Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Aktivitas Antibakteri Dari Tanaman Mangga (Mangifera indica L.): Tinjauan Pustaka Fragil Khoirul Basyar; Novita Carolia; Oktafany Oktafany; Rasmi Zakiah Oktarlina
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan mikroorganisme yang berguna memperlambat atau membunuh tumbuh kembangnya mikroorganisme lain. Saat ini, antibiotik digunakan secara massif. Penggunaan antibiotikyang besar-besaran dengan tujuan untuk terapi infeksi akan meningkatkan kemungkinan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik dapat dihindari dengan penggunaan antibiotik alternatif. Salah satu tanaman yang digunakan sebagai antibiotik alternatif adalah mangga. Mangga mengandung senyawa makronutrieun, mikronutrieun dan fitokimia. Senyawa fitokimia yang terkandung dalam mangga seperti flavonoid, tanin, saponin, mangiferin, terpenoid dan alkaloid yang diduga senyawa-senyawa tersebut mampu menghambat tumbuhnya bakteri. Bagian-bagian mangga seperti daun, kulit, biji dan daging memiliki aktivitas antibakteri yang dapat menjadi alternatif penggunaan antibiotik sehingga dapat mencegah terjadinya resistensi antibiotik.Kata Kunci: aktivitas antibakteri, antibiotik, mangga, resistensi antibiotik.
Literature Review: Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) Terhadap Pengobatan Penderita Tuberkulosis (TB) Tias Adhe Setyaningrum; Novita Carolia; M. Ricky Ramadhian; Rasmi Zakiah Oktarlina
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang kerap menjadi perhatian global. Spesies kuman penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2021, tuberkulosis dinobatkan sebagai penyakit menular paling mematikan pada urutan kedua di dunia setelah Covid-19. Dan berada pada urutan ke tiga belas sebagai faktor penyebab utama kematian di seluruh dunia.  Prevalensi tuberkulosis pada tahun 2021 di dunia diperkirakan mencapai 10,6 juta kasus, dengan 6 juta kasus adalah pria dewasa, 3,4 juta kasus adalah wanita dewasa dan kasus lainnya adalah anak-anak. Di Indonesia sendiri tuberkulosis menduduki posisi ketiga dengan kasus sebanyak 397.377 orang pada tahun 2021. Insidensi kasus tuberkulosis di Indonesia adalah 354 per 100.000 penduduk, yang artinya setiap 100.000 orang di Indonesia terdapat 354 orang di antaranya yang menderita tuberkulosis. Salah satu penyebab kegagalan terapi penyakit tuberkulosis adalah terjadinya resistensi kuman terhadap obat anti tuberkulosis. Salah satu upaya untuk mendampingi pengobatan penderita tuberkulosis supaya penyakitnya sembuh, tidak menularke orang lain dan dapat mencegah menjadi penderita tuberkulosis MDR bahkan tuberkulosis XDR (Extra Drug Resistance) adalah adanya Pengawas Menelan Obat (PMO). Peran seorang PMO sendiri adalah mengawasi penderita tuberkulosis agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan, memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur, mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak, dan memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien jika mempunyai gejala-gejala yang mengarah pada penyakit tuberkulosis. Kata kunci: Pengawas Menelan Obat, resisten, tuberculosis
Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik Pada Pasien di Ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) pada Salah Satu Rumah Sakit Pemerintah Provinsi Lampung Periode Januari 2021-Juli 2022 Berdasarkan Metode Gyssens Dheti Efrilia; Novita Carolia; Rasmi Zakiah Oktarlina; Syazili Mustofa
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v12i1.pp266-272

Abstract

Latar Belakang: Infeksi ialah faktor letalitas paling umum teridentifikasi di unit perawatan intensif anak. Berdasarkan data dari Instalasi Rekam Medis, terungkap bahwa derajat letalitas di unit tersebut sangat signifikan. Tingginya insiden letalitas ini dipicu oleh pemanfaatan antibiotik yang kurang tepat. Studi ini berfokus pada evaluasiterhadap kualitas penggunaan antibiotik di ruangan PICU RSUDAM periode Januari 2021-Juli 2022 berdasarkan metode Gyssens. Metode: Jenis penelitian ialah studi observasional deskriptif dengan data retrospektif dari catatan medis pasien di unit perawatan intensif anak RSUDAM dalam rentang waktu Januari 2021 hingga Juli 2022. Evaluasi antibiotik diimplementasikan dengan kualitatif serta dianalisis menurut referensi (Drug Information Handbook, Pediatric Medication Handbook, WHO, dan MIMS) menggunakan metodologi Gyssens. Hasil: Penelitian ini menggunakan 49 antibiotik dari 35 rekam medis. Antibiotik mayoritas yakni seftriakson (38,8%) dan diagnosis mayoritas ialah bronkopneumonia (45,7%). Hasil penelitian didapatkan kategori 0 (tepat dan rasional) sejumlah73,5%, kategori I (waktu pemberian tidak tepat) sejumlah 2%, kategori IIA (tidak tepat dosis) sejumlah 10,2%, kategori IIB (tidak tepat interval) sejumlah 6,1%, serta kategori IVA (terdapat antibiotik yang lebih efektif) sejumlah 8,2%. Kesimpulan: Evaluasi antibiotik memperlihatkan hasil penggunaan antibiotik dengan tepat serta rasional (kategori 0) sejumlah 73,5%, disisi lain penggunaan antibiotik dengan tidak rasional (kategori I-IV) sejumlah 26,5%. Angka tersebuttermasuk baik serta lebih tinggi dibandingkan studi di lokasi yang berbeda. Penggunaan antibiotik dengan tidak rasional puntermasuk rendah mulai dari 0-10,2%.
Infeksi Saluran Kemih Nosokomial: Faktor Risiko, Patogen, dan Strategi Pencegahan Nisrina Talida Hasan; Sutarto, Sutarto; Nanda Fitri Wardani; Novita Carolia
Journal of Medical Practice and Research Vol 1 No 2 (2025): December: Essentia: Journal of Medical Practice and Research
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/fvf1tq16

