Claim Missing Document
Check
Articles

The Spatial Awareness Behind the Naming of Social Groups and Geographical Areas in Mainland South Sulawesi Ahmadin
Formosa Journal of Sustainable Research Vol. 3 No. 3 (2024): March, 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjsr.v3i3.8648

Abstract

In the sociological paradigm of space, as a place whatever its form and name as long as it is inhabited or used as a base for human activity, it is not a passive natural entity but rather dynamic. This is made possible by the spatial dialectics and social reproduction that take place accompanying the development of a space along with the meaning of it which is always changing and dynamic. This paper examines spatial identity in naming social groups and geographical areas in Sulawesi using place identity theory, social identity theory, and identity process theory. This type of research is a literature review with a sociology of space approach that uses data and analysis descriptively from a number of relevant literature. The results showed that some social group names in Sulawesi are a representation of the geographical structure of a space, so that when mentioning the name of the group or its residential center, it will reflect its spatial identity. This fact is sociologically a spatial awareness that has been created in the long history of Sulawesi as well as can be categorized as local community intelligence
Religious-Based Maritime Education for the Introduction of Bugis- Makassar Marine Traditions and Culture at SD 82 Pattene Maros Rifal; Dyan Paramitha Darmayanti; Ahmadin; Muh. Rasyid Ridha; Hasni
Society : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2025): November
Publisher : Edumedia Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55824/yzecgv19

Abstract

This community engagement program titled “Religious-Based Maritime Education for Introducing Bugis-Makassar Sea Traditions and Culture at SD 82 Pattene Maros” was conducted in response to the declining awareness of local maritime traditions among young students due to modernization and limited exposure to cultural and religious values in formal education. The community partners—teachers and students in a coastal primary school—faced challenges in integrating local maritime knowledge and spiritual values into daily learning. To address this, the team designed a participatory-educative approach by developing a thematic module combining Islamic moral teachings with Bugis-Makassar maritime traditions such as sailing, fishing, and coastal rituals. The implementation took place one week before the Haul Akbar of Tarekat Khalwatiyah Samman, a local religious event, to strengthen students’ understanding of spirituality, community solidarity, and cultural heritage. Activities included classroom learning, storytelling, field observation at coastal areas, and reflection sessions guided by teachers and community leaders. The results showed significant improvements in students’ enthusiasm, religious character, social cooperation, and ecological awareness. They demonstrated greater respect for local culture, care for the marine environment, and appreciation of their Bugis-Makassar identity. This program concludes that integrating religious and maritime education effectively preserves local wisdom while fostering moral and cultural character formation among coastal students in Indonesia.
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA PEMBELAJARAN IPAS DI SDN 2 TAWALI Ahmadin; Desy Ningsih Komalasari; Zulkifli
Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran Vol. 5 No. 1 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59584/jundikma.v5i1.110

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang implementasi kurikulum Merdeka pada pembelajaran IPAS di SD Negeri 02 Tawali-Wera serta hambatan dalam pengimplementasiannya. Subjek pada penelitian ini adalah guru IPAS kelas V dan siswa kelas V SDN 02 Tawali, Metode penelitian yang digunakan berupa metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik wawancara, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan sesuai dengan pendapat dengan menganalisis data. Hasil dari penelitian ini adalah SD Negeri 02 Tawali telah menerapkan Kurikulum Merdeka terutama pada pembelajaran IPAS. Dalam praktiknya, implementasi kurikulum merdeka pada pembelajaran IPAS di kelas V melibatkan beberapa perubahan yang signifikan, seperti penerapan pendekatan integratif. Guru mulai menggunakan berbagai metode pembelajaran yang lebih interaktif, seperti proyek berbasis masalah dan diskusi kelompok, namun dalam pengimplementasiannya masih ditemukan beberapa hambatan seperti keterbatasan sumber daya, kesulitan guru dalam menyesuaikan media pembelajaran, kurangnya kemampuan guru dalam mengkondisikan kelas, media pembelajaran tidak dimanfaatkan secara optimal, kurang banyaknya penilaian yang dilakukan, waktu yang singkat untuk menilai
Integrasi Sejarah Perjuangan Hj. Andi Depu Kedalam Pembelajaran Sejarah di SMAN 1 Tikke Raya Amri; Muhammad Rasyid Ridha; Ahmadin; Najamuddin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6009

Abstract

Integrasi Sejarah Perjuangan Hj. Andi Depu Kedalam Pembelajaran Sejarah. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan tentang Bagaimana sejarah perjuangan Hj. Andi Depu dalam memperjuangkan kemerdekaan dan Bagaimana proses integrasi sejarah perjuangan Hj. Andi Depu kedalam mata pelajaran sejarah di SMAN 1 Tikke Raya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan tiga tahapan dalam teknik analisis data, yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Andi Depu adalah seorang Pahlawan Nasional yang berasal dari Sulawesi Barat. berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 123/TK/2018 pada tanggal 6 November 2018 dan menjadi wanita pertama yang menjadi raja Balanipa ke 52 yang memimpin berbagai organisasi perjuangan seperti KRIS MUDA dan FUJINKAI. Integrasi dilakukan dengan dua metode, untuk kelas IPA diterapkan metode diskusi dan untuk kelas IPS diterapkan metode bermain peran.
Measuring the Effectiveness of Blended Learning in the Post‑Pandemic Era: A Comparative Quantitative Analysis of Flipped Classroom and Hybrid Flexible (HyFlex) Models on Cognitive Achievement and Student Engagement in Indonesian Senior High Schools Lindawati, Lindawati; Mendrofa, Netti Kariani; Wahdah; Ahmadin; A. Fitriani
International Journal of Educational Research Excellence (IJERE) Vol. 5 No. 1 (2026): January-June
Publisher : PT Inovasi Pratama Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55299/ijere.v5i1.1735

