Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Manajemen Nyeri Pasca Operasi Laparotomi : Tinjauan Pustaka Haya Falisa Karimah; Ari Wahyuni; Selvi Marcellia; Dendy Maulana
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp62-66

Abstract

Manajemen nyeri pasca operasi merupakan aspek penting dalam perawatan pasien setelah menjalani laparotomi. Penggunaan opioid sebagai dasar manajemen nyeri sering kali dibatasi oleh efek samping yang berpotensi berbahaya, seperti kecanduan dan depresi pernapasan. Oleh karena itu, pendekatan multimodal yang menggabungkan berbagai teknik analgesik dan metode non-farmakologis menjadi semakin relevan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas strategi manajemen nyeri multimodal dalam mengurangi penggunaan opioid dan meningkatkan pemulihan pasca operasi. Hasil menunjukkan bahwa terapi ini tidak hanya mengurangi efek samping yang terkait dengan penggunaan opioid, tetapi juga meningkatkan kontrol nyeri secara keseluruhan dan kualitas hidup pasien. Dengan demikian, penerapan strategi manajemen nyeri yang komprehensif dan terintegrasi diharapkan dapat memberikan hasil pemulihan yang lebih baik bagi pasien pasca laparotomi. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya intervensi non-farmakologis, seperti teknik relaksasi dan edukasi preoperasi, sebagai bagian dari manajemen nyeri yang efektif. Manajemen ini diharapkan dapat mengatasi tantangan global terkait penggunaan opioid yang berlebihan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penggunaan Anestesi Sedasi dalam Prosedur Endoskopi Saluran Cerna Dilla Syahra Noor Fitri; Ari Wahyuni; Suharmanto Suharmanto; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp67-74

Abstract

Sedasi dapat didefinisikan sebagai penurunan tingkat kesadaran yang disebabkan oleh obat. Sedasi merupakan komponen anestesi umum dan menjadi bagian penting dalam prosedur endoskopi saluran cerna. Endoskopi saluran cerna menimbulkan banyak ketidaknyamanan pada pasien yang menjalaninya karena menimbulkan risiko nyeri perut, keram perut, dan distensi abdomen akibat prosedur kolonoskopi serta risiko tersedak dan mual muntah akibat prosedur esofagogastroduodenoskopi (EGD). Sedasi membantu meningkatkan toleransi pasien terhadap ketidaknyamanan dan rasa sakit pada saat menjalani prosedur endoskopi. Sedasi akan membantu mengurangi kecemasan pasien, meningkatkan hasil pemeriksaan, dan mengurangi ingatan pasien terhadap prosedur yang dijalani. Kebutuhan sedasi ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk jenis endoskopi, durasi prosedur, tingkat kesulitan endoskopi, status fisik pasien, dan preferensi dokter. Sedasi terbagi menjadi beberapa tingkatan berdasarkan dengan tingkat depresi pada level kesadaran yaitu minimal sedation, moderate sedation, deep sedation hingga general anesthesi. Protokol regimen sedasi untuk prosedur gastrointestinal endoscopy (GIE) masih sangat bervariasi. Midazolam dan Propofol adalah obat yang paling sering digunakan dalam sedasi endoskopi yang biasanya dikombinasikan dengan analgesik Fentanil.
Manajemen Anestesi Umum Pada Bedah Laparoskopi Assyfa Salsa Yulpani; Ari Wahyuni; Giska Tri Putri; Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp75-82

