Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Karakteristik Habitat dan Produksi Berbagai Aksesi Sagu di Tana Luwu Provinsi Sulawesi Selatan: Habitat Characteristics and Production of Various Sago Accessions in Tana Luwu South Sulawesi Province Masluki, Masluki; Mochamad Hasjim Bintoro; Sudarsono, Sudarsono; Herdhata Agusta
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 11 No. 2 (2023): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v11i2.2754

Abstract

Sagu merupakan salah satu tanaman penghasil pangan yang potensial dimasa yang akan datang jika dikelola dengan baik. Pada kondisi alami sagu tumbuh menyebar pada berbagai ekosistem yang luas. Sagu memiliki daya adaptasi yang kuat dikarenakan dapat tumbuh pada lahan bercekaman tinggi bagi tumbuhan lain. Tanaman sagu menyebar luas mulai dari Kawasan pesisir, rawa mineral, Daerah Aliran Sungai, dataran menengah hingga dataran tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat berbagai aksesi sagu dan korelasinya terhadap produksi. Penelitian menggunakan metode observasi lapang dan pengujian dilaboratorium dengan analisis data kadar lengas dengan metode gravimetri, volume dengan metode ring sampel, berat jenis dengan prinsip hukum Archimedes, tekstur tanah dengan metode pipet serta analisis kimia tanah dengan pengujian di laboratorium. Koefisien korelasi menggunakan analisis korelasi Pearson untuk melihat hubungan antara kualitas tanah dengan dengan produksi sagu dengan taraf kepercayaan 95% dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 26. Metode pengamatan hidrologi dengan mengukur tinggi muka air tanah dengan penggalian minipit dan tinggi genangan air pada daerah yang tergenang. Tipe habitat tumbuhan sagu di Tana Luwu sangat beragam ditemukan pada kondisi lahan pesisir, rawa mineral, daerah aliran sungai, dataran menengah hingga 1000 mpdl. Rata-rata produksi terendah yaitu 181.52 kg pati kering pohon-1 terdapat pada lokasi sampel rawa pesisir dengan lama genangan 3-6 bulan dengan ketinggian 10-80 cm diatas permukaan tanah saat musim hujan dan 0-40 cm dibawah permukaan tanah saat musim kemarau. Rawa pesisir tersebut dapat dikategorikan memiliki kelas hidrologi agak baik. Aksesi sagu menyebar tidak merata pada berbagai lingkungan tumbuhnya. Sago is one of the potential food-producing plants in the future if managed properly. Under natural conditions sago grows spread over a wide range of ecosystems. Sago has strong adaptability because it can grow in high stress areas for other plants. Sago plants spread widely from coastal areas, mineral swamps, watersheds, medium to highland areas. This study aims to determine the characteristics of the habitat of various sago accessions and their correlation to production. The study used field observation methods and laboratory testing with analysis of moisture content data using the gravimetric method, volume using the sample ring method, specific gravity using the principle of Archimedes' principle, soil texture using the pipette method and soil chemical analysis using laboratory testing. The correlation coefficient used Pearson's correlation analysis to see the relationship between soil quality and sago production with a 95% level of confidence using SPSS 26 software. The hydrological observation method was by measuring the height of the groundwater by digging a minipit and the height of the puddles in the inundated areas. Habitat types for sago plants in Tana Luwu are very diverse, found in coastal land conditions, mineral swamps, watersheds, medium plains up to 1000 meters above sea level. The lowest average production, namely 181.52 kg of tree-1 dry starch, was found in coastal swamp sample locations with an inundation period of 3-6 months with a height of 10-80 cm above ground level during the rainy season and 0-40 cm below ground level during the dry season. The coastal swamp can be categorized as having a rather good hydrological class. Sago accession is spread unevenly in various growing environments.
Identifikasi Cendawan pada Rizosfer Tanaman Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) di Kabupaten Luwu: Identification of Fungi in Rhizosphere of Sago Plants (Metroxylon sago Rottb.) in Luwu Regency Mutmainnah, Mutmainnah; Mangkunegara, Mariyam; Masluki, Masluki
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 12 No. 1 (2024): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v12i1.3170

