Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT: LITERATURE REVIEW I Made Galih Fradiva Giantara; Novita Carolia; Gigih Setiawan; Syazili Mustofa
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i1.11268

Abstract

Infeksi saluran pernapasan akut atau yang selanjutnya disingkat menjadi ISPA merupakan salah satu penyakit yang menyumbang beban morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Pasien dengan ISPA memiliki gejala yang beragam. ISPA pada kelompok individu rentan menimbulkan dampak serius yang dapat mengancam nyawa, terutama pada keadaan dimana pertolongan medis tidak memadai atau tidak tersedia. Antibiotik merupakan salah satu tatalaksana yang sering diberikan pada penderita ISPA. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada ISPA merupakan kontributor penting terhadap kejadian resistensi antibiotik yang merupakan salah satu ancaman bagi kesehatan di seluruh dunia. Peningkatan penggunaan antibiotik pada masyarakat khususnya pada negara dengan tingkat peresepan antibiotik spektrum luas yang tinggi memiliki hubungan erat dengan munculnya infeksi yang resisten terhadap antibiotik. Artikel ini bertujuan untuk membahas kejadian resistensi antibiotik pada pasien ISPA. Artikel ini termasuk sebuah narrative literature review dari beberapa artikel dengan topik yang berkaitan. Antibiotik tidak direkomendasikan untuk sebagian besar infeksi saluran pernapasan atas kecuali jika disebabkan oleh bakteri, seperti pada faringitis streptokokus atau epiglotitis. Infeksi saluran pernapasan bawah mencakup bronkitis akut, pneumonia, dan eksaserbasi penyakit paru kronis. Penggunaan antibiotik dalam penanganannya dipilih berdasarkan faktor risiko pasien dan pola resistensi lokal. Resistensi antibiotik menjadi masalah global yang memperpanjang proses penyembuhan dan meningkatkan biaya kesehatan. Studi menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat dalam terapi ISPA berkontribusi terhadap resistensi, termasuk pemberian antibiotik yang tidak sesuai untuk infeksi virus. Evaluasi peresepan antibiotik diperlukan untuk mengontrol penggunaannya.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Jambu Air (Syzygium aqueum) : Sebuah Tinjauan Sistematis Muhammad Ariq Naufal; Susianti Susianti; Suryani Agustina Daulay; Novita Carolia
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v8i2.693

Abstract

Indonesia is a country that dominated by tropical rainforests with adequate rainfall. These conditions allow various plant species to thrive. One such plant is water apple (Syzygium aqueum). The use of water apple leaf extract as an antibacterial agent has garnered attention due to the increasing trend of bacterial resistance againts antibiotics. The aim of this study is to describe the antibacterial effects of water apple (Syzygium aqueum) leaf extract on several bacterial species by observing the diameter of the inhibition zone. The method employed is a systematic review. Article searches were conducted through databases such as PubMed Central, ScienceDirect, Google Scholar, and Garuda. The journal selection and formulation of research questions were guided by the PICO method. Article searches followed the 2020 PRISMA methodology. The article search yielded six articles reviewed from a total of 9,911 articles identified. The findings from the reviewed articles indicate that water apple leaf extract (Syzygium aqueum) exhibits antibacterial effects on both gram-positive and gram-negative bacteria. The active compounds in water apple leaf extract that exhibit antibacterial properties are flavonoids, terpenoids, saponins, tannins, and alkaloids.
