Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Kajian Organoleptik dan Ekonomi Usaha Ayam Geprek dengan Penggunaan Berbagai Merek Minyak Goreng Komersial Astari Ratnaduhita; Achmad Muzakky Dityana; Nur Hafidzah Devi Kartika; Muhammad Khaidar; Nida Fariha; Sukmawati Utami; Putri Ananda; Aqil Adyatama; Raditya Nandhirabrata
Jurnal Sains Peternakan Nusantara Vol 6 No 01 (2026): Jurnal Sains Peternakan Nusantara
Publisher : Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53863/jspn.v6i01.2301

Abstract

This study aimed to analyze differences in organoleptic quality among various cooking oil brands using color, taste, texture, and aroma parameters. A sensory evaluation was conducted with 50 untrained panelists, who assessed the samples using a hedonic scale. The data were analyzed using the nonparametric Friedman test due to the ordinal scale and non-normality. The results showed highly significant differences among cooking oil brands for all organoleptic parameters (p < 0.001). Kendall’s W indicated a very strong effect size for taste (W = 0.774), followed by texture (W = 0.570) and color (W = 0.531) with strong effect sizes, while aroma showed a moderate effect size (W = 0.240). Overall, Barco achieved the highest mean score, whereas Minyakita and bulk cooking oil consistently obtained the lowest scores across most parameters. These findings demonstrate significant sensory quality differences among cooking oil brands, with taste being the most influential attribute in panelists’ perception.
Analisis Faktor Kejadian Kawin Berulang pada Sapi Perah di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Ma'ruf Ma'ruf; Aqil Adyatama
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.469

Abstract

Kontribusi sapi perah di Indonesia sangat besar dalam memenuhi kebutuhan konsumsi susu masyarakat. Kecamatan Ngablak menjadi pusat peternakan sapi perah terbesar di Kabupaten Magelang, dengan populasi 582 ekor sapi. Perkawinan berulang merupakan masalah reproduksi yang umum terjadi pada peternakan sapi perah di Kecamatan Ngablak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi perkawinan berulang dan meneliti variabel-variabel yang mendasarinya pada sapi perah di kalangan peternak kecil di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Penelitian ini dilaksanakan dari Januari hingga Februari 2026 dengan metodologi survei menggunakan kuesioner langsung yang diberikan kepada peternak. Ukuran sampel dihitung menggunakan prosedur dengan prevalensi 30%, margin kesalahan 5%, dan tingkat kepercayaan 95%, menghasilkan 336 ekor sapi perah. Variabel yang dianalisis meliputi pemberian hijauan dan konsentrat, pengamatan estrus, pelaporan inseminasi buatan, dan nilai skor kondisi tubuh ternak. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan uji Chi-Square (X²) dengan perangkat lunak SPSS 26.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian perkawinan berulang pada tingkat peternak adalah 38,39%. Faktor penyebab utama terjadinya perkawinan berulang meliputi ketersediaan padang penggembalaan, ketersediaan konsentrat, skor kondisi tubuh (BCS), pengamatan estrus, dan pelaporan inseminasi buatan (AI) kepada inseminator (P=0,00S). Studi ini menyimpulkan bahwa faktor penyebab terjadinya perkawinan berulang pada sapi perah di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, merupakan kontributor penting terhadap terjadinya peristiwa tersebut.
Korelasi BCS dengan Tampilan Berahi Sapi Perah pada Peternak Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Mohammad Syaifudin; Aqil Adyatama; Nain Ufidiyati
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.470

Abstract

Penelitian ini mengkaji Skor Kondisi Tubuh (BCS) dan tampilan estrus sapi perah peternak kecil di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Setidaknya 45 ekor sapi perah Friesian Holstein (PFH) penghasil anak digunakan dalam penelitian ini. Survei kami bersifat observasional dengan pengambilan sampel yang disengaja. BCS (1-5), umur (3-5), dan bulan laktasi (1-6) diukur. Analisis data menggunakan regresi linier dasar SPSS 26.0 dan korelasi Pearson. Penelitian ini akan mengkaji hubungan antara kondisi tubuh sapi perah dan intensitas estrus pada peternak kecil. Penelitian ini menemukan koefisien korelasi dan persamaan regresi sedang antara BCS dengan kondisi vulva, perilaku estrus, intensitas lendir serviks, dan ereksi uterus (0,531 dan Y = 1,389 + 0,958 X). BCS memiliki hubungan sedang dengan kinerja estrus karena asupan nutrisi lebih berpengaruh daripada BCS, menurut penelitian. Pakan yang memenuhi kebutuhan nutrisi mengoptimalkan kinerja hormon reproduksi dan memengaruhi estrus sapi perah.
Analisis Produktivitas Usaha Ayam Petelur Berbasis Meta-Analisis Studi Kasus Ayam Petelur di Desa Bondowoso Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang Khamid Abdillah; Raditya Nandhirabrata; Aqil Adyatama
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.475

