Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Peningkatan Pengetahuan Dalam Upaya Penurunan Kasus Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Teluknaga Nurhaliza, Dinda; Su, Thuan; Fachriyah, Alfi Sri; Tirtasari, Silviana
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i2.13007

Abstract

ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) stands as a prevalent chronic metabolic condition, especially notable in Tangerang, Indonesia, with significant health implications. This study aimed to employ a community-focused strategy at the Teluknaga Health Center to diagnose, intervene, and assess the impact of lifestyle education on DM prevalence in the region. The study utilized a community-oriented diagnostic approach incorporating Blum's Paradigm, the Delphi technique for issue prioritization, and fishbone analysis to identify root causes of DM. Interventions involved pre/post-test questionnaires and targeted educational sessions within the East Kampung Melayu Village. Monitoring utilized the PDCA cycle. Initial findings revealed that lifestyle factors significantly contributed to the prevalence of DM cases. Educational interventions in East Kampung Melayu resulted in a substantial increase in knowledge scores, with over 80% improvement post-intervention. In 2022, the East Kampung Melayu Village exhibited the highest number of DM cases within the Teluknaga Health Center's purview. The study underscores lifestyle's key role in high DM prevalence. Education in East Kampung Melayu significantly boosted DM awareness. Community-based approaches effectively reduced DM burden in Tangerang, emphasizing their significance and potential for wider application. This highlights the vital role of community engagement and education in managing and reducing DM cases. Keywords: Diabetes Mellitus, Community Education, Community Diagnosis   ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) merupakan kondisi metabolik kronis yang umum, terutama mencolok di Tangerang, Indonesia, dengan dampak kesehatan yang signifikan. Studi ini bertujuan untuk menerapkan strategi yang difokuskan pada komunitas di Puskesmas Teluknaga untuk mendiagnosis, melakukan intervensi, dan mengevaluasi dampak pendidikan gaya hidup terhadap prevalensi DM di daerah tersebut. Studi ini menggunakan pendekatan diagnostik berbasis komunitas yang mencakup Paradigma Blum, teknik Delphi untuk prioritas masalah, dan analisis fishbone untuk mengidentifikasi penyebab akar dari DM. Intervensi melibatkan kuesioner pra/post-test dan sesi edukasi yang ditujukan di Desa Kampung Melayu Timur. Pemantauan menggunakan siklus PDCA. Temuan awal menunjukkan bahwa faktor gaya hidup secara signifikan berkontribusi pada prevalensi kasus DM. Intervensi pendidikan di Kampung Melayu Timur menghasilkan peningkatan substansial dalam pengetahuan, dengan peningkatan lebih dari 80% setelah intervensi. Pada tahun 2022, Desa Kampung Melayu Timur menunjukkan jumlah kasus DM tertinggi di wilayah Puskesmas Teluknaga. Studi ini menegaskan peran kunci gaya hidup dalam prevalensi tinggi DM. Pendidikan di Kampung Melayu Timur secara signifikan meningkatkan kesadaran akan DM. Pendekatan berbasis komunitas efektif mengurangi beban DM di Tangerang, menekankan signifikansinya dan potensinya untuk aplikasi yang lebih luas. Ini menyoroti peran penting keterlibatan dan pendidikan masyarakat dalam mengelola dan mengurangi kasus DM. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Penyuluhan Masyarakat, Diagnosis Komunitas
HUBUNGAN ANTARA DURASI MENGEMUDI TERHADAP KELELAHAN AWAK MOBIL TANGKI BBM PT. PERTAMINA TANJUNG GEREM MERAK BANTEN Mufadhdhal, Raihan Adham; Tirtasari, Silviana; Wahyuni, Octavia Dwi
Ebers Papyrus Vol. 28 No. 1 (2022): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v28i1.19420

