Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR (Ipomoea batatas Lamk) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR TERHADAP KADAR BILIRUBIN TOTAL PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR Wintariani, Ni Putu; Suena, Ni Made Dharma Shantini
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 3 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v3i2.1034

Abstract

Daun ubi jalar mengandung flavonoid dan fenol yang mampu melindungi sel-sel tubuh dari berbagai pengaruh radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun Ipomoea batatas Lamk. terhadap kadar bilirubin total serum pada tikus putih galur Wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Randomized Pre and Post Test Control Group Design. 25 ekor tikus putih jantan galur wistar dibagi menjadi 5 kelompok secara acak yaitu kelompok kontrol negatif (Aquadest + CMC Na 0,5%), kelompok kontrol positif (hepamax dosis 46,9 mg/200 gramBB), kelompok perlakuan I, II dan III berturut-turut 40 mg/200 gramBB, 80 mg/200 gramBB, 160 mg/200 gramBB selama 7 hari. Pada hari ke-8 seluruh kelompok diinduksi parasetamol 378 mg/200 gramBB selanjutnya pada hari ke-10 dilakukan pengambilan darah dan pengukuran kadar bilirubin total serum. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar pada kelompok perlakuan dapat menurunkan kadar bilirubin total serum secara signifikan dengan nilai signifikansi 0,163 yaitu (p>0,05). Dosis ekstrak daun ubi jalar yang sebanding dengan hepamax 46,9 mg/200 gramBB/hari dalam menurunkan kadar bilirubin total adalah dosis 160 mg/200 gramBB/hari. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai daun ubi jalar (Ipomoea batatas Lamk.) sebagai hepatoprotektor dengan jenis sediaan yang lain.
ANALISIS KESESUAIAN BIAYA RIIL PASIEN KEMOTERAPI KANKER SERVIKS DENGAN TARIF INA-CBG’s PADA PASIEN JKN RAWAT INAP DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2014 Wintariani, Ni Putu; Suwantara, I Putu Tangkas; Suena, Ni Made Dharma Shantini
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 3 No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v3i1.1053

Abstract

Kanker payudara adalah penyakit urutan pertama yang menyerang wanita di Indonesia. Tingginya biaya perawatan dan penggunaan sistem satu tarif Indonesia Case Base Group (INA-CBG) yang saat ini diikuti oleh semua rumah sakit di Indonesia. Tarif yang diputuskan oleh INA-CBG terkadang tidak sesuai dengan biaya sebenarnya yang dikeluarkan rumah sakit sehingga terjadi perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan biaya riil tanpa kemoterapi dan tarif INA-CBGs, komponen biaya tertinggi dengan biaya riil tanpa kemoterapi, dan untuk mengetahui jumlah biaya riil tanpa kemoterapi yang terkait dengan keteraturan siklus kemoterapi pada pasien rawat inap di serviks. Di Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar pada bulan Januari-Juli 2014. Penelitian ini menggunakan desain analisis deskriptif dengan mengumpulkan data dokumen klaim dan rekam medis penderita kemoterapi kanker payudara di RSUP Sanglah. Diambil secara purposive sampling secara retrospektif dengan desain cross-sectional menurut perspektif rumah sakit; Sampel terdiri dari 161 episode dari 50 pasien. Analisis dilakukan dengan menggunakan satu sampel uji-t untuk mengetahui perbedaan biaya riil dan tarif INA-CBG dan analisis multivariat untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi biaya sebenarnya. Perbedaan antara biaya riil dan tarif paket INA-CBGs pada tingkat keparahan pertama sebesar Rp. 77.021.099 untuk yang pertama, Rp. 40.924.685 untuk yang kedua, dan Rp 248.472.471 untuk kelas ketiga pengobatan; Pada tingkat keparahan kedua sebesar Rp 29.467.328 untuk yang pertama, Rp. 58.917.239 untuk yang kedua, dan Rp 170.277.952 untuk kelas ketiga perawatan, dan pada tingkat keparahan ketiga sebesar Rp 20.903.495 untuk yang pertama, Rp. 19.591.972 untuk yang kedua, dan Rp. 72.467.699 untuk kelas ketiga pengobatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya sebenarnya di kelas pertama, kedua, dan kelas ketiga adalah LOS (p = 0.000), prosedur (0.000), dan diagnosis sekunder (p = 0,030). Pola siklus tidak teratur memiliki biaya rata-rata yang nyata tanpa kemoterapi yang lebih rendah daripada yang tidak teratur.
Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Granul Effervescent dari Kombinasi Ekstrak Kunyit Putih (Curcuma zedoaria) dan Kunyit Kuning (Curcuma longa L.) Suena, Ni Made Dharma Shantini; Suradnyana, I Gede Made; Juanita, Rr. Asih
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v7i1.1498

