Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Gel Lidah Buaya (Aloe Vera) sebagai Terapi Alternatif untuk Mengatasi Dermatitis Akibat Banjir Rusidah, Yunita; Kurnia, Shinta Dwi; Fanani, Zainal; Sukoharjanti, Bintari Tri
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 6 No 3 (2024): Jurnal Peduli Masyarakat: September 2024
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v6i3.4047

Abstract

Banjir melanda hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Demak awal tahun 2024. Desa Kedungwaru Lor merupakan salah satu desa yang terdampak banjir. Wilayah Kecamatan Karanganyar Demak termasuk daerah yang mengalami genangan parah akibat robohnya enam tanggul sungai. Banjir merendam persawahan siap panen dan rumah-rumah warga dengan ketinggian lebih dari 3 meter. Dengan melihat daerah terdampak banjir yang luas dan tidak segera surut maka resiko terjadinya gangguan kesehatan terutama pada kulit semakin besar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi dan pelatihan pembuatan gel lidah buaya yang diharapkan dapat membantu mengatasi dermatitis akibat sanitasi yang kurang baik saat bencana banjir. Pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah Kudus bermaksud memberdayakan anggota Aisyiyah Desa Kedungwaru Lor untuk memproduksi gel lidah buaya secara mandiri. Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai manfaat dan cara pembuatan gel lidah buaya. Metode pelaksanaan dalam program pemberdayaan masyarakat ini antara lain sosialisasi dan pelatihan. Peserta sangat antusias dengan kegiatan sosialisasi dan optimis mampu memproduksi gel lidah buaya. Kegiatan ini berhasil dilaksanakan dan diikuti 37 orang anggota Aisyiyah Desa Kedungwaru Lor Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak. Selama kegiatan berlangsung warga sangat antusias, hal ini tampak pada keaktifan warga mengikuti kegiatan ini dan langsung mengaplikasikan gel lidah buaya pada kulit.
Uji Aktivitas Ekstrak Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Pada Bakteri (Salmonella Typhi, Escherichia Coli, Staphylococus Aureus, Pseudomonas Aerogenosa, dan Stapylococus Epidermidis) Sukoharjanti, Bintari Tri; Retnowati, Eko
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i2.104984

Abstract

Meningkatnya resistensi bakteri patogen terhadap antibiotik menjadi salah satu kendala utama dalam pengobatan infeksi, khususnya terhadap bakteri seperti Salmonella typhi, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus epidermidis. Salah satu alternatif yang dikembangkan adalah penggunaan ekstrak alami, seperti dari cacing tanah (Lumbricus rubellus), yang diketahui mengandung senyawa antibakteri seperti lumbrokinase, peptida, dan enzim proteolitik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol Lumbricus rubellus terhadap lima bakteri patogen menggunakan metode difusi cakram pada media Nutrient Agar (NA). Uji dilakukan dalam tiga konsentrasi (F1, F2, dan F3). Hasil menunjukkan zona hambat terbesar pada Staphylococcus aureus (16,07 mm, F2) dan Staphylococcus epidermidis (16,72 mm, F3), dikategorikan sebagai respon “kuat” dan “sedang”. Zona hambat pada Salmonella typhi berkisar antara 11,89–13,05 mm (kuat), sedangkan Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli masing-masing menunjukkan respon “sedang”. Kontrol positif cefixime terhadap Salmonella typhi menunjukkan aktivitas sangat kuat (22,80 mm). Hasil ekstrak Lumbricus rubellus memiliki potensi sebagai agen antibakteri alami terhadap bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, meskipun aktivitasnya bervariasi. Kesimpulan F3 merupakan sediaan paling potensial, dengan aktivitas sedang hingga kuat terhadap hampir semua bakteri uji, khususnya Pseudomonas aeruginosa dan S. epidermidis. Ekstrak cacing tanah memperlihatkan aktivitas kuat terhadap bakteri Gram-positif, dan aktivitas sedang terhadap Gram-negatif.
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIFUNGAL HAIR TONIC EKSTRAK DAUN MINT (MENTHA PIPERITA L) DAN DAUN SIRIH HIJAU (PIPER BETLE L) TERHADAP JAMUR PITYROSPORUM OVALE Septia, Noersa Indah; Fanani, Zaenal; Sukoharjanti, Bintari Tri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48856

