Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT MASYARAKAT BAJO DI DESA MEKAR KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE Hasdairta Laniampe; La Niampe; Mursin; Alias
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 9 No. 3 (2024): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v9i3.528

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi "Nilai Budaya Dalam Cerita Rakyat Masyarakat Bajo Di Desa Mekar Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe." Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita-cerita rakyat masyarakat Bajo adalah jendela penting untuk memahami nilai-nilai budaya, kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya laut, dan peran cerita rakyat dalam pendidikan budaya. Penelitian ini menyoroti pentingnya pelestarian warisan budaya ini melalui pendokumentasian, pendidikan budaya di sekolah, dan upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga terkait. Kesimpulannya, pelestarian nilai budaya masyarakat Bajo di Desa Mekar adalah tugas bersama yang memiliki implikasi penting untuk keberlanjutan budaya dan lingkungan.
Etnomedisin dalam Praktik Pengobatan Tradisional Suku Muna di Kelurahan Anggoeya Kecamatan Poasia Kota Kendari Hasdairta Laniampe; La Niampe; Taufiq Said; Almarsaban Almarsaban; Bainudin Bainudin; Irawati Tapasi; Mursin Mursin
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 14 No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, October 2025
Publisher : Laboratory of Anthropology Department, Faculty of Humanity, Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v14i3.3049

Abstract

Indonesia is recognized as the second most biodiverse country in the world, possessing approximately 28,000 species of flowering plants, around 6,000 of which are classified as traditional medicinal plants. Amid the tide of globalization, traditional medicine continues to play a vital role in Indonesian society, even as modern medicine advances. The use of plants as medicine is deeply intertwined with local traditions, as exemplified by the Muna people, who possess indigenous knowledge in utilizing various medicinal plants. This study aims to identify the types of traditional medicinal plants, methods of preparation, and their use as alternative treatments for broader communities, employing a qualitative descriptive approach. The findings reveal eight types of medicinal plants employed by the Muna people in Anggoeya Village, one of which is guava leaves boiled to treat diarrhea. This research serves as a bridge between the Muna people's local wisdom in traditional healing practices and modern scientific knowledge, supporting the conservation of ethnobotanical knowledge while opening opportunities for the development of natural-based medicines.  
Tuturan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar Kecamatan Lakuko Kabupaten Buton Tengah Sartika Sartika; La Niampe; La Ode Marhini; La Ode Muhammad Sardiin
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2977

Abstract

Tari Mangaru menggambarkan keberanian para lelaki yang berperang di masa lampau. Tarian ini menampilkan dua orang laki-laki yang berperan sebagai pejuang di medan perang. Keduanya menjadi elemen penting dalam pertunjukan karena merepresentasikan semangat dan suasana pertempuran. Dalam pertunjukan Tari Mangaru, keris digunakan sebagai alat utama. Sebagai tarian yang melambangkan keberanian, penggunaan senjata seperti keris menjadi unsur wajib bagi setiap penari. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, dengan fokus pada: (1) fungsi dan makna Tari Mangaru; (2) pola pewarisan tradisi lisan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Informan dalam penelitian ini ditentukan melalui metode purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi dan makna Tari Mangaru bagi masyarakat Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, adalah sebagai simbol kesatria atau laki-laki perkasa. Tari Mangaru merupakan tarian perang yang awalnya digunakan untuk melawan penjajah yang berusaha menguasai wilayah Buton. Namun, saat ini Tari Mangaru difungsikan sebagai sarana hiburan dan penyambutan tamu dalam berbagai acara adat. Pewarisan Tari Mangaru dilakukan oleh tokoh adat melalui beberapa metode, di antaranya: (1) sosialisasi dan (2) pelatihan kepada generasi muda.
Fotala: Penyajian Makanan Pada Tradisi Pesta Adat Masyarakat Muna di Desa Parida Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Melisa; La Niampe La Niampe; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/mbqqth33

