Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBINAAN KESEHATAN MENTAL DI ERA DIGITAL UNTUK REMAJA STOP BULLYING, BIJAKLAH DALAM BERSOSIAL MEDIA Istianatus Sunnah; Niken Dyah Ariesti; Richa Yuswantina
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 2 No. 1 (2020): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei Vol.2 No.1
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.677 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v2i1.523

Abstract

Dewasa ini banyak kenakalan remaja yang terjadi, berupa geng motor, penggunaan narkoba, maupun pembullian yang dipicu akibat unggahan di media sosial. Akibatnya, antar grup maupun anggota grup saling ejek, saling mem-bully, yang menyebabkan emosi dari para remaja tersebut memuncak. Akibat luapan emosi tersebut, maka saling membuat rencana dan berupaya untuk mengunggulkan jati diri mereka. Remaja merupakan usia transisi dari anak-anak menuju ke dewasa,dengan batasan usia dari 10-20 tahun. Pada masa peralihan ini, umumnya memiliki ciri mengalami kegelisahan dalam hidupnya,munculnya pertentangan dengan orang tua, keinginan untuk mencoba hal baru, berkhayal dan berfantasi tentang prestasi dan kariernya. Kegiatan ini dilakukan melalui pembinaan kesehatan mental sebagai sasaran adalah siswa SMA di Kabupaten Semarang. Pembinaan dilakukan dengan memberikan materi dan evaluasi berupa pretes dan postes kepada sejumlah 33 siswa. Hasil evaluasi berupa nilai pemahaman yang akan mejadi dasar untuk menentukan kategori pemahaman siswa yang terdiri dari cukup, baik dan sangat baik. Prosentase siswa yang memiliki kategori pemahaman tersebut dihitung untuk menentukan tingkat keberhasilan penyampaian materi. Hasil evaluasi yang diperoleh menunjukkan bahwa, terdapat peningkatan pemahaman kepada siswa setelah diberikan edukasi tentang kesehatan mental, Undang-Undang ITE dan konten positif media sosial. Pemahaman siswa tentang semua materi kategori sangat baik karena nilai rata-rata yang diperoleh di atas 90. Prosentase siswa yang memiliki pemahaman sangat baik meningkat menjadi 64% dan baik menjadi 36%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya edukasi kepada siswa, membantu meningkatkan pemahaman terhadap cyber bullying, UU ITE dan unggahan konten positif di sosial media.
Upaya Peningkatan Daya Tahan Tubuh Melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Masa Pandemi Covid-19 Dian Oktianti; Richa Yuswantina; Fiki Wijayanti
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 3 No. 2 (2021): Indonesian Journal of Community Empowerment November
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.638 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v3i2.1294