Abstract

Lamanya durasi mengemudi akan menyebabkan kelelahan dan menjadi faktor resiko utama dari kecelakaan lalu lintas. Regulasi tersebut sudah diatur dalam UU no.22 Tahun 2009 bahwa durasi mengemudi maksimal 8 jam per hari. Hasil studi sebelumnya, didapatkan durasi mengemudi >8 jam dan rata-rata mencapai 11-12 jam, 68 awak mobil tangki (AMT) sebanyak 47 orang (69,1%) mengalami kelelahan tingkat sedang. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi mengemudi terhadap kelelahan pada awak mobil tangki (AMT) BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten. Studi ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Sample dalam studi ini adalah 151 awak mobil tangki I (sopir) yang bekerja di Terminal Bahan Bakar di Tanjung Gerem Merak Banten yang diambil menggunakan quota population sampling. Tingkat kelelahan dinilai menggunakan kuesioner subjective self rating test dan data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi AMT Terminal BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten mengalami kelelahan sebesar 65,6%, para AMT Terminal BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten mayoritas bekerja >8 jam (79,5%), dan terdapat hubungan yang bermakna antara durasi mengemudi terhadap kelelahan pada AMT BBM PT. Pertamina (Persero) Tanjung Gerem Merak Banten dengan nilai p = 0,001 (p<0,05) dan pada asosiasi epidemiologis didapatkan PR 2,58 (1,47-4,52), artinya orang yang bekerja >8 jam memiliki resiko kelelahan 2,58 kali lebih besar dibandingkan yang bekerja ?8 jam.
Penatalaksanaan Stunting dengan Infeksi Saluran Kemih, Diare Kronik, dan Anemia Pada Pasien Anak Usia 2 Tahun 6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Teluknaga Pertiwi, Kang Heji Dian; Tirtasari, Silviana; Sikomena, Vania Vibri; Yolanda, Desi Witri; Darmawan, Yenny
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i11.52325

Abstract

Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah menyajikan kasus stunting dengan infeksi saluran kemih, diare kronik, dan anemia pada anak LNQ usia 2 tahun 6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Teluknaga. Laporan kasus pasien anak usia 2 tahun 6 bulan dengan stunting, infeksi saluran kemih, diare kronik, dan anemia dengan pendekatan kedokteran keluarga untuk mendapatkan diagnosis holistik sehingga dapat dilakukan tatalaksana komprehensif kepada pasien. Telah dilakukan pemeriksaan terhadap seorang anak perempuan LNQ berusia 2 tahun 6 bulan dengan keluhan berat badan tidak naik sejak 6 bulan terakhir, serta BAB cair 4-5 kali setiap harinya sejak 1 tahun yang lalu terutama setelah makan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan BB/U, TB/U, BB/TB, LK/U dan LiLA/U berada dibawah -3SD. Dari pemeriksaan sistem didapatkan kepala microcephaly, dan rambut tipis. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 9,2 g/dl, pemeriksaan feses dan urinalisis ditemukan bakteri positif. Pada pasien ini faktor-faktor terjadinya stunting yaitu akses pangan bergizi, lingkungan sosial dan pengasuhan, kesehatan lingkungan dan sanitasi, serta akses pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan, masih belum baik. Diberikan antibiotik Cotrimoxazole, Multivitamin sirup, dan suplementasi Zinc, kemudian pasien dirujuk dan diusulkan untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti USG Abdomen, Serum iron, Ferritin, TIBC, Enzim Pencernaan, dan Endoskopi/Biopsi. Pada kunjungan ke rumah keluarga pasien yang dilakukan oleh Tim Dokter Muda Universitas Tarumanagara, diberikan bantuan makanan tambahan TKTP berupa telur, margarin, biskuit kacang, dan biskuit susu, serta makanan tambahan yang mengandung probiotik berupa yogurt dan tape. Setelah dilakukan intervensi, terdapat penambahan berat badan pada pasien dan konsistensi BAB membaik.
DETEKSI DINI GANGGUAN METABOLISME GLUKOSA Tirtasari, Silviana; Nugroho, Dodo; Tjunaity, Stefany
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i1.29187