Abstract

Adanya radikal bebas di dalam tubuh manusia dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif. Radikal bebas dapat ditangkal dan diredam dengan pemberian antioksidan atau mengkonsumsi antioksidan. Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kunyit (Curcuma longa L.) dan kunyit putih (Curcuma zedoaria) menunjukkan adanya efek antioksidan. Penelitian ini memformulasikan sediaan granul efervesen kombinasi ekstrak kunyit dan kunyit putih untuk dapat memberikan aktivitas antioksidan yang kuat, dengan menggunakan bahan pengikat berupa tween 80. Pengujian yang dilakukan meliputi pengamatan organoleptik, evaluasi pH, evaluasi daya alir dan evaluasi kadar air. Uji aktivitas antioksidan sediaan granul efervesen dilakukan menggunakan metode DPPH. Hasil uji sudut istirahat didapat rata-rata 25,02° dimana syarat sudut istirahat yang baik adalah 25°-40°. Pada pengukuran pH didapat hasil pH sediaan adalah 4,5. Hasil pengujian untuk kandungan lembab granul basa didapat rata-rata 5,49%, sedangkan granul asam didapat rata-rata 1,10%. Hasil ini belum memenuhi syarat untuk sediaan granul efervesen dimana syarat kelembaban adalah 0,4-0,7%. Evaluasi kelarutan mendapatkan hasil sebesar rata-rata 1,23±0,015 menit. Aktivitas antioksidan sediaan granul efervesen memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 adalah 13,056 ppm. Namun sediaan granul efervesen kombinasi kunyit dan kunyit putih belum memenuhi persyaratan mutu fisik yang baik dikarenakan masih memiliki kelembaban yang sangat tinggi.
The Effect of Dayak Onion Bulb Ethanol Extract (Sisyrinchium palmifolium L.) on Triglyceride Level and Aorta Histopathology in Diabetes Melitus White Rat Induced by Alloxan I Gusti Agung Ayu Kusuma Wardani; Fitria Megawati; Ni Made Dharma Shantini Suena
Majalah Obat Tradisional Vol 24, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.481 KB) | DOI: 10.22146/mot.38051

Abstract

The high prevalence of diabetes mellitus in Indonesia has made antidiabetic treatment efforts increasingly popular. In addition, the many side effects caused by the use of chemical drugs, triggered the development of research on herbal therapy. The purpose of this study was to determine the effectiveness of Dayak onion bulb extract in reducing two-hour postprandial blood glucose, triglyceride levels, and the amount of lipid vacuoles in aorta blood vessels of diabetic rat. The long-term goal of this study is the creation of innovation products in the form of standardized herbs as complementary therapies that can be used daily by the community, so that the risk of morbidity can be reduced. The research design used was randomized control group pretest posttest design. The results of blood glucose analysis showed that there were significant differences between the positive control group with the 400 mg/KgBW and 800 mg/KgBW extract group, with a significance value of 0,000. In the extract group, 400 mg/KgBW with 800 mg/KgBW extract group showed no significant difference with a significance value of 0.390. The results of the analysis of triglyceride levels showed no significant difference between the positive control group with the 400 mg/KgBW extract group, with a significance value of 0.981. However, there were significant differences between the positive control group with the 800 mg/KgBW extract group with a significance value of 0.025. Between the 400 mg/KgBW and 800 mg/KgBW extract groups, there was a difference with a significance value of 0.024. Aorta histopathology results showed that there was a significant difference in the number of lipid vacuoles between the positive control group and the 400 mg/KgBW extract group and 800 mg/KgBW extract group. Based on the research, it can be concluded that the extract dose of 400 mg/KgBW is a dose that is able to influence the decrease in blood glucose levels, triglycerides and the amount of lipid vacuoles in the aorta blood vessels.
STABILITY COMPARISON OF TULASI (Ocimum tenuiflorum L.) LEAF GEL HAND SANITIZER USING 0.5% AND 1% CMC-Na Dewa Ayu Made Adnya Swari; Ni Putu Udayana A; Ni Made Dharma Shantini S
Journal Pharmaceutical Science and Application Vol 2 No 1 (2020): Journal Pharmaceutical Science and Application
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematic and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.957 KB) | DOI: 10.24843/JPSA.2020.v02.i01.p04

