Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Bronkopneumonia Pediatri Di Instalasi Rawat Inap Rsud dr. Loekmono Hadi Kudus Amalia, Shofia; Etikasari, Ria; Rosnarita, Intan Adevia
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.109143

Abstract

Bronkopneumonia menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian pada anak balita, terutama di negara-negara dengan status perkembangan rendah hingga menengah, sehingga memerlukan terapi antibiotik yang tepat agar perbaikan kondisi klinis pasien dapat tercapai secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia pediatri serta mengevaluasi efektivitas penggunaannya berdasarkan penurunan suhu tubuh, nilai respiratory rate (RR), jumlah leukosit, dan perbaikan gejala klinis (batuk, sesak, dan pilek). Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien periode Juni–Desember 2024. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon, Mann-Whitney, dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ampicillin-sulbactam (61,4%), diikuti oleh ceftriaxone (35%). Penggunaan antibiotik efektif dalam menurunkan suhu tubuh, nilai RR, jumlah leukosit, serta memperbaiki gejala klinis pasien. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara ceftriaxone dan ampicillin-sulbactam dalam menurunkan suhu tubuh (p = 0,411), nilai RR (p = 0,974), jumlah leukosit (p = 0,496), serta pada durasi perbaikan gejala batuk (p = 0,649), sesak (p = 0,767), dan pilek p = 0,188. Dapat disimpulkan bahwa profil penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia pediatri di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus didominasi oleh ampicillin-sulbactam, dan penggunaannya efektif dalam memperbaiki kondisi klinis pasien, serta tidak terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara ceftriaxone dan ampicillin-sulbactam.
PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PADA PENGETAHUAN PENGGUNAAN ANALGESIK NYERI NEUROPATIK DAN DISMINORE DI DESA KUANYAR, MAYONG, JEPARA Erianti, Meliana; Etikasari, Ria; A. Rosnarita, Intan
Nusantara Hasana Journal Vol. 5 No. 8 (2026): Nusantara Hasana Journal, January 2026
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v5i8.1835

Abstract

One example of self-medication issues is the differing treatment needs between neuropathic pain (requiring non-analgesic adjuvant medications) and dysmenorrhea (susceptibility to the risk of NSAID side effects due to excessive doses). This study aimed to analyze a comprehensive profile of the knowledge of the Kuanyar Village community regarding the use of analgesics for neuropathic pain and dysmenorrhea. This study employed a quantitative descriptive design through a cross-sectional survey. Data were collected using a structured questionnaire to calculate respondents' knowledge scores, drawn through a purposive sampling technique. The results showed were predominantly female (52%), with 41.2% aged 21-35 years, 60% having a high school education, 35% being self-employed, 45% earning between 1 million and 3 million rupiah, and 42.5% being involved in community organizations. The level of knowledge fell into three categories before the education: poor and sufficient same about (30%) and good (40%). After the education through printed media, the level of knowledge changed sharply, with the poor level of knowledge decreasing sharply, as did the sufficient and good categories, each at 6% and 94%, respectively. This was supported by the analysis results using the Wilcoxon test with a significance value of 0.000 <0.05.
Evaluasi Efek Samping Penggunaan Nsaid Pada Pasien Osteoartritis Di Instalasi Rawat Jalan RSUD R.A. Kartini Jepara Ningrum, Nuzulatul Wahyu Mustika; Etikasari, Ria; Husna, Ulviani Yulia
Jurnal Farmasi & Sains Indonesia Vol 8 No 2 (2025)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52216/jfsi.vol8no2p118-125