Abstract

Corona virus or severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) is a virus that attacks the respiratory system. The disease caused by this viral infection is called COVID-19. Corona virus can cause mild disorders of the respiratory system, severe lung infections, and even death. A person can be infected from a person with COVID-19. This disease can spread through small droplets (droplets) from the nose or mouth when coughing or sneezing. The droplets then fall on nearby objects. Then if someone else touches an object that has been contaminated with these droplets, then that person touches the eyes, nose or mouth (triangle of the face), then that person can be infected with COVID19. Or it could be that someone is infected with COVID-19 when they accidentally inhale droplets from an infected person. Some steps that can be taken to prevent infection with the corona virus are washing hands properly, which is the simplest but most effective way to prevent the spread of the 2019-nCoV virus. The next step is to maintain endurance. A strong immune system can prevent the emergence of various diseases. To maintain and increase endurance, it can be done by eating healthy foods, such as vegetables and fruits, and protein foods, such as eggs, fish, and lean meats as well as consuming Vitamin C and Honey. Candirejo Elementary School is one of the important facilities and can be used as a partner in efforts to prevent COVID-19. This instructional activity was attended by 5th graders, with 40 students who were divided into waves, because they were carrying out Limited Beginnings. At the time of implementation the children were very interested in the material provided, and very enthusiastic in asking questions. The most asked questions are about the use of vitamin C and honey and how to use them in everyday life.ABSTRAKVirus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Seseorang dapat terinfeksi dari penderita COVID-19. Penyakit ini dapat menyebar melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk atau bersin. Droplet tersebut kemudian jatuh pada benda di sekitarnya. Kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah), maka orang itu dapat terinfeksi COVID19. Atau bisa juga seseorang terinfeksi COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Beberapa l105angkah yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi virus corona adalah mencuci tangan dengan benar adalah cara paling sederhana namun efektif untuk mencegah penyebaran virus 2019-nCoV. Langkah selanjutnya adalah menjaga daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang kuat dapat mencegah munculnya berbagai macam penyakit. Untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh, dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan sehat, seperti sayuran dan buah-buahan, dan makanan berprotein, seperti telur, ikan, dan daging tanpa lemak serta konsumsi Vitamin C dan Madu. Sekolah Dasar Candirejo adalah salah satu sarana yang penting dan bisa dijadikan sebagai mitra dalam upaya pencegahan covid-19. Kegiatan penyyuuhan ini diikuti oleh anak kelas 5, dengan peseta sebanyak 40 siswa, yang terbagi menjadi gelombang, disebabkan sedang melaksanakan Tatap Mula Terbatas. Pada saat pelaksanaan anak-anak sangat tertarik dengan materi yang diberikan, dan sangat antusias dalam bertanya. Pertanyaan yang paling banyak ditanyakan adalah mengenai mengenai pemanfaatan vitamin C dan madu dan cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Optimasi Situ (Sistem Informasi Tuberculosis) Berbasis Integrasi Virtual dan Augmented Reality pada Kader PKK Desa Candirejo, Kabupaten Semarang Richa Yuswantina; Niken Dyahariesti; Ita Puji Lestari
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 4 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2022
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.084 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v4i2.1945

Abstract

Based on data from the Central Statistics Agency (BPS) of Central Java Province in 2020 the average TB discovery rate per 100,000 population is around 210.76 and the percentage of successful TB detection in Central Java is only around 83.93%. Focused in Semarang Regency, the average TB detection rate per 100,000 population is around 174.99 and the percentage of successful TB detection is only around 84.65%. Various efforts to prevent tuberculosis must continue to be carried out in order to break the chain of transmission, establish a rapid diagnosis, control infection well, and effective treatment are very important in eradicating tuberculosis in the community.  The purpose of this activity is to streamline IEC (Communication, Information and Education) on drugs and diseases to PKK (Family Welfare Empowerment) cadres regarding TB in order to avoid misuse (mis-use) and drug abuse (drug abuse) in order to achieve the expected therapeutic effect of treatment. effective and efficient. Some of the problems found include: 1) Low awareness, understanding and knowledge of the people of Semarang Regency, especially Candirejo Village about the risk of TB; 2) Boredom and laziness arise in patients in treatment; 3) Shame, low self-esteem or even depression in people with TB and their families, as well as the negative stigma of society; 4) Lack of understanding of the patient's family, and the community around the patient about the importance of support for TB sufferers; 5) awareness, interest and understanding related to healing, prevention. The solution offered in this service activity is to provide counseling, education and assistance to PKK Cadre of Candirejo Village which bridges communication with sufferers as an effort to prevent disease transmission, especially TB. The approach was carried out by means of observation, interviews, counseling, demonstrations on how to wash hands properly, and motivating residents to create a healthy home and environment.ABSTRAKBerdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2020 rata-rata angka penemuan TBC per 100.000 penduduk yaitu sekitar 210,76 dan persentase keberhasilan penemuan TBC di Jawa Tengah hanya berkisar 83,93%. Terfokus di Kabupaten Semarang rata-rata angka penemuan TBC per 100.000 penduduk yaitu sekitar 174,99 tahun 2020 dan persentase keberhasilan penemuan TBC hanya sekitar 84,65%. Berbagai upaya pencegahan tuberculosis harus terus dilakukan agar dapat memutus rantai penularan, menegakkan diagnosis cepat, mengendalikan infeksi dengan baik, dan pengobatan yang efektif merupakan hal yang sangat penting dalam memberantas TBC di masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan informasi obat TBC dan pengatasannya kepada kader PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) guna menghindari kesalahgunaan (miss-use) dan penyalahgunaan obat (drug abuse) demi tercapainya efek terapi pengobatan yang diharapkan secara efektif dan efisien. Beberapa permasalahan yang ditemukan diantaranya adalah: 1) Rendahnya kesadaran, pemahaman dan pengetahuan masyarakat Kabupaten Semarang utamanya Desa Candirejo tentang resiko TBC; 2)Timbul kebosanan dan malas pada Pasien dalam berobat; 3) Rasa malu, rendah diri atau bahkan depresi pada penderita TBC dan keluarganya, serta stigma negatif masyarakat; 4) Kurangnya pemahaman pihak keluarga pasien, dan masyarakat sekitar penderita tentang pentingnya dukungan kepada penderita TBC; 5) kesadaran, minat dan pemahaman terkait dengan penyembuhan, pencegahan. Solusi yang ditawarkan pada kegiatan pengabdian ini adalah memberikan penyuluhan, edukasi dan pendampingan pada Kader PKK Desa Candirejo yang menjembatani komunikasi dengan penderita sebagai upaya pencegahan penularan penyakit khususnya TBC. Pendekatan dilakukan dengan metode observasi, wawacara, penyuluhan, penyampaian informasi mengenai penyakit TBC.
Kajian Penyimpanan Obat-Obat Khusus di Fasilitas Kesehatan di Kabupaten X Tahun 2022: Study of Storage of Special Medicines in Health Facilities in District X in 2022 Niken Dyahariesti; Richa Yuswantina; Adam Wibowo; Pujiana Ashari; Rita Andriyani
Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS) Vol. 5 No. 2 (2023): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v5i2.342