Peranan Ekstrak Kulit Manggis dalam Memperbaiki Kerusakan Hati Akibat Isoniazid Muhartono Muhartono; Fakhmiyogi Fakhmiyogi; Dewi Nurfiana; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian Isoniazid dalam jangka lama dapat menyebabkan kerusakan hati. Salah satu upaya untuk mencegah kerusakan hati tersebut dengan cara pemberian ekstrak kulit manggis. Ekstrak kulit manggis diduga mempunyai aktifitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi kulit manggis dalam memperbaiki kerusakan hati akibat isoniazid. Pada penelitian ini, 25 tikus jantan dibagi dalam 5 kelompok secara acak dan diberi perlakuan selama 14 hari. K1 diberi aquadest, K2 diberi isoniazid 30 mg/100gBB, K3 diberi ekstrak kulit manggis 20 mg/100grBB dan isoniazid 30 mg/100gBB, K4 diberi ekstrak kulit manggis 40 mg/100gBB dan isoniazid 30 mg/100gBB, dan K5 diberi ekstrak kulit manggis 80 mg/100gBB dan isoniazid 30 mg/100gBB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata jumlah pembengkakan sel hepatosit pada K1 3±4,472;K2 96±4,183; K3 61±4,183; K4 42±7,582; dan K5 16±5,477. Simpulan, ekstrak kulit manggis dapat memperbaiki kerusakanhati akibat isoniazid. [J Agromed Unila 2015; 2(2):63-66]Kata kunci: ekstrak kulit manggis, hepar, isoniazid
Perbandingan Efek Dosis Toksik Amoksisilin Generik Berlogo dengan Amoksisilin Generik Bermerek terhadap Kadar Malondialdehid (MDA) Renal Tikus (Rattus novergicus) Galur Sprague Ade Marantika; Asep Sukohar; Muhammad Ricky Ramadhian; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Insidensi gangguan fungsi ginjal akibat antibiotik mencapai 36%. Amoksisilin merupakan antibiotik yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia, bahkan tanpa resep dokter. Terdapat dua macam produk amoksisilin yang tersedia di masyarakat, yakni amoksisilin generik berlogo dan generik bermerek. Amoksisilin dapat menyebabkan stress oksidatif dalam tubuh dimana keadaan ini dapat diukur dengan kadar malondialdehid (MDA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efek dosis toksik amoksisilin generik berlogo dengan amoksisilin generik bermerek terhadap kadar MDA renal dan mengidentifikasi amoksisilin yang lebih menyebabkan peningkatan kadar MDA renal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang terdiri atas 36 hewan coba yang dibagi menjadi 9 kelompok dengan 3 kelompok kontrol dan 6 kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukan rerata kadar MDA renal kelompok, yakni kelompok kontrol (Kn=1,356 nmol/mg, KA=6,090 nmol/mg dan KB=6,922 nmol/mg), kelompok generik berlogo (A1=3,513 nmol/mg, A2=5,372 nmol/mg dan A3=10,246 nmol/mg), dan kelompok generik bermerek (B1=4,279 nmol/mg, B2=6,520 nmol/mg dan B3=11,655 nmol/mg). Hasil uji perbandingan menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna secara statistik antara amoksisilin generik berlogo dan amoksisilin generik bermerek terhadap kadar MDA renal hewan coba pada dosis 822,4 mg/kgBB dan amoksisilin generik bermerek menyebabkan peningkatan kadar MDA renal lebih tinggi daripada amoksisilin generik berlogo.Kata kunci: amoksisilin, obat generik berlogo, obat generik bermerek, malondialdehid
Hubungan Drug Related Problems (DRPs) Kategori Dosis Obat Anti Hipertensi dengan Kondisi Tekanan Darah di Poliklinik Rawat Jalan Penyakit Dalam RSUD Jendral Ahmad Yani Metro 2014 Christopher P P Pandiangan; Novita Carolia; Jhons Fatriyadi Suwandi; Asnah Tarigan
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi adalah faktor resiko ketiga terbesar di dunia yang menyebabkan kematian. Penanganan kasus hipertensi, memerlukan sebuah pedoman yaitu JNC 7. Pada pemberian obat antihipertensi sering terjadi Drug Related Problems (DRPs) kategori dosis. DRPs merupakan suatu kejadian yang berpotensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang dikehendaki. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Drug Related Problems (DRPs) kategori dosis pada pemberian obat anti hipertensi dengan kondisi tekanan darah penderita hipertensi di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Jendral Ahmad Yani Metro tahun 2014. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan desain retrospective cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan rekam medis pasien dengan metode proporsional random sampling. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat. Analisis data bivariat penelitian ini menggunakan analisis Chi square. Penelitian ini dilakukan terhadap 153 sampel rekam medis penderita hipertensi. Kejadian DRPs kategori dosis pada pemberian obat antihipertensi sebanyak 18,3%. Penderita hipertensi di Poliklinik Rawat Jalan Penyakit Dalam RSUD Jendral Ahmad Yani Metro tahun 2014 yang mencapai target pengobatan sebanyak 22,9%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan kejadian Drug Related Problem (DRPs) kategori dosis dengan ketidaktercapaian tekanan darah target (p=0,028). Kata kunci: DRPs kategori dosis, hipertensi, tekanan darah, JNC 7
Agonis Reseptor GLP 1 untuk Terapi Diabetes Mellitus Tipe 2 Aulia Agristika; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin dan resistensi insulin atau kedua-duanya. Pengobatan Diabetes Mellitus tipe 2 terdiri atas empat pilar pengobatan yakni edukasi, gizi medis, latihan jasmani dan farmakologi. Terapi farmakologi Diabetes Mellitus tipe 2 terbagi menjadi dua yakni oral dan suntikan seperti Glucagon Like Peptide-1 (GLP-1) agonist. Glukagon Like Peptide-1 adalah jenis hormon inkretin yang normalnya diproduksi oleh usus halus untuk mengatur kadar gula dengan menekan sekresi glukagon untuk merangsang sekresi insulin terhadap makanan yang berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi kerja pendek (<24 jam) dan kerja panjang (≥24 jam).Kata Kunci: diabetes Mellitus tipe 2, glp-1 agonist, obat antidiabetes.