Abstract

The COVID‑19 pandemic accelerated the adoption of blended learning across Indonesian senior high schools (SMA), but systematic evidence comparing different blended models remains limited. This quantitative study conducts a comparative secondary data analysis of flipped classroom–based blended learning and Hybrid Flexible (HyFlex) models with respect to cognitive achievement and student engagement at the upper‑secondary level. Drawing on a national meta‑analysis of blended learning in Indonesia (27 studies, 2016‑2020), quasi‑experimental studies of flipped classroom implementations in SMA, and international HyFlex evaluations, the study synthesizes standardized mean differences, mean score differences, and survey‑based engagement indicators. Blended learning overall demonstrates a large positive effect on Indonesian students’ learning outcomes, including at senior high school (SMD ≈ 1.00 vs conventional instruction). Within this, flipped classroom–based blended learning yields substantial gains in critical thinking and other higher‑order cognitive outcomes, although effects on writing performance depend strongly on students’ self‑regulation. HyFlex implementations at the tertiary level generally match face‑to‑face instruction in cognitive outcomes but produce mixed patterns in grade distributions and student satisfaction. The discussion interprets these findings for Indonesian SMA in the post‑pandemic context, arguing that flipped classroom designs have stronger empirical support than HyFlex for raising cognitive achievement and structured engagement under current infrastructural and policy conditions
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR STUDI KASUS: SDN 15 NTOBO KOTA BIMA Muhammad; Ahmadin; Zulkifli; Didit Haryadi
Pendidikan Dasar dan Manajemen Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2025): Pendidikan Dasar dan Manajemen Pendidikan
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI JAWA TENGAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/bahusacca.v6i2.2149

Abstract

Kurikulum di Indonesia mengalami banyak perkembangan. Saat ini kurikulum yang diimpelentasikan yaitu kurikulum merdeka. Tujuan penelitian ini untuk 1) mengetahui implementasi kurikulum merdeka 2) mengetahui metode penerapan kurikulum merdeka 3) mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi kurikulum merdeka. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Studi Kasus. Alasan peneliti memilih studi kasus karena jenis pendekatan ini sangat cocok untuk mengambarkan keadaan dan situasi implementasi kurikulum di SDN 15 Ntobo Kota Bima yang merupakan tempat penelitian. Subjek pada penelitian ini adalah Kepala sekolah, Waka Kurikulum, Guru kelas dan Beberapa guru yang bersedia untuk di wawancarai. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan Observasi dan wawancara dengan Triangulasi sumber. Teknik analisis dengan menggunakan Model Miles Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan 1) Implementasi Kurikulum merdeka di SDN 15 Ntobo Kota Bima Sudah berjalan dengan baik 2) Metode yang dilakukan dalam implementasi Kurikulum merdeka adalah baru kelas 1-4 yang menggunakan Kurikulum Merdeka 3) Faktor yang penting dalam implementasi kurikulum merdeka adalah kesiapan guru dalam menerima kurikulum merdeka. Kata kunci: Implementasi, Kurikulum Merdeka, Belajar
ANALISIS KOMPETENSI GURU: STUDI KASUS SDN 47 KODO KOTA BIMA Ahmadin; Didit Haryadi; Desy Ningsih Komalasari; Zulkifli
Pendidikan Dasar dan Manajemen Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2025): Pendidikan Dasar dan Manajemen Pendidikan
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI JAWA TENGAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/bahusacca.v6i2.2151

Abstract

Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dan strategis Hal ini disebabkan karena gurulah yang berada di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat analisis Kompetensi guru meliputi (1) Kompetensi Pedagogik (2) Kompetensi Kepribadian (3)Kompetemsi Sosial dan Kompetensi (4) Profesional. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Studi Kasus. Alasan peneliti memilih studi kasus karena jenis pendekatan ini sangat cocok untuk mengambarkan keadaan dan Analisis tentang kompetensi guru di SDN 47 Kota Bima . Subjek pada penelitian ini adalah Kepala sekolah, Waka Kurikulum dan beberapa guru yang bersedia untuk di wawancarai. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan Observasi dan wawancara mendalam .Hasil penelitian menunjukkan (1) Kompetensi Pedagogik lebih diprioritaskan kepada pengelolaan peserta didik dengan memahami potensi dan keragaman peserta didik, memahami akan landasan dan filsafat pendidikan, mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran, menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi (2) Kompetensi Kepribadian terdapat tiga hal yaitu pertumbuhan dan perkembangan kognitif, tingkat kecerdasan, kreativitas, serta kondisi fisik (3) guru harus dapat berkomunikasi dengan baik secara lisan, tulisan, dan isyarat; menggunakan teknologi komunikasi dan informasi; bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar (4) kompetensi Profesionalnya sebagai seorang guru, seperti memiliki sertifikat sebagai seorang pendidik, memiliki ijazah kependidikan yang sesuai dengan kemampuannya, dan menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi seperti memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep dan metode.
Kurikulum Responsif Budaya Sebagai Strategi Penguatan Identitas Lokal Dalam Pendidikan Indonesia idham, Nurfadhila; Ahmadin; Ibrahim
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13653

