Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Keanekaragaman Hayati Serangga Pada Lahan Pertanian Cabai Organik dan Konvensional di Kota Ternate Propinsi Maluku Utara Lahati, Betty Kadir; Sabban, Helda; Kaddas, Fatmawati; Baguna, Firlawanti Lestari
Cannarium Vol 18, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v18i2.2611

Abstract

Keanekaragaman juga menjadi indicator kestabilan ekosistem dalam suatu sistem pertanian sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kelimpahan keanekaragaman hayati serangga  serta nilai dominansinya pada lahan pertanian organik dan konvensional. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Ternate Propinsi Maluku Utara pada Bulan Juni - September 2019. Penelitian menggunakan metode survey pada luas lahan masing-masing 2500m² dengan ketinggian tempat ± 30 mdpl pada umur tanaman 7 - 35 HST. Identifikasi serangga dilakukkan di laboratorium Bioteknologi Universitas Khairun Ternate. Pengambilan sampel serangga dilakukkan sebanyak 5 kali pada interval waktu 1 minggu dengan menggunakan perangkap sweep net (serangga yang menempel pada tanaman),  Pitfall trap (serangga dipermukaan tanah) dan Sticky trap atau  yellow trap (prefensi serangga) pada 3 titik (atas, tengah, bawah) di tiap lahan pengamatan. Hasil analisa terhadap kelimpahan di lahan konvensional tinggi dengan nilai dominasi tinggi namun indeks keanekaragaman hayati serangga yang rendah 0.94% (Rendah). dominansi spesies serangga pada lahan pertanian konvensional terjadi pada spesies dari family Thripidae genus Thrips sp, serangga ini merupakan spesies yang berstatus hama. Keanekaragaman hayati serangga tertinggi dilahan pertanian organik 2.68% (sedang) dengan jumlah kelimpahan serangga yang rendah yang memiliki nilai dominansi serangga yang rendah pula hal ini disebabkan oleh penggunaan Trichoderma sp. berfungsi sebagai pupuk organik juga sebagai biodekomposer dan pengendali hama tanaman pertanian.  Pada saat pengamatan ditemukan beberapa spesies dari musuh alami yang ditemukan yakni dari family Formicidae, Mantidae, Coccinellidae, Braconidae,Aphelinidae, Lycosidae. Musuh alami yang ditemukan berfungsi sebagai predator dan parasitoid yang dapat membunuh serangga hama. Musuh alami ditemukan pada  pengamatan ke 1 - 5. Olehnya itu serangga dilokasi ini tidak terjadi peningkatan serangga pada satu spesimen serangga herbivore. Penanaman tanaman yang lain selain tanaman utama di lahan cabai organik dapat menyediakan sumber makanan bagi serangga sehingga tercipta suatu rantai makanan yang baik dalam suatu ekosistem yang berkelanjutan.
Utilazation of Bamboo as Non-Timber Forest Products (NFTPs) by Kalaodi Villagers in the Indonesian Island of Tidore Baguna, Firlawanti Lestari; Marasabessy, Much. Hidayah
Cannarium Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v18i1.1591

Abstract

Kalaodi is one of the villages in Tidore Isle which is located around the Tagafura protected forest and has a diverse diversity of non-timber forest products (NTFPs). Bamboo as NTFPs has been commonly used by the Kalaodi Community in daily life such as building materials, food containers, materials for traditional ceremonies or traditional games. The study aims to identify the types of bamboo in Kalaodi and to know the utilization of bamboo. Data retrieval is done through observation and interviews with informants. The selection of informants used a quota-based snowball sampling method. Selected informants were traditional leaders, communities, bamboo farmers, and the community as many as 30 informants. The results showed that 7 (seven) types of bamboo were utilized by the community around the Kalaodi Village forest area, namely Tabaliku Cina, Lou, Tui Biasa, Tabaliku Ake, Gilou, Lou Van, Lou Van, and Tui Jawa. Utilization of bamboo by the community Kalaodi as building materials, furniture, craft materials, social-cultural activities, and environment.
Komposisi dan Struktur Vegetasi Hutan Desa Dorari Isa, Pulau Hiri, Kota Ternate Wahid, Raihan Zulkifli; Ashari, Reyna; Baguna, Firlawanti Lestari; Nurjannah, Siti; Fatrawana, Adesna
Jurnal Pertanian Khairun Vol 4, No 1: (Juni, 2025)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jpk.v4i1.9959