Peran Kafein dalam Tatalaksana Nyeri Kepala dan Kafein Withdrawal Dicky Auliansyah; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 5 No. 02 (2018): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kafein merupakan zat psikoaktif yang sering dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan kafein memiliki efek analgetik dalam tatalaksana nyeri kepala. Kafein dapat berperan secara mandiri sebagai analgetik maupun ajuvan. Namun, dampak dari penggunaan kafein yang berlebihan dan kafein withdrawal akan menyebabkan berbagai gejala, salah satunya nyeri kepala. Gejala ini bertentangan dengan fungsi kafein sebagai analgetik dalam nyeri kepala. Hal ini terjadi akibat mekanisme hipereksitabilitas kortikal dan peningkatan sensitisasi perifer dan sentral, sehingga penggunaan kafein bagaikan dua mata pisau yaitu dapat memberikan manfaat dalam terapi nyeri kepala atau dapat memicu timbulnya nyeri kepala.Kata kunci: analgetik, Kafein, Kafein withdrawal, nyeri kepala
Efek Toksik Ekstrak Etanol 96% Biji Jengkol (Pithecollobium lobatum benth) terhadap Gambaran Histopatologi Hepar dan Kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase) serta SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) Tikut Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Sprague dawley Restu Pemanggih; Novita Carolia; TA Larasati
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jengkol diduga memiliki efek samping yang buruk terhadap organ tubuh, salah satunya adalah hepar. Untuk mendiagnosis adanya kerusakan sel hepar, dilakukanlah pemeriksaan histopatologi hepar serta pemeriksaan enzim SGPT dan SGOT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek toksik ekstrak etanol 96% biji jengkol terhadap gambaran histopatologi hepar dan kadar enzim SGPT serta SGOT. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancanganPost Test Only Control Group Design. Sampel dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley, berjumlah 20 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (diberikan aquades), perlakuan 1 (diberikan dosis ekstrak jengkol 1200 mg/kgBB), perlakuan 2 (diberikan dosis ekstrak jengkol 2400 mg/kgBB),perlakuan 3 (diberikan dosis ekstrak jengkol 4800 mg/kgBB) selama 14 hari. Kemudian dilakukan pengambilan darah tikus dengan teknik pungsi transkardial untuk dilakukan pemeriksaan kadar enzim SGPT dan SGOT, dan dilakukan pembedahan untuk pengambilan organ hepar yang akan digunakan untuk pemeriksaan histopatologi. Berdasarkan hasil uji One way ANOVA, diperoleh nilai p=0,001 terhadap gambaran histopatologi hepar tikus, sedangkan terhadap kadar SGPT dan SGOT, diperoleh nilai p=0,001 dan p=0,001. Hal ini menyatakan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jengkol berpengaruh terhadap gambaran histopatologi, SGPT, dan SGOT. Dosis 1200 mg/kgBB, 2400 mg/kgBB, dan 4800 mg/kgBB berpengaruh terhadap kerusakan histopatologi hepar dan kadar SGPT, sedangkan pada SGOT hanya dosis 2400 mg/kgBB dan 4800 mg/kgBB yang memiliki pengaruh. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat efek toksik pemberian ekstrak etanol 96% biji jengkol terhadap gambaran histopatologi hepar dan kadar enzim SGPT serta SGOT.Kata kunci: hepar, histopatologi, jengkol, SGOT, SGPT