Abstract

Nosocomial urinary tract infections (NUTI) are one of the most common healthcare-associated infections, particularly in patients with urinary catheters. This article aims to examine the risk factors, causative pathogens, and prevention strategies for NOS based on current literature. The method used was a structured literature review with the PRISMA approach through a search of articles in the Scopus and PubMed databases published between 2020 and 2025. Articles that met the inclusion criteria were analyzed descriptively. The review results showed that the main risk factors included duration of catheter insertion, intensive care unit stay, advanced age, comorbidities, and service factors such as re-catheterization and antibiotic use. The causative pathogens were dominated by Gram-negative bacteria, particularly Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, and Acinetobacter baumannii, with varying distributions across care settings. Effective prevention strategies include limiting catheter use and duration, implementing aseptic technique, close monitoring in high-risk units, and innovation in catheter technology. In conclusion, prevention of nosocomial urinary tract infections requires a comprehensive approach that integrates patient, pathogen, and health care system aspects.
PERBANDINGAN ZONA HAMBAT ANTARA ANTIBIOTIK TOPIKAL DAN PROBIOTIK Lactobacillus acidophilus TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Cutibacterium acnes PENYEBAB ACNE VULGARIS Evan Christian; Hendra Tarigan Sibero; Novita Carolia; Dwi Indria Anggraini
Majalah Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2026): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2026.013.01.2

Abstract

Acne vulgaris merupakan satu dari banyak penyakit kulit yang paling sering menyerang remaja dan dewasa muda. Salah satu etiopatogenesis acne vulgaris adalah kolonisasi bakteri Cutibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan membandingkan zona hambat yang terbentuk dari pemberian antibiotik topikal dengan probiotik Lactobacillus acidophilus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental secara in vitro. Aktivitas antibakteri klindamisin fosfat 1,2%, eritromisin 2%, dan probiotik L. acidophilus terhadap C. acnes diuji menggunakan metode difusi Kirby–Bauer. Data diameter zona hambat dianalisis menggunakan uji one-way ANOVA dan uji post hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klindamisin fosfat 1,2%, eritromisin 2%, dan probiotik L. acidophilus menghasilkan rerata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 32,0±3,4 mm, 22,6±2,3 mm, dan 14,2±1,2 mm. Hasil uji one-way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakukan (p = 0,001). Uji post hoc menunjukkan bahwa tiap variabel satu dengan variabel lainnya memiliki perbedaan bermakna dalam menghambat pertumbuhan C. acnes, kecuali pada variabel eritromisin dengan kontrol positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah zona hambat yang terbentuk pada pemberian klindamisin fosfat 1,2% adalah yang terbesar, menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri yang lebih kuat terhadap C. acnes dibandingkan dengan eritromisin 2% dan probiotik L. acidophilus.  
Analisis Faktor Risiko Terhadap Mortalitas Pasien Sepsis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD DR. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2018-2021 Putri Grace Aiko Purba; Ari Wahyuni; Novita Carolia; Liana Sidharti
Medula Vol 16 No 2 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i2.1788

Abstract

Sepsis is an organ dysfunction due to dysregulation of infection response. It is characterized by cardinal inflammatory signs such as vasodilation, leukocyte accumulation, and increased microvascular permeability in tissues away from the site of infection. Sepsis is identified using clinical criteria, specifically the Sequential (Sepsis-Related) Organ Failure Assessment Score with ≥2 points. Sepsis is a leading cause of mortality in the Intensive Care Unit. Its mortality is triggered by several risk factors, including age, low Glasgow Coma Scale and Mean Arterial Pressure scores, and the presence of comorbidities. This study aims to analyze the relationship between these determinants and mortality among the Intensive Care Unit sepsis patients. This study used an observational analytic method with a cross-sectional approach. The subjects were sepsis patients in the Intensive Care Unit of RSUD DR. H. Abdul Moeloek Lampung in 2018-2021 who met the inclusion and exclusion criteria. The independent variables were age, Glasgow Coma Scale, Mean Arterial Pressure, and comorbidities, while the dependent variable was mortality. Samples were collected using total sampling technique. The results showed that age, Glasgow Coma Scale, Mean Arterial Pressure, and comorbid disease were significantly associated sepsis mortality, with p-values of 0.008, 0.029, 0.040, and 0.013, respectively. Thus, there is a relationship between age, Glasgow Coma Scale, Mean Arterial Pressure, and comorbid disease to the mortality among sepsis patients.