Claim Missing Document
Check
Articles

COMPARISON OF NAIVE BAYES, DECISION TREE, AND RANDOM FOREST ALGORITHMS IN CLASSIFYING LEARNING STYLES OF UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TORAJA STUDENTS Garonga, Melki; Rita Tanduk
Jurnal Teknik Informatika (Jutif) Vol. 4 No. 6 (2023): JUTIF Volume 4, Number 6, Desember 2023
Publisher : Informatika, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jutif.2023.4.6.1020

Abstract

Learning style is an individual's habit or way of absorbing, processing, and managing information. This factor is very important in achieving learning goals. However, in reality, learning styles are often overlooked in the learning process, which can lead to suboptimal absorption of lessons and affect the quality of education. Various models have been developed by educational experts to identify students' learning styles, one of which is the VAK model (Visualization Auditory Kinesthetic) for grouping learning styles. This study compares algorithms in classifying learning styles using the VAK model. The results showed that the most dominant learning style was kinesthetic with a percentage of 46.9% or 478 students. The algorithm modeling showed that Naive Bayes had the highest accuracy with a value of 75%, while Random Forest had the lowest accuracy with a value of 59%. This suggests that Naive Bayes is more suitable for classifying students' learning styles. In conclusion, understanding students' learning styles is crucial for effective education. The VAK model is one way to identify learning styles, and Naive Bayes is a suitable algorithm for classifying students' learning styles. By considering learning styles, educators can tailor their teaching methods to better suit their students' needs and improve the quality of education.
PRAGMATIC ASPECTS OF SPEECH ACTS: A CROSS-LINGUISTIC PERSPECTIVE Tanduk, Rita
English Review: Journal of English Education Vol. 11 No. 3 (2023)
Publisher : University of Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/erjee.v11i3.8762

Abstract

Effective intercultural communication is a cornerstone of today's globalized world, necessitating an exploration of the pragmatic aspects of speech acts from a cross-linguistic perspective. This research delves into the complex interplay between language, culture, and politeness strategies within the contexts of Bahasa Indonesia and Malay. Using a comprehensive datasets collected through observational field study in diverse naturalistic settings, including workplaces, educational institutions, and everyday social contexts, research examines the performance and interpretation of requests, apologies, compliments, and refusals. The findings reveal a shared preference for indirect and polite language when making requests in both linguistic communities, underlining the universality of politeness strategies. While Bahasa Indonesia speakers tend to employ explicit expressions of regret in apologies, Malay speakers adopt a more subtle approach. Compliments showcase differences, with Bahasa Indonesia speakers favoring direct expressions of admiration and Malay speakers employing nuanced language. Refusals demonstrate stark contrasts, with Malay speakers utilizing indirect strategies and Bahasa Indonesia speakers opting for directness. This study contributes to the growing discourse on cross-linguistic and cross-cultural pragmatics, emphasizing the importance of considering both linguistic diversity and cultural norms in understanding intercultural communication. This research, grounded in real-world interactions, calls for continued exploration of trans-cultural threads in speech act usage and offers valuable insights for enhancing intercultural competence. While acknowledging the study's limitations, researcher invites future research endeavors to delve deeper into the intricate world of speech acts and intercultural communication.
Efektifitas Buku Cerita Bergambar Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Siswa Lembang, Albertin Dua; Tanduk, Rita; Simega, Berthin
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.1684

Abstract

Keterampilan membaca merupakan keharusan dalam kehidupan, karena dengan membaca siswa akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas lagi. Dengan Menggunakan buku cerita bergambar berbasis kearifan lokal menjadikan anak memiliki ketertarikan membaca buku walaupun anak hanya membalikan lembar demi lembar tanpa memahami makna yang ada di dalamnya. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas buku cerita bergambar berbasis kearifan lokal terhadap keterampilan membaca pada siswa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode eksperimen. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku cerita bergambar berbasis kearifan lokal sangat efektif terhadap keterampilan membaca siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) keefektivan buku cerita bergambar untuk siswa sangat membantu untuk menumbuhkan minat baca, (b) hasil pengamatan yang didapatkan bahwa anak senang menggunakan buku cerita bergambar. Hal ini berarti bahwa buku cerita bergambar efektif meningkatkan keterampilan membaca. Dengan demikian, buku cerita bergambar perlu dikenalkan terhadap anak untuk membantu dalam peningkatan keterampilan membaca.
Mengenal Kehidupan Masyarakat Melalui Cerita Rakyat Toraja Elisabet Mangera; Anastasia Baan; Berthin Simega; Resnita Dewi; Milka Milka; Rita Tanduk; Daud Rodi Palimbong; Monika Mangera
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 7 No. 2 (2024): November
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v7i2.11227