Abstract

Daun mint (Mentha piperita L.) serta daun sirih hijau (Piper betle L.) termasuk tanaman yang terkandung senyawa aktif seperti flavonoid dan tannin, yang diindikasikan sifatnya anti jamur. Penelitian ini tujuannya untuk merancang formulasi hair tonic berbahan kombinasi ekstrak etanol dari kedua jenis daun tersebut. Proses penelitian dilaksanakan secara eksperimental di laboratorium, mempergunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% untuk mengekstraksi senyawa aktif dari daun mint serta daun sirih hijau. Konsenterasi ekstrak daun mint adalah 15%, 10%, 5% serta daun sirih hijau dimana konsentrasinya 5%, 10%, 15%. Hasil uji stabilitas fisik formula terbaik ada pada formula III, ditandakan dengan hasil uji organoleptis yang paling sesuai, serta nilai pH dan viskositas yang masih ada direntang persyaratan. Hasil uji aktivitas antijamur mengungkapkan bahwasanya rerata diameter zona hambat hair tonic yang terkandung ekstrak daun mint serta daun sirih hijau pada formula I, II, dan III masing-masing sebesar 1,68 mm, 3,83 mm, dan 7,45 mm. Berdasarkan klasifikasi tingkat efektivitas antifungal, formula III menunjukkan daya hambat paling tinggi pada pertumbuhan jamur Pityrosporum ovale, berdiameter zona hambat sebesar 7,45mm, karenanya dianggap sebagai formula yang paling efektif. Hasil uji perhitungan One Way ANOVA didapat p = 0,000 perihal ini menunnjukkan adanya pengaruh aktivitas pemberian sediaan hair tonic ekstrak daun mint serta daun sirih hijau pada penghambatan jamur Pityrosporum ovale. Jadi hasil dari penelitian ini, formula yang paling optimal yakni formula III.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KATUK TERHADAP KADAR GLUKOSA DALAM ASI PADA IBU MENYUSUI DI KECAMATAN PAMOTAN Fikabewa, Devy Anggraeni; Setyowati, Endang; Sukoharjanti, Bintari Tri
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49490

Abstract

ASI yang berkualitas penting untuk tumbuh kembang bayi, namun sebagian ibu di Kecamatan Pamotan mengalami kendala produksi dan kualitas ASI, termasuk kadar glukosa. Ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus) dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produksi ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus) terhadap kadar glukosa dalam ASI ibu menyusui di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang. Metode Penelitian menggunakan metode Quasi Experiment, dengan melibatkan 30 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Responden kelompok intervensi mendapat ekstrak daun katuk dua kali sehari selama 14 hari. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak mendapat ekstrak daun katuk dua kali sehari selama 14 hari. Kadar glukosa ASI diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan glukometer. Kelompok kontrol dan intervensi diberikan kuesioner sebanyak 15 pertanyaan, format penjelasan, lembar informed consent, lembar asupan makanan serta keluhan selama mengonsumsi ekstrak daun katuk. Hasil Penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu setelah diberikan edukasi tentang ekstrak daun katuk, dengan rata-rata skor pengetahuan kelompok kontrol pre test sebesar 49,93 dan post tetst sebesar 69,07, serta pada kelompok intervensi pre test sebesar 45,80 dan post test sebesar 73,07. Kadar glukosa ASI kelompok kontrol meningkat dari 37,67 mg/dl menjadi 44,80 mg/dl dan pada kelompok intervensi dari 39,00 mg/dl menjadi 58,53 mg/dl. Kesimpulan: Daun katuk meningkatkan kadar glukosa dan volume ASI, serta pengetahuan ibu tentang manfaatnya, sehingga berpotensi mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Uji Efektivitas Sediaan Krim Ekstrak Etanol Herba Patah Tulang (Euphorbia Tirucalli L.) terhadap Penyembuhan Luka Sayat Tikus (Wistar) Sukoharjanti, Bintari Tri; Retnowati, Eko; Huda, Nurul; Alami, Devi Ayu
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Getah Euphorbia tirucalli L. mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, steroid, terpenoid, glikosida, inganen, euphol, sterol, ?-euphorbol, taraxasterol, tirucallol. Flavonoid dan tanin, bermanfaat untuk penanganan luka terbuka. Penelitian ini menggunakan design eksperimental laboratorium dengan tujuan untuk meneliti pengaruh dari sediaan krim ekstrak etanol Batang Patah Tulang terhadap penyembuhan luka sayat pada tikus jantan putih (wistar), menggunakan pendekatan pretest postest one group design. Populasi dalam penelitian ini menggunakan 30 tikus, jumlah sampel yang diambil sebanyak 25 tikus dibagi dalam 5 kelompok. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus Federer. Metode uji yang digunakan yaitu uji Shapiro Wilk, uji Test of Homogeneity of Variances dan uji One Way Anova. Pada penelitian ini menggunakan ekstrak etanol 10% waktu penyembuhan 11 hari, ekstrak 20% selama 9 hari, ekstrak 30% dan kontrol positif selama 7 hari dan pada kontrol negative paling lama yaitu 12 hari. Dari hasil uji yang diperoleh krim ekstrak etanol Herba Patah Tulang mempengaruhi waktu penyembuhan luka sayat pada tikus jantan putih.
Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Factor) Ekstrak Buah Alpukat (Persea Americana Mill) Menggunakan Spektrofotometri UV-VIS Putri, Diva Fitriana; Setyowati, Endang; Sukoharjanti, Bintari Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19008