Abstract

Diabetes Mellitus is the cause of 1.5 million deaths, and 48% of all diabetes-related deaths occur in individuals under the age of 70. Monitoring blood glucose levels is a crucial part of preventive measures against diabetes mellitus. Many people are unaware of their blood sugar levels due to laziness and a belief that it is not important, as diabetes mellitus often shows no symptoms. Partners in this activity rarely undergo blood glucose checks due to their busy schedules and a perception that checking blood sugar levels is unnecessary when no symptoms of diabetes mellitus are present. Blood glucose testing is the initial step in early detection of diabetes mellitus and raising awareness about the importance of regulating blood sugar levels in partners. Based on the issues with the partners, the objective of the health service team from FK UNTAR is to increase awareness of blood glucose testing for early detection of diabetes mellitus. A total of 23 educators underwent testing. The fasting blood glucose results revealed that 17.4% of participants had levels in the range of 100-125 mg/dL, and 4.3% had levels ≥ 126 mg/dL (due to a history of diabetes). This activity was carried out as an early detection effort to prevent the development of diabetes mellitus in the future. Therefore, further activities are needed to assist educators with results falling into the prediabetes category, encouraging preventive measures to avoid the progression to diabetes mellitus, and for those with high results, immediate consultation with a doctor for further management.
EDUKASI PENCEGAHAN PENYAKIT INFEKSI CACING PADA SISWA-SISWI SEKOLAH DASAR Tirtasari, Silviana; Novendy; Nugroho, Dodo; Tjunaity, Stefany
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.31974

Abstract

Worm infections can cause symptoms but are more often asymptomatic in infected individuals. Worm infections are a significant health issue that needs serious attention, especially in tropical areas, because they are not well detected. Primary school children are the largest population affected by worm infections, particularly soil-transmitted helminths (STH). Children aged 6-12 years are in the age group that is most vulnerable and frequently infected by worms. Based on field surveys, partners recommend materials on the prevention of worm infections because this issue has never been addressed at the school in question. Therefore, it is crucial to conduct health service activities related to this issue, with the hope that children will not be infected with worms in the future. The method used in this community service activity is education through direct health education session. The success of the activity is measured by the increase in knowledge by comparing the pre-test and post-test results. This activity was attended by fourth and fifth-grade students. A total of 88 students completed both the pre-test and post-test comprehensively. The average pre-test score before the health education session activity was 48.86 points. The post-test results after the health education session activity showed an average score of 88.26 points, indicating an 80.64% increase in knowledge. From this activity, it can be concluded that there was a significant improvement in the knowledge of fourth and fifth-grade students regarding worm infections. With these results, it is hoped that primary school students will become more aware of worm infections, preventing the occurrence of worm infections in the future. ABSTRAK Penyakit cacing dapat menimbulkan gejala namun lebih sering tanpa gejala pada seseorang yang terinfeksi. Masalah penyakit cacing menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius terutama untuk daerah tropis karena tidak terdeteksi dengan baik. Anak usia sekolah dasar menjadi populasi terbesar dalam infeksi penyakit cacing terutama soil transmitted helminths (STH). Usia 6-12 tahun termasuk pada usia yang rentan dan tersering terinfeksi cacing. Berdasarkan survei lapangan mitra merekomendaikan materi mengenai pencegahan infeksi cacing karena masalah ini belum pernah dilaksanakan di sekolah tersebut. Maka sangat perlu dilakukan kegiatan bakti kesehatan terkait masalah ini, sehingga diharapkan anak-anak tidak terinfeksi dengan penyakit cacing dikemudian hari. Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah edukasi dengan melakukan penyuluhan secara langsung. Keberhasilan kegiatan dinilai dengan ada tidaknya peningkatan pengetahuan dengan membandingkan hasil pretes dengan postes. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 4 dan 5. Total sebanyak 88 oarang siswa-siswa yang mengisi pretes dan postes secara lengkap. Rerata nilai pretes dari sebelum kegiatan penyuluhan adalah 48,86 poin. Hasil postes setelah dilakukan penyuluhan adalah 88,26 poin, sehingga terdapat peningkatan pengetahuan sebesar 80,64%. Melalui kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan yang sangat baik pada siswa-siswi kelas 4 dan 5 mengenai penyakit infeksi cacing, Dengan hasil tersebut diharapkan siswa-siswi sekolah dasar dapat semakin mengenali mengenai penyakit infeksi cacing sehingga jangan sampai timbul penyakit cacing dikemudian hari.
EDUKASI DAN PRAKTIK CUCI TANGAN SEBAGAI LANGKAH PENCEGAHAN PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK USIA DINI Tirtasari, Silviana; Novendy; Tania Yumna Dzahabiyyah; Kintan Permata Hidayat
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i2.34934