Abstract

Hutan desa merupakan bagian dari hutan negara yang terletak di wilayah administrative desa dan dimanfaatkan oleh masyarakat desa guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Kelurahan Dorari Isa memperoleh izin pengelolaan Hutan Desa seluas 85 Ha. Karakteristik vegetasi berupa pola sebaran, kerapatan dan komposisi spesies dapat menggambarkan kondisi dan kualitas vegetasi di suatu wilayah. Hingga saat ini belum ada kajian tentang komposisi dan struktur vegetasi pada Kawasan Hutan Desa Kelurahan Dorari Isa, Pulau Hiri sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis struktur vegetasi pada Hutan Desa Dorari Isa. Penelitian ini dilaksanakan pada Kawasan Desa Dorari Isa, metode pengambilan petak contoh menggunakan purposive sampling kemudian data pengambilan data vegetasi dilakukan dalam empat tingkat pertumbuhan, meliputi tingkat pohon, tiang, pancang, dan semai. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi Kawasan hutan kelurahan Dorari Isa didominasi oleh vegetasi cengkeh (S. aromaticum) pada tingkat pohon dan semai, F. benjamina pada tingkat tiang, dan M. fragrans pada tingkat pancang berdasarkan nilai INP yang diperoleh. Berdasarkan analisis kerapatan individu dapat disimpulkan bahwa struktur vegetasi di Kawasan Hutan Desa Kelurahan Dorari Isa menunjukkan hubungan mendekati bentuk J terbalik. Sebaran vegetasi S. Aromaticum cukup merata pada setiap plot pengamatan disebabkan oleh kemampuan adaptasi yang baik.
Implementasi Pemberdayaan Kolaboratif Terkait Kebijakan Perhutanan Sosial Pada Pulau-Pulau Kecil di Pulau Hiri B, Sabaruddin; Tamrin, Mahdi; Kamaluddin, Abdul Kadir; Baguna, Firlawanti Lestari; Tamnge, Fadila
Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan
Publisher : Program Studi Kehutanan, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/kehutanan.v3i1.325

Abstract

Forests play a crucial role in maintaining the balance of the ecosystem and supporting human life. However, major challenges such as rapid deforestation and unsustainable resource utilization threaten the sustainability of forest functions. This study explores the implementation of social forestry policies in Pulau Hiri District, Ternate City, North Maluku Province, as a solution to overcome this problem. Through Community Service (PKM) activities involving students and lecturers from the Forestry Study Program of Khairun University, socialization and training on sustainable forest management, especially in clove oil refining, were carried out. The results of this activity show an increase in public understanding of social forestry and the implementation of sustainable agroforestry systems. Thus, this research emphasizes the importance of collaboration between various parties in empowering communities and preserving forests, in order to achieve sustainable welfare and environmental protection.
Pembibitan Pohon Kelompok Petani Hutan di Desa Tobololo Riyadin, Aisjah; Tamrin, Mahdi; Baguna, Firlawanti Lestari; Tamnge, Fadila; Ashari, Reyna
Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 1 No 2 Tahun 2023
Publisher : Program Studi Kehutanan, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/kehutanan.v1i2.129

Abstract

Kelompok tani hutan merupakan kelompok yang sangat penting dalam sistem penjagaan hutan dan konservasi. Petani hutan menjadi garis depan untuk memelihara hutan yang telah ada ataupun merehabilitasi hutan yang sudah rusak, serta  merawat, mengelola dan meningkatkan penghasilan dari hutan. Kelompok tani hutan (KTH) dalam bentuk Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Qahabanga Kelurahan Tobololo Ternate mengembangkan pembibitan pohon sebagai salah satu kegiatan dalam pengelolaan Hutan Desa Tobololo. Pengabdian ini bertujuan untuk mempelajari permasalahan dan menganalisis aspek-aspek penting yang dapat menjadi pembelajaran dari kegiatan pembibitan yang dilakukan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan mengobservasi dan mewawancarai kelompok tani pada LPHD Qahabanga serta melakukan analisis secara deskriptif permasalahan yang terjadi dan merumuskan saran untuk pengembangan pembibitan. LPHD Qahabanga memiliki pembibitan pohon masih sangat rentan dengan kondisi lokal, terutama aktivitasnya  yang masih bergantung dengan pembinaan dan bantuan dana dari pemerintah, terbatasnya anggota yang aktif menjadikan kelompok ini masih cukup sulit untuk berkembang. Peran penting dari pendamping lapangan masih sangat dibutuhkan, terutama dalam menyiasati proses menghasilkan benih bermutu dan bernilai komersial untuk digunakan dalam program penghijauan dan konservasi hutan. Kata Kunci : bibit bermutu, konservasi, Kelurahan Tobololo, LPHD
Pengembangan Kelompok Usahatani Berbasis HHBK Minyak Atsiri di Pulau Hiri Marasabessy, Much Hidayah; Baguna, Firlawanti Lestari; Kurniawan, Andy; Sabaruddin B.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan, Vol 2 No 1 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Kehutanan, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/kehutanan.v2i1.174

Abstract

The use of Clove and Lemongrass NTFPs as essential oils by the Manyeku Book Forest Farmers Group on Hiri Island opens up business opportunities to increase farmers' income. The activity time is May 2024. Community Service Activities (PKM) are carried out in the Socialization and Essential Oil Refining Demonstration Stage. Community service activities can provide information to the community, especially farmer groups, to cultivate non-timber forest products as a source of livelihood. Activities carried out in the form of outreach and training have increased the insight and skills of farmer groups regarding raw materials and factors that influence the quality of essential oils in the production process to give information material in developing farming businesses. Keywords: Cengkeh, Essential Oil, Farming Groups, Hiri Isle, NTFPs
Ethnobotany Bua-Bua: Foodstuff and Medical Baguna, Firlawanti Lestari; Tamnge, Fadila; Kaddas, Fatmawati
Jurnal Pertanian Khairun Vol 3, No 2: (Desember, 2024)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jpk.v3i2.9286