Abstract

Mikroorganisme yang ada di sekitar rizosfer memiliki peranan sangat penting untuk memelihara kesehatan akar tanaman. pengambilan nutrisi dan unsur hara serta melindungi tanaman dari kondisi lingkungan yang ekstrim serta bertindak sebagai agens pengendali hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis cendawan pada rizosfer tanaman sagu di Kabupaten Luwu. Penelitian dilakukan pada areal pertanaman sagu di tiga Desa yaitu Daerah Aliran Sungai Makawa (Desa Bosso Timur Kecamatan Walenrang Utara), di Daerah Pesisir (Desa Lamasi Pantai Kecamatan Walenrang Timur) dan Daerah Rawa Mineral (Desa Pasamai kecamatan Belopa) Kabupaten Luwu, dilanjutkan di Laboratorium Sel dan Jaringan Fakultas Sains dan Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo. Isolasi cendawan rizosfer menggunakan metode umpan (Insect Bait Methode). Larva yang terinfeksi ditandai dengan munculnya miselium pada bagian-bagian tertentu dari tubuh yang dapat diamati dari ruas-ruas tubuhnya. Selanjutnya larva tersebut diisolasi pada media PDA dan diinkubasikan selama 3-7 hari pada suhu 22-25°C. Setelah koloni cendawan terbentuk (7 hari setelah tanam) dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis. selanjutnya diidentifikasi. Jumlah cendawan yang ditemukan pada rizosfer tanaman sagu yaitu sebanyak 4 isolat yaitu dari genus Fusarium sp. (BLP1, LPPT1), Rhizopus sp. (BLP2), dan Metharizium sp. (LPHJ1). Microorganisms around the rhizosphere have a very important role in maintaining the health of plant roots. taking nutrients and nutrients and protecting plants from extreme environmental conditions and acting as a biological control agent. This research aims to determine various types of fungi in the rhizosphere of sago plants in Luwu Regency. Research was carried out in sago planting areas in three villages, namely the Makawa River Basin (East Bosso Village, North Walenrang District), in the Coastal Area (Lamasi Pantai Village, East Walenrang District) and the Mineral Swamp Area (Pasamai Village, Belopa District) Luwu Regency, continued in the Laboratory Cells and Tissues, Faculty of Science and Integrated Laboratory, Faculty of Agriculture, Cokroaminoto Palopo University. Isolation of rhizosphere fungi using the Insect Bait Method. Infected larvae are characterized by the appearance of mycelium in certain parts of the body which can be observed from the body segments. Next, the larvae were isolated on PDA media and incubated for 3-7 days at a temperature of 22-25°C. After the fungus colony was formed (7 days after planting) macroscopic and microscopic observations were carried out. then identified. The number of fungi found in the rhizosphere of sago plants was 4 isolates, namely from the genus Fusarium sp. (BLP1, LPPT1), Rhizopus sp. (BLP2), and Metharizium sp. (LPHJ1).
EKSPLORASI CENDAWAN ENDOFIT ASAL TANAMAN SAGU (Metroxylon sagu Rottb.) DAN POTENSINYA SEBAGAI PEMICU PERKECAMBAHAN BENIH PADI Mutmainnah, Mutmainnah; Suhaeni, Suhaeni; Masluki, Masluki
PLANTKLOPEDIA: Jurnal Sains dan Teknologi Pertanian Vol 4 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Siddenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/plantklopedia.v4i2.1646

Abstract

Mikroba yang potensinya sebagai pemacu pertumbuhan tanaman salah satunya adalah cendawan endofit. Cendawan endofit adalah cendawan yang hidup dalam jaringan tanaman sehat tanpa mengakibatkangejala penyakit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengisolasi dan mengetahui kemampuan cendawan endofit asal tanaman sagu sebagai pemicu perkecambahan. Penelitian dilakukan pada areal pertanaman sagu Kecamatan Lamasi Timur Kabupaten Luwu dan Laboratorium Sel dan Jaringan Fakultas Sains Universitas Cokroaminoto Palopo. Cendawan endofit diisolasi dari jaringan daun, akar, pelepah dan batang dengan teknik sterilisasi permukaan. Cendawan yang diisolasi adalah dikultur pada media potato dextrose agar (PDA). Pengujian patogenisitas dan pengaruh cendawan pada perkecambahan biji menggunkan metode blotter test, dengan menumbuhkan 10 butir benih padi pada isolat cendawan endofit umur 7 hari. Tujuh isolat cendawan diperoleh hasil isolasi dari bagian tanaman sagu. Hasil uji patogenisitas terdapat satu isolat AKS2 menunjukkan persentase perkecambahan benih abnormal tertinggi yaitu 70%, sedangkan pada isolat BTS2 dan PLS1 menunjukkan persentase perkecambahan normal lemah benih mencapai 80% memperlihatkan sehingga digolongkan sebagai cendawan potensial patogenik. Ditemukan isolat cendawan yang berpotensi sebagai penginduksi perkecambahan benih padi yaitu yaitu BTS1 dan AKS1 dengan persentase kecambah normal kuat ≥ 80%.
PKM Inovasi Sistem Rotasi Tanam Menuju IP400 Sistem Padi-Jagung-Melon-Semangka “PAJAMEKA” Masluki, Masluki; Mutmainnah, Mutmainnah; Firdamayanti, Erni
MALLOMO: Journal of Community Service Vol 4 No 1 (2023): Desember-Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/mallomo.v4i1.1154

