Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Adoption of Cyber Extension by Agricultural Extension Workers (PPL) and Factors Affecting Budi Cahyono; Retno Setyowati; Hanifah Ihsaniyati
Jurnal Penyuluhan Vol. 16 No. 2 (2020): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25015/16202028362

Abstract

Cyber Extension has an important role to play in helping agricultural counsellors carry out their duties in this digital age. Initial surveys at the research site showed only 15% of Agricultural Extension Centers (BPP) adopted Cyber Extension. Information regarding the overall adoption of PPL is not yet clearly known. The study of adoption and the factors that influence the adoption of PPL is very important known. Therefore, the purpose of this study is to analyze the influence among cyber extension adoption variables within the framework of the Technology Acceptance Model (TAM) model. This research is classified as explanatory research with quantitative approach. Sampling technique using simple random sampling that was number of 140 people PPL Civil Servants and THL. The influence test between variables (hypothetical test) is conducted with t-test with a confidence level of 95% (α = 0.05). The results showed there were 8 accepted hypotheses (significant effect) and 2 rejected hypotheses (insignificant effect).
Women's Stereotypes in the Implementation of Reproductive and Productive Roles in Women Farmers' Households Wiji Tuhu Utami; Retno Setyowati; Sugihardjo Sugihardjo
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 5, No 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v5i1.4252

Abstract

The role of the wife has an essential contribution in the household as the smallest unit in household life. Stereotypes are specific labels attached to women in their roles as wives, mothers, and in society. The research aims to analyze stereotypes among women who work as processed food producers to implement household gender roles. The method in this research uses descriptive qualitative. The study results show that the pattern of household gender relations for Ngudi Rejeki Women Farmer Group members is equal. Household problems may resolve on their own or require discussion. Ngudi Rejeki Women Farmer Group members work as a processed food producer with a processed product entity made from Moringa leaves. The stereotype of responsibility is held husband as the family head and the housewife as the wife's prominent role, in the household function the husband as the primary breadwinner and the wife as the additional breadwinner. In implementing the reproductive role, the wife has a more prominent role and the husband only a helping hand. Peranan istri memiliki berkontribusi penting dalam rumah tangga sebagai unit terkecil dalam kehidupan rumah tangga. Stereotip merupakan pelabelan tertentu yang melekat pada perempuan dalam perannya sebagai istri, ibu, dan pada masyarakat. Penelitian bertujuan untuk menganalisis stereotip pada perempuan produsen makanan olahan dalam pelaksanaan peran gender rumah tangga. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola relasi gender rumah tangga anggota KWT Ngudi Rejeki ke arah setara. Permasalahan rumah tangga dapat selesai dengan sendirinya atau memerlukan pembahasan. Anggota KWT Ngudi Rejeki bekerja sebagai produsen makanan olahan dengan entitas produk olahan berbahan dasar daun kelor. Stereotip dalam hal tanggung jawab yaitu kepala keluarga dikonstruksikan sebagai tanggung jawab suami dan ibu rumah tangga menjadi tanggung jawab istri, pada fungsi rumah tangga dikonstruksikan suami sebagai pencari nafkah utama dan istri sebagai pencari nafkah tambahan, dan pada pelaksanaan peran reproduktif mengonstruksikan istri memiliki peran yang lebih utama dan suami sekedar membantu.
Implementasi Program CSR Bank Jateng Melalui Sentra Pemberdayaan Tani (Studi Kasus Desa Tlogopucang) Agung Harwanto; Retno Setyowati; Dwiningtyas Padmaningrum
AGRIBEST Vol 6, No 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agribest.v6i1.7312

