Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Makanan Ritual dan Makna Simboliknya: Analisis Tradisi Kuliner Sego Langgi di Lamongan, Indonesia: Ritual Meals and Its Symbolic Meaning: Analyses of Culinary Tradition Sego Langgi in Lamongan, Indonesia Muhammad Hilman Hirzi; Rossana Farah Abida; Rahmat; Wahidah Zein Br Siregar
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 20 No. 2 (2025): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v20i2.7220

Abstract

This article examines the symbolic meaning of Sego Langgi as a culinary tradition of the rural Muslim people of Sendangduwur Village, Lamongan, Indonesia, particularly focusing on the religious values, communal solidarity, and cultural identity contained therein. This research used a qualitative approach with ethnographic methods, and combined Clifford Geertz's theory of cultural symbolism, Claude Lévi-Strauss's theory of structuralism, Herbert Blumer's theory of symbolic interactionism, Pierre Bourdieu's theory of cultural inheritance, and Stuart Hall's theory of cultural identity. Obtaining data through participant observation, in-depth interviews, and visual and textual documentation, the research showed that Sego Langgi is not only a ritual meals, but also a medium for inheriting values carried out performatively and informally through cross-generational involvement in the tradition. It also reflects the values of help, simplicity, and respect towards ancestors. Amidst the modernization, the community continues to maintain its existence through the adaptation of digital media as a tool for documentation and preservation. Finally, this article’s scientific contribution lies in enriching local cultural-based culinary studies with a multidisciplinary theoretical approach, as well as in affirming the importance of tradition as a space for the production of values and identity in rural Muslim communities.
Makna Simbolik dalam Pemilihan Warna Dekorasi Maulid Nabi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya Nur Yasin; Wahidah Zein Br Siregar
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1193

Abstract

Warna dekorasi yang dipilih pada eringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya adalah putih tulang, kuning emas dan hijau tosca. Selain ada otoritasasi dari sang Mu’asis, tentu pemilihan tiga warna ini syarat akan makna dan tujuan yang jarang diketahui oleh masyarakat. Penelitian ini membahas tentang tiga macam warna; kuning emas, putih tulang dan hijau tosca yang dipilih untuk warna dekorasi dalam tradisi Maulid Nabi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tiga warna tersebut. Pendekatan kualitatif digunakan dengan menggunakan metode wawancara yang mendalam, observasi dan analisis teks untuk memahami alasan kenapa warna-warna tersebut dipilih berdasarkan teologis dan budaya. Hasil penelitian ini memberi petunjuk bahwa masing-masing warna yang dipilih yaitu putih tulang, hijau tosca dan kuning emas, memiliki beberapa makna simbolik yang erat kaitannya dengan kemuliaan, keindahan, kesucian, ketulusan, ketenangan, kedamaian, kearifan dan kehormatan serta simbol nuansa istana orang-orang saleh. Pemilihan tiga warna ini tentu juga untuk merepresentasikan adanya hubungan harmoni antara ajaran Islam dengan keaarifan lokal, serta sarana pembelajaran bagi santri, masyarakat dan semua jamaah yang hadir dalam acara ini. Secara religius tentu tradisi ini tidak hanya memperkaya ritual Maulid, lebih dari itu tentu hal ini merupakan wadah dalam memperkuat kohesi sosial yang ada dalam lingkungan Pondok Pesantren. Dengan demikian, tujuan penelitian ini memberi kontribusi yang nyata dalam memahami interaksi sosial masyarakat yang mencakup dari berbagai macam elemen masyarakat dan kebudayaan lokal, serta adanya peran tradisi dalam pelaksanaan Maulid ini dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai spiritual dan sosial komunitas masyarakat Islam.