Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Performansi Mesin Eurosicma 75 A Dengan Menggunakan Metode Reliability Availability Maintainability (ram) Dan Overall Equipment Efectiveness (oee) Di Pt Konimex Nurul Sholihah Ekowati; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Judi Alhilman
eProceedings of Engineering Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Konimex Pharmaceutical Laboratory merupakan perusahaan di bidang produksi farmasi dan makanan. Dalam kegiatan produksi terdapat beberapa mesin dan peralatan untuk mendukung setiap prosesnya. Pada periode Januari 2017 hingga Oktober 2017, salah satu mesin produksi bernama mesin eurosicma 75A memiliki target availability yang tinggi yaitu 100% tiap bulan. Namun target tersebut hanya tercapai satu kali dan memiliki frekuensi downtime yang tinggi sebesar 37 kali kerusakan dalam periode tersebut. Kondisi sasaran yang tinggi dan downtime yang tinggi, mendorong perusahaan untuk menilai dan mengevaluasi kinerja dari mesin produksinya. Cara yang dilakukan adalah menilai dan mengevaluasi kinerja mesin dengan metode Reliability Availability Maintainability (RAM) dan Overall Equipment Effectiveness (OEE). Data yang digunakan berupa MTTR dan MTTF dari seluruh subsistem penyusun dari mesin. Berdasarkan perhitungan dengan metode RAM, dibuatlah model Reliability Block Diagram (RBD) sehingga sistem diperoleh nilai Reliability sebesar 62,67% pada waktu 312 jam berdasarkan Analytical Approach. Selanjutnya perhitungan Maintainability dengan metode RAM, didapatkan bahwa sistem memiliki peluang diperbaiki dalam interval satu sampai 528 jam untuk kembali ke kondisi semula dengan peluang sebesar 100%. Nilai Inherent Availability dari sistem adalah 86% berdasarkan pada Analytical Approach. Sedangkan untuk nilai Operational Availability dari sistem adalah 83%. Nilai Overall Equipment Effectiveness yang diperoleh dari tiga faktor yaitu Availability Rate, Performance Efficiency, dan Quality of Rate sebesar 54,05%. Dari pehitungan Six Big Losses, faktor utama yang paling memengaruhi kinerja mesin menjadi kurang baik yaitu pada Idling and minor stoppages yang merupakan losses dalam segi performance. Kata Kunci : RAM, RBD, OEE, Six Big Losses Abstract PT Konimex Pharmaceutical Laboratory is a company in the field of pharmaceutical and food production. Its operations, there are some machines and equipment for favor of each process. From January 2017 to October 2017, one of the production machine named Eurosicma 75A having high availability’s target at 100 % each month. Beside that, the target only be achieved once and having high frequencies of downtime 37 failure in a period. The condition with high downtime and high goals, encouraging companies to assess and evaluate the performance of the production machine. How that is done is to assess and evaluate the performance of the machine with Reliability Availability Maintainability (RAM) and Overall Equipment Effectiveness (OEE) methods. The data used MTTF and MTTR from all constituent subsystems of the machine. Based on the calculation method of RAM, lead to a model Reliability Block Diagram (RBD) that the system obtained Reliability of 62.67% in the 312 hours based on Analytical Approach. The subsequent calculation of Maintainability RAM, obtained with the methods that the system has improved opportunities in the interval of one to 528 hours to return to the existing condition with odds of 100%. The value of Inherent Availability of the system is 86% based on Analytical Approach. As for the value of the Operational Availability of the system is 83%. Overall Equipment Effectiveness values obtained from three factors, namely Availability Rate, Performance Rate, and Quality of Rate of 54.05%. Automated calculation of the Six Big Losses, the main factors that most affect the performance of the machine to be less good at idling and minor stoppages which are the losses in terms of performance. Keyoword : RAM, RBD, OEE, Six Big Losses