Abstract

Osteoarthritis (OA) is a common degenerative disease in the elderly and a leading cause of disability. Excessive joint pain results in limited daily activities. In pharmacological therapy, Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAIDs) are the main choice for OA treatment. Appropriate use of NSAIDs in OA patients is essential to achieve optimal therapeutic outcomes. This study aimed to analyze and evaluate adverse effects of NSAID use in OA patients at the Outpatient Installation of RSUD R.A. Kartini Jepara. The research was conducted using a descriptive observational method with a retrospective design based on secondary data from medical records. Samples were determined through purposive sampling with inclusion criteria: OA patients aged 45–75 years who had at least three visits during January–December 2024. Exclusion criteria were incomplete or unreadable medical records. Data were analyzed descriptively to present patient characteristics, NSAID usage profiles, and adverse effects. The results showed that OA patients were predominantly female (72.9%), aged 65–75 years (46.9%), and had BMI >27 (53.1%). Most patients had disease duration >12 months (38.4%) and received NSAID therapy for more than 3 weeks (70.8%). Hypertension was the most common comorbidity (50%), while the most frequently used concomitant medications were gastrointestinal drugs (23.98%) and antihypertensives (23.17%). Meloxicam was the most frequently prescribed NSAID (51%). The most common adverse effects were gastrointestinal disorders, including dyspepsia (56.10%) and vertigo (17.07%).
Analisis Terapi dan interaksi obat Antiplatelet pada Pasien Angina Pektoris Stabil di RSUD RA Kartini Jepara Firdaus, Ade Kurnia bayu; Etikasari, Ria; Rosnarita, Intan Adevia
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.108254

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan prevalensi di Indonesia sebesar 0,85‰. Terapi antiplatelet merupakan strategi utama dalam pencegahan sekunder PJK, termasuk pada kasus angina pektoris stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan dan potensi interaksi obat antiplatelet pada pasien angina pektoris stabil. Desain penelitian ini menggunakan observasional dengan kohort desain retrospektif dan pendekatan kuantitatif dan kualitatif,  Data diambil dari rekam medis pasien rawat jalan di RSUD RA Kartini Jepara periode Januari 2023–Desember 2024. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, jenis terapi antiplatelet (aspilet 80 mg, klopidogrel 75 mg, atau kombinasi), serta potensi interaksi obat. Dari 31 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, mayoritas berusia 50–59 tahun (54,85%). Pola terapi didominasi penggunaan aspilet tunggal (67,74%), diikuti kombinasi dengan klopidogrel (19,35%), dan klopidogrel tunggal (12,90%). Terdapat 94 potensi interaksi: 30 (31,9%) minor, 63 (67%) moderate, dan 1 (1,1%) mayor. Interaksi mayor ditemukan antara klopidogrel dan ketorolac. 
Peran Literasi Herbal Dalam Membentuk Perilaku Konsumen: Studi Pembelian Jamu Godok di Kedai Jampi Zarisma Mudik, Edo; Etikasari, Ria; Besan, Emma Jayanti
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 5 No 1 (2026): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol5.Iss1.2323

Abstract

Penggunaan obat herbal dan jamu godok terus meningkat, tetapi keputusan pembelian konsumen sering tidak didasari pengetahuan yang memadai mengenai manfaat, keamanan, serta penggunaannya. Kondisi ini dapat menimbulkan penggunaan yang tidak tepat sehingga diperlukan pemahaman mengenai peran pengetahuan dalam mempengaruhi pembelian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang herbal dengan keputusan konsumen dalam membeli jamu godok di Kedai Jampi Zarisma. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross sectional dan teknik accidental sampling pada 272 responden. Data diperoleh melalui kuesioner yang menilai pengetahuan herbal dan keputusan pembelian, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Mayoritas responden adalah perempuan (61,8%), berusia 31–40 tahun (44,9%), berpendidikan SMK (39%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (41,5%). Sumber informasi utama tentang jamu berasal dari keluarga (45,6%), dengan jenis jamu yang paling banyak dikonsumsi adalah jamu asam urat (26,5%). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif sedang dan signifikan antara tingkat pengetahuan herbal dengan keputusan pembelian jamu godok (p = 0,001; r = 0,464), yang berarti semakin tinggi pengetahuan konsumen tentang herbal, semakin baik keputusan pembelian yang diambil.