Abstract

Health education on personal hygiene, particularly handwashing, is essential to be introduced from an early age, including at the kindergarten level. According to a 2019 report by UNICEF and WHO, nearly half of the schools worldwide still lack access to basic handwashing facilities with soap and water. Furthermore, the 2023 Indonesian Health Survey revealed that the proportion of proper handwashing behaviour among individuals aged ≥10 years remains relatively low, at only 51.1%. Initial observations from partner institutions showed that there was no specific program in place to teach the importance of routine handwashing with proper technique. Although handwashing facilities were available, their usage was not yet optimal. In response to this issue, the Faculty of Medicine, Universitas Tarumanagara health service team, conducted a health outreach activity focused on handwashing education and practice for children. The aim of this program was to build healthy habits from an early age, which in the long run can help prevent the spread of diseases and improve overall health quality. The activities included watching an animated video, singing, and playing a game to stick handwashing steps in order. A total of 44 children participated in the event. The children were highly enthusiastic while watching the video, singing, demonstrating the handwashing steps, and engaging in the game. The activity was carried out effectively and joyfully. By integrating animated videos, songs, and games, the children showed improved understanding and skills in maintaining hand hygiene, which is expected to support their overall health and well-being. ABSTRAK Pendidikan kesehatan tentang kebersihan diri, terutama cuci tangan, sangat penting diajarkan sejak usia dini, termasuk di Taman Kanak-Kanak. Laporan UNICEF dan WHO tahun 2019 mendapatkan bahwa hampir setengah sekolah di dunia masih kurang penyediaan fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun. Selain itu hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mendapatkan proporsi perilaku benar dalam cuci tangan pada penduduk usia ≥ 10 tahun masih tergolong rendah, yaitu hanya sebesar 51,1%. Hasil observasi awal dari mitra, ditemukan bahwa belum terdapat program khusus yang mengajarkan pentingnya cuci tangan secara rutin dengan teknik yang benar. Meskipun terdapat fasilitas cuci tangan, namun penggunaannya masih belum optimal. Berdasarkan permasalahan tersebut, Tim bakti kesehatan FK Untar melakukan kegiatan bakti kesehatan berupa edukasi dan praktik cuci tangan kepada anak-anak. Program ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan sehat sejak usia dini, yang berdampak jangka panjang dalam mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan kualitas kesehatan. Kegiatan dalam bakti kesehatan ini meliputi menonton video animasi, menyanyikan lagu cuci tangan serta permainan menempel langkah cuci tangan. Total sebanyak 44 orang anak mengikuti kegiatan ini. Anak-anak sangat antusias menonton video, ikut bernyanyi dan memperagakan langkah cuci tangan serta mengikuti permainan dengan baik. Kegiatan yang dilaksanakan telah berjalan dengan efektif dan menyenangkan. Dengan menggabungkan media video animasi, bernyanyi, serta bermain, anak-anak menunjukkan peningkatan dalam pemahaman dan keterampilan dalam menjaga kebersihan tangan. Sehingga diharapkan anak-anak selalu sehat dan terhindar dari penyakit.
Cegah Anemia pada Remaja Melalui Edukasi Tirtasari, Silviana; Alicia Sarijuwita; Muhammad Kharis Mahdaviqia
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i1.658