Abstract

Background: Hand sanitizers contain 62% alcohol, softener and moisturizer. High alcohol content is able to irritate and make hands dry. A suitable moisturizer is needed for this preparation. Objective: The aim of this study is to evaluate the physical quality of gel hand sanitizer formulation of Ocimum tenuiflorum with CMC-Na as a gelling agent at a concentration of 0.5% and 1% CMC-Na. Methods: Data were collected at week-0,1,2,3,4, and replication is performed three times at each concentration of each measurement. The test results of the spread and adhesion data analysis using SPSS with a 95% confidence level. Results: Dispersive power and adhesion showed no significant difference (p <0.05) at week 0 and week 4 means second-hand sanitizer gel formulation concentration is not stable. Gel hand sanitizer leaves of Tulasi (Ocimum tenuiflorum) at a concentration of 1% CMC-Na stable from week 0 to week 3, while the concentration of 0.5% CMC-Na change at week 2. Gel hand sanitizer leaves of Tulasi (Ocimum tenuiflorum) with a gelling agent CMC-Na should need to be titrated. Conclusion: Gel hand sanitizer leaves of Tulasi (Ocimum tenuiflorum) that use concentrations of 1% CMC-Na as a gelling agent have a physical quality that is more stable than the organoleptic test concentration of 0.5% CMC-Na. Keywords: Hand sanitizer, Ocimum tenuiflorum L., CMC-Na, Physical quality evaluation
PENGELOLAAN DAN PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL DI RUMAH TANGGA UNTUK MENDUKUNG GERAKAN MASYARAKAT CERMAT MENGGUNAKAN OBAT Ni Putu Udayana Antari; I Putu Tangkas Suwantara; Ni Made Dharma Shantini S.
Ngayah: Majalah Aplikasi IPTEKS Vol. 9 No. 2 (2018): Ngayah: Majalah Aplikasi IPTEKS
Publisher : Forum Layanan IPTEKS Bagi Masyarakat (FLipMAS) Wilayah Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

When used properly, over-the-counter and over-the-counter drugs should be able to help the community in self-medication safely and effectively. But unfortunately, it is often found that the treatment itself becomes very wasteful because it takes drugs that are not really needed, or can be dangerous, for example because of the use that is not in accordance with the rules of use. However, over-the-counter and free drugs are not necessarily free of side-effects, so their use should be in accordance with the indications, duration of correct use, accompanied by user knowledge of the risks of side effects and contraindications (Suryawati, 1997). Although it looks simple, drug use may pose many risks, from mild to severe risk that can result in death. In response to these problems, we are implementing community service with a target so that people understand how rational drug management and use in households and communities can utilize the first aid box in public places. To improve the community's knowledge on drug management in household and rational drug usage will be counseling coupled with discussion using Community Based Interactive Activity Approach Method (CBIA) Method. Devotion performed on May 7, 2017 located in Banjar Sakah, Pemogan Village, Kec. Denpasar Selatan. To assess the effectiveness of the program, several samples were taken to follow pre test and post test. According to the results of the analysis of pre test and post test samples generally seen an increase in knowledge of participants, but a statistically significant increase only knowledge on question 9 part 2 that is the understanding of respondents about kontraindikasi.
THE PERFORMANCE DIFFERENCES BETWEEN HIGH AND LOW SALES TURNOVER COMMUNITY PHARMACIES Ni Putu Udayana Antari; Ni Putu Dewi Agustini; Ni Made Dharma Shantini Suena
Indonesian Journal of Health Administration Vol. 9 No. 2 (2021): December
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jaki.v9i2.2021.135-149

Abstract

Background: Pharmacy managers will make various efforts to increase their income. In spite of this, pharmacies that have the same facilities can generate greatly varied incomes.Aims: The purpose of this study was to determine the difference between high sales turnover pharmacies and low sales turnover pharmacies as observed through employee motivation, organizational culture, and patient satisfaction.Methods: This study used an analytical design with a questionnaire and checklist. Consumers were selected using the purposive sampling system to assess patient satisfaction. All employees were sampled to assess work motivation and organizational culture. Data analysis was performed using descriptive, bivariate, and multivariate testing.Results: Direct observation of pharmaceutical services from the two outlets shows that there were differences in the time it takes for pharmacist to retrieve the drug, the time for providing drug information, collecting information from patients, and the type of drug information provided, as well as employee motivation, organizational culture, and patient satisfaction.Conclusion: Services at pharmacies with high sales turnover are different from pharmacies with low sales turnover. Empathy has the greatest effect on sales turnover, followed by reliability, responsiveness, assurance, and tangible dimensions. Outlets that have high sales turnover have better organizational culture and higher employee motivation when compared to outlets that have low sales turnover. Keywords: motivation, organizational culture, patient satisfaction, sales turnover
Evaluasi Mutu Fisik Formula Body Butter Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) NI MADE DHARMA SHANTINI SUENA; NI PUTU UDAYANA ANTARI; ERNA CAHYANINGSIH
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 15 No 1 (2017): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.827 KB)

