Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Ibu atau Wali Terkait Pencegahan Diare dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan Rahmah, Nurul; Azmi, Fahriana; Hidayati, Diani Sri; Prajitno, Sugianto Sri
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 19 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14435067

Abstract

Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Terkait Pencegahan Diare dengan Kejadian Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan. Diare merupakan keadaan seseorang mengalami buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, yang diiringi dengan buang air besar lebih dari tiga kali dalam satu hari. Pengetahuan ibu tentang diare merupakan faktor predisposisi yang memengaruhi sikap dan sikap ibu untuk melaksanakan pencegahan atau antisipasi dengan ASI eksklusif, cuci tangan dan lain-lain. Tujuan untuk memahami tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu atau wali terkait pencegahan diare dengan kejadian diare yang dialami balita di wilayah kerja Puskesmas Pagesangan. Jenis penelitian kuantitatif analitik observasional menggunakan metode studi cross sectional. Data diambil dengan cara simple random sampling. Data menggunakan total sampel 135 orang yang masuk kualifikasi inklusi dan eksklusi. Analisis bivariat menunjukkan adanya korelasi antara pengetahuan ibu atau wali terkait pencegahan diare dengan masalah diare yang dialami balita (p=0,00), sikap ibu atau wali terkait pencegahan diare dengan masalah diare yang dialami balita (p=0,00), dan perilaku ibu atau wali terkait pencegahan diare dengan masalah diare dialami balita (p=0,034). Berdasakan keluaran tersebut terdapat hubungan antara tingkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu atau wali terkait pencegahan diare dengan kejadian diare yang dialami oleh balita di wilayah kerja Puskesmas Pagesangan.
Hubungan Tingkat Pengetahuan, Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan Terhadap Kejadian Skabies Pada Santri SMP IT Putra di Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram Akbarsyah, Muhammad Diandra; Mariam, Lysa; Azmi, Fahriana; Mahdaniyati, Aulia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i7.18875

Abstract

ABSTRACT Scabies disease can affect comfort in carrying out daily activities because sufferers who are affected by scabies will always complain or feel itchy. Itching experienced by patients can occur in the spaces between the fingers, under the armpits, waist, genitals, around the elbows, areola (area around the nipples) and the front surface of the wrist. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of knowledge, environmental sanitation, personal hygiene with the incidence of scabies in students of SMP IT Putra at the Abu Hurairah Islamic Boarding School, Mataram. This study is a quantitative study, the type of research that will be used is an analytical observational method with a cross-sectional research design. Based on the results of the analysis using Chi-square, a P-value of 0.000 (P-value 0.05) was obtained between the level of knowledge, a P-value of 0.011 personal hygiene was obtained, and a P-value of 0.126 was obtained between environmental sanitation and the incidence of scabies in students of SMP IT Putra, Abu Hurairah Islamic Boarding School, Mataram. There is a significant relationship between the level of knowledge and personal hygiene with the incidence of scabies and there is no relationship between environmental sanitation with the incidence of scabies in students of SMP IT Putra Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram. Keywords: Level of Knowledge, Personal Hygiene Environmental Sanitation, Scabies Incidence  ABSTRAK Penyakit skabies dapat mempengaruhi kenyamanan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dikarenakan penderita yang terkena skabies ini akan selalu mengeluh atau merasakan gatal. Gatal yang dialami pasien dapat terjadi pada bagian sela-sela jari tangan, di bawah ketiak, pinggang, alat kelamin, sekeliling siku, areola (area sekeliling puting susu) dan permukaan depan pergelangan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan Tingkat pengetehuan, Sanitasi lingkungan, Personal hygiene dengan kejadian skabies pada santri SMP Putra di Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, jenis penelitian yang akan digunakan yaitu metode observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Chi-square, didapatkan nilai P-value 0,000 (P-value  0,05) antara tingkat pengetahuan, didapatkan nilai P-value 0,011 personal hygiene, dan didapatkan nilai P-value 0,126 antara sanitasi lingkungan dengan dengan kejadian skabie pada Santri SMP IT Putra Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan personal hygiene dengan kejadian skabies serta tidak ada hubungan antara sanitasi lingkungan dengan dengan kejadian skabie pada Santri SMP IT Putra Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram. Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan, Personal Hygiene Sanitasi Lingkungan, Kejadian Skabies
HUBUNGAN STATUS GIZI, TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA ATAU WALI DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA MATARAM Siti Safira Khairunnisa; Fahriana Azmi; I Gede Angga Adnyana; Ayu Anulus
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 3 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/ydbckb38

