Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Ketimpangan Gender Dalam Pola Asuh Anak Perempuan dan Laki-Laki Pada Masyarakat Suku Jawa Dikota Binjai Kel. Timbang Langkat Monika, Dea; Dora, Nuriza
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 1 (2025): Februari-Mei 2025
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i1.692

Abstract

Penelitian ini membahas ketimpangan gender dalam pola asuh anak perempuan dan laki-laki di masyarakat Suku Jawa di Kota Binjai. Ketimpangan ini tercermin dalam perbedaan perlakuan, harapan, dan pendidikan yang diterima oleh kedua gender. Melalui pendekatan kualitatif, data diperoleh dari wawancara mendalam dengan orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh anak laki-laki lebih diarahkan pada pengembangan karakter kepemimpinan dan kemandirian, sementara anak perempuan lebih sering ditempatkan dalam peran domestik dan tanggung jawab rumah tangga. Budaya patriarki, norma sosial, serta ekspektasi tradisional menjadi faktor utama yang mendasari ketimpangan ini. Meskipun ada upaya untuk menerapkan kesetaraan gender melalui program pendidikan dan pemberdayaan, perubahan masih terhambat oleh kekuatan budaya yang mendalam. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan kesadaran dan pendidikan tentang kesetaraan gender untuk mengatasi ketimpangan dalam pola asuh dan mendukung perkembangan optimal bagi semua anak, tanpa memandang gender.
Strategi Guru IPS Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas IPS di SMA Swasta Darusssalam Medan Sari, Widya; Ritonga, Sakti; Dora, Nuriza
Edukatif Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65311/je.v2i2.997

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui strategi guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IPS di SMA Swasta Darussalam Medan. 2) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IPS di SMA Swasta Darussalam Medan. Metodologi penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Dalam penelitian ini para peneliti mengumpulkan data deskriptif yang diperoleh dari pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Siswa kelas 11 IPS setelah penetapan jurusan IPS terutama yang tidak memilih jurusan IPS, Guru-guru IPS yang mengajar dikelas IPS dan Wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan. Hasil penelitian strategi guru dalam meningkatkan motivasi belajar dilakukan dengan cara merubah pandangan siswa bahwa belajar IPS menarik dan menyenangkan, mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi, memperhatikan kondisi mental siswa, melibatkan siswa secara aktif, desain kelas yang dinamis, mendalami latar belakang siswa dan persoalan hidupnya, memberikan apresiasi/hadiah. Faktor pendukung dalam meningkatkan motivasi belajar siswa ada 2 yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari diri siswa itu sendiri dan faktor eksternal berasal dari orangtua, guru, teman sekelas dan lingkungan. Faktor penghambat dalam meningkatkan motivasi belajar siswa karena adanya rasa malas didalam diri yang siswa tidak ingin ubah, guru sebagai motivator tidak bisa melihat kondisi dan keadaan kelas, kurangnya pemahaman guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang menarik untuk siswa.  
Penguatan Konsep Gender Melalui Penelitian Pembagian Pekerjaan dalam Masyarakat Nelayan (Untuk Pengembangan Program Studi PIPS) Dora, Nuriza; Rizky Wandini, Rora; Nur Kamalia, Lailatun
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 1 (2025): Vol. 5 No. 1 Januari - Juni 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v5i1.693

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana peran perempuan atau istri nelayan di Desa Percut yang memutuskan untuk bekerja sebagai pencari kerang sebagai strategi untuk memenuhi kebutuhan keuangan rumah tangga. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif untuk menjelaskan permasalahan keuangan yang dihadapi oleh perempuan di Desa Percut dan bagaimana mereka mengatasi masalah kehidupan mereka. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, observasi partisipatif, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan pendapatan nelayan menyebabkan tekanan emosional dan psikologis bagi istri nelayan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga mereka mencari pekerjaan alternatif sebagai pencari kerang tanpa mengabaikan posisi perempuan yang memiliki tugas utama mengurus rumah tangga. Terdapat beberapa hambatan dan tantangan yang dihadapi, terutama dalam hal pengasuhan anak, namun mereka harus menemukan strategi untuk mengatasinya.
Model Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru di SMP Swasta Namira Medan di Tinjau Dari Perspektif Sosiologi Pendidikan Syuad Siregar, Azri; Dora, Nuriza; Nasution, Toni
Imamah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65311/jmpi.v3i1.1527

