Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Gambaran Kesiapan Perawat Ruang Rawat Inap Terhadap Implementasi Telenursing Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan Rumah Sakit Humam Khoironi; Eko Susilo
Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) Vol. 2 No. 2 (2019)
Publisher : Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijnr.v2i2.909

Abstract

In its use, Indonesia reaches 150 million people with a penetration of 56% which is well known throughout the region. This phenomenon was influenced by the development of Revolution 5.0 which was initiated by the Japanese inventor with the concept of Society 5.0 as an anticipation of global trends as the impact of the 4.0 industrial revolution trend. Teleursing is expected to be a solution in addressing this challenge in order to improve the quality of hospital services.The results showed that only 29 respondents with low technical readiness (22.0%), 89 (67.4%) moderate readiness and 14 (10.6%) high readiness respondents. according to nursing readiness data obtained were low readiness of 9 (6.8%) medium of 101 (76.5%) and high readiness of 22 (16.7%) of respondents. And according to communication readiness data obtained 3 low readiness (2.3%) moderate for 74 (56.1%) and with high readiness as many as 55 (41.7%) respondents. This study used a quantitative descriptive design using a quantum sampling technique with a questionnaire measuring instrument. This research, it is hoped that there will be a wider regulation, training, socialization and making a special telenursing application to support the implementation of telenursing.Keywords: Telenursing Implementation,Nurse Preparedness, Quality of Nursing Services 
Pelatihan Basic Life Support And Disaster Management Di Era New Normal Aristiyanto Aristiyanto; Ahmad Kholid; Muhammad Imron Rosyidi; Eko Susilo; Guntur Ratih Prestifa Herdinata; Fredy Eko Setiawan
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 4 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2022
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.887 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v4i2.1988

Abstract

This community service activity aims to provide an understanding for high school students on the importance of basic training for students in providing assistance to disaster or emergency victims in order to prevent death or organ damage so that their productivity can be maintained equally before the disaster or emergency event occurs. Such as accidents or natural disasters can occur anywhere and anytime, such as traffic accidents, household accidents, work accidents, and so on. Handling these problems is aimed at providing basic life support so that it can save lives and minimize organ damage and disability of sufferers. In order to achieve the purpose of this service, the following steps are required; a) coordinate with schools, b) gather information from partners by conducting field observations, c) carry out outreach, outreach, and education for partners. This service is carried out over 6 months which includes; Initial observations exploring existing problems and then studying them to provide problem-solving, followed by initial seminars and preparation, counseling, and reporting. The service was held with theoretical material: a) disaster management, b) basic life support, c) first aid in an accident. The results of the dedication are; 1) increasing knowledge of basic life support, and 2) increasing knowledge of disaster management, for training participants. So it can be concluded that basic life support and disaster management training has an impact on increasing the knowledge, understanding and ability of service partners in dealing with disaster emergencies in the KY Ageng Giri Banyumeneng High School environment, Mranggen, Demak Regency.ABSTRAKKegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi siswa sekolah menegah atas mengenai pentingnya pelatihan dasar bagi siswa/ pelajar sekolah dalam memberikan pertolongan pada korban bencana atau gawat darurat guna mencegah kematian atau kerusakan organ sehingga produktivitasnya dapat dipertahankan setara sebelum terjadinya bencana atau peristiwa gawat darurat yang terjadi. Seperti kecelakaan atau bencana alam dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, seperti halnya kecelakaan lalu lintas, kecelakaan rumah tangga, kecelakaan kerja, dan sebagainya. Penanganan masalah tersebut ditujukan untuk memberikan bantuan hidup dasar sehingga dapat menyelamatkan nyawa dan meminimalisir kerusakan organ serta kecacatan penderita. Dalam rangka mencapai tujuan pengabdian ini, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut; a) berkoordinasi dengan sekolah, b) menggali informasi dari mitra dengan melakukan observasi lapangan, c) melaksanakan penyuluhan, sosialisasi, dan edukasi bagi mitra. Pengabdian ini dilaksanakan dalam 6 bulan yang meliputi; observasi awal menggali masalah yang ada kemudian dikaji untuk diberikan pemecahan masalah, dilanjutkan seminar awal dan persiapan, penyuluhan, dan pelaporan. Pengabdian yang diselenggarakan dengan materi teori: a) disaster management, b) basic live support, c) pertolongan pertama pada kecelakaan. Hasil pengabdian adalah; 1) meningkatnya pengetahuan basic life support, dan 2) meningkatnya pengetahuan management disaster,bagi peserta pelatihan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan basic life support dan management disaster berdampak pada meningkatnya pengetahuan, pemahaman dan kemampuan mitra pengabdian dalam menghadapi keadaan kedaruratan bencana di lingkungan sekolah SMA KY Ageng Giri Banyumeneng, Mranggen Kabupaten Demak.
Perbedaan Kecemasan Pasien Sebelum dan Sesudah Diberikan Spiritual Emotional Freedom Technique di Ruang IGD RSUD dr Gondo Suwarno: The Differences in Anxiety of Psychosomatic Patients Before and After Being Given the Spiritual Emotional Freedom Technique in the Emergency Room of RSUD Dr Gondo Suwarno Ani Sri Setyo Wijianti; Eko Susilo
Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS) Vol. 5 No. 2 (2023): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v5i2.360

