Articles
SYMBOLIC MEANING OF BASAHA ISIFU RITUALS: THE TRADITION OF MUNA SOCIETY PRIOR TO NISFU SYA'BAN NIGHT IN MUNA REGENCY
Rahmat Sewa Suraya;
Wa Ode Siti Hafsah;
La Niampe;
Heniman Heniman
Al-Qalam Vol 27, No 1 (2021)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31969/alq.v27i1.922
During Nisfu shay'ban night in Muna community, various good practices are performed. These practices aim to achieve the primacy of the Nisfushay'ban night which usually starts after the evening prayer by reciting Yasin for three times and ends it with prayer. To welcome the night of Nisfu shay'ban, Muna community performed a ritual called “the Basaha Isifu”. The purposes of this study are (1) to find out the process of conducting the Basaha Isifu tradition in the community of KosundanoSub-district, (2) to understand the symbolic meanings of Basaha Isifu tradition. The location of this research was in Kosundano Subdistrict of Muna community. The data was collected through observation, interviews and documentation. The informants were selected using purposive sampling technique. The data analysis employed a qualitative descriptive analysis which includes data reduction, display data, and conclusion. The results of this study indicates that the implementation of Basaha Isifu tradition starts from (1) the preparation of all stuff needed for the ritual, (2) the implementation indicated by the prayer recitation, and (3) the closure indicated by the attendants shaking hands and enjoying dishes together. Symbolically, Basaha Isifu carried out by Muna community can be interpreted as a form of gratitude for the blessing of Allah SWT for wealth, longevity, health, and safety of all dangers
Ritual Kaghoghoniwi Terhadap Orang Yang Telah Meninggal Pada Masyarakat Muna Di Desa Bangkali
WaOde Natasya Pratiwi;
La Niampe;
Komang Wahyu Rustiani
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55115/duta.v5i2.1697
The kaghoghoniwi ritual is a ritual performed by the Muna people in Bangkali Village during ceremonies of death and other celebrations. This ritual is not well known by the Bangkali village community, especially the milineal generation that can cause this ritual to become extinct, so researchers are interested in conducting research with the title "Speech in the Kaghoghoniwi Ritual Against People Who Have Died in Muna Communities in Bangkali Village". The purpose of this study was to determine the implementation process and understand the meaning contained in the kaghoghoniwi ritual utterances in the Muna community in Bangkali Village. The method used in this study is qualitative research. Data collection is done by observation techniques, in-depth interviews, and documentation. The technique of determining informants in this study was a combination of purposive sampling and snowball. Data analysis techniques consisted of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed the process of implementing the kaghoghoniwi ritual and the utterances spoken when summoning ancestral spirits had changed, where the kaghoghoniwi ritual process carried out by the Bangkali village community was now combined with the haroa tradition. The meaning of the utterance expressed in the implementation of the kaghoghoniwi ritual used to be meaningful to summon the spirits of ancestors or families who had died to eat, while the present speech means that the prayers that we pray to the deceased / deceased can be delivered.Keywords: Kaghoghoniwi Ritual, Meaning, speech.
Majas Perbandingan dalam Puisi Surat Cinta Karya WS Rendra
Abdul Jumail Syam;
La Niampe;
La Ode Sahidin
Journal on Teacher Education Vol. 4 No. 2 (2022): Journal on Teacher Education
Publisher : Universitas Pahlawan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jote.v4i2.8107
Majas perbandingan puisi Surat Cinta karya WS Rendra memegang peranan penting dalam menciptakan imajinasi dan pemikiran, sehingga diperoleh pengertian terhadap ungkapan yang tersirat dengan melibatkan simile, metafora, personifikasi, imaji, dan simbol dalam membentuk estetika puisi. Penelitian bertujuan menganalisis majas perbandingan dalam puisi Surat Cinta karya WS Rendra. Penelitian bersifat kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata dengan menggunakan teknik dokumentasi dan catatan untuk mengkaji puisi Surat Cinta karya WS Rendra dan selanjutnya dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis majas perbandingan dalam puisi Surat Cinta karya WS Rendra menggunakan pembanding simile bagai, yaitu membandingkan antara gerimis bagai tambur, dua ekor belibis bagai dua anak nakal, kaki-kaki cinta bagai logam berat, semangat kehidupan bagai jutaan jarum alit, semangat cinta bagai ribuan tangan gaib, dan suara bagai angin laut.