Performance Assessment Berbasis Reliability Menggunakan Metode Reliability, Availability, Maintainability (ram) Dan Cost Of Unreliability (cour) Pada Mesin Cincinnati Milacron Di Direktorat Aerostructure Pt Dirgantara Indonesia Evan Suryatyasto Sujatman; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Nurdinintya Athari
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Indonesia mendirikan PT Dirgantara Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pesawat dalam negeri. Perkembangan pengguna jasa transportasi udara menuntut PT Dirgantara Indonesia untuk memenuhi pesanan proyek dengan tepat waktu. Salah satu cara untuk memperkecil kerugian yang kemungkinan harus ditanggung oleh perusahaan adalah dengan meningkatkan Reliability, Availability & Maintainability dari sistem produksi itu sendiri dan Cost of Unreliability untuk mengetahui seberapa besar biaya yang dihasilkan oleh masalah Reliability, Availability & Maintainability. Data-data berupa Mean Time To Failure, Mean Time To Repair dan Mean Downtime berguna untuk menilai kinerja sistem yang bekerja. Dari hasil pengolahan data Reliability, Availability & Maintainability Analysis menggunakan pemodelan Reliability Block Diagram berdasarkan pada analytical approach, pada waktu 336 jam, sistem memiliki nilai Reliability (31%). Rata-rata nilai Maintainability sistem pada t = 12 jam adalah 99.60%. Nilai Inherent Availability sebesar 99.998% dan nilai Operational Availability sebesar 99.997%. Berdasarkan pada evaluasi yang telah dilakukan dengan menggunakan world class maintenance Key Performance Indicator, indikator dari leading dan lagging availability sudah mencapai target indikator yang diberikan. Hasil perhitungan Cost of Unreliability didapatkan biaya yang disebabkan oleh ketidakhandalan sistem adalah $11.526.92 berdasarkan active repair time dan $19.301,95 berdasarkan pada downtime. Kata Kunci : Availability, Cost of Unreliability, Key Performance Indicator, Maintainability, Reliability, Reliability Block Diagram
Penentuan Optimasi Umur Mesin Dan Jumlah Maintenance Set Crew Dengan Menggunakan Metode Life Cycle Cost (lcc) Dan Reliability Availability Maintainability (ram) Analysis Pada Mesin Filling R125 Di Pt Sanbe Farma Lestari Atika Putri; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Judi Alhilman
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  PT Sanbe Farma merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, yang secara resmi didirikan pada tanggal 28 Juni 1975 oleh Drs. Jahja Santoso, Apt. Pabrik pertama di Jl. Kejaksaan no.35 Bandung. Produk pertama yang diproduksi adalah Kapsul Colsancetine. Salah satu produk terbesar yang dihasilkan oleh Water for Injection adalah cairan infusion yang diolah melalui Plant Large Volume (LVP). Produk yang dihasilkan oleh LVP berupa irrigation solution, alkes, dan infusion. PT Sanbe Farma harus memproduksi kebutuhan dari sejumlah rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan pasien yang membutuhkan cairan infusion, sehingga dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan produktivitas dan penggunaan teknologi yang tinggi berupa fasilitas dan mesin. Mesin filling R125 memiliki jumlah kerusakan yang tinggi yaitu sebanyak 184 kerusakan pada tahun 2017, sehingga mesin tidak dapat bekerja secara optimal. oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut dilakukan kegiatan maintenance pada mesin filling shinva. Metode yang digunakan adalah metode life cycle cost (LCC) untuk mengetahui umur mesin dan jumlah maintenance crew yang optimal. Metode lain yang digunakan adalah Reliabiliy, Availability, dan Maintainabiliy (RAM) Analysis. Berdasarkan metode LCC, total nilai terendah sebesar Rp 1,759,855,453.09 dengan umur optimal mesin selama sembilan tahun dan jumlah maintenance crew sebanyak 2 orang dalam satu shift. Untuk perhitungan RAM analysis menggunakan pemodelan reliability block diagram (RBD), sistem memiliki nilai reliability 39.26% pada jam ke 160 berdasarkan analytical approach. Nilai inherent availability sebesar 97.89% dan operational availability sebesar 96.03%. berdasarkan Word Class Maintenance Key Performance Indicator (KPI), indicator dari leading dan lagging availability sudah mencapai target indicator yang diberikan.    