Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Deteksi Dini Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Kadar Asam Urat di Masyarakat Maguwo, Banguntapan, Bantul Putri, Mega Karina; Fajri, M. Alif; Tetuko, Aji
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v6i4.294

Abstract

Angka kejadian penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus dan hiperurisemia di Indonesia terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penigkatan menekan angka kejadian penyakit tersebut dengan melakukan deteksi dini atau skrining awal. Deteksi dini atau skrining awal tersebut dilakukan dengan pengecekan dan pengkontrolan kadar gula darah sewaktudan kadar asam urat. Partisipasi berbagai pihak dibutuhkan guna mendukung program pemerintah dalam skrining diabetes mellitus dan hiperurisemia. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada masyarakat khususnya di Maguwo tentang pentingnya melakukan deteksi dini atau skrining awal diabetes mellitus dan hiperurisemia.Program pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan dengan metode pendekatan partisipatif, dimana mitra binaan terlibat secara aktif pada setiap tahapan. Tahapan-tahapan yang dilakukan antara lain senam sehat, edukasi kesehatan, dan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu dan kadar asam urat.Tahapan senam sehat diikuti oleh 37 orang, pemeriksaan kadar gula darah sewaktu diikuti 26 orang dan kadar asam urat diikuti 21 orang. Hasil pemerikasaan deteksi dini diabetes mellitus menunjukkan bahwa 21 dari 26 orang atau sebanyak 80,77% berada dikategori kadar gula darah normal. Meski begitu, terdapat 3 orang (11,54%) termasuk ke dalam kategori prediabetes dan 2 orang (7,69%) termasuk ke dalam kategori diabetes. Hasil pemerikasaan deteksi dini artritis gout menunjukkan bahwa 20 dari 24 orang atau sebanyak 83,33% berada dikategori kadar asam urat normal.  Sedangkan, yang termasuk kategori kadar asam urat tinggi terdapat 4 orang (16,67%). Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu dan kadar asam urat sebagai skrining awal penyakit diabetes mellitus dan arthritis gout dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan sebagai bentuk upaya untuk pencegahan terhadap terjadinya kejadian penyakit diabetes mellitus dan arthritis gout. 
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN PERILAKU SWAMEDIKASI TERAPI DIARE PADA BALITA DI KLINIK PRATAMA LARAS HATI Ayu Nur Fatimah; M. Alif Fajri; Aji Tetuko
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science)
Publisher : Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/j1yrgn07

Abstract

Self-medication is a therapeutic process that involves everything from recognizing symptoms to selecting and using medications. Common or mild illnesses, such as mild fever, mild stomach ache, and diarrhea, are usually treated through self- medication. Diarrhea is a condition involving abnormal or unusual stool production, characterized by an increase in body fluid volume and bowel movement frequency of three times or more. If self-medication is performed improperly, there is a risk of further symptoms arising from the improper use of medications, which can lead to fatal consequences such as death. The purpose of this study is to determine the relationship between mothers' knowledge levels and self-medication behavior for diarrhea in infants at the Laras Hati Sewon Clinic. This study uses an observational method with a descriptive analytical approach and a cross-sectional design, employing simple random sampling as the sampling technique. The sample consisted of 30respondents. The results showed that 77% of mothers at Laras Hati Sewon Primary Clinic had a “good” level of knowledge, 20% had a ‘fair’ level, and 3% had a “poor” level. The level of self-medication behavior among mothers was found to be 64% in the “good” category, 23% in the ‘adequate’ category, and 13% in the “poor” category. The results of the chi-square test analysis showed that there is a relationship between higher education and professional background of mothers, which makes them more effective in managing diarrhea, thereby influencing self-medication behavior in infants, with a p-value < 0.005
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN PERILAKU SWAMEDIKASI TERAPI DIARE PADA BALITA DI KLINIK PRATAMA LARAS HATI Ayu Nur Fatimah; M. Alif Fajri; Aji Tetuko
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science)
Publisher : Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/j1yrgn07

