Claim Missing Document
Check
Articles

Exclusive breastfeeding duration and its influence on preventing childhood stunting Feriani, Pipit; Negara, Candra Kusuma; Ernawati, Rini
Pediomaternal Nursing Journal Vol. 12 No. 1 (2026): VOLUME 12 NO 1 MARCH 2026
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pmnj.v12i1.74499

Abstract

Introduction: Childhood stunting represents a major global health challenge affecting 149 million children under five years worldwide. Exclusive breastfeeding has been identified as an important protective factor in stunting prevention, yet empirical evidence regarding this relationship in Indonesian primary healthcare settings remains limited. This study aimed to analyze the relationship between exclusive breastfeeding history and stunting occurrence among children aged 7-59 months at UPTD Loa Ipuh Primary Healthcare Center.Methods: This cross-sectional study involved 120 mothers with children aged 7-59 months in the UPTD Loa Ipuh catchment area, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan. Consecutive sampling was employed for participant recruitment. Data were collected through structured interviews using a validated questionnaire. Chi-square tests were used to determine the association between exclusive breastfeeding and stunting occurrence.Results: Of 120 participants, 58.3% of children received exclusive breastfeeding while 41.7% did not receive exclusive breastfeeding. The overall stunting prevalence was 50.0%, with 12.5% severely stunted and 37.5% stunted. Chi-square test results demonstrated a statistically significant association between exclusive breastfeeding history and stunting occurrence (P-value = .01). Children who did not receive exclusive breastfeeding showed higher prevalence of severe stunting (22.0%) compared to those who received exclusive breastfeeding (5.7%). Conversely, children who received exclusive breastfeeding had a higher proportion of normal nutritional status (58.6%) compared to those who did not receive exclusive breastfeeding (38.0%).Conclusion: Exclusive breastfeeding proves to be a significant protective factor against childhood stunting, with up to four-fold reduction in severe stunting risk. These findings support the importance of exclusive breastfeeding promotion as a cost-effective intervention in stunting prevention, though it should be integrated within holistic approaches that comprehensively address multiple determinants of stunting.Keywords: exclusive breastfeeding, stunting, nutritional status, children under five, primary healthcare
The Role of Living Arrangements and Parental Marital Status on Adolescent Self-Efficacy in Preventing Risky Sexual Behavior Pipit Feriani; Wahyuni, Tri; Selpina; Nur’ Aini Permatasari; Khofifah Yuniarsih Sadri; Syarah Auliza Firdayanti Yunus
Health & Medical Sciences Vol. 3 No. 3 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v3i3.603

Abstract

This study aims to analyze the role of living arrangements and parental marital status in shaping adolescent self-efficacy for premarital sex prevention through a Health Belief Model (HBM) framework. Using a quantitative cross-sectional design at SMAN 3 Samarinda (n=301), data were analyzed to determine how family structural dynamics influence internal confidence. Results indicate a significant relationship between living arrangements (p=0.002) and parental marital status (p=0.001) with self-efficacy. High family support shows a strong positive correlation with perceived susceptibility (r=0.766) and health motivation (r=0.756), ultimately driving self-efficacy (r=0.812). Adolescents in intact families and those living with parents demonstrate higher resilience against risky sexual behaviors. This study concludes that family environmental stability is a critical "Cue to Action" in adolescent reproductive health.
Analisis Praktik Keperawatan Terapi Pijat Kaki Minyak Zaitun pada Gangguan Pola Tidur Post Sectio Caesarea di RSUD I.A Moeis Samarinda Diah Pitriana, Nur Azizah; Feriani, Pipit; Wahyuni, Tri; WH, Joanggi
Health & Medical Sciences Vol. 3 No. 3 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v3i3.606