Abstract

Laparoskopi adalah pembedahan minimal invasif dimana rongga peritoneum dapat divisualisasikan tanpa adanya sayatan yang besar pada abdomen. Laparoskopi telah memberikan hasil positif berupa insisi yang minimal, mengurangi risiko trauma, mengurangi biaya medis, menurunkan risiko perdarahan, menurunkan komplikasi pasca bedah, pemulihan dini, dan menurunkan mortalitas dan morbiditas. Dalam laparoskopi dikenal istilah pneumoperitoneum. Pneumoperitoneum dan perubahan posisi pada laparoskopi dapat menimbulkan perubahan fisiologi pada pasien, seperti perubahan kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, neurologi, dan splankhic. Oleh karena itu, diperlukan manajemen anestesi yang baik pada bedah laparoskopi. Pemahaman patofisiologi akibat pneumoperitoneum dalam laparoskopi sangat penting bagi anestesiologi untuk dapat memberikan respon cepat dan tepat terhadap perubahan yang terjadi dan mengevaluasi serta mempersiapkan pasien secara preoperatif terhadap kelainan-kelainan yang mungkin terjadi selama laparoskopi. Selain itu, lama operasi, risiko cedera organ-organ dalam, serta kesulitan mengevaluasi perdarahan yang terjadi, juga menjadikan anestesi pada laparoskopi menjadi prosedur yang berisiko tinggi. Laparoskopi paling baik dilakukan dengan anestesi umum karena perubahan fisiologi yang disebabkan oleh penumoperitoneum. Faktor yang membuat anestesi umum lebih baik daripada teknik anestesi lainnya untuk bedah laparoskopi adalah perubahan posisi pasien yang ekstrem, perubahan fisiologi akibat pneumoperitoneum, dan durasi operasi yang lama. Anestesi umum dalam bedah laparoskopi meliputi intubasi endotrakeal, relaksasi otot, dan ventilasi mekanis terkontrol. Kata kunci: Anestesi Umum, Laparoskopi, Pneumoperitoneum
Literature Review : Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Jenis Operasi Terhadap Kejadian Post Operative Nausea Vomitting Wayan Swari Dharma Patni; Ari Wahyuni; Anisa Nuraisa Jausal; Hendri Busman
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp32-39

Abstract

Abstrak: Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) adalah komplikasi umum pascaoperasi yang dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, aspirasi paru, dan memperpanjang rawat inap. PONV diklasifikasikan menjadi early (2–6 jam), late (6–24 jam), dan delayed (>24 jam) pascaoperasi. Metode dalam penulisan ini menggunakan literature review dengan sumber berasal dari PubMed dan google scholar. Wanita memiliki risiko lebih tinggi terhadap PONV akibat fluktuasi hormon estrogen dan progesteron, terutama pada fase folikular dan ovulasi siklus menstruasi. Risiko PONV menurun setelah menopause. Jenis operasi yang berisiko tinggi termasuk laparoskopi, neurosurgery, operasi payudara, dan operasi telinga, hidung, tenggorokan (THT). Penanganan PONV meliputi pencegahan dan terapi menggunakan obat seperti antagonis reseptor 5-HT3 (ondansetron, granisetron), antagonis reseptor NK-1 (aprepitant), kortikosteroid (dexamethasone), dan metoklopramid. Pemilihan obat disesuaikan dengan tingkat risiko dan jenis operasi. Pendekatan farmakologis ini bertujuan mengurangi insidensi PONV, komplikasi terkait, dan meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi.
The Effectiveness of the Newborn Care Education Program on the Anxiety of Primiparadi Mothers at Tengku Peukan Regional General Hospital, Southwest Aceh Regency Cut Lola Mutia; Agustina; Aasnaini; Yusdiana; Ari Wahyuni
Journal Public Health and Clinical Science Vol. 2 No. 1 (2026): Journal Public Health and Clinical Science
Publisher : Athallah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64845/clinergy.v2i1.324

Abstract

The neonatal period is the most critical phase of a baby's life, so it requires optimal care. Primipara mothers often experience anxiety in caring for newborns due to a lack of knowledge and experience. This condition can affect the quality of baby care and the success of the mother's adaptation process in carrying out her new role. Therefore, interventions in the form of educational programs are needed to increase knowledge and reduce maternal anxiety. To determine the effectiveness of the newborn care education program on maternal anxiety at the Tengku Peukan Regional General Hospital, Southwest Aceh Regency. This study is a quantitative research with a cross-sectional design. Data collection was carried out from February to March 2026. The population in this study was all mothers who had 54 newborns, with a sampling technique using total sampling. The research instrument used a questionnaire on the level of anxiety of primipara mothers. Data analysis was carried out univariate and bivariate using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed that before being educated, most mothers experienced mild anxiety (53.70%) and moderate anxiety (24.07%). After being educated, there was a decrease in anxiety with the majority of respondents in the categories of not anxious (51.85%) and mild anxiety (33.33%). The results of the Wilcoxon test showed a p-value of 0.000 (p < 0.05) which means there is a significant difference. Conclusion: The newborn care education program is effective in reducing the anxiety level of primitive mothers at Tengku Peukan Hospital. Suggestion: It is hoped that health workers can increase the provision of education on newborn care systematically and continuously as part of postnatal services to increase maternal readiness in caring for babies.