Abstract

Self-medication is a therapeutic process that involves everything from recognizing symptoms to selecting and using medications. Common or mild illnesses, such as mild fever, mild stomach ache, and diarrhea, are usually treated through self- medication. Diarrhea is a condition involving abnormal or unusual stool production, characterized by an increase in body fluid volume and bowel movement frequency of three times or more. If self-medication is performed improperly, there is a risk of further symptoms arising from the improper use of medications, which can lead to fatal consequences such as death. The purpose of this study is to determine the relationship between mothers' knowledge levels and self-medication behavior for diarrhea in infants at the Laras Hati Sewon Clinic. This study uses an observational method with a descriptive analytical approach and a cross-sectional design, employing simple random sampling as the sampling technique. The sample consisted of 30respondents. The results showed that 77% of mothers at Laras Hati Sewon Primary Clinic had a “good” level of knowledge, 20% had a ‘fair’ level, and 3% had a “poor” level. The level of self-medication behavior among mothers was found to be 64% in the “good” category, 23% in the ‘adequate’ category, and 13% in the “poor” category. The results of the chi-square test analysis showed that there is a relationship between higher education and professional background of mothers, which makes them more effective in managing diarrhea, thereby influencing self-medication behavior in infants, with a p-value < 0.005
MODEL LOYALITAS PELANGGAN BERBASIS REPUTASI MEREK DAN KEPUASAN TERHADAP PRODUK FARMASI DI APOTEK KOTA MEDAN, SUMATERA UTARA Tetuko, Aji; Nugraheni, Diesty Anita
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol. 18 No. 1: Maret 2021
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mf.v18i1.18457

Abstract

Loyalitas pada pelanggan disebabkan oleh pengaruh kepuasan atau ketidakpuasan dengan merek tersebut yang terakumulasi secara terus-menerus.Selain itu, loyalitas mencerminkan komitmen psikologis terhadap merek tertentu. Perilaku pembelian ulang terhadap merek yang sama bisa dikarenakan memang hanya satu-satunya merek yang tersedia, termurah, atau sebab lainnya. Penelitian bertujuan untuk menguji model pengaruh reputasi merek dan kepuasan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan. Penelitian mengikuti rancangan penelitian survei non-experimental pada apotek-apotek di kota Medan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel yang diambil dibatasi waktu pengambilan sampel yaitu bulan Januari-Desember 2012. Subyek penelitian yaitu pelanggan yang memiliki wewenang dalam melakukan pembelian di apotek, paling sedikit sekali setiap bulannya dalam selang waktu antara bulan Januari-Desember 2012 melalui PBF X Medan. Analisis data menggunakan uji regresi linier berganda. Sampel yang digunakan berjumlah 98 responden dengan mayoritas adalah wanita, usia 31-40 tahun, pekerjaan asisten apoteker, dan berpendidikan tamat SMA. Hasil analisis regresi berganda pada variabel reputasi merek dan kepuasan pelanggan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan masing-masing sebesar 0,32 dan 0,24 terhadap loyalitas pelanggan produk "X" pada apotek di kota Medan. Model persamaan regresi yang dihasilkan yaitu Y = 11,318 + 0,32 X1 + 0,243 X2. Maknanya adalah Y = loyalitas pelanggan; X1= reputasi merek; dan X2= kepuasan pelanggan. Kesimpulannya adalah reputasi merek dan kepuasan pelanggan secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar 18,4% terhadap loyalitas pelanggan produk "X" pada apotek di kota Medan.
Penilaian Sistem Penyimpanan Obat pada Gudang Farmasi Rumah Sakit Swasta di Bantul Tetuko, Aji; Nurbudiyanti, Andini; Rosita, Melia Eka; Sari, Eni Kartika; Nugraheni, Diesty Anita
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 3, No 2 (2023): Generics: Journal of Research in Pharmacy, Volume 3, Edisi 2, 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v3i2.17054