Abstract

The overcrowding of patients and procedures has the potential to increase pain, discomfort and threaten the integrity of the body causing patient anxiety in the emergency room. Anxiety in emergency room patients that is not handled properly can contribute to the morbidity and death of critically ill patients. Therapy that uses spiritual elements is safe, easy, fast and simple, even without risk because it does not use tools or needles to reduce anxiety problems, including the Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). To find out the difference in the anxiety of psychosomatic patients before and after being given the SEFT in the emergency room of RSUD Dr Gondo Suwarno. The design of this study used a pre-experimental approach with a one group pre-post test design approach. The population studied was the psychosomatic patient in the Emergency Room at Dr. Hospital. Gondo Suwarno, as many as 557 people with a total sample of 10 people were taken using purposive sampling technique. The data analysis used was paired sample t-test which was processed using the SPSS data processing program. The anxiety of psychosomatic patients before being given the spiritual emotional freedom technique was mostly in the category of severe anxiety (70,0%). The anxiety of psychosomatic patients after being given the spiritual emotional freedom technique was mostly in the category of severe anxiety (70,0%). There is a significant difference in the anxiety of psychosomatic patients before and after being given the spiritual emotional freedom technique in the emergency room of RSUD Dr Gondo Suwarno, obtained a p-value of 0,000 <0,05 (α). It is better for patients in the emergency room to follow all the instructions given by the nurse when giving the spiritual emotional freedom technique so that optimal results are obtained, namely the anxiety experienced can be controlled immediately. ABSTRAK Kepadatan pasien dan prosedur tindakan berpotensi meningkatkan nyeri, ketidaknyamanan dan mengancam integritas tubuh menyebabkan kecemasan pasien di ruang IGD. Kecemasan pada pasien IGD yang tidak tertangani dengan baik maka dapat berkontribusi pada morbiditas dan kematian pasien saat kritis. Terapi yang menggunakan unsur spiritual aman, mudah, cepat dan sederhana bahkan tanpa risiko karena tidak menggunakan jarum untuk mengurangi kecemasan diantaranya Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kecemasan pasien sebelum dan sesudah diberikan spiritual SEFT di ruang IGD RSUD Dr Gondo Suwarno. Desain pada penelitian ini menggunakan pre eksperimen dengan pendekatan one group pre-post test design. Populasi yang diteliti pasien instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Gondo Suwarno, sebanyak 557 orang dengan jumlah sampel 10 orang diambil dengan mengunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah paired sample t-test yang diolah dengan menggunakan program SPSS. Kecemasan pasien sebelum diberikan SEFT sebagian besar kategori cemas berat (70,0%). Kecemasan pasien sesudah diberikan SEFT sebagian besar kategori cemas berat (70,0%). Ada perbedaan yang bermakna kecemasan pasien sebelum dan sesudah diberikan spiritual emotional freedom technique di ruang IGD RSUD Dr Gondo Suwarno, didapatkan p-value sebesar 0,000 < 0,05 (α). Sebaiknya pasien di ruang IGD mengikuti semua instruksi yang diberikan perawat saat memberikan SEFT sehingga diperoleh hasil optimal yaitu kecemasan yang dialami segera dapat terkendali.
KESIAPAN MENGHADAPI MENARCHE PADA ANAK SEKOLAH DASAR SEBELUM DAN SETELAH DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN Dewi Novita; Heni Purwaningsih; Eko Susilo
The Shine Cahaya Dunia S-1 Keperawatan Vol 5, No 2 (2020): THE SHINE CAHAYA DUNIA S-1 KEPERAWATAN
Publisher : Universitas An Nuur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35720/tscs1kep.v5i2.236