Abstract

Folklore is a form of cultural heritage that is full of the life values, traditions and worldview of a society. This research aims to examine the life values ​​contained in Toraja folklore and how these values ​​reflect the social and cultural life of the Toraja people. The method used in this research is qualitative analysis with an ethnographic approach, where folk stories are collected and analyzed through in-depth interpretation. The research results show that Toraja folklore depicts the values ​​of togetherness, mutual cooperation, respect for ancestors, as well as respect and fear of customary law and cosmological rules. These values ​​not only function as a guide to life, but also strengthen Toraja cultural identity amidst ongoing social changes. These findings provide deeper insight into how folklore can be a medium for understanding social structures, moral values, and the Torajan people's perspective on life.
REPRESENTASI IDENTITAS MASYARAKAT TORAJA DALAM CERITA RAKYAT LAKIPADADA: ANALISIS SEMIOTIKA SOSIAL Rita Tanduk
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.3459

Abstract

Cerita rakyat Toraja merupakan warisan budaya lisan yang merepresentasikan identitas masyarakat melalui sistem tanda, di tengah tantangan transformasi sosial dan globalisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi identitas masyarakat Toraja dalam cerita rakyat Lakipadada melalui perspektif semiotika sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis semiotika sosial berbasis kerangka kerja Hodge dan Kress. Data berupa narasi, dialog, tindakan tokoh, dan simbol adat dikumpulkan melalui teknik close reading serta studi dokumentasi dari naskah cerita rakyat Lakipadada, lalu dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas masyarakat Toraja dikonstruksi melalui hubungan antar-sumber daya semiotik (semiotic resources), seperti tokoh Lakipadada, rumah adat Tongkonan, aturan Aluk, ritual kerbau, musyawarah, dan struktur kekerabatan. Elemen-elemen ini merepresentasikan dimensi kepemimpinan ideal, religius-adat, kolektivitas, dan solidaritas komunal. Makna identitas budaya tersebut bersifat dinamis dan lahir dari interaksi antara tanda, praktik sosial, dan konteks budaya masyarakat Toraja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa cerita rakyat Lakipadada tidak hanya berfungsi sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga sebagai media representasi yang secara aktif mengonstruksi, mereproduksi, dan mempertahankan identitas budaya masyarakat. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis pada penerapan semiotika sosial dalam sastra lisan.
Sinergi Kearifan Lokal dan Inovasi sebagai Upaya Penguatan Kemandirian Pangan di Masayarakat Kelurahan Batupapan Tana Toraja Rita Tanduk; Adewidar Marani Patadungan; Bryan Tayo Sarimba
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v6i3.2372

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kelurahan Batupapan, Tana Toraja, dengan tujuan menumbuhkan kemandirian pangan berbasis kearifan lokal dan inovasi melalui pemanfaatan pupuk organik Bokashi. Latar belakang kegiatan ini adalah masih terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap pembuatan dan penerapan pupuk organik, meskipun sebagian besar telah menerapkan sistem pertanian organik secara tradisional. Kegiatan ini menggunakan metode sosialisasi, demonstrasi, dan pendampingan langsung kepada masyarakat petani untuk meningkatkan keterampilan dalam mengolah bahan-bahan lokal seperti daun gamal, jerami, dan batang pisang menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan dan ekonomis. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pembuatan serta penggunaan pupuk Bokashi, meningkatnya kesadaran terhadap praktik pertanian berkelanjutan, serta berkurangnya ketergantungan pada pupuk kimia. Selain itu, kegiatan ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi alam lokal sebagai solusi inovatif bagi ketahanan pangan. Manfaat utama yang diperoleh adalah terbentuknya pola pikir mandiri dan kreatif dalam pengelolaan sumber daya pertanian yangberkelanjutan. Kesimpulannya, kegiatan ini membuktikan bahwa sinergi antara kearifan lokal dan inovasi sederhana dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.