Abstract

Penyimpanan obat merupakan salah satu cara pemeliharaan perbekalan farmasi sehingga aman dari gangguan fisik dan pencurian yang dapat merusak kualitas mutu suatu obat. Adanya evaluasi penyimpanan obat dalam Gudang farmasi digunakan untuk menjamin mutu suatu barang obat yang akan disimpan dalam jangka waktu lama. Penelitian ini terdapat indikator evaluasi di antaranya pengaturan ruangan gudang, sistem penyimpanan obat dan pencatatan kartu stok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sesuai atau tidak sesuainya sistem penyimpanan obat dalam gudang farmasi di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Penelitian ini menggunakan metode observasional yang bersifat deskriptif dan evaluasi. Pengambilan data dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan serta mengisi daftar tilik yang sudah disediakan. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengaturan ruangan gudang farmasi di RSU PKU Muhammadiyah Bantul memperoleh persentase sebesar 76% yang dikategorikan dalam kriteria baik. Hasil evaluasi sistem penyimpanan obat dalam Gudang farmasi di RSU PKU Muhammadiyah Bantul memperoleh persentase sebesar 92% yang dikategorikan ke dalam kriteria sangat baik. Hasil penelitian evaluasi pencatatan kartu stok memperoleh persentase sebesar 80% yang dikategorikan dalam kriteria baik. Rata-rata persentase dari ketiga indikator tersebut yaitu sebesar 82,6%, maka hasil termasuk ke dalam kategori sangat baik.
POLA PENGGUNAAN DAN PERSEDIAAN ANALGETIK DI PUSKESMAS DEPOK II DAN PUSKESMAS CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Aji Tetuko
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 6, No 2 (2015): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat golongan analgetik-antiinflamasi non steroid (AINS) merupakan obat yang paling banyak diresepkan dan umum digunakan untuk terapi nyeri, demam, dan proses peradangan. Penggunaan obat di pusat pelayanan kesehatan cenderung berlebih, penyebab utama tingginya penggunaan obat di pelayanan kesehatan adalah keterbatasan pengetahuan petugas profesional kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini serta keyakinan dan perilaku pasien sangat berperan dalam penetapan jenis obat yang diberikan. Puskesmas merupakan salah satu pusat pelayanan kesehatan dasar dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan. Perlu dilakukan penelitian tentang pola penggunaan dan persediaan analgetik di Puskesmas untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan dan pengelolaan obat di fasilitas kesehatan seperti di Puskesmas, terutama untuk obat-obatan analgetik yang pemakaiannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan dan persediaan analgetik di Puskesmas Depok II dan Puskesmas Cangkringan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.Penelitian ini dilakukan mengikuti rancangan penelitian survei yang bersifat deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif di Puskesmas Depok II dan Puskesmas Cangkringan untuk mengetahui pola penggunaan dan persediaan analgetik di kedua Puskesmas.Hasil penelitian menunjukkan, pola penggunaan yang meliputi konsumsi dan nilai pemakaian analgetik lebih besar di Puskesmas Depok II, sedangkan penyakit, obat lain dan aturan pakai lebih bervariasi di Puskesmas Cangkringan, kemudian untuk persediaan analgetik hasilnya adalah mencukupi baik di Puskesmas Depok II maupun Puskesmas Cangkringan
Evaluasi Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Antiretroviral (ARV) pada Pasien HIV/AIDS dengan Metode MMAS-8 M. Alif Fajri; Aji Tetuko; Keysha Syifa Mutiah
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science)
Publisher : Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/ve58g162