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok umur, terutama anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lebih lemah sehingga lebih rentan terinfeksi. Risiko terjadinya DBD dipengaruhi interaksi antara vektor, inang, dan kondisi lingkungan; status imun yang terkait dengan status gizi memegang peran penting. Sanitasi lingkungan yang buruk serta rendahnya pengetahuan orang tua turut meningkatkan risiko penularan. Kota Mataram, dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi, mencatat angka kesakitan DBD yang cukup besar. Penelitian ini, bersifat kasus-kontrol dan dilaksanakan pada Juli–Agustus 2024 di RSUD Kota Mataram, melibatkan 90 anak yang dibandingkan antara kelompok kasus (menderita DBD) dan kontrol (sehat). Data dikumpulkan melalui wawancara, kuesioner, dan rekam medis; variabel independennya meliputi status gizi, pengetahuan orang tua, dan sanitasi lingkungan, sementara variabel dependen adalah kejadian DBD. Analisis dengan uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status gizi (p ≤ 0,001) dan sanitasi lingkungan (p ≤ 0,000) dengan kejadian DBD, sedangkan tingkat pengetahuan orang tua tidak berkaitan secara statistik dengan kejadian DBD (p = 0,205). Dengan demikian, status gizi dan kondisi sanitasi lingkungan berhubungan dengan kejadian DBD pada anak di RSUD Kota Mataram, sedangkan pengetahuan orang tua tidak terbukti berpengaruh.
The Relationship Between Academic Stress, Irritating Food and Beverage Consumption and Dietary Regularity to Incidence of Functional Dyspepsia Putra, Andry Cahaya; Utama, Lalu Buly Fatrahady; Azmi, Fahriana; Santosa, I Ketut Arya
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 1 (2025): Januari - Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i1.8425

Abstract

Anyone can have dyspepsia, a complaint that is frequently seen in clinical practice. Organic and functional dyspepsia are the two categories of dyspepsia cases. Functional dyspepsia accounts for the majority of dyspepsia cases. This study was conducted to determine the relationship between academic Stress, consumption of irritating food and beverages, and regularity of eating patterns on the occurrence of functional dyspepsia in first-year students of the Faculty of Teacher Education at Muhammadiyah University of Mataram. The research used an observational analytical quantitative method using a cross-sectional research design. Data collection was accomplished using simple random sampling using a questionnaire. 72 samples in total, based on inclusion and exclusion criteria, were used in this investigation. The data was gathered on September 2024. The chi-square test was used to examine data statistics. The findings demonstrated a substantial correlation (p-value = 0.001) between the incidence of functional dyspepsia and academic stress. A substantial correlation (p-value = 0.001) was found between the incidence of functional dyspepsia and the consumption of irritating foods and beverages. With a p-value of 0.001, there was a significant correlation between the frequency of functional dyspepsia and the regularity of eating behaviors. Conclusion: In first-year students at Muhammadiyah University of Mataram's Primary School Teacher Education Faculty, functional dyspepsia is associated with academic stress, the consumption of irritant foods and drinks, and regular eating habits.
Hubungan dan Prevalensi Tingkat Depresi, Tingkat Kecemasan, dan Tingkat Stres dengan Irritable Bowel Syndrome Pada Siswa/I SMAN 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur Hamdi, Zainul; Prajitno, Sugianto; Azmi, Fahriana; Suanjaya, Made Agus
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i5.14301