BERBAGI PENGALAMAN BERSAMA MASYARAKAT BUTON UTARA TENTANG PENGETAHUAN LOKAL DALAM PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI JAMBU METE
Syahrun Syahrun;
La Niampe;
Rahmat Sewa Suraya;
La Ode Topo Jers;
Laxmi Laxmi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/cdj.v4i4.20554
Pengetahuan lokal memiliki peran penting dalam praktik pertanian. Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk berbagi pengalaman bersama masyarakat Buton Utara tentang pengetahuan lokal masyarakat tentang penggunaan organik dalam meningkatkan produksi jambu mete di Kabupaten Buton Utara. Metode dalam PKM ini adalah diskusi secara berkelompok yang di dahului dengan pengumpulan data wawancara dan dilanjutkan diskusi bersama masyarakat terhadap pengalaman yang dimiliki dalam mengelola perkebunan jambu mete. Hasil PKM menunjukkan bahwa masyarakat petani di wilayah ini memiliki pengetahuan lokal yang mendalam tentang cara membuat dan menerapkan pupuk organik yang efektif yang bersumber dari lingkungan alam sekitarnya. Kemudahan masyarakat dalam mengelola jambu mete berhubungan erat dengan hasil yang diperoleh dengan menerapkan cara penggunaan pupuk organik secara luas. PKM ini juga merekomendasikan penguatan program edukasi dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan petani dalam menggunakan pupuk organik secara berkelanjutan.
KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL GADIS KRETEK KARYA RATIH KUMALA (SOSIOLOGI SASTRA)
Nila Wati;
La Niampe
Cakrawala Listra: Jurnal Kajian Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia Vol. 2 No. 1 (2019): Volume 2, nomor 1, Juni 2019
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/cakrawalalistra.v2i1.1368
Permasalahan dalam penelitian ini yaitu: bagaimanakah konflik sosial dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan konflik sosial yang terjadi dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Data yang terdapat dalam penelitian ini di antaranya kalimat, dialog yang berkaitan dengan konflik sosial yang terdapat dalam penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk konflik sosial dalam novel meliputi yaitu: a. Konflik individu dengan dirinya sendiri yaitu tokoh Idroes Moeria, konflik individu dengan lingkungan keluarganya yang dialami oleh Tegar dan Lebas, konflik individu dengan masyarakat sekitar yang dialami oleh tokoh Roemaisa dan masyarakat yang berada di rumahnya. Dampak yang ditimbulkan yaitu: hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia. Penyebab terjadinya konflik yaitu: perbedaan antara individu-individu, perbedaan kepentingan. Konflik yang terjadi di kota M tentang persaingan dan peristiwa G 30 S digambarkan penulis lewat Idroes Moeria dan Soedjagad yang bersaing untuk menjadi lebih unggul. Dalam novel tersebut beberapa konflik yang ada di dunia nyata terkait dengan adanya konflik yang terdapat di kota M. Kata kunci: Konflik Sosial, Novel, Sosiologi Sastra.
RITUAL KAFONIISINO SANGIA PADA MASYARAKAT MUNA DESA WAALE-ALE KABUPATEN MUNA
Wiwin Widyati;
La Niampe;
Sitti Hermina
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 1 No 1 (2018): Volume 1 Nomor 1, Januari - Juni 2018
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/lisani.v1i1.849
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana tahapan pelaksanaan ritual kafonisino sangia pada masyarakat Muna, 2) Bagaimana makna simbolik yang terkandung dalam ritual kafonisino sangia pada masyarakat Muna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan informan penelitian yang diambil secara sengaja (purposive sampling). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kafonisino sangia adalah ritual yang dilakukan mengunjungi beberapa tempat yang dianggap keramat dan kuburan leluhur. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses pelaksanaan ritual kafonisino sangia pada masyarakat Muna Desa Waale-Ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna, masih melakukan ritual Kafonisino sangia yang terdiri atas tiga tahapan yaitu: a) tahapan persiapan merupakan perencanaan pelaksanaan tradisi Kafonisino Sangia, b) tahap pelaksanaan merupakan pokok dari rangkaian acara tradisi Kafonisino Sangia, c) tahap penutup merupakan kegiatan akhir dari rangkaian pelaksanaan ritual Kafonisino Sangia yang ditandai dengan pembacaan doa di rumah BontonoTa’u dan di di rumah Maampade serta pingitan gendang (kaombono ganda) di rumah Maampade. Makna yang terkandung dalam ritual Kafonisino Sangia bahwa manusia membentuk sebuah proses komunikasi berdasarkan tindakan dengan saling interaksi antara satu sama lain sehingga menimbulkan simbol tanda dari hasil kesepakatan yang sama.