Abstract

Paparan sinar ultraviolet (UV) dapat menyebabkan kerusakan kulit, termasuk penuaan dini dan kanker kulit. Salah satu bahan alami yang berpotensi digunakan sebagai tabir surya adalah ekstrak alpukat, yang mengandung antioksidan dan asam lemak esensial. Buah alpukat memiliki kandungan flavonoid sebagai antiviral, antiinflamasi, antialergi, antioksidan, dan mmeiliki nutrisi yang tinggi seperti lemak sehat, serat, vitamin E, vitamin C dan kalium. Oleh karena itu, penting untuk menguji kemampuan ekstrak alpukat dalam memberikan perlindungan terhadap sinar UV, khususnya melalui pengukuran Sun Protection Factor (SPF). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPF ekstrak alpukat menggunakan metode Spektrometri UV-Vis dengan perbandingan konsentrasi 5 ppm, 15 ppm, dan 25 ppm dengan rasio 1:2, dan melakukan pengujian terhadap ekstrak buah alpukat meliputi uji alkaloid, uji flavonoid, uji tanin, uji saponin. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji one way analysis of variance (ANOVA). Dengan kepercayaan 96% P (< 0,05). Hasil dari skrining fitokimia dinyatakan bahwa buah alpukat positif alkaloid dan fenol dan negatif flavpnoid, tanin, dan saponin. Penentuan nilai SPF memiliki beberapa kategori yaitu : minimal (2-4), sedang (4-8), maximal (8-15), ultra >15. Hasil yang didapatkan pada konsentrasi 5 ppm, 15 ppm, dan 25 ppm dapat dikategorikan minimal karena nilai absorbansi yang di dapat berturut-turut 3,0612±0,0308; 2,6308±0,0013; dan 3,0068±0,0008. Untuk ekstrak CV. X pada konsentrasi 5 ppm dan 15 ppm dikategorikan minimal dengan nilai absorbansi yang di dapat berturut-turut 2,0905±0,0021; 2,1255±0,0012 sedangkan pada konsentrasi 25 ppm dikategorikan sedang dengan nilai absorbansi 4,0493±0,0014. Ekstrak alpukat dari CV. X pada konsentrasi 25 ppm memiliki nilai SPF sebesar 4,0493, yang termasuk dalam kategori perlindungan sedang terhadap sinar ultraviolet. Hal ini menunjukkan bahwa pada konsentrasi tersebut, ekstrak alpukat memiliki potensi sebagai bahan alami tabir surya dengan efektivitas perlindungan yang cukup terhadap paparan sinar UV.
Formulasi Krim Lindung Surya Ekstrak Buah Papaya (Caricaa papaya L.) dengan Variasi Konsentrasi Trietanolamin Terhadap Nilai SPF (Sun Protection Factor) Silva, Elfanesya; Rahmawati, Riana Putri; Sukoharjanti, Bintari Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19022