Abstract

ABSTRACT Irritable bowel syndrome (IBS) is a chronic and recurrent functional intestinal disorder, in the form of abdominal pain or discomfort and defecation pattern disorders that occur 1 time per week for at least 3 months, without any underlying structural abnormalities. Irritable bowel syndrome is a multifactoral disease that has several pathogenesis. Psychological factors such as stress, anxiety and depression can strongly affect the work of the colon. The colon has many neurons associated with the cerebrum. Part of the colon is controlled by the CNS, which responds to stress. This study aims to determine the prevalence of stress, anxiety, depression and the incidence of irritable bowel syndrome, as well as determine the relationship between stress, anxiety, depression and the incidence of irritable bowel syndrome in students of SMA N 1 Lenek East Lombok Regency. Analytical quantitative research with cross sectional research design. The sampling technique uses stratified random sampling. The research was conducted at SMA N 1 Lenek, East Lombok Regency. The study sample was 96 people. The data obtained were analyzed by the Chi-Square correlation test. The prevalence of irritable bowel syndrome in respondents was 40 people (41.7%), the prevalence of normal stress levels in respondents amounted to 36 people (37.5%), the prevalence of normal anxiety levels in respondents amounted to 17 people (17.7%), the prevalence of normal depression levels in respondents amounted to 45 people (46.9%). There is a significant relationship between stress and the incidence of irritable bowel syndrome. The p-value is 0.005 (p-value < 0.05). There was no significant association between anxiety and the incidence of irritable bowel syndrome. The p-value is 0.153 (p-value > 0.05). There is a significant relationship between depression and the incidence of irritable bowel syndrome. The p-value is 0.014 (p-value < 0.05). Conclusion: There is a relationship between stress and depression with the incidence of irritable bowel syndrome, but there is no relationship between anxiety and the incidence of irritable bowel syndrome in students of SMA N 1 Lenek East Lombok Regency. Keywords: Irritable Bowel Syndrome, Stress, Anxiety, DepressionABSTRAK Irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan intestinal fungsional kronis dan berulang, berupa nyeri atau rasa tidak nyaman pada abdomen serta gangguan pola defekasi yang terjadi 1 kali per minggu setidaknya 3 bulan, tanpa adanya kelainan struktural yang mendasarinya. Irritable bowel syndrome merupakan penyakit multifaktoral yang memiliki beberapa patogenesis. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan dan depresi dapat secara kuat memengaruhi kerja kolon. Kolon memiliki banyak neuron yang berhubungan dengan cerebrum. Sebagian kolon dikontrol oleh SSP, yang berespon terhadap stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi stres, kecemasan, depresi dan kejadian irritable bowel syndrome, serta mengetahui hubungan stres, kecemasan, depresi dan kejadian irritable bowel syndrome pada siswa/i SMA N 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Penelitian dilakukan di SMA N 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur. Sampel penelitian sebanyak 96 orang. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji korelasi Chi-Square. Prevalensi irritable bowel syndrome pada responden 40 orang (41,7%), prevalensi tingkat stres normal pada responden berjumlah 36 orang (37,5%), prevalensi tingkat kecemasan normal pada responden berjumlah 17 orang (17,7%), prevalensi tingkat depresi normal pada responden berjumlah 45 orang (46,9%). Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kejadian irritable bowel syndrome. Nilai p-value 0,005 (p-value < 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan kejadian irritable bowel syndrome. Nilai p-value 0,153 (p-value > 0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara depresi dengan kejadian irritable bowel syndrome. Nilai p-value 0,014 (p-value < 0,05). Terdapat hubungan antara stres dan depresi dengan kejadian irritable bowel syndrome, Namun tidak terdapat hubungan kecemasan dengan kejadian irritable bowel syndrome pada siswa/i SMA N 1 Lenek Kabupaten Lombok Timur. Kata Kunci: Irritable Bowel Syndrome, Stres, Kecemasan, Depresi
THE RELATIONSHIP BETWEEN OCCUPATION, PREVENTIVE BEHAVIORS, AND ENVIRONMENTAL CONDITIONS ON THE INCIDENCE OF MALARIA IN MEKAR SARI VILLAGE Sofiyana, Ririn Hariani; Azmi, Fahriana; Utary, Dewi; Indriyani, Ni Putu Dewi
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 27 No. 2 (2025): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbp.v27i2.2025.150-159