Abstract

Desa Tlogopucang merupakan desa yang berada di Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung dengan ketinggian rata-rata 820 mdpl sehingga memiliki potensi dalam sektor pertanian dan perkebunan. Sektor tersebut sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Desa Tlogopucang sebagai petani. Namun, mayoritas petani hanya mampu melakukan budidaya tanaman saat musim penghujan karena saat musim kemarau terkendala dengan terbatasnya ketersediaan air. Dari latar belakang tersebut, Bank Jateng melakukan program CSR melalui Sentra Pemberdayaan Tani (SPT) berupa pembangunan embung dan kawasan tanaman kelengkeng itoh. Sebelumnya kegiatan CSR Bank Jateng hanya bersifat charity pada kegiatan sosial. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan implementasi program CSR Bank Jateng melalui SPT di Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung dari tiga aspek, yakni aspek budidaya, aspek ekonomi dan aspek keberlanjutan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pada aspek budidaya, petani mendapatkan pelatihan selama tiga tahun namun setelah dilepas mengalami kendala dalam pemeliharaan pohon kelengkeng. Aspek ekonomi, tanaman kelengkeng itoh dianggap lebih unggul dan lebih menguntungkan dari tanaman kopi yang biasa dibudidayakan oleh para petani sebelum adanya SPT Tlogopucang. Aspek keberlanjutan, petani memiliki wawasan yang lebih luas dengan beralih tanam menjadi petani kelengkeng. Petani juga merasakan bahwa dengan adanya program pemberdayaan ini memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan budidaya kopi.
Perilaku Petani terhadap Pertanian Buah Naga secara Organik di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri Riesta Adyanti Purnama; Retno Setyowati; Agung Wibowo
AGRIBEST Vol 5, No 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agribest.v5i1.4120

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji perilaku petani dalam melaksanakan pertanian buah naga secara organik di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri; mengkaji faktor-faktor pembentuk perilaku petani dalam melaksanakan pertanian buah naga secara organik di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri; dan mengkaji hubungan antara faktor-faktor pembentuk perilaku dengan perilaku petani dalam melaksanakan pertanian buah naga secara organik di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri. Metode dasar yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik purposive atau sengaja. Lokasi penelitian di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri yaitu Gapoktan Beji Makmur dan Kelompok Wanita Tani Pelangi. Sampel ditentukan dengan metode proportional random sampling, sebanyak 50 responden. Analisis data yang digunakan adalah Rank Spearman IBM SPSS Statistics 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Perilaku petani dalan pertanian buah naga secara organik di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri termasuk dalam kategori baik (2) Faktor pembentuk perilaku petani dalam pertanian buah naga secara organik di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri yaitu penyuluhan berada pada kategori sangat baik, pengetahuan berada pada kategori tinggi, motivasi berada pada kategori tinggi, sikap berada pada kategori baik, dan pendampingan berada pada kategori baik (3) Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor pengetahuan, motivasi, dan pendampingan dengan perilaku petani terhadap pertanian buah naga secara organik, sedangkan faktor penyuluhan dan sikap tidak berhubungan signifikan dengan perilaku petani terhadap pertanian buah naga secara organik di Desa Beji Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri.
Peran Modal Sosial Kelompok Tani pada Inovasi Program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) Padi di Desa Polokarto, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo Siti Zubaida; Retno Setyowati; Putri Permatasari
Jurnal Studi Inovasi Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Studi Inovasi
Publisher : Inovbook

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.943 KB) | DOI: 10.52000/jsi.v2i1.78

Abstract

The New Rice Planting Area Expansion Program (PATB) is a program from the government that was deliberately created due to the Covid-19 virus outbreak through SK (Decree) Number: 183/HK.310/C/8/2020. The purpose of the PATB rice program is to open new land for rice cultivation so that it is able to meet food needs during the Covid-19 virus. The targets of the PATB rice program are farmer groups. Social capital plays an important role in farmer groups in the implementation of the New Planting Area Expansion (PATB) program for rice. This study aims to determine the role of social capital in farmer groups in the implementation of the Rice New Planting Area Expansion (PATB) program in Polokarto Village, Polokarto District, Sukoharjo Regency. The research method used is descriptive qualitative. The results of the study indicate that the components of social capital that develop in farmer groups in Polokarto Village, Polokarto District, Sukoharjo Regency include trust, social norms, social networks, leadership, mutual cooperation, and participation in networks. Social capital plays a role in the implementation of the New Rice Planting Area Expansion (PATB) program, forming social values such as trust, social norms, social networks, leadership, mutual cooperation, participation in networks so that the New Planting Area Expansion (PATB) program for rice is well implemented. Keywords: Role, Social Capital, PATB Program
Women's Stereotypes in the Implementation of Reproductive and Productive Roles in Women Farmers' Households Wiji Tuhu Utami; Retno Setyowati; Sugihardjo Sugihardjo
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 5, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.378 KB) | DOI: 10.30983/humanisme.v5i1.4252