Abstract

Storage is one of a series of drug cycle management that needs attention, because it greatly affects the quality of these preparations before being handed over to patients, especially for special drugs. The specific drugs in question are LASA (Look Alike Sound Alike) drugs and vaccines. The vaccine being researched is specifically IDL (Complete Basic Immunization). This research was taken at health facilities (health offices, hospitals and health centers) in District X. The purpose of this study was to evaluate the storage of special medicines at health facilities in District X. Data collection was carried out prospectively in July 2022 with a cross approach sectional uses a checklist according to the standard for special drug storage. Storage standards use the 2021 Vaccine ManagementsaGuidelines in Health Service Facilities,  2020 CDOB and 2016 Minister of Health Regulatiion 72 The results of the study found that storage of LASA drugs was 100% (good). For vaccines seen from building indicators 87.5% (good), facilities 80% (good) and storage management 93.3% (good). Based on the results above, it can be concluded that the storage of special medicines in health facilities in X district is considered good.   ABSTRAK Penyimpanan merupakan salah satu dari rangkaian  drug manajemen cycle  yang perlu diperhatikan, karena sangat berpengaruh terhadap kualitas dari sediaan tersebut sebelum diserahkan ke pasien terutama untuk obat-obat khusus. Obat khusus yang dimaksud adalah obat LASA ( Look Alike Sound Alike) dan vaksin.  Vaksin yang diteliti khususnya  IDL (Imunisasi Dasar Lengkap). Penelitian ini diambil  di fasilitas kesehatan ( dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas)  yang berada di Kabupaten X.   Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penyimpanan obat-obat  khusus di fasilitas kesehatan di Kabupaten X. Pengambilan data dilakukan secara prospektif  pada bulan Juli 2022 dengan pendekatan cross sectional menggunakan checklist sesuai standart penyimpanan obat khusus. Standart penyimpanan menggunakan Pedoman Pengelolaan Vaksin di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2021, CDOB tahun 2020 dan Permenkes 72 Tahun 2016.  Hasil penelitian di dapatkan bahwa  untuk penyimpanan obat LASA 100 % (baik). Untuk vaksin dilihat dari indikator bangunan 87,5 % ( baik), fasilitas 80 % ( baik ) dan pengelolaan penyimpanan 93,3 % ( baik). Berdasarkan hasil diatas maka dapat disimpulkan penyimpanan obat-obat khusus difasilitas kesehatan di kabupaten  X  termasuk baik.
Analysis of the Correlation Between Waiting Time for Prescription Services and Patient Satisfaction in Puskesmas Yuswantina, Richa; Dyahariesti, Niken; Falkhatiana, Wilda; Syari, Nyayu Ayunda
Jurnal Midpro Vol. 14 No. 1 (2022): JURNAL MIDPRO
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/md.v14i1.348