Abstract

Malaria is a disease that often causes health problems globally, including in Indonesia. The increasing prevalence of malaria cases can have a broad impact on the quality of life and economy and even threaten the safety of human life. This study aims to determine the relationship between occupation, preventive behavior and environmental conditions around the house to the incidence of malaria in Mekar Sari Village, West Lombok. This study used analytic observation method with cross-sectional design. The population of this study were all Mekar Sari Village residents who indicated malaria. The sampling technique used was purposive sampling using certain considerations. The data obtained were analyzed univariately and bivariately with Chi Square. The results of this study showed that most respondents had gardening jobs, a total of 26 people or (29.5%), adequate prevention behavior, a total of 39 people or 44.3%, unfavorable environmental conditions, a total of 60 people or 68.2%, and most respondents had malaria, a total of 46 people or 52.3%. There is a relationship between occupation (p-value 0.039), preventive behavior (p-value <0.001) and environmental conditions around the house on the incidence of malaria (p-value 0.019). There is a significant relationship between occupation, preventive behavior and environmental conditions on the incidence of malaria in Mekar Sari Village, West Lombok. Keywords: Occupation, Preventive Behavior, Environmental Conditions, Malaria Incidence
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Status Ekonomi, dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Dzikra, Girang; Angga Adnyana, I Gede; Maya Samodra, Velia; Azmi, Fahriana
Midwifery Student Journal (MS Jou) Vol. 4 No. 1 (2025): Midwifery Student Journal (MS Jou)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/msjou.v4i1.68

Abstract

Latar Belakang : Anak-anak sangatlah rentan untuk terkena penyakit, hal ini dikarenakan imunitas pada anak masih bersifat imatur dan akan terus berkembang seiring pertambahan usia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diare merupakan penyakit kedua tertinggi penyebab kematian pada anak usia dibawah 5 tahun dengan kasus kematian mencapai 370.000 anak pada tahun 2019. Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat Pendidikan orang tua, status ekonomi, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Metode : Penelitian ini dilakukan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Data penelitian kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil : Data penelitian didapatkan bahwa sebanyak 24 (30%) responden tidak mengalami kejadian diare, sedangkan sebanyak 56 (70%) responden  mengalami kejadian diare. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua (p-value = 1,195), status ekonomi (p-value = 0,256), penyediaan air bersih (p-value = 0,254), jamban keluarga (p-value = 0,147), dan pengelolaan limbah cair (p-value = 0,336) terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orang tua, status ekonomi, penyediaan air bersih, jamban keluarga, dan pengelolaan limbah cair terhadap kejadian diare pada balita usia 0-60 bulan di wilayah Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan hasil penelitian ini, khususnya untuk Pemerintah dan instansi Kesehatan harus berfokus terkait penanganan dan pencegahan pengendalian faktor risiko kejadian diare. Abstract Background: Children are highly vulnerable to diseases due to their immature immune systems, which continue to develop as they age. According to data from the World Health Organization (WHO), diarrhea is the second highest cause of death among children under 5 years old, with 370,000 deaths recorded in 2019. Objective: To determine the relationship between parental education level, economic status, and environmental sanitation with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Method: This research was conducted in the Gunungsari district of West Lombok Regency on November 11-12, 2023, using purposive sampling technique. The data were analyzed using univariate and bivariate analyses. Results: The research data revealed that 24 (30%) respondents did not experience diarrhea, while 56 (70%) respondents experienced diarrhea. Bivariate analysis showed no significant relationship between parental education level (p-value = 1.195), economic status (p-value = 0.256), provision of clean water (p-value = 0.254), family toilets (p-value = 0.147), and liquid waste management (p-value = 0.336) with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Conclusion: There is no significant relationship between parental education level, economic status, provision of clean water, family toilets, and liquid waste management with the occurrence of diarrhea in children aged 0-60 months in the Gunungsari district of West Lombok Regency. Based on these research findings, particularly for the government and health institutions, the focus should be on handling and preventing the control of diarrhea risk factors.
The Relationship Between Personal Hygiene, Knowledge Level, and Occupancy Density with the Incidence of Pediculosis Capitis in Children Abhari, Ghefira Nurringganis; Azmi, Fahriana; Muhajir, Alfian; Mulianingsih, Wiwin
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11465