Abstract

Abstract. Community service activities (PKM) with the theme Planting Rotation System Innovation Towards IP400 Rice-Corn-Melon-Watermelon System "PAJAMEKA" in collaboration with the Mujur farmer group, Salujambu Village, Lamasi District, Luwu Regency. The Mujur farmer group has 30 group members with a technically irrigated rice field area of ​​24 ha. PKM activities aim to increase the capacity and welfare of farmers in utilizing rice fields after harvest through a crop rotation system based on corn, melon and watermelon commodities. The activity method is to develop a three-commodity formulation starting with location transects, FGDs, training, counseling, field schools and plot demonstrations. The highest problem for partner farmers is business capital at 30%. The communication, managerial, capital and capability aspects have the lowest value, namely 3.33%, the highest level of participation of partner farmers is in the FGD component at 93.33%. The lowest component was found in demo plot activities at 66.67%. The involvement of partner farmers in FGD activities has a level of correlation with the interest in the problems and solutions that will be offered by the PKM team. The highest farmer capacity indicator is in the active participation aspect at 70%, while the lowest farmer capacity indicator is in the motivation component at 50%. The ability of farmers to express opinions and receive training and counseling materials will have an impact on increasing farmers' capacity and welfare. Abstrak. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan tema Inovasi Sistem Rotasi Tanam Menuju IP400 Sistem Padi-Jagung-Melon-Semangka “PAJAMEKA” bekerja sama dengan kelompok tani Mujur Desa Salujambu Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu. Kelompok tani Mujur memiliki anggota kelompok sebanyak 30 orang dengan luas lahan sawah beirigasi teknis sebesar 24 ha. Kegiatan PKM bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan petani dalam memanfaatkan lahan sawah setelah panen melalui sistem rotasi tanam berbasis komoditi jagung, melon dan semangka. Metode kegiatan dengan mengembangkan formulasi tiga komoditi yang diawali dengan transek lokasi, FGD, pelatihan, penguluhan, sekola lapang dan demo plot. Permasalahan petani mitra tertinggi terdapat pada modal usaha sebesar 30%. Aspek komunikasi, manajerial, modal dan kapabilitas memiliki nilai terendah yaitu 3,33%, tingkat partisipasi kehadiran petani mitra tertinggi terdapat pada komponen FGD sebesar 93,33%. Komponen terendah terdapat pada kegiatan demo plot sebesar 66,67%. Keterlibatan petani mitra dalam kegiatan FGD memiliki tingkat korelasi dengan kepentingan akan permasalahan dan solusi yang akan ditawarkan oleh tim PKM. Indikator kapasitas petani tertinggi terdapat pada aspek partisipasi aktif sebesar 70% sedangkan indikator kapasitas petani terendah terdapat pada komponen motivasi sebesar 50%. Kemampuan petani menyampaikan pendapat dan menerima materi pelatihan dan penyuluhan akan berdampak pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani.
Pengaruh Konsentrasi A-B Mix dan Frekuensi Irigasi Tetes Hidroponik Duck Backet Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis Melo L.) Imam Arrasyid; Masluki, Masluki; I Nyoman Arnama
Wanatani Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/jip.v4i2.306

Abstract

Pengaruh Konsentrasi A-B Mix dan Irigasi Tetes Hidroponik Duck Backet Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Melon (Cucumis melo L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan dosis yang efektif dalam pemberian nutrisi A-B Mix terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman melon. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan II Fakultas Pertanian Universitas Cokraminoto Palopo, Jalan Lamaranginang, Kelurahan Batu Pasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo pada Bulan 05 April sampai 05 Juli 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan 4 ulangan sehingga terdapat 24 unit percobaan. Bedasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil tidak ada perlakuan yang menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, jumlah buah, berat buah dan diameter buah. Hal ini diduga karena kurangnya cahaya sinar matahari yang diterima oleh tanaman sehingga menyebabkan etiolasi pada tanaman. Hal Tersebut sangat berpengaruh pada proses fotosintetis pada tanaman sehingga belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman melon.
Keragaman Genetik, Morfologi dan Produksi Tanaman Sagu Dataran Tinggi Latimojong Kabupaten Luwu: Keragaman Genetik, Morfologi dan Produksi Tanaman Sagu Dataran Tinggi Latimojong Kabupaten Luwu Masluki; Mutmainnah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian Vol 8 No 2 (2024): AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/agrosainstek.v8i2.588