Abstract

Bua-Bua people utilize plants as traditional medicines in forest areas.  It is easy to find simple to process. The study goals are to describes the knowledge of the Bua-Bua community to using plants as medicine and plants utilization as traditional medicines and how to process medicinal plants in Bua-Bua village. The observation method used is qualitative with a descriptive analysis approach. The data collection was done by observation and semi-structured interviews with key informants. Determination of key informants is done by the snowball technique. Data collected in the form of primary data and secondary data.   Primary data is related to the use of medicinal plants and medicinal plants. The interview results showed that there were 46 types of plants that were used to treat various types of diseases commonly suffered by the people of Bua-Bua Village. Commonly used plants as medicine include cinnamon, nutmeg, ketapang, noni, soursop, mangosteen, avocado, candlenut, lemongrass, cat whiskers, betel, gofasa, mayana, kencur, star fruit, angsana, yellow, greetings, and 7 types other unknown scientific names are ngoyo, yellow root , giha, galala, ligagamo, saiyo, utulage and firoro. Due to time constraints, 7 species of plants were not identified. These plants are obtained from forest areas and around forest areas. How to use plants that have medicinal motley begin by boiling, grinding, burning and mashed fruit, eat directly, and soak in water. The benefits of plants that are utilized by Bua-Bua people generally can treat various diseases that are often suffered by the community such as malaria, stomach ulcers, fever, diarrhea, hypertension, anemia, mild strokes, and various other diseases.
Risk Analysis of Mulu Bebe Banana Farming in West Halmahera Regency Province North Maluku Kaddas, Fatmawati; Baguna, Firlawanti Lestari; Rasulu, Hamidin; Fatmawati, Mila
Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 9, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Science, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/agrisocionomics.v9i3.26380

Abstract

Food production problems can contribute to global food and energy inflation; therefore, this study aims to identify the risks faced by farmers in developing Mulu Bebe banana farming, analyze the levels of production and income risks, and explore appropriate mitigation strategies. The research was conducted in West Halmahera Regency, which serves as the main production center for Mulu Bebe bananas. The study employed interviews and Focus Group Discussions (FGDs) to identify key risks experienced by local farmers. These findings were analyzed using a comprehensive risk assessment approach, including calculations of the likelihood and consequences of each risk, categorization into risk levels, grouping of risks, and prioritization of mitigation strategies, all of which were visualized through a risk map. The risks associated with Mulu Bebe banana farming were classified into two main categories: production risk and income risk. Based on the analysis, both risk types showed a coefficient of variation (CV) of less than 0.5 and a lower limit value (L) greater than 0. These indicators suggest that Mulu Bebe banana farmers generally operate under low-risk conditions and are likely to avoid significant losses in both production and income. This farming system is not entirely free from risk. Risk identification based on production and income aspects revealed several sources of risk ranging from low to high levels. The most critical risk, categorized as high, is related to technical errors in the cultivation process. Medium-level risks include pest attacks, input prices such as fertilizers and herbicides, fruit quality, seed availability, planting area, weather and climate conditions, and banana distribution infrastructure. Meanwhile, consumer preference was identified as a relatively low risk.
Kreasi KKN Berdampak : Pemanfaatan Limbah Bambu menjadi Wadah Berkelas untuk Lingkungan Sehat dan Bersih Kaddas, Fatmawati; Haris, Darwis; Baguna, Firlawanti Lestari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan
Publisher : Program Studi Kehutanan, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/1439cn43

Abstract

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan bentuk implementasi pengetahuan mahasiswa dalam menjawab permasalahan di masyarakat. Salah satu isu yang dihadapi yaitu persoalan limbah termasuk limbah bambu. Kegiatan pengabdian bertujuan untuk memanfaatkan limbah bambu menjadi produk fungsional yang bernilai estetis sebagai upaya menciptakan lingkungan sehat dan bersih serta meningkatkan keterampilan masyarakat. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Salahuddin Pulau Ternate. Metode yang dilakukan yaitu pelatihan dan transfer teknologi tepat guna. Keterlibatan peserta bersifat partisipatif melalui praktik langsung membuat tempat sampah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ketrampilan peserta meningkat, berdasarkan jumlah produk tempat sampah yang dihasilkan sebanyak 8 unit produk fungsional. Kegiatan ini berdampak pada berkurangnya timbulan limbah di lokasi mitra dan terciptanya ekonomi kreatif baru. Kegiatan berbasis kearifan lokal melalui pemberdayaan berpotensi dikembangkan menjadi usaha berkelanjutan.   Kata Kunci: Bambu, KKN Universitas Khairun, Limbah, Lingkungan, Pulau Ternate