Abstract

 Efforts to improve and control the quality of pharmaceutical services to ensure patient satisfaction are carried out by evaluating the waiting time for prescription services in preparing pharmaceutical preparations and the level of patient satisfaction in pharmaceutical services [1]. Puskesmas is the first level health facility that participates in efforts to achieve the target of Minimum Service Standards [2]. The purpose of this study was to analyze the relationship between waiting time for prescription services and the level of patient satisfaction at the Puskesmas. This study used an observational research design with a design approach cross sectional. Determination of the research sample using a purposive sampling method. Analysis of the data used for this research is univariate analysis and bivariate analysis, as well as statistical chi-square test.Results: This study used an observational research design with a cross sectional design approach. Analysis of the data used for this study using the SPSS program, as well as the chi-square statistical test.               According to standard waiting time for prescription service, 155 recipes (92.90%) were categorized according to standard and 11 prescriptions (7.10%) were not according to standard. The level of satisfaction of respondents was categorized as satisfied as many as 132 respondents (85.16%) while those who felt dissatisfied were 23 respondents (14.84%). From the results of the analysis of the chi-square test waiting time and the level of patient satisfaction obtained P Value <0.05.There is a relationship between waiting time for prescription services and the level of patient satisfaction at the Puskesmas. 
Study of the Cost Effectiveness of Therapy in Hypertention Patients in Hospital Yuswantina, Richa; Dyahariesti, Niken; Ambarwati, Diastri Dwi
Jurnal MIDPRO Vol 15 No 1 (2023): JURNAL MIDPRO
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/md.v15i1.456

Abstract

Hypertension is where the blood pressure is > 140 mmHg and > 90 mmHg. Combination therapy is needed if a single antihypertensive has not been able to control the desired blood pressure target while the cost of treatment is increasing from time to time. The purpose of this study was to determine the cost-effective combination therapy for antihypertensive drugs in hypertensive patients in an inpatient setting. This study is a descriptive study with a pharmacoeconomic analysis approach using the Cost Effectiveness Analysis (CEA) method which was carried out retrospectively. Data were collected using the Total Sampling technique with 93 patients which were then analyzed to determine the cost-effective therapy based on ACER and ICER. The results showed that hypertension was mostly experienced by patients aged 50-60 years, male sex was more than female. HT stage 2 is often experienced by patients. Type II DM is the most common comorbidity. The lowest ACER value is Rp. 65.195.77. The lowest ICER value is Rp. 7.047.2551 when compared with standard therapy, namely CCB + ACEI. The combinations used in the inpatient unit include two combinations of 42 patients (45.16%) three combinations of 37 patients (39.78%), four combinations 6 (6.45%) five combinations of 8 patients (8.6%). The lowest average direct medical cost is the combination of ACEI antihypertensive + Diuretic + -Blocker Rp. 2.765.262. The cost effective therapy based on ACER and ICER values is a combination of Diuretics + CCB + ACEI + Blockers with an ACER value of Rp. 65,195.77 and also dominant.             
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIDIABETES ORAL TUNGGAL DAN KOMBINASI PADA PASIEN BPJS PENDERITA DIABETES MILLITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT X Yuswantina, Richa; Dyahariesti, Niken
Media Farmasi Indonesia Vol. 13 No. 1 (2018): Media Farmasi Indonesia
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.323 KB)

Abstract

ABSTRAK Diabetes millitus merupakan suatu penyakit degeneratif yang banyak diderita oleh masyarakat yang mana pengobatannya memerlukan obat antidiabetes oral dalam jangka waktu yang lama baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi. Lamanya pengobatan sejalan dengan besarnya biaya yang dikeluarkan, sehingga perlu pemilihan obat yang tepat efektivitas dan harganya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari obat antidiabetes oral tunggal maupun kombinasi dengan biaya yang paling efektif. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif melalui studi retrospektif dari rekam medis pasien rawat jalan dan administrasi. Sampel diambil secara non-random sampling dengan metode purposive sampling. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan menghitung biaya medik langsung dan efektivitas terapi. Efektivitas terapi diukur berdasarkan hasil kadar gula darah mencapai target selama 2 bulan. Total biaya terendah berada pada antidiabetik oral (ADO ) tunggal adalah biguanid (Rp. 509.169,87 ) sedangkan untuk efektivitas yang paling besar pada biguanid (59,26 % ). Dengan nilai ACER biguanid Rp. 8.592,13. Pada penggunaan ADO kombinasi total biaya terendah pada glimepiride + metformin sebesarRp.274.185,24 dan efektivitas terbesar pada glimepiride + metformin (100 % ) , dengan nilai ACER Rp. 2.741,85. Terapi antidiabetik oral tunggal paling efektif adalah biguanida, dan terapi antidiabetik oral kombinsi paling cost efektif adalah glimepirid dan metformin.
Evaluasi Keefektifan Penggelolaan Obat di Rumah Sakit Dyahariesti, Niken; Yuswantina, Richa
Media Farmasi Indonesia Vol. 14 No. 1 (2019): Media Farmasi Indonesia
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.424 KB)