Abstract

The rind of the mangosteen (Garcinia mangostana L.) contains many xanthones which have anti-infl ammatory and antioxidant activity that can counteract free radicals and prevent or inhibit cell degeneration (inhibiting aging). Utilization of mangosteen rind generally in the form of powder capsule. The lack of utilization in topical dosage forms makes the researcher interested in making a body butter of ethanol extract of mangosteen rind and evaluating its physical quality. Simplicia of mangosteen rind were dried using oven at 50 °C. Mangosteen rind extract was obtained from the maceration of simplicia powder with 96% ethanol solvent. The formula of body butter mangosteen rind extract is prepared based on the literature study. The body butter was evaluated for organoleptic, pH, adherence, spreading, homogeneity test, and physical stability test for five months. Besides using literature standards, researchers also using body butter that has been market legally as a comparison in evaluated its physical quality. Based on the statistical analysis, it can be concluded that the preparation of body butter extract of mangosteen rind has a good physical quality compared with the body butter that has been market legally. Physical stability for five months showed that the body butter of mangosteen rind extract was stable.
Uji Stabilitas Fisik Body Butter Maserat Air Biji Kopi Hijau (Coffea canephora) pada Suhu Sejuk Ni Ketut Karmini Sari; I Gede Made Surdanyana; Ni Made Dharma Shantini Suena
Jurnal Farmasi Higea Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v13i2.363

Abstract

Body butter termasuk sediaan krim, dimana krim merupakan sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Biji kopi hijau (Coffea canephora) mengandung asam klorogenat yang bermanfaat sebagai antioksidan. Biji kopi hijau cocok dibuat dalam bentuk sediaan body butter yang digunakan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Kestabilan suatu sediaan sangat penting dalam menjaga mutu fisik sediaan hingga sampai ke tangan konsumen. Stabilitas body butter dipengaruhi oleh perubahan suhu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fisik body butter maserat air biji kopi hijau (Coffea canephora) yang disimpan pada suhu sejuk. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental yang melakukan uji stabilitas fisik pada sediaan body butter yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya. Body butter disimpan pada suhu sejuk dan pengujian dilakukan sebanyak 5 kali, setiap 2 minggu sekali selama 8 minggu. Uji mutu fisik body butter meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat. Ketiga formula menunjukan bahwa sediaan body butter mengalami perubahan organoleptis, homogenitas, dan pH. Berdasarkan hasil analisis statistik, disimpulkan terdapat perbedaan stabilitas fisik yang bermakna antar formula (F1, F2, dan F3) body butter maserat air biji kopi hijau (Coffea canephora) selama penyimpanan di suhu sejuk. Terdapat perbedaaan bermakna antara stabilitas fisik suhu kamar dan suhu sejuk yang berarti bahwa suhu sejuk mempengaruhi kestabilan body butter. Daya lekat F1 pada suhu kamar dan suhu sejuk tidak terdapat perbedaan yang berarti bahwa suhu sejuk tidak mempengaruhi daya lekat body butter F1.
FAKTOR – FAKTOR KOMUNIKASI YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPERCAYAAN TERHADAP TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN Ni Putu Udayana Antari; Herleeyana Meriyani; Ni Made Dharma Shantini Suena
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v5i2.431

Abstract

Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker yang dibantu oleh Tenaga Tekhnis Kefarmasian (TTK). Menurut hasil survei terhadap 50 konsumen Apotek, didapatkan hasil bahwa hanya 8 konsumen Apotek yang memilih tenaga kefarmasian untuk membantu memilihkan obat dalam swamedikasi. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap TTK sebagai salah satu tenaga kefarmasian. Penelitian dibatasi pada faktor-faktor dari segi komunikasi khususnya di Apotek. Ditemukannya informasi-informasi yang diperlukan untuk pengembangan kompetensi TTK, khususnya dalam bidang komunikasi dengan pasien akan sangat membantu upaya peningkatan kualitas pelayanan kefarmasian. Penelitian ini menggunakan rancangan survei cross-sectional, dengan menggunakan sistem purposive sampling. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner terstruktur kepada 100 konsumen apotek. Kuesioner terdiri dari pertanyaan terkait faktor-faktor komunikasi eksternal (daya tarik fisik apotek, daya tarik fisik TTK, familiarity, empati, dan kedekatan) dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap TTK di Apotek. Data dianalisis secara bivariat menggunakan uji korelasi Spearman dan analisis multivariat menggunakan regeresi linear. Ada lima faktor yang diuji, yaitu; daya tarik fisik TTK, daya tarik fisik Apotek, empati, familiarity, dan kedekatan. Menurut hasil analisis bivariat semua faktor berpengaruh pada tingkat kepercayaan pasien kecuali faktor familiarity. Sedangkan jika diuji secara simultan menggunakan regresi linear, hanya faktor empati dan daya tarik fisik apotek yang dianggap cukup berpengaruh terhadap persamaan yang dihasilkan.