PRIMBON DALAM MASYARAKAT JAWA DI DESA SONAI KECAMATAN PURIALA KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA
yolan rahmawati Tampong;
La Niampe;
Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1348
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana proses penggunaan primbon dalam masyarakat Jawa di Desa Sonai Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe dan fungsi primbon dalam masyarakat Jawa di Desa Sonai Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil yang di peroleh dari penelitian ini yakni proses penggunaan primbon dalam (penentuan hari baik) di Desa Sonai digunakan dalam pernikahan, sunatan (khitanan), pindah rumah, dan penanaman padi pertama. sedangkan fungsi primbon dalam masyarakat Jawa di Desa Sonai Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe, yakni, mengacu kepada pendapat Malinowski dalam koendjaraningrat yang membedakan fungsi sosial kedalam tiga abstraksi yaitu, pertama adalah pengaruh atau efeknya terhadap adat, tingkah laku sosial dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat. Kedua mengenai pengaruh dan efeknya terhadap kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencari maksudnya, seperti yang di konsepsikan oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Ketiga terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu. begitupun dengan primbon yang sama halnya juga berfungsi untuk mengatur agar manusia dapat memahami bagaimana seharusnya bertingkah laku dan berbuat untuk memahami kebudayaan hidupnya dalam masyarakat, primbon yang dimana di jadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Jawa di Desa Sonai untuk menjalankan hidup mereka agar terhindar dari malapetaka yang mereka yakini, di dalam sebuah primbon telah di atur atau ditentukan segala sesuatu yang akan di jalankan oleh masyarakat jawa, serta primbon tidak dijadikan sebagai kebutuhan yang mutlak bagi adat di karenakan masyarkat jawa di desa sonai tidak semua percaya akan primbon tetapi mereka masih menjalankan perimbon hanya semata-mata karena menghargai sebuah tradisi mereka
TRADISI KAFEGHONDO PADA ETNIK MUNA DI DESA BONE KANCITALA KECAMATAN BONE KABUPATEN MUNA
eli sastrawati;
La Niampe;
Syahrun Syahrun
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1350
Tujuan penelitian ini yaitu: (1) Mengatahui bentuk-bentuk Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna, (2) Bagaimanah Fungsih Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna dan (3) Bagaimana Makna Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif. Pengumpulan data di lakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasri partisipasi (participan observer), wawancara secara mendalam (indepth interview) dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; (1) Bentuk-bentuk Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna yaitu (a) Bentuk Kafeghondo sebagai alternatif pengobatan (b) bentuk Kafeghondo sebagai petunjuk barang hilang dan (c) Bentuk kafeghondo sebagai petunjuk jodoh dan rezeki, (2) Fungsi Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna yaitu, fungsi religi dan sosial, dan (3) Makna Tradisi Kafeghondo pada Etnik Muna di Desa Bone Kancitala Kecamatan Bone Kabupaten Muna yaitu; (a) Makna identitas bahwa di dalam tradisi kafeghondo mengandung nilai-nilai yang bermakna luhur, dan itu merupakan salah satu jati diri masyarakat, (b) Makna solidarias bahwa tradisi kafeghondo menggambarkan hubungan antar individu dan atau kelompok yang ada pada suatu komunitas masyarakat yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang di anut bersama
EKSISTENSI TARI KATUMBU PADA MASYARAKAT KECAMATAN TONGKUNO KABUPATEN MUNA
Sri Rahmadani Salim;
La Niampe;
Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/lisani.v4i2.1365
Tari Katumbu merupakan tarian yang menceritakan tentang proses pengelolaan panen, sebagai bentuk suka cita masyarakat kecamatan Tongkuno terhadap keberhasilan hasil panen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pelaksanaan tari katumbu pada masyarakat Muna Kecamatan Tongkuno. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses pelaksaan tari Katumbu terdapat bentuk penyajian tari Katumbu yaitu, Gerak tari Katumbu, Pola lantai, Alat music, Penari, Kostum, Tata rias, Properti. Proses pelaksaan tari Katumbu diantaranya, pada saat pesta panen, acara resmi dan pada saat acara pernikahan. Eksistensi tari Katumbu di antaranya, Sejarah tari Katumbu, Keberadaan tari Katumbu saat ini, Upaya mempertahankan tari Katumbu
Nilai-Nilai Tradisi Pingkama'a-Ma'a pada Masyarakat Kelurahan Wali Kecamatan Binongko Kabupaten Wakatobi
Nurtikawati Nurtikawati;
Santika Santika;
La Niampe
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 5 No 1 (2022): Volume 5 Nomor 1, Januari-Juni 2022
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/lisani.v5i1.1659
Many values are implied in the pingkama'a-ma' tradition but many people do not understand it so this study aims to determine the process of implementing the pingkama'a-ma'a tradition, the values in the pingkama'a-ma'a tradition, as well as changes in the pingkama'a-ma'a tradition. pingkama'a-ma'a tradition process. This study uses qualitative research methods, data collection is carried out by observation techniques, the second is interviews with sources or informants, and the third is documentation. The tools used in the field research are special notes and recording devices. Data analysis techniques take place continuously at each stage of the research until it is complete. The process of implementing the pingkama'a-ma'a tradition is carried out after completing the Eid al-Fitr prayer or Eid al-Adha prayer. When the pingkama'a-ma'a tradition takes place, there are no restrictions on anyone who wants to join in on the fun. The benefits of the pingkama'a'a-ma'a tradition are as entertainment for the community, as a place of friendship between fellow humans and as a place to find a mate for young people.