Abstract

Pengelolaan obat yang efektif sangat membantu peningkatan kualitas pelayanan fasilitas kesehatan kepada masyarakat. Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang menjadi rujukan utama masyarakat. Kerenanya diperlukan pengelolaan obat yang efektif di semua tahap untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevalusi efektivitas pengelolaan obat di RS X pada tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental menggunakan data retrospektif. Hasil penelitian didapatkan bahwa pada tahap seleksi 100% penggunaan obat sesuai dengan formularium. Pada tahap pengadaan menunjukkan dana yang tersedia dengan keseluruhan dana yang sesungguhnya 103,65%, alokasi dana pengadaan obat 10,56%, kesesuaian pengadaan dengan kenyataan pakai 96,33%, frekuensi pengadaan obat pertahun <12 kali, frekuensi kesalahan faktur 0%, dan frekuensi tertundanya pembayaran oleh rumah sakit adalah 0%. Pengelolaan obat pada pada tahap distribusi di dapatkan Turn over ratio sebesar 8,6 kali, tingkat ketersediaan obat 27,4 bulan, nilai obat yang kadaluarsa dan rusak yaitu 0,5%, stock mati yaitu 2,7%. Sedangakan pengelolaan obat pada pada tahap penggunaan: jumlah rata-rata obat tiap resep yaitu 3,11; obat generik yang diresepkan 41,80%, antibiotik yang diresepkan 10 %, injeksi yang diresepkan 3,9%.
Evaluasi Penyimpanan Obat di Gudang Farmasi Puskesmas Mangunsari Kota Salatiga: Evaluation of Drug Storage at the Pharmacy Warehouse of the Mangunsari Health Center, Salatiga City Dewi, Vionica Citra; Yuswantina, Richa
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 4 No. 1 (2022): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v4i1.137

Abstract

Drug storage is a pharmaceutical job in which the activities of regulating pharmaceutical supplies according to predetermined requirements are accompanied by an information system that always guarantees the availability of pharmaceutical supplies. The purpose of this study was to get an overview of drug storage and to know the evaluation of drug storage in the pharmacy warehouse of the Mangunsari Health Center in Salatiga city based on the Minister of Health Regulation No. 74 of 2016. The research design used a descriptive method with observations of the research object and direct interviews. Collecting data by filling out the check list sheet indicators based on the results of observations and interviews. The data is presented in the form of a check list table and then analyzed by comparing the drug storage indicators with the actual situation. The results of this study show that the percentage of storage parameters for warehouse requirements is 92.8%, the percentage of drug storage parameters is 100%, and the percentage of storage parameters for the stok card recording system is 100%. Based on the results of the research on evaluation of drug storage in the warehouse of the Mangunsari Health Center, Salatiga City, it is in accordance with Minister of Health Regulation No. 74 of 2016 on drug storage parameters and stok card recording systems. ABSTRAK Penyimpanan obat merupakan pekerjaan kefarmasian dimana kegiatan pengaturan pembekalan farmasi menurut persyaratan yang telah ditetapkan disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi. Tujuan pada penelitian ini untuk mendapatkan gambaran penyimpanan obat dan mengetahui evaluasi penyimpanan obat di gudang farmasi Puskesmas. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pengamatan terhadap objek penelitian dan wawancara langsung. Pengumpulan data dengan cara mengisi indikator lembar chek list berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara. Data disajikan dalam bentuk tabel chek list kemudian dianalisa dengan cara membandingkan indikator penyimpanan obat dengan keadaan sebenarnya. Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran bahwa persentase parameter penyimpanan persyaratan gudang 92,8% persentase parameter penyimpanan obat 100%, dan persentase parameter penyimpanan sistem pencatatan kartu stok 100% Berdasarkan hasil penelitian evaluasi penyimpanan obat di gudang Puskesmas Mangunsari Kota Salatiga sudah sesuai dengan Permenkes No 74 Tahun 2016 pada parameter penyimpanan obat dan sistem pencatatan kartu stok.
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Obat Hipertensi Amlodipin dan Candesartan pada Pasien Hipertensi di Klinik Merah Putih Ungaran: Cost Effectiveness Analysis of The Use of Hypertension Drug Amlodipin and Candesartan in Hypertension Patients at Merah Putih Ungaran Clinic Annisa Ayu Kusuma Wardani; Yuswantina, Richa
Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS) Vol. 5 No. 2 (2023): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v5i2.352