Kata kunci: Life Cycle Cost, Reliability, Availability, Maintainability, Word Class Maintenance Key Performance Indicator     Abstract  PT Sanbe Farma is one of the largest pharmaceutical companies in Indonesia, officially established on June 28, 1975 by Drs. Jahja Santoso, Apt. The first factory on Jl. Kejaksaan no.35 Bandung. The first product produced was the Colsancetine Capsule. One of the largest products produced by Water for Injection is infusion fluid that is processed through Plant Large Volume (LVP). Products produced by LVP are irrigation solution, alkes, and infusion. PT Sanbe Farma has to produce the needs of a number of hospitals to fulfill the needs of patients in need of infusion fluids, thereby increasing the need for productivity and the use of high technology facilities and machinery. The R125 filling machine has a high number of failures which is 184 in 2017 so the machine doesn’t work optimally. So to solve this problem the company has to do maintenance activities on the machine filling shinva. The method used is life cycle cost (LCC) method to know the age of machine and the number of optimal maintenance crew. Other methods used are Reliability, Availability, and Maintainability (RAM) Analysis. Based on the LCC method, the lowest total of value is Rp 1,759,855,453,09 with the machine's optimal life for nine years and the number of maintenance crew of 2 persons in one shift. For calculation of RAM analysis using reliability block diagram (RBD) modeling, the system has a value of 39.26% reliability at 160 hours based on analytical approach. Inherent availability value of 97.89% and operational availability of 96.03%. based on Word Class Maintenance Key Performance Indicator (KPI), indicator of leading and lagging availability has reached the target of indicator given.   Keywords: Life Cycle Cost, Reliability, Availability, Maintainability, Word Class Maintenance Key Performance Indicator
Analisis Produktivitas Mesin Berdasarkan Total Productive Maintenance (tpm) Dengan Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (oee) (studi Kasus Pada Mesin Ila-0005 Pada Pt. Xyz) Bina Wiraty Hasibuan; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Endang Budiasih
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berdasarkan data kerusakan dari perusahaan PT. XYZ, mesin ILA-0005 merupakan mesin yang paling banyak mengalami kerusakan sehingga diperlukan adanya kegiatan maintenance. Total Productive Maintenance (TPM) merupakan suatu pendekatan dalam Preventive Maintenance yang dapat digunakan perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas fasilitas perusahaan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan mengeliminasi kerugian utama yang dikenal dengan Six Big Losses. Pengolahan data yang dilakukan berdasarkan data dari tahun 2016-2017, dan dari hasil perhitungan didapatkan nilai OEE pada tahun 2016 sebesar 88.734% dan pada tahun 2017 sebesar 83.859%. Pada perhitungan Six Big Losses mesin menunjukan bahwa persentase kerugian mesin pada tahun 2016 yang paling dominan terjadi Idling and Minor Stoppage Loss sebesar 43,33% dan pada tahun 2017 terjadi Reduced Speed Loss sebesar 55,47%. Hasil penelitian ini kemudian dapat digunakan untuk menunjukan bahwa efektivitas mesin ILA-0005 masih harus dilakukan perbaikan dengan cara berfokus mengeliminasi kerugian yang paling dominan. Selanjutnya dengan menerapkan konsep 8 pilar Total Productive Maintenance (TPM) yang berfokus pada pilar Autonomus Maintenance. Kata Kunci: Maintenance, Preventive Maintenance, TPM, OEE, Six Big Losses, Autonomus Maintenance Abstract Based PT. XYZ’s machine breakdown data, the ILA-0005 machine is the most frequently breakdowned machine so it needs maintenance procurement. Total Production Maintenance (TPM) is an approach in Preventive Maintenace that can be used by a company to evaluate the effectiveness of their facilities. The evaulation is undertaken to improve the facility Overall Equipment Effectiveness (OEE) score and to eliminate the major losses known as Six Big Losses. The data processing conducted based on