Abstract

The role of the wife has an essential contribution in the household as the smallest unit in household life. Stereotypes are specific labels attached to women in their roles as wives, mothers, and in society. The research aims to analyze stereotypes among women who work as processed food producers to implement household gender roles. The method in this research uses descriptive qualitative. The study results show that the pattern of household gender relations for Ngudi Rejeki Women Farmer Group members is equal. Household problems may resolve on their own or require discussion. Ngudi Rejeki Women Farmer Group members work as a processed food producer with a processed product entity made from Moringa leaves. The stereotype of responsibility is held husband as the family head and the housewife as the wife's prominent role, in the household function the husband as the primary breadwinner and the wife as the additional breadwinner. In implementing the reproductive role, the wife has a more prominent role and the husband only a helping hand. Peranan istri memiliki berkontribusi penting dalam rumah tangga sebagai unit terkecil dalam kehidupan rumah tangga. Stereotip merupakan pelabelan tertentu yang melekat pada perempuan dalam perannya sebagai istri, ibu, dan pada masyarakat. Penelitian bertujuan untuk menganalisis stereotip pada perempuan produsen makanan olahan dalam pelaksanaan peran gender rumah tangga. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola relasi gender rumah tangga anggota KWT Ngudi Rejeki ke arah setara. Permasalahan rumah tangga dapat selesai dengan sendirinya atau memerlukan pembahasan. Anggota KWT Ngudi Rejeki bekerja sebagai produsen makanan olahan dengan entitas produk olahan berbahan dasar daun kelor. Stereotip dalam hal tanggung jawab yaitu kepala keluarga dikonstruksikan sebagai tanggung jawab suami dan ibu rumah tangga menjadi tanggung jawab istri, pada fungsi rumah tangga dikonstruksikan suami sebagai pencari nafkah utama dan istri sebagai pencari nafkah tambahan, dan pada pelaksanaan peran reproduktif mengonstruksikan istri memiliki peran yang lebih utama dan suami sekedar membantu.
Peran Kelompok Tani dalam Pengembangan Padi Rojolele Srinuk (Studi Kasus Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten) Melga Yudistiya Amanatullah Pratomo; Retno Setyowati; Joko Winarno
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 5 (2022): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v2i5.301

Abstract

Klaten Regency is one of the rice-producing areas and has superior rice, namely Rojolele Srinuk rice. The rice-producing area of Rojolele Srinuk is Delanggu Village which is located between the Solo - Yogyakarta road and is on the slopes of Mount Merapi. The Ngudi Makmur I and Ngudi Makmur II farmer groups are farmer groups located in Delanggu Village which have the Rojolele Srinuk rice development program in collaboration with the Sanggar Rojolele Delanggu and were appointed directly from the Klaten Regency Agriculture Service. Empowerment of farming communities in the development of Rojolele Srinuk rice is considered to be able to produce a change in the mindset of farmers not to use chemicals in rice cultivation. This study aims to reveal the role of farmer groups in the development of Rojolele Srinuk rice and to reveal the empowerment efforts carried out. This study uses a qualitative basic method with a descriptive approach and uses a case study research design. The research location is in Delanggu Village, especially in the Ngudi Makmur Farmer Group. The results showed that the role of the Ngudi Makmur farmer group in the development of Rojolele Srinuk rice was carried out according to its role for the success of Rojolele Srinuk organic rice. Efforts by farmer groups in empowering rice farmers, Rojolele Srinuk. Efforts were made from the beginning of the development of Rojolele Srinuk rice to downstream agricultural products.
Persepsi Petani terhadap Kinerja Penyuluh Pertanian dalam Upaya Pengembangan Desa Inspirasi Padi di Kabupaten Sukoharjo Suciati Siti Hardinah; Suwarto; Retno Setyowati
AgriHumanis: Journal of Agriculture and Human Resource Development Studies Vol. 3 No. 2 (2022): Oktober 2022 (AgriHumanis: Journal of Agriculture and Human Resource Developmen
Publisher : Balai Pelatihan Pertanian Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46575/agrihumanis.v3i2.147