Abstract

Fotala merupakan salah satu bentuk penyajian makanan dalam tradisi makan bersama yang lazim dilakukan oleh masyarakat Munadalam berbagai upacara adat, seperti kagaa (perkawinan), katoba (pengislaman anak), dan kampua (pengislaman orang dewasa). Dalam upacara adat perkawinan, tradisi fotala dilaksanakan sebagai upaya untuk memudahkan para orang tua adat, khususnya kaum perempuan yang mengenakan pakaian adat (kabhantapi), dalam mengambil makanan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan pelaksanaan fotala serta menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaannya di Desa Parida, Kecamatan Lasalepa, KabupatenMuna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan fotala terdiri atas tiga tahapan, yaitu: Tahap persiapan, yakni mempersiapkan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan fotala, Tahap pelaksanaan, yang dimulai dengan penyampaian dari tokoh adat bahwa makanan akan disajikan. Setelah itu, pihak yang bertugas menyajikan makanan akan masuk danduduk di tengah-tengah para orang tua adat, kemudian memulai proses penyajian secara berurutan, dimulai dari oe kawanu (air cucitangan), lauk-pauk, kadada (sayur), oghoti (nasi), hingga yang terakhir yaitu opiri kafumaha (piring untuk makan), Tahap akhir, yaitu proses pembersihan area makan setelah acara selesai, Dalam pelaksanaan fotala terkandung berbagai nilai, antara lain nilai gotong royong,nilai etika, nilai kebersamaan, dan nilai komunikatif.
Tradisi Kadamba Pada Masyarakat Desa Moko Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah Muhamad Risal; La Niampe La Niampe; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/vb8yzt49

Abstract

Tradisi kadamba adalah suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum kegiatan pelamaran selesai, bentuk kesepakatan serta keikhlasan seorang laki-laki kepada calon mempelai wanita dari pihak keluarga untuk selalu mengunjungi calon istri, pihak laki-laki mengunjungi calon mempelai wanita dianggap sebagai bukti bahwa keduanya sudah saling mengikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsidan nilai-nilai di Desa Moko Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah.. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil Penelitian Tradisi kadamba adalah salah satu tradisi masyarakat Moko di buton tengah yang dilakukan setelah pelamaran. Tradisi kadamba bentuk kesepakatan serta keikhlasan seorang laki-laki kepada calon mempelai wanita dari pihak keluarga untuk selalu mengunjungi calon istri, pihak laki-laki mengunjungi calon mempelai wanita di anggap sebagai bukti bahwa keduanya sudah saling mengikat. Kegiatan yang sering dilakukan dengan membawakan bahan-bahan keperluan dapur, seperti beras, sayur-sayuran. Selain bentuk makan ada juga bentuk tenaga seperti, mempelai pria selalu membantu orang tua wanita dalam hal berkebun atau membersihkan pekarangan rumah dan lain. Fungsi yang terdapat dalam tradisi kadamba pada masyarakat desa moko, yakni; Adaptasi, Pencapain Tujuan, Integrasi, dan Pemeliharaan Pola.Nilai- nilai yangterkandung dalam tradisi kadamba pada masyarakat desa moko yakni; Nilai Komunikatif, Nilai Tanggung Jawab, Nilai Silaturahmi, Nilai Keikhlasan, Nilai Kejujuran.
Sosialisasi Penggunaan “Buri Wolio” pada Mahasiswa Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo La Niampe; Hasdairta Laniampe; Hisna; Mursin; Bainudin
Termasyhur: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2024): TERMASYHUR: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lambaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aspek Bahasa Daerah yang perlu dipelajari salah satunya adalah Bahasa Wolio. Salah satu keistimewaan dari Bahasa Wolio adalah bahwa Bahasa Wolio ada di Kerajaan Buton dan memiliki sistem aksara yang baku, yang diambil dari aksara Arab dan Jawi. Pengabdian ini bertujuan untuk memperkenalkan Penggunaan “Buri Wolio” kepada mahasiswa Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo dan dapat mengembangkan pengetahuan dan minatnya mengenai Penggunaan “Buri Wolio” ini. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah pendekatan kolaboratif. Dalam pengabdian ini, tim pengabdian melakukan sosialisasi yang didalamnya terdapat pembimbingan, diskusi dan konsultasi mengenai penggunaan “Buri Wolio” yang baik dan benar. Selain itu, sumber referensi yang relevan disediakan, dan juga pemberian materi yang dilakukan oleh ahlinya. Melalui sosialisasi penggunaan “Buri Wolio” bagi Mahasiswa Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo ini diharapkan dapat berguna bagi mahasiswa agar ilmu pengetahuan yang mereka miliki dapat lebih berkembang khususnya dalam bidang ilmu Filologi.
Makna dan Nilai Pendidikan pada Lukisan Dinding Gua Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna: The Meaning and Educational Values of the Liang Kabori Cave Wall Paintings in Lohia District, Muna Regency La Ode Sabarudin; La Niampe; Irianto Ibrahim
Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya Vol. 10 No. 1 (2025): JPSB (Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya)
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66225/xxrh3914