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di SMP Swasta Namira Medan dari perspektif sosiologi pendidikan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor penting dalam pengembangan kualitas pendidikan, khususnya dalam mempengaruhi kinerja guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah di SMP Swasta Namira Medan bersifat model demoktratis. Kepala sekolah mendorong kolaborasi antar guru, memberikan dukungan moral dan profesional, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Dari perspektif sosiologi pendidikan, kepemimpinan ini berhasil meningkatkan kinerja guru melalui penguatan interaksi sosial yang positif, peningkatan motivasi, dan pengembangan profesional berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model kepemimpinan kepala sekolah yang efektif tidak hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga pada upaya memperkuat hubungan sosial dan meningkatkan kesejahteraan psikologis guru, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kinerja guru dan kualitas pendidikan di sekolah.
TRADISI MANGALAP BORU Dora, Nuriza; Wahyuni, Putri; Harahap, Rizqy Amallia; Khairani, Salva
PENDIS (Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial) Vol. 4 No. 1 (2025): April
Publisher : Yayasan Insan Cipta Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61721/pendis.v4i1.508

Abstract

Tradisi Mangalap Boru merupakan salah satu aspek budaya yang hidup dalam masyarakat Batak, khususnya dalam upacara adat perkawinan. Tradisi ini melibatkan pemberian gelar "boru" (putri) kepada perempuan yang telah menikah sebagai simbol penerimaan dan pengakuan dari pihak keluarga suami. Mangalap Boru tidak hanya sekadar prosesi seremonial, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial, kekeluargaan, serta penghormatan terhadap adat istiadat. Artikel ini mengkaji makna dan peran tradisi Mangalap Boru dalam kehidupan sosial masyarakat Batak, serta bagaimana tradisi ini mempertahankan relevansinya di tengah perubahan zaman. Penelitian ini dilakukan melalui studi literatur dan wawancara dengan tokoh adat setempat untuk menggali pemahaman yang lebih dalam mengenai implementasi dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tradisi ini. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Mangalap Boru memiliki fungsi penting dalam mempererat hubungan antar keluarga, sekaligus menjadi sarana untuk menjaga kelestarian budaya Batak. Meskipun menghadapi modernisasi, tradisi ini masih dipraktikkan dengan berbagai penyesuaian, mencerminkan dinamika budaya yang tetap relevan dalam konteks kekinian.
Parasitisme Sosial dan Identitas Kultural Studi Relasi Etnik Melayu dan Batak di Kota Medan Dora, Nuriza; Rahmah, Aulia; Zidane, Ramandha; Noval, Noval
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 2 (2025): June-September 2025
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i2.1401

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang memahami dinamika hubungan sosial antara etnik Melayu sebagai kelompok tuan rumah dan etnik Batak sebagai kelompok pendatang dominan di Kota Medan, Sumatera Utara.Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji bagaimana bentuk-bentuk parasitisme sosial terjadi dan bagaimana identitas kultural dipertahankan, dinegosiasikan, atau bahkan terpinggirkan dalam relasi antaretnik tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari tokoh masyarakat Melayu, tokoh adat Batak, akademisi, serta pelaku ekonomi lokal dari kedua etnik. Analisis data dilakukan secara tematik melalui reduksi, kategorisasi, dan interpretasi makna sosial yang muncul dalam interaksi antaretnik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pola dominasi sosial-ekonomi oleh etnik Batak yang memunculkan persepsi parasitisme sosial dari sudut pandang sebagian masyarakat Melayu. Parasitisme ini tidak selalu bersifat material, tetapi juga simbolik, seperti dalam perebutan ruang budaya, posisi pemerintahan lokal, dan narasi sejarah kota. Di sisi lain, etnik Batak memandang keberadaan mereka sebagai bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan kota dan bukan sebagai bentuk eksploitasi. Ketegangan identitas pun muncul ketika budaya Melayu semakin tergerus dan kehilangan ruang ekspresi di wilayah yang secara historis mereka huni. Meski demikian, terdapat pula ruang dialog dan koeksistensi damai yang dibangun melalui relasi sosial di lingkungan permukiman, pasar, dan institusi pendidikan.
Sultanate of Bilah: Cultural Heritage and Its Impact on Local Identity in Labuhanbatu Safitri, Elen; Dora, Nuriza
Journal of Educational Sciences Vol. 9 No. 4 (2025): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.9.4.p.2582-2593

Abstract

The aim of this research is to determine the impact of the legacy of the Bilah Sultanate on local identity in Labuhanbatu today. The Bilah Sultanate was an Islamic kingdom that was founded in the 17th century and played an important role in the spread of religion, culture and political influence in the region. However, over time, traces of the history and cultural heritage of the Bilah Sultanate have experienced significant fading. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation and in-depth interviews with descendants of the sultanate, traditional leaders and local communities. The research results show that although physical heritage such as mosques and royal artifacts still exist, the preservation of intangible cultural heritage such as the Pilando dance, Malay humming, and culinary specialties such as raja pudding and labar-buas are starting to be forgotten. The lack of documentation, weak involvement of local governments, and lack of understanding by the younger generation have resulted in a disconnection in the collective memory of local identity that is rooted in the Sultanate of Bilah.
Maintaining the Mandailing Mengalap Boru Custom in the Current Era of Modernization in Pematang Simalungun Village, Siantar District, Simalungun Regency Ritonga, Rayhan Aulia Annisa; Dora, Nuriza
Jurnal Sosial, Politik dan Budaya (SOSPOLBUD) Vol. 3 No. 1 (2024): January, 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/sospolbud.v3i1.7562