Abstract

Anemia merupakan kondisi klinis akibat rendahnya kadar hemoglobin yang berdampak pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh. Remaja, khususnya remaja putri, termasuk kelompok rentan anemia akibat kebutuhan gizi yang meningkat dan kehilangan darah saat menstruasi. Di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja masih tergolong tinggi dan sering tidak terdeteksi karena gejalanya ringan dan bersifat subklinis. Oleh karena itu, edukasi dan deteksi dini di lingkungan sekolah menjadi langkah strategis dalam upaya pencegahan anemia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan deteksi dini anemia pada remaja SMP melalui edukasi kesehatan berbasis media audiovisual. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2025 pukul 09.00–10.00 WIB dengan sasaran siswa kelas VII–IX di salah satu SMP di Tangerang. Sebanyak 167 siswa mengikuti kegiatan, namun hanya 111 peserta yang mengisi pretes dan postes secara lengkap dan dianalisis lebih lanjut. Peserta terdiri dari 65 siswa laki-laki (58,6%) dan 46 siswa perempuan (41,4%) dengan rata-rata usia 12,81 tahun (rentang 11–14 tahun). Metode kegiatan meliputi pretes, penyuluhan menggunakan video edukasi YouTube mengenai definisi, gejala, penyebab, diagnosis, dan penatalaksanaan anemia, diskusi singkat, serta postes. Instrumen pretes dan postes terdiri dari 6 soal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan peserta dari 92,19 pada pretes menjadi 95,20 pada postes. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi anemia menggunakan media video efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja, meskipun tingkat pengetahuan awal sudah tergolong baik. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi dasar penguatan program edukasi dan skrining anemia berbasis sekolah untuk mencegah dampak jangka panjang anemia pada remaja
Intervensi Diagnosis Komunitas dalam Upaya Menurunkan Kasus Baru Stunting di Desa Legok, Kabupaten Tangerang Kamila, Nadhira Rachma; Pratiwi, Wynne; Wijaya, Tomi; P, Emia Debora; Tirtasari, Silviana
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24422

Abstract

ABSTRACT Stunting is a condition in which a child's height is below the standard for their age due to chronic nutritional deficiencies. In Indonesia, stunting remains a major health problem, with a prevalence of 21.5% in 2023, which is still far from the national target of 14% in 2024. In May 2025, the Legok Community Health Center recorded 60 new cases of stunting, with the highest number of new cases in Legok Village, highlighting the need for community diagnosis to understand the underlying causes and design more appropriate preventive measures. This program involves mothers of children under five through continuous improvement of their knowledge and skills in stunting prevention. The diagnosis process begins with the identification of various health problems, followed by prioritization using the USG (Urgency, Seriousness, Growth) method to determine the main problems that need to be addressed immediately To determine the contributing factors using the Blum Paradigm, prioritization using the non-scoring Delphi method, and searching for the root causes using Fishbone diagrams and 5 WHY analysis. Interventions were monitored using the PDCA (Plan-Do-Check-Act) cycle and evaluated using a systems approach. Interventions took the form of education about stunting, as demonstrated by 80% of participants obtaining a post-test score 80. These results show the importance of health promotion efforts in preventing stunting. Keywords:Community Diagnosis, Health Education, Health Promotion, Stunting.  ABSTRAK Stunting adalah kondisi ketika tinggi badan anak dibawah standar sesuai usianya akibat kekurangan gizi kronik. Di Indonesia stunting masih menjadi masalah kesehatan utama, prevalensi stunting pada tahun 2023 mencapai 21,5% yang masih jauh dari target nasional yaitu 14% pada tahun 2024. Pada Mei 2025, Puskesmas Legok mencatat 60 kasus baru stunting, dengan kasus baru tertinggi di Desa Legok, sehingga perlunya diagnosis komunitas untuk memahami penyebab dasar dan merancang langkah pencegahan yang lebih tepat.  Program ini melibatkan para ibu balita melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam pencegahan stunting secara berkesinambungan. Proses diagnosis dimulai dengan identifikasi berbagai masalah kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan penentuan prioritas menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, Growth) untuk menentukan masalah utama yang perlu segera ditangani. Identifikasi masalah penyebab dengan Paradigma Blum, penentuan prioritas dengan metode Delphi non-scoring, dan mencari akar masalah penyebab  dengan diagram Fishbone dan analisis 5 WHY. Intervensi dimonitor menggunakan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan dievaluasi dengan pendekatan sistem. Intervensi berupa edukasi mengenai stunting, ditunjukkan dengan  80% peserta memperoleh nilai post-test 80. Hasil ini menunjukkan bahwa pentingnya upaya promotif kesehatan dalam pencegahan stunting.  Kata Kunci: Diagnosis komunitas, Edukasi Kesehatan, Upaya promotif, Stunting.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA SISWA/I SMP MUTIARA BANGSA KECAMATAN RAJABASA BANDAR LAMPUNG  Irene, Salsabilla Kalila; Tirtasari, Silviana
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/f009wc80