Abstract

Lukisan dinding Gua Liang Kabori di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, merupakan tinggalan seni cadas yang memuat jejak visual kehidupan masyarakat masa lalu. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pelestarian dan pemaknaan kembali lukisan gua sebagai sumber pengetahuan lokal, pendidikan seni, dan penguatan literasi warisan budaya. Penelitian bertujuan mendeskripsikan motif lukisan, menafsirkan makna simboliknya, serta mengidentifikasi nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik Charles Sanders Peirce melalui relasi representamen, objek, dan interpretant. Data diperoleh melalui observasi langsung pada situs, dokumentasi foto, wawancara dengan juru pelihara, tokoh masyarakat, dan praktisi budaya, serta studi pustaka terhadap kajian seni cadas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lukisan di Gua Liang Kabori dapat dikelompokkan ke dalam motif manusia, hewan, benda budaya, geometris, dan abstrak. Makna yang muncul meliputi pertahanan diri, penaklukan dan pemanfaatan hewan, kepercayaan terhadap kekuatan leluhur, pencatatan pengetahuan tentang hewan, fungsi transportasi dan migrasi, serta petunjuk simbolik terhadap lingkungan sosial-budaya. Nilai pendidikan yang teridentifikasi meliputi nilai religius, komunikasi, sosial, budaya, dan pariwisata. Kesimpulannya, lukisan dinding Gua Liang Kabori tidak hanya menjadi bukti visual prasejarah, tetapi juga sumber pendidikan kontekstual yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran seni, sejarah, budaya lokal, dan pelestarian cagar budaya. Kontribusi penelitian ini adalah menawarkan pembacaan semiotik dan pedagogis terhadap seni cadas Muna sebagai dasar pengembangan bahan ajar berbasis warisan budaya lokal.
Pengenalan Wawasan Pesisir dan Perdesaan Melalui Pertunjukan Tari Pada Siswa Sekolah Dasar di Kota Kendari Irianto Ibrahim; La Niampe; La Ode Sahidin; Sumiman Udu; Alias; Muhammad Yazid Abd Rachim Gege
Jurnal Pengabdian Meambo Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEAMBO
Publisher : PROMISE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56742/jpm.v5i1.239

Abstract

Pemahaman siswa sekolah dasar tentang lingkungan dan budaya pesisir masih rendah sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkenalkan wawasan pesisir dan perdesaan melalui pertunjukan tari dan pameran seni rupa bagi siswa kelas VI B SD Negeri 2 Kendari. Pengabdian dilaksanakan di Kota Kendari dengan melibatkan proses persiapan berupa koordinasi dengan sekolah, penyusunan materi seni, dan penyiapan ruang kegiatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui demonstrasi seni, pameran visual, dan diskusi interaktif yang dilaksanakan dalam satu rangkaian kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa mengenai konsep lingkungan pesisir, budaya lokal, interpretasi karya seni, dan kesadaran pelestarian lingkungan. Respons siswa selama kegiatan sangat positif, ditandai dengan antusiasme tinggi, kemampuan menginterpretasi simbol budaya, dan keterlibatan aktif dalam diskusi. Peningkatan nilai pre-test dan post-test memperkuat temuan bahwa media seni efektif dalam mendukung proses belajar siswa. Kegiatan ini memiliki implikasi penting dalam pengembangan pembelajaran berbasis seni untuk anak-anak Sekolah Dasar.
Folklore Literacy Transformation for Generation Alpha through Digital-Mediated Storytelling in a Southeast Sulawesi Village Hasdairta Laniampe; La Niampe; Bainudin; Irawati Tapasi
Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2026): August 2026
Publisher : Asosiasi Dosen Pengembang Masyarajat (ADPEMAS) Forum Komunikasi Dosen Peneliti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29062/engagement.v10i3.2321

Abstract

Background: The lack of interest in reading and declining awareness of folklore preservation in the digital era present significant challenges to the sustainability of oral traditions in Anggoeya Village, Southeast Sulawesi. As digital natives, Generation Alpha requires a literacy approach that is both adaptive and innovative. Preliminary observations showed that 100% of children used smartphones daily but none were familiar with QR codes for education or could identify local folklore narratives. Purpose of the Study: This community service program aims to revitalize the interest of elementary school-aged children (Generation Alpha) in Southeast Sulawesi folklore through the Digital-Mediated Storytelling method. Methods: The approach involved interactive socialization, technology demonstrations using QR Code scanning, and implementation of physical reading habits through the 15-Minute Reading Habit method. Five curated local stories (Oheo, La Moelu, Legenda Gunung Mekongga, La Sirimbone, Wandiu-Diu) were digitized into multimedia formats accessible via QR codes. The program engaged 15 elementary school students. Results: Evaluation indicated significant improvement in digital literacy and cultural understanding. Approximately 80% of participants (12 children) were able to operate QR Code scanning techniques independently, and 86.7% (13 children) successfully identified the moral values within local narratives. The initiative successfully established a "Pojok Baca Sederhana" (Simple Reading Corner) as a community-based literacy hub. The integration of digital media and physical reading habits proved effective in enhancing children's engagement with local wisdom content.