Abstract

Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia mengalami tren peningkatan hingga akhir tahun 2023, berdasarkan data dari kementerian kesehatan terdapat 16.410 kasus AIDS baru di Indonesia hingga akhir 2023. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang mentargetkan pada sel darah putih sehingga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah penyakit lanjutan dari HIV dan dapat memperparah kondisi seorang pasien. Penyakit HIV dapat diobati dan dicegah dengan terapi obat antiretroviral (ARV). Jika pasien HIV tidak diobati dengan terapi tersebut selama bertahun-tahun, maka dapat berkembang menyebabkan AIDS. Sehingga pada penelitian ini akan berfokus pada evaluasi penggunaan obat antiretroviral (ARV) pada pasien HIV/AIDS guna mengetahui gambaran tingkat kepatuhan konsumsi obat ARV pada pasien HIV/AIDS. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif observasional dengan sampel purposif sebanyak 17 responden. Pengukuran kepatuhan dinilai menggunakan instrumen Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) dengan delapan butir pertanyaan Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat kepatuhan sedang (58,9%). Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan pasien dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti motivasi pribadi, dukungan keluarga, akses layanan kesehatan, dan kondisi psikososial. Studi ini merekomendasikan pendekatan multidimensional yang melibatkan edukasi komprehensif, konseling berbasis empati, dan strategi pemberdayaan untuk meningkatkan kepatuhan terapeutik. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan untuk perumusan kebijakan intervensi yang lebih efektif dalam program pencegahan HIV/AIDS pada populasi ibu hamil. Human Immunodeficiency Virus (HIV) cases in Indonesia have been on the rise until the end of 2023. Based on data from the Ministry of Health, there were 16,410 new AIDS cases in Indonesia until the end of 2023. Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a viral infection that attacks the immune system by targeting white blood cells, thereby weakening the immune system. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) is the advanced stage of HIV and can worsen a patient's condition. HIV can be treated and prevented with antiretroviral (ARV) therapy. If HIV patients are not treated with this therapy for years, it can develop into AIDS. Therefore, this study will focus on evaluating the use of antiretroviral (ARV) drugs in HIV/AIDS patients to determine the level of ARV drug adherence in HIV/AIDS patients. The study used a descriptive observational quantitative approach with a purposive sample of 17 respondents. Compliance was measured using the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) instrument with eight questions. The results showed that the majority of respondents had moderate compliance (58.9%). These findings indicate that patient compliance can be influenced by other factors such as personal motivation, family support, access to health services, and psychosocial conditions. This study recommends a multidimensional approach involving comprehensive education, empathy-based counseling, and empowerment strategies to improve therapeutic adherence. The results of this study are expected to form the basis for the formulation of more effective intervention policies in HIV/AIDS prevention programs for pregnant women.    
Evaluasi Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Antiretroviral (ARV) pada Pasien HIV/AIDS dengan Metode MMAS-8 M. Alif Fajri; Aji Tetuko; Keysha Syifa Mutiah
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science)
Publisher : Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/ve58g162

Abstract

Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia mengalami tren peningkatan hingga akhir tahun 2023, berdasarkan data dari kementerian kesehatan terdapat 16.410 kasus AIDS baru di Indonesia hingga akhir 2023. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang mentargetkan pada sel darah putih sehingga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah penyakit lanjutan dari HIV dan dapat memperparah kondisi seorang pasien. Penyakit HIV dapat diobati dan dicegah dengan terapi obat antiretroviral (ARV). Jika pasien HIV tidak diobati dengan terapi tersebut selama bertahun-tahun, maka dapat berkembang menyebabkan AIDS. Sehingga pada penelitian ini akan berfokus pada evaluasi penggunaan obat antiretroviral (ARV) pada pasien HIV/AIDS guna mengetahui gambaran tingkat kepatuhan konsumsi obat ARV pada pasien HIV/AIDS. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif observasional dengan sampel purposif sebanyak 17 responden. Pengukuran kepatuhan dinilai menggunakan instrumen Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) dengan delapan butir pertanyaan Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat kepatuhan sedang (58,9%). Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan pasien dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti motivasi pribadi, dukungan keluarga, akses layanan kesehatan, dan kondisi psikososial. Studi ini merekomendasikan pendekatan multidimensional yang melibatkan edukasi komprehensif, konseling berbasis empati, dan strategi pemberdayaan untuk meningkatkan kepatuhan terapeutik. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi landasan untuk perumusan kebijakan intervensi yang lebih efektif dalam program pencegahan HIV/AIDS pada populasi ibu hamil. Human Immunodeficiency Virus (HIV) cases in Indonesia have been on the rise until the end of 2023. Based on data from the Ministry of Health, there were 16,410 new AIDS cases in Indonesia until the end of 2023. Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a viral infection that attacks the immune system by targeting white blood cells, thereby weakening the immune system. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) is the advanced stage of HIV and can worsen a patient's condition. HIV can be treated and prevented with antiretroviral (ARV) therapy. If HIV patients are not treated with this therapy for years, it can develop into AIDS. Therefore, this study will focus on evaluating the use of antiretroviral (ARV) drugs in HIV/AIDS patients to determine the level of ARV drug adherence in HIV/AIDS patients. The study used a descriptive observational quantitative approach with a purposive sample of 17 respondents. Compliance was measured using the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) instrument with eight questions. The results showed that the majority of respondents had moderate compliance (58.9%). These findings indicate that patient compliance can be influenced by other factors such as personal motivation, family support, access to health services, and psychosocial conditions. This study recommends a multidimensional approach involving comprehensive education, empathy-based counseling, and empowerment strategies to improve therapeutic adherence. The results of this study are expected to form the basis for the formulation of more effective intervention policies in HIV/AIDS prevention programs for pregnant women.