Abstract

Latar belakang: Kesiapan dalam menghadapi menarche sangat diperlukan oleh remaja putri untuk mengurangi kebingungan, ketakutan dan kecemasan yang berlebihan. Hal tersebut dapat diatasi ketika mereka mempunyai pengetahuan tentang menstruasi yang baik yang dapat diperoleh melalui pendidikan kesehatan. Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kesiapan dalam menghadapi menarche sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan di SD Negeri 01 Genuk Kecamatan  Ungaran Barat Kabupaten Semarang.Metode: Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimendengan rancangan penelitian one  group pre test and post test design. Populasi penelitian ini siswi SD Negeri 01 Genuk Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang dengan sampel 43 siswi dengan teknik total sampling. Analisis data menggunakan dependen t test.Hasil : Sebelum diberikan pendidikan kesehatan 100% siswi tidak siap dalam menghadapi menarche dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar siswi dalam kategori siap (90,7%). Ada perbedaan yang bermakna kesiapan dalam menghadapi menarche sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada siswi di SD Negeri 01 Genuk Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang, dengan p value (0,000) < ? (0,05).Saran : Perlunya peningkatan peran guru dan orang tua dalam pemberian informari tentang persiapan siswi dalam menghadapi menarche menarche Kata Kunci    :  Kesiapan Siswi, Menarche,  Pendidikan Kesehatan
EVALUASI KINERJA PENYELENGGARAAN DIKLAT TEKNIS PELAYANAN PUBLIK UPT BALAI DIKLAT PEGAWAI KABUPATEN GUNUNGKIDUL TAHUN 2019 Eko Susilo; Lukia Zuraida
Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis Indonesia STIE Widya Wiwaha Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Wiwaha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32477/jrabi.v1i2.377

Abstract

Sebagai unsur utama aparatur negara dan abdi masyarakat Pegawai Negeri Sipil (PNS) mempunyai kedudukan dan peranan penting dalam penyelenggaraan tugas organisasi pemerintahan dan pembangunan agar terselenggaranya good govermance (pemerintahan yang baik). Dalam hal ini diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik, setia, berkemampuan melaksanakan tugas secara profesional, bertanggung jawab, bersih dari praktek Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Kinerja PNS yang baik secara langsung akan mempengaruhi kinerja lembaga. Untuk memperbaiki kinerja PNS tentu merupakan suatu pekerjaan yang memakan waktu panjang. Selain dengan meningkatkan pengawasan dan pembinaan, juga dilakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan kinerja yang telah dilakukan. Penilaian terhadap kinerja juga bermanfaat sebagai tolak ukur yang dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja pegawai yang bersangkutan dapat dilakukan secara terarah dan sistematis. Salah satu faktor yang menentukan profesionalisme kerja yang optimal dalam sebuah instansi pemerintah adalah peningkatan kinerja pegawai. UPT Balai Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kabupaten Gunungkidul menghadapi tugas-tugas, tantangan dan tuntutan pelayanan yang tidak ringan di masa yang akan datang. Hal itu disebabkan karena semakin berkembangnya kebutuhan para stakeholder sebagai akibat dari perkembangan kehidupan masyarakat. Untuk itu UPT Balai Pendidikan dan Pelatihan Pegawai sebagai penyedia layanan perlu mengambil langkah-langkah persiapan dan perencanaan yang matang dalam mewujudkan sasaran-sasaran program pendidikan dan pelatihan yaitu agar terwujudnya sumber daya aparatur yang berkemampuan dalam melaksanakan tugas dan fungsi jabatannya. Evaluasi Penyelenggaraan Diklat Teknis Pelayanan Publik telah di peroleh hasil penelitian yaitu (1) Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Penyelenggaraan Diklat (a) Perkembangan teknologi UPT Balai Diklat Pegawai Kabupaten Gunungkidul disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggaraan diklat (b) Penyusunan program diklat yang terdiri dari kurikulum dan metode pembelajaran disesuaikan dengan Analisis Kebutuhan Diklat (2) Evaluasi kinerja penyelenggaraan diklat teknis (a) Proses persiapan penyelenggaraan diklat terdiri dari persiapan administrasi (rekrutmen) peserta diklat dan persiapan akademis peserta diklat (b) Panitia diklat berperan penting pada awal hingga akhir kegiatan diklat dimana panitia diklat terdiri dari tim koordinasi, tim pengamat dan sekretariat.
Upaya Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Mental Remaja melalui SIDUNA (Edukasi pada Duta Anti Narkoba) di Kabupaten Jepara Eka Adimayanti; Ana Puji Astuti; Siti Haryani; Ahmad Kholid; Eko Susilo; Galeh Septiar Pontang
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 6 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2024
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v6i2.3560