Abstract

Keberhasilan suatu program pertanian tidak terlepas dari persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) faktor-faktor pembentuk persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian, (2) persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian, (3) hubungan antara faktor-faktor pembentuk persepsi dengan persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian, (4) perbedaan persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) di Kecamatan Polokarto dan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Sebanyak 62 sampel responden diambil dengan proportional random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan lebar interval, Rank Spearman dan U-Mann Whitney dengan program IBM SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) faktor pembentuk persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian adalah umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, tingkat pendapatan, pengalaman berusahatani dan interaksi sosial, (2) persepsi petani terhadap kinerja penyuluh adalah sedang (cukup baik), (3) faktor pendidikan formal, pendidikan non formal serta pengalaman berusahatani memiliki hubungan signifikan dengan persepsi petani terhadap kinerja penyuluh pertanian; faktor umur, tingkat pendapatan dan juga interaksi sosial tidak memiliki hubungan yang signifikan, (4) terdapat perbedaan persepsi yang signifikan terhadap kinerja penyuluh pertanian antara petani yang tinggal di lokasi strategis dengan petani yang tinggal di lokasi tidak strategis.
Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Petani di Desa Sugihwaras Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen Dian Febrianti; Widiyanto; Retno Setyowati
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 2 No. 08 (2021): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.181 KB) | DOI: 10.59141/jiss.v2i08.381

Abstract

Permasalahan yang sering terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia yaitu kemiskinan. Kabupaten Kebumen merupakan kabupaten termiskin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 201 9 dengan angka kemiskinan 16,82 persen. Kemiskinan mendorong rumah tangga petani untuk menerapkan strategi bertahan hidup. Strategi bertahan hidup merupakan apa usaha seseorang agar dapat beradaptasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemiskinan petani, strategi bertahan hidup, serta dampak strategi bertahan hidup terhadap kesejahteraan petani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian ditetapkan secara sengaja (purposive) di Desa Sugihwaras Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen. Penentuan informan dilakukan secara snowball sampling. Validasi data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan kemiskinan rumah tangga petani ditandai dengan lahan yang sempit, pendapatan yang tidak menentu, dan rata-rata jumlah tanggungan 3-4 orang. Strategi bertahan hidup yang dilakukan petani pemilik penggarap, petani penyewa, petani penyakap, dan buruh tani yaitu strategi on farm, strategi off farm, dan strategi non farm. Dampak strategi bertahan hidup terhadap kesejahteraan petani yaitu hanya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Implementation of the Family Health Promotion Model (FHPM) on Family Commitment in TB Transmission Preventive Action among the Heads of Familiesof TB Patients: A Structural Model Martono Martono; Muhammad Akhyar; Eti Poncorini Pamungkasari; Anik Lestari; Sapja Anantanyu; Retno Setyowati
Proceedings of the International Conference on Nursing and Health Sciences Vol 4 No 1 (2023): January-June 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/picnhs.v4i1.1679

Abstract

Tuberculosis (TB) transmission prevention centering on family is an effective strategy to suppress the emergence of new clusters of pulmonary TB transmission. The commitment of family heads and several factors are related to this action. This study was conducted to identify, examine, and analyze the determinants of family commitment in preventing the transmission of pulmonary TB. This study applied a quantitative cross-sectional approach to 170 family heads of pulmonary TB patients using proportionate simple random sampling. The family health promotion model (FHPM) was used to analyze family commitment determinants in preventing TB transmission. Data were collected using a questionnaire. SEM analysis was utilized to determine the paths and the relationship between family function, perception of the disease transmission risk, as well as family support, and commitment to action to prevent TB transmission. This study recorded that 50.6% of respondents were male with an average age of 46.75 ± 46 and an age range of 36-55 years, 53% had a high school education; 25.9% were self-employed; had an average decent living need of 1.93 ± 0.85, 75.3% had nuclear family, and 47.1% were from patriarchal family. Model fit was achieved in the structural equation (Chi-square (χ2) = 173.44; df = 71, RMSEA = 0.072≤ 0.08; GFI = 0.90≥ 0.90; RMR = 0.019≤ 0.05; NFI = 0.98≥ 0.90; CFI = 0.99≥ 0.90; TLI = 0.98≥ 0.95; IFI = 0.99≥ 0.90; PGFI = 0.59; PNFI = 0,76). All dimensions and item scales are significantly related to their respective latent constructs. All factors forming the FHPM framework have a significant positive direct effect between latent variables. Factors from the FHPM framework significantly (family function t = 8.74, perception t = 4.46, and family support t = 7.37) have an influence on commitment to action to prevent pulmonary TB transmission. Family function is the most powerful factor explaining commitment to preventive action. This study reveals the paths and influences of family function, perception, and support on a commitment to prevent pulmonary TB transmission through structural model analysis.