Abstract

Luwu Regency is one of the centers of sago distribution in South Sulawesi Province, both in the lowlands and highlands. The existence of genotypes and phenotypes in different locations can provide information related to the level of sago plant diversity. Information on the diversity of sago accessions from the community is generally only based on morphological and production characters so that it is unstable due to environmental influences.This research aims to obtain data and information on genetic diversity based on RAPD molecular markers, morphological characteristics and production potential of various sago accessions in the highlands. The research method was carried out through the stages of observing morphological and production characters by direct observation in the field. Genetic diversity analysis was carried out using the RAPD molecular marker test using 9 selected primers. The samples used were young sago leaves. Sago samples for the purposes of observing morphology and production in felled ripe sago stands were carried out using destructive sampling by cutting down sample sago trees. The selected sago has entered the mature felling phase in each accession which has the same morphological characteristics based on visual characteristics and information from key respondents. The average polymorphic band was 7.33 while the average monomorphic band was 3.22. The highest percentage of polymorphism was 88.88% while the lowest was 41.67 %. Some accessions have the highest dissimilarity coefficient of 70%, while the lowest similarity coefficient value is 18 %. Latimojong highland sago has a low production average of 118.24 kg tree-1
Keragaman Genetik, Morfologi dan Produksi Tanaman Sagu Dataran Tinggi Latimojong Kabupaten Luwu: Keragaman Genetik, Morfologi dan Produksi Tanaman Sagu Dataran Tinggi Latimojong Kabupaten Luwu Masluki; Mutmainnah
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian Vol 8 No 2 (2024): AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/agrosainstek.v8i2.588

Abstract

Luwu Regency is one of the centers of sago distribution in South Sulawesi Province, both in the lowlands and highlands. The existence of genotypes and phenotypes in different locations can provide information related to the level of sago plant diversity. Information on the diversity of sago accessions from the community is generally only based on morphological and production characters so that it is unstable due to environmental influences.This research aims to obtain data and information on genetic diversity based on RAPD molecular markers, morphological characteristics and production potential of various sago accessions in the highlands. The research method was carried out through the stages of observing morphological and production characters by direct observation in the field. Genetic diversity analysis was carried out using the RAPD molecular marker test using 9 selected primers. The samples used were young sago leaves. Sago samples for the purposes of observing morphology and production in felled ripe sago stands were carried out using destructive sampling by cutting down sample sago trees. The selected sago has entered the mature felling phase in each accession which has the same morphological characteristics based on visual characteristics and information from key respondents. The average polymorphic band was 7.33 while the average monomorphic band was 3.22. The highest percentage of polymorphism was 88.88% while the lowest was 41.67 %. Some accessions have the highest dissimilarity coefficient of 70%, while the lowest similarity coefficient value is 18 %. Latimojong highland sago has a low production average of 118.24 kg tree-1
Efektivitas Nutrisi AB Mix terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Varietas SR P08 UG Sistem Hidroponik Rakit Apung: Effectiveness of AB Mix Nutrition on Growth and Production of Rice (Oryza sativa L.) Varieties SR P08 UG Floating Raft Hydroponic System Masluki, Masluki; Suhaeni, Suhaeni; Mutmainnah, Mutmainnah
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 1 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i1.5402