the historical data from 2016-2017, and based on the calculation, results obtained that the OEE score in 2016 is 88.734% and in 2017 is 83.859%. On the calculation of Six Big Losses, the machine shows that the percentage of machine losses in 2016 is the most dominant with the Idling and minor stoppage loss is 43.33% and the Reduced Speed Loss is 55.47% in 2017. The result of this research can then be used to show that the effectiveness of ILA-0005 machine remains to be improved by focusing on eliminating the most dominant losses. Furthermore, by applying the concept of 8 pillars of Total Productive Maintenance (TPM) which focuses on the pillars of Autonomus Maintenance. Keywords: Maintenance, Preventive Maintenance, TPM, OEE, Six Big Losses, Autonomus Maintenance
Perancangan Maintenance Pada Mesin Rotorvane Dengan Menggunakan Metode Life Cycle Cost (lcc) Dan Cost Of Unreliability (cour) Di Perkebunan Nusantara Viii Ciater Achmad Rizaldi Utomo; Nurdinintya Athari; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Perkebunan Nusantara VIII Ciater merupakan salah satu perusahaan industri produksi teh di Indonesia yang terletak di daerah Ciater, Subang, Jawa Barat. Aktivitas produksi pada perusahaan berlangsung selama 24 jam, artinya mesin pada perusahaan tersebut selalu bekerja. PTPN berdiri sejak tahun 1957 hingga sekarang dan mesin-mesin yang digunakan sudah tergolong tua. Mesin Rotorvane merupakan mesin yang tergolong tua dengan kondisi 45% dan diperlukan kebijakan maintenance yang sesuai untuk mesin tersebut. Untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan perusahaan pada mesin Rotorvane maka digunakan metode Life Cycle Cost (LCC), dengan menggunakan metode LCC dapat diketahui maintenance crew optimal dan retirement age pada mesin tersebut. Untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan dibutuhkan pengolahan biaya sustaining cost dan acquisition cost. Metode lain yang digunakan yaitu metode Cost of unreliability (COUR) untuk mengidentifikasi biaya kerugian yang dikeluarkan oleh perusahaan atas kerusakan komponen kritis pada mesin Rotorvane. Berdasarkan metode LCC, total LCC pada mesin Rotorvane adalah sebesar Rp 452,811,014,- dan memiliki jumlah maintenance crew optimal sebanyak M = 1, yaitu terdapat tiga engineer dalam satu tim, serta memiliki retirement age selama delapan tahun. Berdasarkan metode COUR, kerugian perusahaan dalam proses maintenance yaitu sebesar Rp 589,395,123,-. Kata Kunci – Mesin Rotorvane, Life Cycle Cost, Sustaining cost, Acquisition cost, Maintenance Set Crew, Retirement age, Cost of unreliability.
Usulan Perancangan Kebijakan Perawatan Mesin Jet Dyeing Dengan Menggunakan Metode Reliability, Availability, Maintainability (ram) Dan Cost Of Unreliability (cour) Di Pt. Xyz Dena Aprima Diputra; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Endang Budiasih
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT.XYZ bergerak dalam bidang usaha pertenunan (weaving) sampai akhirnya perusahaan ini berkembang terus menjadi perusahaan tekstil. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat, kebutuhan konsumen semakin meningkat sehingga menuntut permintaan produksi sesuai dengan target yang ditentukan. Salah satu cara untuk memperkecil kerugian yang kemungkinan harus ditanggung oleh perusahaan adalah dengan meningkatkan Reliability, Availability & Maintainability dari sistem produksi itu sendiri dan Cost Of Unreliability untuk mengetahui seberapa besar biaya yang dihasilkan oleh masalah Reliability, Availability & Maintainability. Data-data berupa Mean Time To Failure, Mean Time To Repair berguna untuk menilai kinerja sistem yang bekerja. Dari hasil pengolahan data Reliability, Availability & Maintainability Analysis menggunakan pemodelan Reliability Block Diagram berdasarkan pada analytical approach, pada waktu 168 jam, sistem memiliki nilai Reliability (16%). Rata-rata nilai Maintainability sistem pada t = 31 jam adalah 91,47%. Nilai Inherent Availability sebesar 99,38% dan nilai Operational Availability sebesar 98,94%. Berdasarkan pada evaluasi yang telah dilakukan dengan menggunakan world class maintenance Key Performance Indicator, indikator dari leading dan lagging availability sudah mencapai target indikator yang diberikan. Hasil perhitungan Cost of Unreliability didapatkan biaya yang disebabkan oleh ketidakhandalan sistem adalah Rp.2.315.005.900 berdasarkan waktu perbaikan dan Rp.3.998.580.070 berdasarkan pada downtime. Kata Kunci : Availability, Cost Of Unrelliability, Key Performance Indicator, Maintainability, Reliability, Reliability Block Diagram