Abstract

Pediculus humanus capitis lives by drawing blood from the scalp of individuals, leading to discomfort and itching. Inadequate personal cleanliness, notably among learners in Islamic boarding institutions, such as infrequently washing their hair or neglecting general hygiene, may heighten the chances of encountering this issue. This research seeks to explore the connection between personal cleanliness, awareness levels, and room occupancy density with the occurrence of Pediculosis Capitis in junior high students at the Darul Mubarok NW Yasnuhu Pringgabaya Islamic Boarding School. The research utilizes a quantitative strategy employing an analytical observational method along with a cross-sectional study framework. Furthermore, the sampling technique includes a total of 79 children, following specified inclusion and exclusion criteria. The data were evaluated both univariately and bivariately through the Chi-Square test. Findings from the study indicated that the majority of participants were male, mainly in the 7th grade, and most were in their early teenage years. The number of children with pediculosis capitis was higher (62.0%), respondents with poor personal hygiene were higher (54.4%), most respondents still had poor knowledge, and the majority of students lived in crowded rooms (93.7%). The results of the chi-square test revealed a p-value of 0.001 (p < 0.05), suggesting there is an important connection between personal cleanliness and the occurrence of pediculosis capitis. The final statement is that personal cleanliness and awareness levels are strongly linked to the occurrence of pediculosis capitis, while there is no connection between crowding in rooms and the occurrence of pediculosis capitis.
Pemberdayaan ibu melalui cooking class MPASI untuk mencegah stunting Aena Mardiah; Sabrina Intan Zoraya; Fahriana Azmi
PROMOTIF: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): PROMOTIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um075v5i22025p177-188

Abstract

Prevalensi stunting di Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2021 meningkat di tahun 2022. Salah satu kabupaten di NTB dengan angka kejadian Stunting tinggi adalah Lombok Barat. Hasil Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) tahun 2022 di Desa Gelangsar menunjukkan salah satu prioritas masalah yaitu asupan nutrisi anak di bawah 2 tahun. Salah satu upaya menurunkan angka Stunting adalah dengan memberikan pemahaman kepada ibu melalui Cooking Class MP-ASI yang dikemas dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian ini bertujuan untuk dilakukan untuk memberikan wawasan mengenai bahan MP-ASI serta alternatif pengolahan bahan pangan lokal agar makanan yang diberikan kepada anak beragam, bervariasi dan bergizi. Kegiatan ini melibatkan 21 ibu yang memiliki balita di Dusun Songoran dan dilaksanakan dari bulan Juni 2023 hingga Maret 2024. Bulan Juli 2023 hingga Maret 2024 merupakan tahap pelatihan, tahap pendampingan dan tahap evaluasi. Kegiatan cooking class MP-ASI di Dusun Songoran telah berhasil mencapai tujuan memberdayakan ibu-ibu peserta untuk dapat membuat MP-ASI yang memakai bahan pangan lokal. Hal ini ditunjukkan dari terpenuhinya target kegiatan. Ibu-ibu peserta memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang Stunting, kebutuhan gizi anak berdasarkan usia, jumlah, dan variasinya, MP-ASI, serta cara pembuatan berbagai variasi menu MP-ASI dari bahan pangan lokal. Ibu-ibu peserta juga mampu mengolah bahan pangan lokal menjadi MP-ASI.