Abstract

This research examines the tradition of eating boru in the Pematang Simalungun Village, Siantar District, Simalungun Regency. This tradition of menggalap boru is a tradition that has existed for a long time, where this tradition is that the husband is obliged to give a certain amount of money and cloth to his wife's namboru children at the time of walimatul'urs (the wife's departure party for her husband's place) as a request for permission for the wife's namboru children. This tradition of processing boru is a condition for the marriage to be considered valid by Mandailing customs. This research uses a qualitative approach with ethnographic methods. Data collection techniques in this research are observation, interviews and documentation. The aim of this research is to explore and examine the new melap tradition in the Mandailing custom in Pematang Simalungun Village. The results of this research are to find out how Mandailing customs are used in traditional Mandailing wedding ceremonies in Pematang Simalungun Village.
CHALLENGES AND OPPORTUNITIES FOR LEARNING SOCIAL SCIENCES IN THE DIGITAL AGE Audry, Fadilani; Dora, Nuriza
FORUM PAEDAGOGIK Vol 16, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/paedagogik.v16i1.16040

Abstract

This study examines the challenges and opportunities for digital era social studies learning at SMP Negeri 39 Medan. Rapid technological advances open up opportunities and challenges to integrate technology into the learning process as a way to improve the quality of learning. This study aims to determine the challenges and opportunities for digital era social studies learning at SMP Negeri 39 Medan. This study uses a qualitative approach with a descriptive analysis method. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The subjects of the study included the principal, social studies teachers, and students of SMP Negeri 39 Medan. The results of the study showed that there were challenges such as technological gaps, lack of teacher readiness, lack of infrastructure and a less conducive school environment. There are also opportunities such as making it easier for teachers to teach, making it easier to access learning without being hindered by distance or time, students becoming more active and creative, learning becoming more interesting, and opportunities to create digital classes that are planned to be realized in the new school year.
'Manjago Partuturan" Efforts To Preserve Cultural Heritage In Batak Ethnic Pariban Marriage Kaloko, Indah Sahmauli Indriyani; Dora, Nuriza
JHSS (JOURNAL OF HUMANITIES AND SOCIAL STUDIES) Vol 9, No 1 (2025): Journal of Humanities and Social Studies
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jhss.v9i1.11598

Abstract

Manjago Partuturan" is a kinship genealogy of the Batak tribe. Where this speech is very important as a determinant of the kinship system of our clan in the Batak community in order to continue the bloodline of the clan. 'Pariban' which is often used by Batak people. Pariban itself refers to cousins. A boy will call 'Pariban' to the daughter of Tulang (Tulang means uncle, mother's brother), and conversely a girl will call 'Pariban' to the son of her Namboru (Namboru means brother father's women, both father's brothers and sisters). Biological marpariban refers to the cousin relationship between men and women in the Toba Batak tribe. The term "pariban" is often used by Batak people. This is widely discussed because it is related to the traditions, genealogy, and also the personality of the Batak people. Many people consider the "pariban" phenomenon to be an ancient Batak term which is no longer practicable at this time. Some people know that Pariban is a tradition inherited from ancient Batak people's unique matchmaking and is sometimes no longer considered rational. The aim of the research is to find out about ethnic Batak pariban marriages in society, to find out the values of pariban marriages, and so on. According to Lofland and Lofland as quoted by Lexy. J. Moleong (2000) in his book entitled Qualitative Research Methodology, stated that the main data sources in qualitative research are words and actions, the rest is in the form of additional data such as documents and so on. According to Lofland and Lofland as quoted by Lexy. J. Moleong (2000) in his book entitled Qualitative Research Methodology, stated that the main data sources in qualitative research are words and actions, the rest is in the form of additional data such as documents and so on. Pariban is a cousin. A boy will call "pariban" to the daughter of Tulang (Tulang = uncle, mother's brother), and conversely a girl will call "pariban" to the son of her Namboru (Namboru = brother father's women, both father's brothers and sisters) This effort covers various aspects, such as carrying out traditional ceremonies at weddings, strengthening kinship relations, preserving the Batak language, and cultural education for the younger generation.