Abstract

Upaya untuk meningkatkan produksi tanaman padi pada lahan suboptimal yang mengalami cekaman genangan salah satunya melalui teknologi hidroponik rakit apung. Tujuan penelitian untuk mengetahui respon pemberian pupuk AB mix terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Oryza sativa L.) varietas SR P08 UG dalam sistem hidroponik rakit apung. Penelitian dilaksankan di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo pada Bulan September-Desember 2024. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan terdapat 2 ulangan, sehingga terdapat 40 unit percobaaan. Perlakuan pada percobaan menggunakan kombinasi yaitu; P0 = Kontrol, P1 = AB mix 1200 ppm, P2 = AB mix 1400 ppm, P3 = AB mix 1600 ppm, P4 = AB mix 1800 ppm. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pupuk AB mix memiliki signifikansi terhadap paramameter tinggi tanaman dan jumlah anakan, sedangkan jumlah butir permalai, berat malai, panjang akar, dan bobot per 1000 biji tidak signifikan. Perlakuan terbaik terdapat perlakuan P4 dengan parameter tinggi tanaman (90,5 cm), jumlah anakan (34,625 batang), jumlah butir per malai (127,25 butir), berat malai (19,375 gr), berat per 1000 biji (16,5 gr), sedangkan panjang akar di tunjukkan pada perlakuan P0 (tanpa perlakauan) dengan nilai (26,75 cm). One of the efforts to increase rice production on suboptimal land experiencing accumulation stress is through floating raft hydroponic technology. The aim of the research was to determine the response of AB mix fertilizer application to the growth and production of rice plants (Oryza sativa L.) SR P08 UG variety in a floating raft hydroponic system. The research was carried out at the green house, Faculty of Agriculture Cokroaminoto University, Palopo in September-December 2024. The research method used a Randomized Group Design (RGD) consisting of 5 treatments and 4 replications. Each treatment had 2 replications, so there were 40 experimental units. The treatment in the experiment used a combination, namely; P0 = Control, P1 = AB mix 1200 ppm, P2 = AB mix 1400 ppm, P3 = AB mix 1600 ppm, P4 = AB mix 1800 ppm. The results showed that AB mix fertilizer treatment had significance on the parameters of plant height and number of tillers, while the number of perennial grains, panicle weight, root length and weight per 1000 seeds were not significant. The best treatment was treatment P4 with parameters of plant height (90.5 cm), number of tillers (34,625 stems), number of grains per panicle (127.25 grains), panicle weight (19.375 gr), weight per 1000 seeds (16.5 gr), while root length was summarized in treatment P0 (without treatment) with a value of (26.75 cm).
Pemanfaatan Drone untuk Pemetaan Daerah Longsor dan Banjir Bandang DAS Suso Kabupaten Luwu Muis, Ichwan; Masluki, Masluki; Rasyid, Miswar; Ali, Baso; Iriansa, Iriansa; Jumardi, Andi; Nurfalaq, Aryadi; Rusdi, Muhammad Idham; Hi. Manrulu, Rahma
Applied Physics of Cokroaminoto Palopo Vol. 5 No. 2 (2024): APCP Journal
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan titik-titik longsor di Kawasan Latimojong menggunakan drone dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai penyebab, dampak, dan langkah-langkah mitigasi bencana diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kesiapsiagaan dan penanganan bencana di Kabupaten Luwu. Langkah-langkah yang telah dilakukan dalam kegiatan pemetaan drone di Kawasan Latimojong Kabupaten Luwu yakni pengurusan izin penerbangan drone, observasi lapangan, pembentukan tim, pembuatan misi terbang drone, akuisisi data, analisis foto udara, Orthomosaic + DEM (Result), pembuatan virtual tour 360°, pembuatan WebGIS. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa bencana longsor yang terjadi di Kawasan Latimojong umumnya berada di area perkebunan Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan odengan titik longsor sebanyak 510 titik longsor yang tersebar di Kecamatan Latimojong, Bajo Barat dan Bua Ponrang dimana titik longsor terbanyak berada di Desa Tibussan.
Pemanfaatan Drone untuk Pemetaan Daerah Longsor dan Banjir Bandang DAS Suso Kabupaten Luwu Muis, Ichwan; Masluki, Masluki; Rasyid, Miswar; Ali, Baso; Iriansa, Iriansa; Jumardi, Andi; Nurfalaq, Aryadi; Rusdi, Muhammad Idham; Hi. Manrulu, Rahma
Applied Physics of Cokroaminoto Palopo Vol. 5 No. 2 (2024): APCP Journal
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/apcp.v5i2.243

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan titik-titik longsor di Kawasan Latimojong menggunakan drone dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai penyebab, dampak, dan langkah-langkah mitigasi bencana diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kesiapsiagaan dan penanganan bencana di Kabupaten Luwu. Langkah-langkah yang telah dilakukan dalam kegiatan pemetaan drone di Kawasan Latimojong Kabupaten Luwu yakni pengurusan izin penerbangan drone, observasi lapangan, pembentukan tim, pembuatan misi terbang drone, akuisisi data, analisis foto udara, Orthomosaic + DEM (Result), pembuatan virtual tour 360°, pembuatan WebGIS. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa bencana longsor yang terjadi di Kawasan Latimojong umumnya berada di area perkebunan Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan odengan titik longsor sebanyak 510 titik longsor yang tersebar di Kecamatan Latimojong, Bajo Barat dan Bua Ponrang dimana titik longsor terbanyak berada di Desa Tibussan.