Abstract

Indonesia menjadi salah satu negara dengan paparan sinar matahari yang tinggi dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar ruangan sehingga memerlukan suatu perlindungan kulit. Bahan alam sebagai alternatif tabir surya adalah tanaman pepaya (Carica papaya L.). Kandungan buah pepaya sebagian besar terdiri dari air dan karbohidrat, rendah kalori serta kaya akan vitamin dan mineral alami, khususnya vitamin A dan C, asam askorbat dan kalium. Selain itu, mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan seperti flavonoid, polifenol, alkoloid, dan tannin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sediaan dan nilai SPF krim tabir surya ekstrak buah pepaya (Carica papaya L.) pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Hasil sifat fisik sediaan krim tabir surya ekstrak buah pepaya pada formula basis, formula 1, 2, dan 3 berupa uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat memenuhi persyaratan uji sifat fisik yang sesuai. Pada formula basis memiliki nilai SPF 2,3506 ± 0,0106 dengan kemampuan minimal sebagai tabir surya. Formula 1 memiliki nilai SPF 2,5331 ± 0,0002 dengan kemampuan minimal sebagai tabir surya berarti sesuai pada penelitian yang dilakukan oleh Yuliastuti et al., (2020). Formula 2 memiliki nilai SPF 3,7754 ± 0,0026 dengan kemampuan minimal sebagai tabir surya. Formula 3 memiliki nilai SPF 5,0815 ± 0,0041 dengan kemampuan sedang sebagai tabir surya. Kontrol positif memiliki nilai SPF 35,1657 ±0,6426 dengan kemampuan ultra sebagai tabir surya berarti tidak sesuai pada kemasan produk yang tertera dipasaran memiliki nilai SPF 50 PA++++.
Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Obat Kumur (Mouthwash) Kombinasi Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dan Daun Sirih (Piper betle L.) sebagai Antiseptik Mulut Muntamah, Muntamah; Setyowati, Endang; Sukoharjanti, Bintari Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19062

Abstract

Formulasi dan evaluasi fisik sediaan obat kumur (mouthwash) ini dibuat dari kombinasi eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan daun sirih (Piper betle). Eceng gondok kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid yang berfungsi sebagai agen antibakteri, sedangkan daun sirih kaya akan eugenol, yang juga berfungsi sebagai antiseptik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi dan evaluasi fisik sediaan obat kumur kombinasi ekstrak eceng gondok dengan konsentrasi 5%, 15%, 30% dan daun sirih dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Penelitian ini menggunakan metode infundasi dan maserasi. Formula sediaan mouthwash kombinasi ekstrak Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) ini kemudian dilakukan pengujian mutu yang meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, kejernihan, uji viskositas dan uji tinggi busa. Hasil pengujian evaluasi fisik sediaan obat kumur untuk uji organoleptis F0 berwarna putih keruh, F1, F2, dan F3 berwarna kuning kecokelatan, berbentuk cair, dan memiliki bau khas mint. Uji homogenitas F0 tidak homogen, F1, F2, dan F3 homogen. Uji pH 6,15; 5,82; 5,71; 5.68. Uji kejernihan F0 tidak jernih, F1, F2 dan F3 jernih. Uji viskositas 6,0; 5,36; 6,2; 5,63. Uji tinggi busa 4 cm; 3 cm; 5 cm; 10 cm. Kesimpulan dari uji evaluasi fisik sediaan obat kumur kombinasi ekstrak eceng gondok dengan konsentrasi 5%, 15%, 30% dan daun sirih dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dinyatakan memenuhi persyaratan yang meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, kejernihan, uji viskositas, sedangkan uji tinggi busa F0 dan F1 yang memenuhi persyaratan. Berdasarkan penelitian dari ketiga hasil sediaan obat kumur yang paling baik yaitu F1 karena memenuhi semua syarat uji evaluasi fisik.
EFEKTIVITAS SEDIAAN KRIM EKSTRAK BUNGA SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L) SEBAGAI PENUMBUH RAMBUT PADA KELINCI NEW ZELAND Ashfa, Sayyidati Maulia; Setyowati, Endang; Sukoharjanti, Bintari Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.20853

