Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Konseptual Teoritis Kurikulum Pendidikan dalam Perspektif Secara Pragmatis dalam Islam Susilawati, Erni; Saifi, Ani Fatimah Zahra; Komala, Euis; Izuddin, Izuddin; Ruhendi, Ateng
Journal of Education Research Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v5i2.705

Abstract

Kurikulum dalam pendidikan Islam dikenal dengan kata manhaj yang memiliki arti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik dan peserta didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan serta sikap.  Kurikulum pendidikan dalam konsepsi Islam adalah: suatu sistem kebenaran, standar, dan nilai-nilai ilahi sekunder, dan variabel pengetahuan, pengalaman, dan pengalaman manusia. dan ketrampilan yang dibekali oleh lembaga pendidikan Islam kepada peserta didiknya, dengan tujuan membawa mereka pada tingkat kesempurnaan yang telah Allah persiapkan bagi mereka, sehingga mereka dapat menunaikan hak khilafah di muka bumi dengan memberikan kontribusi yang positif dan efektif dalam pembangunan dan pembangunannya. kemajuan kehidupan di permukaannya sesuai dengan metode Tuhan. Ciri ciri yang menjadi cirinya pemahaman kurikulum menurut Dr. Yusuf Al-Qaradawi, yaitu Metode atau kurikulum pendidikan islam sistem sumber dari gambaran islam untuk alam semesta, manusia dan kehidupan, beserta pemahaman dan ciri cirinya, dan dasar bangunan atau kontruksinya, dan pokoknya merupakan satu kesatuan yang utuh, yang setiap bagiannya dipengaruhi oleh bagian bagian yang lain, dan mempengaruhi bagian-bagian lainnya. Dan pemahaman ini untuk kurikulum pendidikan islam, dibedakan dalam serangkaian dari ciri ciri karakteristik. Ahmad Madkuri dua ribu dua Menurut Dr Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa Konsep yang pertama yaitu konsep Ketuhanan. Yang dimaksud dengan Ketuhanan di sini ada dua hal: Asal dan sumber ketuhanan, Arah dan tujuan ketuhanan. Menurut Dr Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa Konsep yang kedua yaitu konsep ketauhidan.  Ciri kurikulum pendidikan Islam yang kedua adalah ciri tauhid, Tauhid merupakan komponen pertama dari sistem Islam, karena merupakan fakta dasar atau fundafental dalam keimanan. Melalui tauhid, sistem atau pendekatan Islam menjadi unik di antara semua sistem dan pendekatan keyakinan dan filsafat lain yang berlaku di muka bumi.
Quranic Interpretation Of Halal Food and Its Implementation In The Economic Development Of Sharia Nasrudin, Nasrudin; Ruhendi, Ateng; Nursari, Nina; Jamaludin, Jujun
ISLAMICA Vol 7 No 1 (2023): ISLAMICA
Publisher : STAI Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59908/islamica.v7i1.72

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the role of halal food described in the Quran for the fulfillment of basic human needs which ultimately intersect with economic activities, one of which is in the development of the sharia economy. This research uses a descriptive qualitative approach, with a review of documents. The results of this paper are more focused on the interpretation of Q.S. al-Baqarah Verse 168 and al-Maidah Verse 88 in the tafsir al-Maraghy and al-Misbah. So that in the explanation describes the extent to which the implementation of this verse can move humans in conducting the economy based on the teachings practiced by the Prophet SAW, especially those related to the development of the sharia economy.Keywords: sharia economics, halal food, qur'anic interpretation Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran makanan halal yang dijabarkan dalam al-Quran untuk pemenuhan kebutuhan pokok manusia yang pada akhirnya bersinggungan dengan kegiatan ekonomi, salah satunya dalam pengembangan ekonomi syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan penelaahan dokumen. Hasil penelitian dari tulisan ini lebih difokuskan pada penafsiran Q.S. al-Baqarah Ayat 168 dan al-Maidah Ayat 88 dalam tafsir al-Maraghy dan al-Misbah. Sehingga dalam penjelasannya menjabarkan sejauh mana implementasi ayat ini dapat menggerakkan manusia dalam melakukan perekonomian dengan berlandaskan ajaran yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW terutama yang berhubungan dengan pengembangan ekonomi syariah.
Revitalization of Arabic Language Learning: A Collaborative Model Integrating Salafi and Modern Pesantren Traditions Ruhendi, Ateng; Sutisna, Dede; Abdullah, Muhammad Najib
Jurnal Al Bayan : Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Al Bayan: Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/c6km8a57

Abstract

The research is motivated by the existing dichotomy between salafi pesantren (Islamic boarding school), which emphasize mastery of classical linguistic sciences (nahwu-sharaf) and deep understanding of traditional Islamic texts (turath), and modern pesantren, which prioritize communicative competence and the use of digital learning technologies. This study aims to analyze the dynamics, patterns, and epistemological integration of Arabic language learning practices within the Salafi–modern pesantren context. Through this analytical approach, the research seeks to identify the structural relationships, pedagogical transformations, and collaborative mechanisms that shape the contemporary Arabic language learning system in pesantren. This study employed a descriptive qualitative approach and a multi-case study design across three representative Salafi–Modern pesantren. Data were collected through observations of the learning process, in-depth interviews with teachers and students, as well as document analysis of curricula, instructional materials, and institutional policies related to Arabic language learning. The findings reveal three key strategies in the revitalization process; the integration of turats and modernity, methodological innovation that combines grammatical and communicative approaches, and the creation of a collaborative bi’ah lughawiyyah. From these findings, the study formulates the Integrative Model of al-Lughah al-Hayat, which positions Arabic not merely as a subject but as an instrument for spiritual, academic, and social development. The model blends traditional methods with modern techniques. The study contributes theoretically by reframing Arabic learning in pesantren as an epistemological integration process rather than a pedagogical dichotomy. Practically, it provides an analytical framework for designing collaborative Arabic curricula that balance textual scholarship and communicative competence in Islamic educational institutions.