Abstract

Teenagers as the next generation of the nation have a responsibility to protect themselves and their peers from the dangers of drugs. Teenagers can play an active role in educating and disseminating information about the dangers of drugs and helping friends who are caught in drug use to get out of the circle. The Anti-Drug Student Ambassador is a program initiated by the DPD BANN Jepara, Jepara Regency Government, BNN Central Java Province and Kesbangpol. Central Java Province. This annual activity aims to recruit students and students as examples in society with the status of drug-free youth. Active roles and high awareness, with the hope that teenagers can become agents of change in eradicating drugs and creating a better future for future generations. Efforts to increase adolescent health knowledge aim to prepare teenagers to become healthy, intelligent, quality, and productive adults and play a role in maintaining, preserving and improving their health.   ABSTRAK Remaja sebagai generasi penerus bangsa memiliki tanggung jawab untuk melindungi diri mereka sendiri dan teman-teman sebaya dari bahaya narkoba. Remaja dapat memainkan peran aktif dalam mengedukasi dan menyebarluaskan informasi mengenai bahaya narkoba serta membantu teman-teman yang terjerat dalam penggunaan narkoba untuk keluar dari lingkaran tersebut. Duta Pelajar Anti Narkoba merupakan program yang diinisiasi oleh DPD BANN Jepara, Pemkab. Jepara, BNN Provinsi Jawa Tengah dan Kesbangpol. Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan Tahunan ini bertujuan untuk menjaring pelajar maupun mahasiswa sebagai contoh di masyarakat dengan status pemuda yang bebas narkoba. Peran aktif dan kesadaran yang tinggi, dengan harapan remaja dapat menjadi agen perubahan dalam memberantas narkoba dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Upaya peningkatan pengetahuan kesehatan remaja memiliki tujuan untuk mempersiapkan remaja menjadi orang dewasa yang sehat, cerdas, berkualitas, dan produktif dan berperan serta dalam menjaga, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan dirinya.
DISEMINASI TANAMAN SHORGUM PADA PENGUNJUNG SOLO ANGGREK FESTIVAL Pramono Hadi; Libria Widiastuti; Irma Wardani; Agung Mugi Prabowo; Adi Prasetyo; Vidi Mercyana; Abdul Hakim; Bagus Andika Fitroh; Asiah Jamil; Suwardi; Putri Awaliya Dughita; Muhammad Risky Suwardi; Eko Susilo; Muhammad Munib Khusni Malik
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 3 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jpmi.v3i1.5889

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk diseminasi tanaman shorgum di acara solo anggrek festival yang diselenggarakan pada bulan Juli tahun 2025. Bertempat di gedung graha wisata niaga, Surakarta, sejak 19 hingga 27 Juli 2025, Metode pengabdian masyarakat dilakukan secara sosialisasi, edukasi, pameran produk dan pelatihan pada masyarakat pengunjung solo anggrek ferstival. Hasil pengabdian kepada masyarakat sangat positif, peserta aktif dan antusias. Ditandai dengan banyaknya pertanyaan, diskusi dua arah dan tertarik untuk membeli dan mau menanam tanaman shorgun yang kami berikan secara gratis kepada samua pengunjung.
ALTERNATIF PENGUKURAN KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT DI LAUT INDONESIA BAGIAN BARAT PADA MUSON TENGGARA Hamzah, Faisal; Teguh Agustiadi; Mukti Trenggono; Eko Susilo; Iis Triyulianti
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v14i3.41076

