Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Trombosis Vena Dalam pada Sindrom Nefrotik Afriant, Rudy; Fikri, Avino Mulana; Kam, Alexander
Majalah Kedokteran Andalas Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v46.i4.p764-771.2023

Abstract

Seorang pasien laki-laki usia 34 tahun yang dirawat dengan dengan diagnosis deep vein thrombosis tungkai kanan dan sindrom nefrotik primer relaps. Trombosis pada sindrom nefrotik dapat timbul dari kebocoran protein dengan berat molekul yang tinggi sehingga menyebabkan hiperkoagulabilitas, peningkatan sintesis faktor yang mendorong trombosis, aktivasi dan agregasi trombosit, aktivasi sistem koagulasi, atau penurunan antikoagulan endogen. Pasien sudah diterapi dengan heparin dan terapi untuk sindrom nefrotik. Pasien dipulangkan dengan perbaikan klinis dan kontrol rutin ke poliklinik.
Emerging Biomarkers for Prediabetes : A Review Aprilia, Dinda; Decroli, Eva; Kam, Alexander; Deas Hadilofyani, Putri
Scientific Journal Vol. 4 No. 6 (2025): SCIENA Volume IV No 6, November 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i6.278

Abstract

Prediabetes is a global health concern marked by elevated blood glucose levels that do not yet meet the threshold for type 2 diabetes mellitus (T2DM). It is often underdiagnosed despite being associated with insulin resistance, beta-cell dysfunction, and increased cardiovascular risk. Improved strategies for early detection are crucial to prevent disease progression. This review aims to explore novel biomarkers associated with prediabetes and evaluate their potential clinical applications in early diagnosis and risk stratification. A literature search was conducted on English and Indonesian language publications, including original research, case reports, and expert guidelines, focusing on emerging molecular and metabolic biomarkers related to prediabetes. Several promising biomarkers have been identified, including adiponectin, microRNAs, fetuin A, alpha-hydroxybutyrate (α-HB), and Protein Z. Adiponectin demonstrates an inverse relationship with insulin resistance. Specific microRNAs, such as miR-192 and miR-193b, are implicated in glucose metabolism and beta-cell function. Elevated fetuin A levels are linked to hepatic insulin resistance, while increased α-HB levels reflect early metabolic shifts in glucose utilization. Additionally, altered Protein Z concentrations may contribute to prothrombotic states in individuals with prediabetes. In conclusion, these biomarkers offer valuable insight into the pathophysiology of prediabetes and hold potential for enhancing early detection and prevention strategies. However, further validation through large-scale studies is needed before their integration into clinical practice
Aspek Imunologi pada Diagnosis dan Tatalaksana Graves’ Disease Aprilia, Dinda; Decroli, Eva; Kam, Alexander; Rahayuningsih, Sri Puji
Health and Medical Journal Vol 7, No 3 (2025): HEME September 2025
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v7i3.1722

Abstract

Graves’ Disease (GD) adalah penyebab hipertiroidisme paling umum yang mengenai kelenjar tiroid. Penyakit ini merupakan salah satu bagian dari Autoimmune Thyroid Disease (AITD) yang bersifat spesifik organ (tiroid), yang ditandai dengan adanya autoantibodi yang menstimulasi Thyroid Stimulating Hormone Receptor (TSHR) pada kelenjar tiroid yang akan menyebabkan hiperplasia tiroid atau struma serta peningkatan produksi dan sekresi hormon tiroid. Graves’ disease merupakan interaksi yang kompleks antara mekanisme imunologi dan disfungsi tiroid. Penyakit ini berdampak negatif pada kualitas hidup dan dapat menimbulkan risiko psikosis, takiaritmia, dan gagal jantung. Sifat autoimunitas GD menyebabkan penyakit ini dapat kambuh kembali, sehingga pengelolaannya memerlukan waktu yang lebih lama, sama seperti pada penyakit autoimun lainnya. Pada penyakit ini, target pengobatan terbaru yaitu dengan memerhatikan mekanisme imunopatogenesis dasar terjadinya penyakit. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang aspek imunologis GD, dapat memfasilitasi pengembangan terapi yang lebih baik, yaitu terapi yang berfokus pada modulasi respons imun yang menjadi fokus utama dalam upaya untuk mengendalikan aktivitas penyakit dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Manajemen Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 pada Puasa Ramadan Aprilia, Dinda; Decroli, Eva; Kam, Alexander; Ulvyana, Vyora
Health and Medical Journal Vol 7, No 3 (2025): HEME September 2025
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v7i3.1723

Abstract

Jumlah penyandang diabetes melitus (DM) tipe 2 di kalangan muslim global diperkirakan mencapai 148 juta, dengan sekitar 116 juta di antaranya melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Sebanyak 45% populasi muslim dunia berada di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar. Kondisi ini menimbulkan tantangan klinis karena banyak penyandang DM tipe 2 tetap berpuasa meskipun berisiko mengalami komplikasi akibat perubahan pola makan dan pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas manajemen diabetes tipe 2 selama puasa Ramadan serta menyusun rekomendasi berbasis bukti bagi penyandang diabetes. Penelitian ini merupakan tinjauan literatur sistematis terhadap studi-studi yang membahas manajemen DM tipe 2 selama Ramadan, dengan pencarian artikel dari database PubMed, Scopus, dan Google Scholar menggunakan kata kunci “diabetes tipe 2”, dan “puasa ramadhan”. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang baik, termasuk edukasi pra-Ramadan, penyesuaian terapi farmakologis, dan pemantauan glukosa yang adekuat, sebagian besar penyandang DM tipe 2 dapat menjalankan puasa dengan aman. Namun, komplikasi seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum (KAD), dan dehidrasi tetap menjadi risiko utama bagi mereka yang berpuasa tanpa panduan medis. Terdapat kebutuhan mendesak akan pedoman praktis dan individualisasi manajemen DM tipe 2 selama Ramadan untuk meminimalkan risiko komplikasi dan meningkatkan keamanan beribadah bagi penyandang diabetes.
Correlation Between Oxidative Stress, SIRT1 Serum Level, and eGFR on Elderly Harun, Harnavi; Veronike, Evelin; Kam, Alexander; Amelia, Rinita
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 8 (2023): August
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i8.4916

Abstract

The aging network kidney causes Oxidative Stress (OS) and damages the kidney. Studies of aging kidneys keep going growing by developing sirtuin as an antiaging. Sirtuin 1 (SIRT1) is a protein implicated in several disorders including diabetes functions as an anti-aging protein. Decreased eGFR in the elderly caused by his height prevalence factor risk disease kidney at an older age. The study aims to study the correlation between oxidative stress, SIRT1 serum levels, and eGFR in the elderly.  The method used in this research is observational with the cross-sectional method. The sample in this study was the whole elderly who met the inclusion and exclusion criteria, totaling 30 people. Exclusion criteria are patients with glomerulonephritis, nephropathy obstruction, nephropathy sour veins, and obesity. All patients complied requirements asked to fill informed consent form. The inspection was carried out by urinalysis ultrasound kidney and assessing serum MDA levels which were found to be higher in this study. This study showed SIRT1 and eGFR levels decreased in the elderly. There was a negative correlation with moderate correlation strength between serum MDA levels and serum SIRT1 levels and a strong correlation between serum MDA levels and eGFR in the elderly. There was a positive correlation with a moderate correlation between serum SIRT1 levels and eGFR in the elderly. SIRT1 is suggested to be examined in elderly patients with decreased eGFR, even without comorbidity.