Perancangan Usulan Preventive Maintenance Pada Mesin Jet-dyeing Dengan Metode Reliability Centered Maintenance (rcm) Dan Risk Based Maintenance (rbm) Di Pt Xyz Donny Verryrianto Sidabutar; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Endang Budiasih
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT XYZ merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri tekstil. Salah satu mesin yang ada pada PT XYZ adalah mesin Jet-Dyeing. Mesin Jet-Dyeing ini merupakan mesin pencelupan dan digunakan untuk memberi warna pada kain. Dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan beberapa metode seperti RCM (Reliability Centered Maintenance) yang digunakan dalam penentuan task yang sesuai dengan karakteristik failure-nya. Dan penelitian ini berfokuskan pada sistem dan subsistem kritis mesin Jet-Dyeing berdasarkan banyaknya kerusakan yang terjadi serta dengan menggunakan analisis RPN (Risk Priority Number) untuk mendapatkan sub sistem yang kritis berdasarkan resiko yang dimiliki. Sedangkan untuk menganalisis risiko yang diakibatkan jika mesin mengalami gagal fungsi, yaitu dengan metode Risk Based Maintenance. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai risiko yang ditanggung perusahaan ketika mesin mengalami failure, yaitu sebesar Rp. 132,667,184.22. Hasil pengolahan data menggunakan RCM, didapatkan Total biaya untuk mengimplementasikan perawatan usulan adalah Rp 343,132,082. Dengan Dengan mengimplementasikan kegiatan perawatan usulan, perusahaan dapat melakukan penghematan sebesar Rp 116,044,673.15 Kata Kunci – Preventive Maintenance, Reliability Centered Maintenance, Risk Based Maintenance.
Perancangan Kebijakan Maintenance Mesin Vibro Menggunakan Metode Risk Based Maintenance (rbm) Dan Life Cycle Cost (lcc) Di Pt Perkebunan Nusantara Viii Ilham Meiriza; Nurdinintya Athari Supratman; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Perkebunan Nusantara VIII merupakan perusahaan yang memproduksi teh yang telah beroperasi selama 59 tahun. PT perkebunan Nusantara VIII merupakan produsen teh terbesar di Jawa Barat. Produk yang dihasilkan berupa teh ortodoks yang harus berkualitas tinggi sehingga dapat memenuhi kepuasan konsumen. Proses pengolahan teh hitam ortodoks di PT Perkebunan Nusantara VIII pada tiap prosesnya menggunakan mesin yang berbeda-beda. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah keandalan dari tiap mesinnya. Ruang Sortasi merupakan ruang pengolahan teh ortodoks yang berguna untuk memperoleh partikel teh yang seragam dalam ukuran, densitas dan kebersihan dari kandungan sarat dan tulang sesuai standar yang telah ditetapkan dan yang akan membagi jenis teh ke kualitas satu, kualitas dua, dan kualitas tiga. Pada ruang sortasi, frekuensi kerusakan yang paling tinggi dialami mesin vibro. Mesin vibro merupakan mesin yang berfungsi sebagai pemisah serat pada teh. Namun, mesin vibro merupakan mesin yang memiliki frekuensi kerusakan tertinggi dibanding mesin lainnya di ruang sortasi, maka diperlukan kebijakan perawatan. Metode yang digunakan pada penelitian adalah Risk Based Maintenance (RBM) dan Life Cycle Cost (LCC). Metode Risk Based Maintenance digunakan untuk mengetahui seberapa besar konsekuensi dan risiko yang dihasilkan dari kerusakan mesin vibro. Metode Life Cycle Cost (LCC) digunakan untuk menentukan retirement age, maintenance set crew, dan mengetahui total life cycle cost pada mesin vibro. Berdasarkan metode RBM, didapatkan nilai konsekuensi dan risiko sebesar Rp. 619,118,784.43 dengan persentase 1,31%. Risiko ini melewati batas kriteria penerimaan risiko yaitu 1% pada mesin vibro. Berdasarkan metode LCC, didapatkan retirement age mesin vibro selama 7 tahun, dengan jumlah satu maintenance set crew yang terdiri dari 3 orang, dan total life cycle cost yang minimum sebesar Rp. 495,281,609. Kata Kunci : Risk Based Maintenance, Life Cycle Cost, Retirement Age, Maintenance Set Crew, Preventive Maintenance