Abstract

Menurut World Health Organization (WHO), praktik mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko terkena diare hingga 47%.Namun,berdasarkan hasil survei Environmental Services Program (ESP), hanya 6–12% masyarakat Indonesia yang melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS) secara benar. Di wilayah Provinsi Lampung, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kebiasaan CTPS yang tepat mencapai 54,30% di Lampung Tengah dan 38,90% di Lampung Utara. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Mutiara Bangsa, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, dimana tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik siswa terkait CTPS masih tergolong rendah. Hal ini diduga akibat belum optimalnya pelaksanaan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), sehingga pendidikan kesehatan belum sepenuhnya efektif dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat di kalangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa SMP di Bandar Lampung terkait cuci tangan menggunakan sabun, dengan menggunakan pendekatan deskriptif melalui desain penelitian potong lintang yang dilaksanakan di SMP Mutiara Bangsa, Kecamatan Rajabasa. Sebagian besar siswa SMP Mutiara Bangsa di Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung (58,2%) memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai praktik CTPS. Selain itu, 37,3% siswa menunjukkan perilaku CTPS yang kurang baik, dan sebanyak 51,6% memiliki sikap negatif terhadap kebiasaan cuci tangan dengan sabun. Mayoritas siswa SMP Mutiara Bangsa Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung telah menerapkan perilaku mencuci tangan yang sesuai selama proses pembelajaran tatap muka, terutama berkaitan dengan waktu dan langkah mencuci tangan yang benar.
THE EFFECT OF FASTING BLOOD GLUCOSE LEVELS ON LIPID PROFILES Novendy, Novendy; Tirtasari, Silviana
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ch2w4j42

Abstract

Metabolic diseases have become a common health problem faced by many people in Indonesia. Two important indicators for monitoring the onset of metabolic diseases are blood glucose and blood lipids. Blood glucose has a strong physiological relationship with lipid metabolism, including triglycerides, total cholesterol, LDL, and HDL. Excess blood glucose that is not utilized by the cells is converted into fatty acids through the process of lipogenesis in the liver, which are then stored as triglycerides, leading to elevated blood lipid levels that may contribute to the development of metabolic diseases. One private clinical laboratory in Tangerang City has received numerous test requests related to blood glucose and blood lipids. However, no analysis has been conducted to date, highlighting the need for a research study. This study employed a cross-sectional design and analyzed a total of 322 samples that met the inclusion criteria. The results showed a significant association between fasting blood glucose levels and triglyceride levels (p-value = 0.0001, PRR = 2.93), as well as HDL levels (p-value = 0.01, PRR = 1.469). However, no significant relationship was found between fasting blood glucose and total cholesterol (p-value = 0.209, PRR = 1.710) or LDL levels (p-value = 0.977, PRR = 0.993). These findings emphasize the importance of controlling blood glucose levels to prevent lipid metabolism disorders, even though not all lipid profile components showed a similar association.