Abstract

Hypertension is a degenerative disease that has a high risk of morbidity and mortality that requires long-term care. Health financing in Indonesia is increasing, so it is necessary to do a cost-effectiveness analysis so that it can assist in making decisions regarding the selection of drugs that are effective in terms of benefits and costs. This study aims to determine the cost-effectiveness analysis of the use of hypertension drugs amlodipine & candesartan in hypertensive patients at the Merah Putih Clinic Ungaran. Data collection was carried out retrospectively using outpatient hypertension data and a sample that met the inclusion criteria was obtained as many as 60 patients. To reduce the problem of health financing, a cost-effectiveness analysis is needed by calculating direct medical costs, and calculating the ACER and ICER values. Direct medical costs for Amplodipine 5 mg Rp. 82,270, Amplodipine 10 mg Rp. 71,650, Candesartan 8mg Rp. 91,000, Candesartan 16 mg Rp. 111040. Research shows that the percentage of therapeutic effectiveness from using amlodipine 5 mg is 13.33%, amlodipine 10mg is 15%, candesartan 8 mg is 15% and candesartan 16 mg is 16%. Cost effectiveness based on ACER Amplodipine 5 mg is IDR 107.582 and the ICER calculation is IDR 131.842. Direct medical costs for hypertensive patients at the Merah Putih Clinic Ungaran, Amplodipine 5 mg Rp. 82,270, Amplodipine 10 mg Rp. 71,650, Candesartan 8mg Rp. 91,000, Candesartan 16 mg Rp. 111,040. The most effective drug in hypertensive patients is Candesartan 16mg.   ABSTRAK Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang memiliki risiko morbiditas dan mortalitas tinggi yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Pembiayaan kesehatan di Indonesia semakin meningkat, maka perlu dilakukan analisis efektivitas biaya agar dapat membantu dalam pengambilan keputusan pemilihan obat yang efektif secara manfaat dan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis efektivitas biaya penggunaan obat hipertensi amlodipin & candesartan pada pasien hipertensi di Klinik Merah Putih Ungaran. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data pasien hipertensi rawat jalan dan didapatkan sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 50 pasien. Untuk mengurangi masalah pembiayaan kesehatan diperlukan analisis efektivitas biaya dan menghitung nilai ACER dan ICER.:Biaya medik langsung Amplodipine 5mg Rp. 82.270, Amplodipine 10mg Rp. 71.650, Candesartan 8mg Rp. 91.000, Candesartan 16mg Rp. 111.040. Penelitian menunjukkan persentase efektivitas terapi dari penggunaan amlodipine 5 mg sebesar 13,33%, amlodipine 10mg sebesar 15%, candesartan 8 mg sebesar 15% dan candesartan 16 mg sebesar 16%. Efektivitas biaya berdasarkan ACER Amplodipine 5 mg sebesar Rp 107.582 dan perhitungan ICER Candesartan 16mg & Candesartan 8mg Rp 131.842. Biaya medik langsung hipertensi di Klinik Merah Putih Ungaran Amplodipine 5mg Rp. 82.270, Amplodipine 10mg Rp. 71.650, Candesartan 8mg Rp. 91.000, Candesartan 16mg Rp. 111.040. Nilai ACER adalah Amplodipine 5mg sebesar Rp 107.582. ICER adalah Candesartan 16 mg & Candesartan 8mg dengan nilai ICER sebesar Rp. 131.842