Abstract

Pengukuran oksigen terlarut dengan metode Winkler memiliki kelemahan, namun bisa diatasi dengan metode spektrofotometri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur konsentrasi oksigen terlarut berdasarkan metode spektrofotometri di bagian barat laut Indonesia pada muson tenggara Juni 2015. Konsentrasi oksigen diukur berdasarkan hukum Lambert-Beer dengan panjang gelombang 466 nm. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi oksigen tinggi di bagian barat Selat Karimata dan rendah pada bagian tengah selat yang dimungkinkan karena tingginya proses oksidasi bahan organik dan respirasi. Konsentrasi oksigen cenderung seragam di seluruh kolom air Laut Jawa bagian barat, hal tersebut mencerminkan proses pencampuran sempurna. Konsenstrasi yang sama juga terlihat jelas pada lapisan permukaan di Selat Sunda dan berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Laut Indonesia bagian barat cenderung supersaturasi pada lapisan permukaan dan mengindikasikan adanya pertukaran yang cepat antara oksigen pada lapisan permukaan air laut dengan atmosfer. Hasil korelasi pengukuran oksigen antara metode spektrofotometri dan sensor menunjukkan hubungan yang baik sehingga dapat dijadikan alternatif dalam mengukur konsentrasi oksigen terlarut dan dapat digunakan pada berbagai rentang konsentrasi oksigen yang luas di wilayah laut, air tawar, dan pesisir.
ROLLING MOSAIC METHOD TO SUPPORT THE DEVELOPMENT OF POTENTIAL FISHING ZONE FORECASTING FOR COASTAL AREAS Komang Iwan Suniada; Eko Susilo; Wingking Era Rintaka Siwi; Nuryani Widagti
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences Vol. 16 No. 2 (2019)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.ijreses.2019.v16.a3252

Abstract

The production of the Indonesian Institute for Marine Research and Observation’s mapping of forecast fishing areas (peta prakiraan daerah penangkapan ikan or PPDPI) based on passive satellite imagery is often constrained by high-cloud-cover issues, which lead to sub-optimal results. This study examines the use of the rolling mosaic method for providing geophysical variables, in particular, seasurface temperature (STT) together with minimum cloud cover, to enable clearer identification of oceanographic conditions. The analysis was carried out in contrasting seasons: dry season in July 2018 and rainy season in December 2018. In general, the rolling mosaic method is able to reduce cloud cover for sea-surface temperature (SST) data. A longer time range will increase the coverage percentage (CP) of SST data. In July, the CP of SST data increased significantly, from 15.3 % to 30.29% for the reference 1D mosaic and up to 84.19 % to 89.07% for the 14D mosaic. In contrast, the CP of SST data in December tended to be lower, from 4.93 % to 13.03% in the 1D mosaic to 41.48 % to 51.60% in the14D mosaic. However, the longer time range decreases the relationship between the reference SST data and rolling mosaic method data. A strong relationship lies between the 1D mosaic and 3D mosaics, with correlation coefficients of 0.984 for July and 0.945 for December. Furthermore, a longer time range will decrease root mean square error (RMSE) values. In July, RMSE decreased from 0.288°C (3D mosaic) to 0.471°C (14D mosaic). The RMSE value in December decreased from 0.387°C (3D mosaic) to 0.477°C (14D mosaic). Based on scoring analysis of CP, correlation coefficient and RMSE value, results indicate that the 7D mosaic method is useful for providing low-cloud-coverage SST data for PPDPI production in the dry season, while the 14D mosaic method is suitable for the rainy season.
RETRIEVING COASTAL SEA SURFACE TEMPERATURE FROM LANDSAT-8 TIRS FOR WANGI-WANGI ISLAND, WAKATOBI, SOUTHEAST SULAWESI, INDONESIA Eko Susilo; Rizki Hanintyo; Adi Wijaya
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.ijreses.2019.v16.a3044

Abstract

The new Landsat generation, Landsat-8, is equipped with two bands of thermal infrared sensors (TIRS). The presence of two bands provides for improved determination of sea surface temperature (SST) compared to existing products. Due to its high spatial resolution, it is suitable for coastal zone monitoring. However, there are still significant challenges in converting radiance measurements to SST, resulting from the limitations of in-situ measurements. Several studies into developing SST algorithms in Indonesia waters have provided good performance. Unfortunately, however, they have used a single-band windows approach, and a split-windows approach has yet to be reported. In this study, we investigate both single-band and split-window algorithms for retrieving SST maps in the coastal zone of Wangi-Wangi Island, Wakatobi, Southeast Sulawesi, Indonesia. Landsat-8 imagery was acquired on February 26, 2016 (01: 51: 44.14UTC) at position path 111 and and row 64. On the same day, in-situ SST was measured by using Portable Multiparameter Water Quality Checker – 24. We used the coefficient of correlation (r) and root mean square error (RMSE) to determine the best algorithm performance by incorporating in-situ data and the estimated SST map. The results showed that there were differences in brightness temperature retrieved from TIRS band10 and band 11. The single-band algorithm based on band 10 for Poteran Island clearly showed superior performance (r = 69.28% and RMSE = 0.7690°C). This study shows that the split-window algorithm has not yet produced a accurate result for the study area.