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kurikulum responsif budaya serta strategi penguatan identitas lokal dalam konteks pendidikan Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kajian pustaka, penelitian ini menelaah berbagai sumber ilmiah seperti jurnal, buku, dan dokumen kebijakan yang relevan dengan tema kurikulum berbasis budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum responsif budaya merupakan pendekatan yang menempatkan budaya lokal sebagai landasan dalam perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan pembelajaran. Integrasi budaya dalam kurikulum terbukti mampu meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap identitas budaya, memperkuat karakter, dan mengembangkan keterampilan sosial melalui pembelajaran yang relevan dengan konteks kehidupan mereka. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi tiga strategi utama dalam penguatan identitas lokal melalui pendidikan, yaitu pengembangan kurikulum berbasis pemetaan budaya, pelatihan guru untuk meningkatkan kompetensi pedagogis berbasis budaya, serta integrasi konten budaya dalam berbagai mata pelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa kurikulum responsif budaya memiliki relevansi strategis dalam menghadapi tantangan globalisasi sekaligus memastikan keberlanjutan budaya lokal di lingkungan pendidikan
Asesmen Yang Adil Secara Budaya (Culturally Fair Assessment): Konsep, Tantangan, Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Mustahar. AM, Muh. Abid; Ahmadin; Ibrahim
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13665

Abstract

Asesmen yang adil secara budaya merupakan komponen penting dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan setara, terutama di tengah keragaman budaya, bahasa, serta latar sosial ekonomi peserta didik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa instrumen asesmen sering memuat bias budaya, baik melalui bahasa, konteks soal, maupun asumsi kognitif yang diambil dari budaya dominan. Bias ini berpotensi menurunkan validitas hasil penilaian dan menghambat peserta didik dari kelompok tertentu untuk menunjukkan kemampuan mereka secara autentik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep asesmen yang adil secara budaya, tantangan implementasinya, serta implikasinya bagi praktik pendidikan. Menggunakan metode kajian pustaka, penelitian ini menganalisis berbagai artikel ilmiah, baik artikel nasional maupun internasional, laporan kajian psikometrik, serta penelitian pendidikan lintas budaya untuk mengidentifikasi pola bias asesmen dan strategi pengembangannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor bahasa, konteks budaya, serta struktur kognitif dalam instrumen asesmen merupakan tantangan utama yang berdampak pada performa peserta didik. Selain itu, adaptasi instrumen tes dari konteks Barat ke lingkungan multikultural memerlukan rekonstruksi menyeluruh untuk menjamin validitas lintas budaya. Strategi penting dalam mewujudkan asesmen yang adil secara budaya meliputi penggunaan bahasa yang jelas dan netral, penyesuaian konteks, pelibatan ahli budaya, penggunaan asesmen alternatif, serta penyediaan akomodasi bagi peserta didik. Temuan ini menegaskan bahwa asesmen yang responsif budaya tidak hanya meningkatkan keadilan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan motivasi, partisipasi, dan kesetaraan hasil belajar di berbagai konteks pendidikan.
Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi Digital untuk Meningkatkan Minat Belajar Anak Usia Dini: Studi Kasus di TK Yaa Bunayya Kota Bima Aiman Putri; Ahmadin; Wahyu Mulyadin
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 5 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i5.7794

Abstract

Many educators still rely on conventional learning methods that are less engaging for children. In addition, limited access to technological devices and educational skills in utilizing technology are major obstacles in optimizing digital technology in early childhood learning. So this research aims to find out Digital Technology-Based Learning Innovations to Increase Early Childhood Learning Interest at Tk Yaa Bunayya, Bima City. This research will be conducted at Yaa Bunayya Kindergarten, Bima City, West Nusa Tenggara. This research uses Qualitative Research with a Case Study Approach. Data Collection Techniques are Observation, Interview and Documentation. Data Analysis Techniques are Data Reduction, Data Presentation and Conclusion Drawing. Based on the results of this study that digital technology-based learning innovations have a real positive impact on increasing children's interest in learning at Yaa Bunayya Kindergarten, Bima City. Digital technology applied in the form of learning videos, educational applications, interactive media, and other digital devices is able to create a learning atmosphere that is more fun, interesting, and motivates children to be actively involved in the learning process. The changes that can be seen significantly are the increase in children's activeness, enthusiasm, and interest in the material presented by the teacher.