Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Tingkat Literasi Digital: Kemampuan Mahasiswa dalam Menganalisis Berita Hoaks Abdul Haliq; Abdul Hafid; Asriadi, Asriadi; Asis Nojeng
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i2.5277

Abstract

Penelitian ini berfokus pada tingkat literasi digital mahasiswa dalam menganalisis berita hoaks. Tujuan utama dari penelitian ini, yaitu untuk mengukur tingkat literasi digital mahasiswa dalam menganalisis berita hoaks di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskripstif kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik angket atau kuesioner yang diisi oleh mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Teknik analisis data dalam penelitian ini, yaitu deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi digital mahasiswa dalam menganalisis berita hoaks berada pada kategori menengah hingga tinggi. Mahasiswa umumnya sudah memiliki pemahaman dasar tentang literasi digital, seperti kemampuan mengenali sumber informasi yang kredibel, memahami cara verifikasi informasi, dan penggunaan media sosial dengan lebih bijak. Namun, masih terdapat sebagian mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi berita hoaks secara cepat dan tepat.
PENDIDIKAN FORMAL DAN EKSISTENSI BUDAYA: STUDI ANTROPOLOGI SOSIAL BUDAYA TERHADAP SUKU KAJANG DI DESA TANA TOA Abdul Hafid; -, Kaharuddin; Lukman Ismail
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09, Nomor 04, Desember 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.18015

Abstract

Since Sir Isaac Newton, positivist ways of knowing have dominated Society with the logic of modernity that makes people assume that science and technology (scientific knowledge) and local knowledge are an antinomy, where one negates the other. This study utilizes Pierre Bourdieu's conceptual-theoretical framework of Habitus, Capital, and Arena to define and analyze, and explain the attitudes of the Kajang Indigenous Community in Tana Toa towards cultural capital and educational institutions and further, how they interpret and view Education as an alternative to maintaining and preserving culture. 14 respondents who are Customary, Religious and Educational figures representing gender subjects determined by Purposive sampling techniques, were included as informants in the study. Our field findings provide strong evidence that the Kajang Community has adequate strategies and adaptation capabilities in maintaining and preserving the existence of their culture, creating a harmonious blend of local and formal knowledge.
BENTUK UNGKAPAN SEKSIS DALAM NOVEL “AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN” KARYA ISHAN ABDUL QUDDUS: BENTUK UNGKAPAN SEKSIS DALAM NOVEL “AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN” KARYA ISHAN ABDUL QUDDUS Marici; Rima; Abdul Hafid
FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 1 (2026): FRASA: JURNAL KEILMUAN BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/frasaunimuda.v7i1.4984

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang direpresentasikan melalui bahasa seksis dalam novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan karya Ihsan Abdul Quddus. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa teks novel, khususnya kalimat dan dialog yang merepresentasikan relasi gender. Analisis data dilakukan menggunakan analisis wacana kritis perspektif Sara Mills yang menitikberatkan pada posisi subjek–objek serta relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan adanya praktik bahasa seksis yang memunculkan tiga bentuk utama ketidakadilan gender, yaitu diskriminasi terhadap perempuan, dominasi laki-laki atas perempuan, dan stereotipe negatif terhadap perempuan. Tokoh Suad digambarkan sebagai representasi perempuan yang berjuang melawan budaya patriarki melalui kemandirian, pendidikan, dan peran publik, meskipun tetap menghadapi tekanan sosial, stigma, serta konstruksi gender yang membatasi ruang geraknya. Novel ini merefleksikan realitas sosial masyarakat patriarkal Mesir yang relevan dengan konteks perempuan di masyarakat lain, termasuk Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran terhadap kajian sastra feminis serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan sosial dan keluarga.