Potensi Pisang (Musa sp.) sebagai Sumber Vitamin B6 dalam Terapi Konservatif Carpal Tunnel Syndrome Dita Maulina Prabiwi; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Carpal Tunnel Syndrome adalah kumpulan gejala akibat penekanan pada nervus medianus oleh ligamentum karpal transversal di dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan. Carpal Tunnel Syndrome memiliki hubungan dengan pekerjaan dengan gerakan berulang dan posisi menetap pada jangka waktu yang lama. Carpal Tunnel Syndromemerupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai pada pekerja-pekerja industri pada negara maju. Gambaran klinis Carpal Tunnel Syndrome adalah nyeri di tangan atau lengan, terutama pada malam hari atau saat sedang melakukan pekerjaan, parestesia seperti kesemutan pada distribusi nervus medianus, dan sering terjadi bilateral. Pengobatan Carpal Tunnel Syndrome dapat berupa terapi definitif dan terapi konservatif. Salah satu terapi konservatif dalam Carpal TunnelSyndrome adalah dengan pemberian vitamin B6. Pisang (Musa sp.) merupakan salah satu komoditas yang melimpah di Indonesia, terbukti memiliki kandungan vitamin B6 yang tinggi. Diketahui bahwa konsumsi vitamin B6, dapat memperbaiki gejala klinis pasien Carpal Tunnel Syndrome, karena kondisi saraf yang tidak terdiagnosis sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan status vitamin B6 dalam tubuh dan fakta bahwa vitamin B6 dapat bertindak sebagai analgesik dengan meningkatkan ambang nyeri. Vitamin B6 yang terkandung dalam pisang, berpotensi mengurangi rasa nyeri dengan cara meningkatkan sintesis dopamin dan menghambat sintesis glutamat pada pasien Carpal Tunnel Syndrome.Kata kunci: Carpal tunnel syndrome, pisang (Musa sp.), vitamin B6.
Obesitas pada pasien dengan COVID-19 Afifah Rizqy Nurfaiza; Sutarto Sutarto; Novita Carolia
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas adalah suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh kelebihan asupan makanan atau perubahan pengeluaran energi. Selama pandemi COVID-19, obesitas dikaitkan dengan risiko keparahan yang lebih tinggi dan hasil klinis yang lebih buruk dari infeksi SARS-COV-2. Selain respon imun deregulasi terkait obesitas, peradangan kronis, ketidakseimbangan endotelium, disfungsi metabolik, dan komorbiditas, sel punca mesenkimal disfungsional/sel punca mesenkim yang diturunkan dari adiposa juga dapat memainkan peran penting dalam memicu inflamasi sistemik yang berkontribusi terhadap badai sitokin dan mempromosikan fibrosis paru yang menyebabkan kegagalan fungsional paru-paru, karakteristik COVID-19 yang parah. Selain itu, obesitas juga dapat membahayakan silia motil pada sel epitel saluran napas dan mengganggu fungsi eskalator mukosiliar, mengurangi pembersihan virus corona sindrom pernapasan akut (SARS-CoV-2). Jaringan adiposa pada orang obesitas mengekspresikan reseptor dan protease secara berlebihan untuk entri SARS-CoV-2, yang berimplikasi pada kemungkinan perannya sebagai reservoir dan akselerator virus yang memperkuat peradangan sistemik yang hebat dan respons imun. Akhirnya, sitokin anti-inflamasi seperti anti-interleukin 6 dan pemberian sel stroma/induk mesenkim dapat berfungsi sebagai terapi modulator imun potensial untuk mendukung memerangi COVID-19. Obesitas berbanding terbalik dengan perkembangan COVID-19 melalui berbagai mekanisme molekuler dan individu dengan obesitas termasuk dalam populasi rentan COVID-19 yang membutuhkan tindakan perlindungan lebih. Penelitian menunjukan bahwa kemungkinan dikarenakan peradangan kronis tingkat rendah, gangguan respon imun dan gangguan metabolisme pada pasien obesitas. Dalam tinjauan pustaka ini, telah merangkum hubungan antara obesitas dan COVID-19 dan membahas potensi patogenesis pada orang dengan obesitas.Kata kunci: Covid-19, Obesitas, SARS-COV-2