Abstract

Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L) adalah tanaman banyak tumbuh di indonesia yang mengandung banyak senyawa aktif seperti Flavonoid, Saponin, dan asam amino yang sangat efektif untuk merangsang pertumbuhan rambut. Bagi wanita, rambut adalah mahkota, sedangkan bagi pria, rambut memiliki pengaruh besar terhadap kepercayaan diri. Kebotakan tetap menjadi masalah bagi setiap orang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas tanaman bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L) sebagai penumbuh rambut pada kelinci New Zealand. Metode : penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. penelitian ini, dibuat tiga formula krim dengan konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%. Pelarut yang digunakan yaitu etanol 70% karena memiliki tingkat kepolaran yang sedang. Penelitian ini dilakukan pada empat ekor kelinci New Zealand yang diberi perlakuan selama 21 hari untuk menguji efektivitas krim Hibiscus rosa-sinensis L dalam pertumbuhan rambut. Kemanjuran pertumbuhan rambut diuji pada hari ke-7, 14, 21 dengan mengaplikasikan krim dua kali sehari. Hasil : pengujian Karakteristik fisikokimia sediaan krim uji organoleptis F0 berwarna putih kental, F1, F2, F3 berwarna merah bata; uji Homogenitas keempat sediaan memenuhi syarat atau homogen; uji pH semua sediaan memenuhi syarat. Untuk uji Aktivitas rata rata panjang rambut kelinci (mm) diperoleh kontrol negatif 4,69 mm ; F0 6,70 mm ; F1 7,68 mm ;F3 10,75 mm ; Kontrol positif 14,69 mm. Kesimpulan : pada pengujian Efektivitas sediaan krim ekstrak bunga sepatu sebagai pertumbuhan pada rambut dengan tiga formula krim pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% menunjukkan bahwa krim dengan konsentrasi yang lebih tinggi (F3) memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan panjang rambut, mencapai rata-rata 10,75 mm.
Pengaruh Biji Kopi dalam Formulasi Sabun Padat Aromaterapi sebagai Produk Perawatan Kulit Sukoharjanti, Bintari Tri; Sholikhati, Anisa; Mundiyastutik, Yayuk; Janatullaili, Anisa Luthfia
Majalah Farmaseutik Vol 21, No 4 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v21i4.110096

Abstract

Biji kopi berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan alami dalam produk perawatan kulit karena aroma khas dan teksturnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serbuk biji kopi (Coffea sp.) dan menentukan formulasi optimal sabun padat yang mengintegrasikan serbuk biji kopi aromaterapi berbasis minyak zaitun dan Virgin Coconut Oil (VCO). Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga variasi konsentrasi serbuk biji kopi yaitu 15%, 30%, dan 45%. Evaluasi meliputi pengamatan organoleptik, homogenitas, pH, tinggi busa, hedonik. Efek aromaterapi dinilai berdasarkan kestabilan aroma dan respons sensoris selama pemakaian. Hasil menunjukkan seluruh formula memiliki mutu fisik yang baik, pH sesuai untuk sabun mandi. Seluruh formula memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 3532:2016) untuk sabun padat, dengan nilai pH yang berada dalam rentang aman (9,0–11,0) dan homogenitas yang baik. Formula F2 (30%) menghasilkan kinerja optimal. Aroma kopi tetap stabil dan memberikan sensasi nyaman bagi pengguna. Dapat disimpulkan bahwa sabun padat aromaterapi berbahan biji kopi aman digunakan dan berpotensi dikembangkan sebagai produk perawatan kulit berbasis bahan alami. Disimpulkan bahwa konsentrasi biji kopi F2 (30%) adalah titik keseimbangan terbaik untuk menghasilkan sabun aromaterapi yang berkualitas, aman, dan dapat diterima secara sensoris.