Usulan Kebijakan Perawatan Berdasarkan Risiko Dan Evaluasi Keandalan Untuk Penjadwalan Perawatan Pada Mesin Escher Wyss Di PT. Kertas Padalarang Aldi Bastian; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Aji Pamoso
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. Kertas Padalarang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Produksi kertas pada PT. Kertas Padalarang dari tahun 2014 - 2018 mengalami penurunan. Kegiatan corrective maintenance yang tinggi pada perusahaan tersebut mempengaruhi tingkat produksi kertas, tingginya tingkat kegiatan corrective maintenance berdampak pada meningkatnya downtime pabrik. Mesin yang memiliki frekuensi paling tinggi adalah mesin escher wyss berdasarkan hal tersebut mesin ini digunakan sebagai objek pada penelitian ini. Dilanjutkan dengan perhitungan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) didapatkan hasil subsistem dryer part sebagai subsistem paling kritis. Dilanjutkan dengan perhitungan Risk Priority Number (RPN) dengan hasil didapatkan 3 komponen kritis yaitu selang flexible, bearing dan vant belt. Perhitungan nilai availability usulan pada komponen kritis mesin escher wyss mengalami kenaikan masing-masing diantaranya selang flexible mengalami kenaikan sebesar 4.2%, bearing sebesar 0.2% dan vant belt sebesar 4%. Komponen kritis dihitung nilai reliabilitas usulannya untuk digunakan sebagai interval waktu pada penjadwalan usulan hasil dari penjadwalan usulan komponen Selang flexible dilakukan inspeksi dengan frekuensi 33 hari sekali, bearing diberikan pelumas setiap 54 hari sekali dan vant belt dilakukan inspeksi 45 hari sekali.Kata kunci: Risk Based Maintenance, Fault Tree Analysis, Failure Mode Effect Analysis, Availlability Abstrack PT. Kertas Padalarang is a company engaged in manufacturing. Paper production at PT. Kertas Padalarang from 2014 - 2018 has decreased. High corrective maintenance activities at the company affect the level of paper production, the high level of corrective maintenance activities has an impact on increasing factory downtime. The machine that has the highest frequency is the machine escher wyss based on this machine is used as an object in this study. Followed by calculations using the Fault Tree Analysis (FTA) method obtained the results of the dryer part subsystem as the most critical subsystem. Followed by the calculation of the Risk Priority Number (RPN) with the results obtained 3 critical components namely flexible hose, bearing and vant belt. Calculation of the proposed availability value on critical components of the Wyss escher engine has increased respectively, including flexible hoses increasing by 4.2%, bearings by 0.2% and vant belts by 4%. The critical component calculated the reliability value of the proposal to be used as a time interval on scheduling proposals resulting from the proposed component scheduling. Flexible hoses are inspected with a frequency of 33 days, bearings are lubricated every 54 days and the belt is inspected every 45 days.
Perancangan Simulasi Monitoring Jarak Jauh Dengan Sensor Getaran Untuk Memprediksi Kerusakan Mesin Cnc Milling A Pada Pt. Sandy Globalindo Annisa Prias Maysarah; Fransiskus Tatas Dwi Atmaji; Judi Alhilman
