0-24 bulan dengan nilai signifikan (p=<0,001).  Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan perbedaan pengetahuan kader tentang stunting sebelum dan sesudah pendampingan, dengan peningkatan rata-rata pengetahuan dari 72,0 menjadi 93,31. Keterampilan menentukan status gizi ibu hamil melalui pengukuran LILA juga meningkat signifikan (7,71 menjadi 19,43). Kader cukup baik dalam menentukan status anemia berdasarkan nilai HB ibu hamil setelah pelatihan (mean 9,71 menjadi 15). Pelatihan pengukuran penjang badan berpengaruh signifikan terhadap keterampilan kader dalam mengukur balita (p<0,001), dengan peningkatan kemampuan mendeteksi stunting dari 0% menjadi 100%. Kata kunci: Balita, Model Pemberdayaan, Stunting   Stunting in children reflects the failure to thrive in children under five. So, the child becomes too short for his age. This is due to chronic malnutrition that occurs at 1000 HPK. Empowerment of cadres is a strategy used to increase the ability and realize the independence of cadres in carrying out their roles and functions in the development of public health. This study aims to determine the effect of empowering posyandu cadres in detecting stunting for toddlers aged 0-24 months in Desa Kapur, Sungai Raya District, Kubu Raya Regency. The research design used was experimental research using a one-group pre-test and post-test approach. Before the treatment, a pretest was given, and a posttest was presented at the end. The number of samples was as many as 35 people. Data were taken using questionnaires and observation sheets. The results of this study indicate that there is an effect of training in measuring body length using a lengthboard on the skills of cadres in taking measurements for toddlers aged 0-24 months with a significant value (p = <0.001). The research results indicate a difference in cadre knowledge about stunting before and after mentoring, with an average knowledge increase from 72.0 to 93.31. Skills in determining the nutritional status of pregnant women through LILA measurement also significantly improved (7.71 to 19.43). Cadres are proficient in determining anemia status based on pregnant women's HB values after training (mean 9.71 to 15). Activity measuring body length significantly influences cadre skills in measuring infants (p<0.001), with an increased ability to detect stunting from 0% to 100%. Keywords: Empowerment Model, Stunting, Toddler
Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu Melalui Pelatihan Mendeteksi Stunting Di Desa Rasau Jaya Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya DESI, DESI; Ikawati Sulistyaningsih; Muhammad Jahri; Nopriantini; Yanuarti Petrika; Martinus Ginting; Ayu Rafiony; Dahliansyah; Maulianaulfa
Media Pengabdian Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Kabar Gizi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62358/6zk41w65

Abstract

Keterbatasannya tenaga kesehatan di Indonesia menyebabkan daya cakup pelayanan kesehatan belum optimal. Sehingga strategi pembangunan partisipatif adalah cara yang efektif untuk menangani masalah stunting ini. Dikatakan partisipatif karena bukan hanya pemerintah yang harus sadar dan beraksi, namun juga masyarakat harus sadar dan bergerak untuk menangani masalah ini. Salah satunya adalah dengan pembedayaan kader kesehatan di posyandu-posyandu yang ada. Kasus stunting terjadi biasanya karena penyakit ini tidak disadari dan diketahui oleh masyarakat. Sehingga masyarakat perlu pemberdayaan agar tahu dan juga mengerti tanda-tanda stunting. Apabila masyarakat tahu karakteristik stunting sejak dini, maka bisa segera dilakukan penanganan agar tidak menimbulkan komplikasi yang buruk. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberdayakan masyarakat, melalui kader posyandu dalam penanganan dan pencegahan masalah stunting diwilayah Puskesmas Rasau Jaya. Selain itu menerapkan model pemberdayaan masyarakat yang lebih partisipatif dalam penanganan dan pencegahan masalah stunting di wilayah Puskesmas Rasau Jaya. Metode kegiatan pengabdian masyarakat yang akan dilakukan berupa peningkatan kapasitas kader dalam melakukan kegiatan pendampingan. Adapun metode peningkatan kapasitas kader adalah dengan memberikan pelatihan, refresing kader, sosialisasi dan praktek dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader pendampingan. Selain itu untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai stunting, dampak stunting terhadap kesehatan dan dampaknya pada masa depan, menambah wawasan tentang upaya pencegahan dan penanganan stunting. Hasil Pengabmas di Desa Rasau Jaya Tiga, Kubu Raya, menunjukkan pemberdayaan kader posyandu berhasil meningkatkan pengetahuan penanggulangan stunting. Kader mampu antropometri dan menentukan status anemia ibu hamil lebih baik, mencerminkan komitmen dalam mendukung pencegahan stunting sesuai tujuan pengabdian masyarakat.