Abstract

Ibu postpartum pasca sectio caesarea (SC) sering mengalami gangguan pola tidur yang disebabkan oleh nyeri luka operasi, keterbatasan mobilisasi, serta kelelahan fisik. Kondisi tersebut dapat menghambat proses pemulihan dan menurunkan kenyamanan ibu pada masa nifas. Oleh karena itu diperlukan intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan untuk membantu meningkatkan kualitas tidur ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi pijat kaki menggunakan minyak zaitun sebagai intervensi keperawatan dalam mengatasi gangguan pola tidur pada ibu postpartum post sectio caesarea di RSUD I.A Moeis Samarinda. Metode yang digunakan adalah analisis praktik keperawatan melalui pendekatan studi kasus pada seorang ibu postpartum post sectio caesarea yang dirawat di ruang kebidanan. Asuhan keperawatan dilakukan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang mengacu pada standar SDKI, SIKI, dan SLKI. Intervensi inovasi berupa terapi pijat kaki menggunakan minyak zaitun diberikan selama tiga hari berturut-turut dengan frekuensi satu kali sehari dan durasi ±15–20 menit. Hasil pengkajian awal menunjukkan klien mengalami kesulitan memulai tidur, sering terbangun pada malam hari, serta durasi tidur yang tidak adekuat. Setelah dilakukan implementasi terapi pijat kaki menggunakan minyak zaitun selama tiga hari, terjadi perbaikan pola tidur yang ditandai dengan meningkatnya durasi tidur malam, berkurangnya frekuensi terbangun, serta meningkatnya rasa relaksasi dan kenyamanan klien. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terapi pijat kaki menggunakan minyak zaitun dapat menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis yang membantu meningkatkan kualitas tidur pada ibu postpartum post sectio caesarea. Intervensi ini berpotensi diterapkan sebagai terapi komplementer dalam praktik keperawatan maternitas untuk mendukung proses pemulihan ibu pascapersalinan.
KETEPATAN PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT DIPENGARUHI BUDAYA ORGANISASI DI RUANG RAWAT INAP RSUD KANUJOSO BALIKPAPAN: THE ACCURACY OF MEDICATION BY NURSES AFFECTED ORGANIZATIONAL CULTURE IN THE INpatient Room, RSUD KANUJOSO BALIKPAPAN Pipit Feriani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya organisasi diyakini merupakan faktor penentu terhadap kesuksesan kinerja yang memeliki keterkaitan dengan kulaitis pelayanan. Kualitas pelayanan rumah sakit dapat dilihat dari kecepatan pelayanan, keramahan, efektifitas tindakan, serta kondisi yang dapat menciptakan kenyamanan bagi pasien dan pengunjung. Salah satu bentuk kualitas ini diukur dari ketepatan dalam tindakan pemberian obat. Six rights dalam pemberian obat meliputi tepat klien, obat, dosis, waktu, cara/rute dan ditambah dengan tepat dokumentasi agar tidak terjadi medication error. Hasil uji Chi-Squarebudaya organisasai diperoleh nilai p (0,003; 0,001). artinya terdapat pengaruh budaya organisasi dengan dengan ketepatan pemberian obat.
Literasi Edukasi Deteksi Dini Penanganan Awal Kedaruratan Ibu Hamil di Puskesmas Lempake Samarinda Rini Ernawati; Tri Wahyuni; Fitroh Asriyadi; Pipit Feriani
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 10 No. 01 (2026): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v10i01.3671

Abstract

Kesehatan ibu dan anak merupakan masalah yang terjadi di seluruh dunia dan menjadi penyebab tingginya angka kematian Ibu dan bayi. Di Indonesia penyebab langsung terbesar kematian ibu ialah perdarahan, dan penyebab tidak langsung kematian ibu yaitu preeklamsia dan abortus. Semua penyebab yang dapat menyebabkan kematian dalam kehamilan ini bisa dicegah dengan literasi ibu hamil yang baik tentang anemia, karena anemia dapat menyebabkan perdarahan. Tujuan abdimas ini untuk meningkatkan literasi pada ibu hamil tentang deteksi dini kedaruratan ibu hamil dengan melakukan penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan pada ibu hamil. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Puskesmas Lempake pada Hari Sabtu, tanggal 10 Juni 2023. Peserta yang hadir sebanyak 22 ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Lempake. Kegiatan yang dilakukan yaitu penyuluhan deteksi dini kedaruratan ibu hamil, pemeriksaan secara komprehensif dan pemeriksaan hemoglobin, gula darah. Hasil pemeriksaan, menunjukkan semua ibu hamil (100%) memiliki GDS normal, 13.5% mengalami hipertensi dalam kehamilan, 13.6% mengalami anamia berat, 59.1% mengalami anemia sedang, 13.6% memiliki hemoglobin normal, dan 9.1% mengalami kekurangan energi kronis dengan ukuran LILA kurang dari 23,5. Edukasi deteksi dini tentang kegawatdaruratan pada ibu hamil akibat anemia sangat penting di sampaikan, karena kondisi ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian ibu bersalin, oleh karena itu kesadaran ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi dan vitamin zat besi saat hamil sangat penting
Hubungan Dukungan Keluarga dan Guru Dengan Keyakinan Diri Remaja Dalam Pencegahan Seks Pranikah Berdasarkan Teori HBM di SMAN 3 Samarinda Selpina, Selpina; Feriani, Pipit; Wahyuni, Tri
Health & Medical Sciences Vol. 3 No. 3 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v3i3.596

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dan dukungan guru dengan keyakinan diri remaja dalam pencegahan perilaku seksual pranikah di Kota Samarinda, berdasarkan teori Health Belief Model (HBM). Latar belakang penelitian ini muncul dari tingginya angka seks berisiko di kalangan remaja Indonesia, di mana data BKKBN (2023) menunjukkan sekitar 33% remaja pernah terlibat dalam hubungan seksual pranikah, meskipun berbagai program pendidikan kesehatan menekankan pentingnya dukungan keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan cross-sectional, melibatkan 301 siswa SMAN 3 Samarinda yang dipilih melalui stratified random sampling. Kriteria inklusi mencakup remaja yang terdaftar sebagai siswa, bersedia menjadi responden, dan tinggal bersama orang tua atau keluarga, sedangkan kriteria eksklusi meliputi siswa yang menolak berpartisipasi, tidak hadir, atau tidak tinggal bersama keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia 15–17 tahun (90%), didominasi oleh perempuan (63,5%), dan sebagian besar tinggal bersama orang tua (84,7%). Dukungan keluarga yang diterima responden umumnya berada pada kategori baik (86,4%) dan cukup (11,6%). Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya peran keluarga dan guru dalam meningkatkan kesadaran, motivasi, dan kemampuan remaja untuk mencegah perilaku seksual pranikah. Implementasi program edukasi kesehatan reproduksi seperti Generasi Berencana (GenRe) dan Bina Keluarga Remaja (BKR) perlu diperkuat agar dukungan sosial dari keluarga dan guru lebih optimal.