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beberapa tahun ke depan, industri akan memasuki era baru yang disebut Industry 4.0. Industry 4.0 merupakan tahap industri baru di mana ada integrasi antara sistem operasi manufaktur, teknologi informasi, dan komunikasi (TIK), terutama Internet of Things (IoT). PT Sandy Globalindo merupakan perusahaan swasta yang memproduksi beberapa produk spare part motor sesuai pesanan yang ada atau made to order. Mesin CNC Milling A merupakan salah satu dari sebelas mesin CNC yang dimiliki oleh PT. Sandy Globalindo. Mesin ini memiliki fungsi untuk membentuk material dengan bentuk dasar balok menjadi bentuk yang diinginkan. Seringkali terjadi kerusakan pada mesin ini yang diakibatkan oleh oleh coolant yang secara terus-menerus membasahi bearing rel, sehingga permukaan bearing rel permukaannya tidak lagi rata dan berkarat. Hal tersebut berdampak pada proses produksi menjadi terganggu karena kerusakan pada bearing rel menyebabkan getaran pada mesin tinggi sehingga output yang dihasilkan tidaklah sesuai standar yang ditetapkan yakni kasar dan tidak lulus uji Quality Control. Maka dari itu, diperlukan suatu alat yang dapat mendeteksi degradasi fungsi dari bearing rel. Alat ini dapat memantau getaran yang terjadi pada mesin secara real time. Kata kunci: Industry 4.0, IoT, bearing rel, coolant, CNC Miling Abstract In the next few years, the industry will enter a new era called Industry 4.0. Industry 4.0 is a new industrial stage where there is integration between manufacturing operations, information technology and communication (ICT) systems, especially the Internet of Things (IoT). PT Sandy Globalindo is a private company that produces several motorbike spare parts products according to existing orders or made to order. CNC Milling A machine is one of eleven CNC machines owned by PT. Sandy Globalindo. This machine has a function to form the material with the basic shape of the beam into the desired shape. Damage to this machine is often caused by coolants that constantly wet the rail bearing, so that the surface of the surface rail bearing is no longer flat and rusty. This has an impact on the production process which is disrupted because damage to the rail bearing causes vibrations to the high engine so that the output produced is not in accordance with the standard set, which is rough and does not pass the Quality Control. Therefore, we need a device that can detect the function degradation of the bearing rail. This device has the ability to monitor vibrations that occur on the machine in real time. Keywords: Industry 4.0, IoT, rail bearing, coolant,CNC Milling
Co-Authors Achmad Rizaldi Utomo Adi Riyanto Afiva, Wirda Hamro Agus Kusnayat Aji Pamoso Aldi Bastian Amelia Kurniawati Anak Agung Ngurah Ananda Dwi Rahmawati Anggreani, Riska Anna Annida Noviyanti Annisa Prias Maysarah Anselvi Mega Lestari Arvindha Ramaditya Ati, Laras Aulia, Valinouski Bambang Tejo Kusumo Bina Wiraty Hasibuan Citra Andriyadi Dena Aprima Diputra Diastyono, Irfan Akmal Dida Diah Damayanti Dio Taqiy Asyrof Donni Arisugewo Donny Verryrianto Sidabutar Endang Budiasih Evan Suryatyasto Sujatman Fajar Asyiraq Tilammura Fathnin, Nisrina Fididio Agoeng Pamboedi Ganjar Alfian Gita Ayu Dinar Pramesti Gondosubroto, Renaldi Harits Dzulyaddain Harwinvania Fauzia Herlambang Prasetyo Nugroho Hidayat, Diansah Husni Amani I Gede Oka Mahendra Ida Bagus Wasudewa Ida Bagus Yoga Samkhyaita Ilham Meiriza Indira Kusuma Wardani Jasmine Raisya Salsabila Jayaningrum, Cahya Wulan Jongtae Rhee Judi Alhilman Judi Alhilman Judi Alhilman Judi Alhilman Judi Alhilman Judi Alhilman, Judi Khairuddin, Sheikh Muhamad Hizam Sheikh Lalu Galeh Inggil Fatristya Lellyta Nurani P Lestari Atika Putri Liza Nafiah Maulidina Liza Nafiah Maulidina Lukman Subekti Marina Yustiana Lubis Maulidina, Liza Nafiah Merlina, Astri Muhammad Bangkit Hidayanto Muhammad Irfan Syahputra Hadiyat Muhammad Kamal Fikri Muhammad Siddiq Muthi Maisa Zulfatri Nadzri, Firdaus Hilmi Navi`a, Isna Jihan Nisrina Fathnin Nopendi, Nopendi Nopendri Nopendri Noviyanti, Anna Annida Noviyanti, Anna Annida Nurdinintya Athari Supratman Nurul Sholihah Ekowati Oktaria Tyas Pambayun Pradipta, Sandy Argya Pratya Poeri Suryadhini Putra Fajar Alam Putri Rahma Muliawati Rachmatul Baety Rayinda Pramuditya Soesanto Rd. Rohmat Saedudin Redi Ahmad Putra Nuranto Riztan Anggitya Sihombing Salsabila, Jasmine Raisya Sarashvati, Made Shanti Shabrina Zatalini Kuswardani Sheila Amalia Salma Sheila Sekar Soka Sugani, Sandika Lafaldi Syavira Ramadianti Tegar Tri Nugraha Triana Suryani Utama Putra (Telkom University), Anak Agung Ngurah Nanda Valinouski Aulia Widia Juliani Wirda Hamro Afiva Wirda Hamro Afiva Yuris Mulya Saputra Zhafran Ega