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas usaha ayam petelur berbasis meta-analisis dengan studi kasus pada peternakan ayam petelur di Desa Bondowoso, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari menggunakan metode survei dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive random sampling terhadap 35 peternak yang tergabung dalam KTT Layer Farm Dowasan dengan total populasi ayam petelur fase layer sebanyak 2.750 ekor. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan indikator produktivitas meliputi produksi telur, konsumsi pakan, Hen Day Production (HDP), Feed Conversion Ratio (FCR), dan pendapatan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ayam petelur di KTT Layer Farm Dowasan memiliki produktivitas yang baik dengan produksi telur rata-rata sebesar 2.300 butir/hari atau 69.000 butir/bulan. Nilai Hen Day Production (HDP) mencapai 83,63%, menunjukkan bahwa ayam mampu menghasilkan telur secara optimal. Konsumsi pakan rata-rata sebesar 115 gram/ekor/hari dengan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) sebesar 2,37 yang menunjukkan penggunaan pakan cukup efisien. Analisis ekonomi menunjukkan penerimaan usaha sebesar Rp112.056.000/bulan dengan keuntungan sebesar Rp21.056.000/bulan. Faktor utama yang memengaruhi produktivitas ayam petelur adalah kualitas pakan, manajemen pemberian pakan, kebersihan kandang, dan pengendalian penyakit. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa usaha ayam petelur di Desa Bondowoso memiliki tingkat produktivitas dan efisiensi usaha yang baik serta berpotensi untuk dikembangkan melalui peningkatan manajemen pemeliharaan dan optimalisasi penggunaan faktor produksi
Analisis Ekonomi Dan Swot Pendapatan Berbasis Meta-Analisis Ayam Petelur di Desa Dowasan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang Kholisun Kholisun; Raditya Nandhirabrata; Aqil Adyatama
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.476

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek ekonomi dan strategi pengembangan usaha ayam petelur berdasarkan analisis SWOT di Desa Dowasan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan teknik purposive random sampling terhadap 35 peternak yang tergabung dalam KTT Layer Farm Dowasan dengan total populasi 2.750 ekor ayam fase layer. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung biaya produksi, penerimaan, pendapatan, serta kelayakan usaha menggunakan analisis R/C Ratio dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi telur mencapai 2.300 butir per hari atau 69.000 butir per bulan dengan total penerimaan sebesar Rp121.324.000 per bulan. Total biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp70.000.000 per bulan, sehingga diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp51.324.000 per bulan. Nilai R/C Ratio sebesar 1,73 menunjukkan bahwa usaha ayam petelur tersebut layak dan menguntungkan untuk dikembangkan. Berdasarkan analisis SWOT, kekuatan usaha terdapat pada sistem pemeliharaan intensif, produktivitas yang stabil, serta adanya pendapatan tambahan dari ayam afkir dan kotoran ayam. Kelemahan utama adalah tingginya biaya pakan dan ketergantungan terhadap penjualan telur. Peluang pengembangan berasal dari permintaan telur yang stabil, perluasan pasar, dan pemanfaatan teknologi, sedangkan ancaman berasal dari fluktuasi harga pakan, harga telur, dan risiko penyakit. Strategi pengembangan usaha yang dapat diterapkan yaitu meningkatkan efisiensi pakan, memperkuat manajemen pemeliharaan, serta melakukan diversifikasi produk untuk meningkatkan keberlanjutan usaha peternakan ayam petelur.
Hubungan BCS dengan Tampilan Reproduksi Sapi Perah pada Peternak Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Bayu Dwi Setiawan; Aqil Adyatama; Vian Dwi Chalisty; Nain Ufidiyati
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.480

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana Body Condition Score (BCS) memengaruhi reproduksi sapi perah pada peternak kecil di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Setidaknya 45 ekor sapi perah Friesian Holstein (PFH) telah melahirkan untuk penelitian ini. Survei kami bersifat observasional dengan pengambilan sampel yang disengaja. BCS (1-5), umur (3-5), dan bulan laktasi (1-6) diukur. Regresi linier sederhana dan korelasi Pearson digunakan dalam SPSS 26.0. BCS memiliki koefisien korelasi dan persamaan regresi sedang dengan layanan per konsepsi (0,459 dan Y = 4,33–1,09 X), estrus pasca melahirkan (0,594 dan Y = 202,3–38,831 X), dan hari terbuka (0,498 dan). Penelitian menunjukkan hubungan sedang antara BCS dan Reproductive Performance. Asupan nutrisi memengaruhi Reproductive Performance, bukan BCS. Diet kaya nutrisi mengoptimalkan kinerja hormon reproduksi dan memengaruhi estrus sapi perah.
Potensi Pengembangan Peternakan Ayam Broiler di Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang Rizki Imam Khudori; Vian Dwi Chalisty; Aqil Adyatama
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.481

Abstract

Peternakan ayam broiler merupakan salah satu sektor peternakan yang memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat serta meningkatkan perekonomian daerah. Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang memiliki potensi dalam pengembangan usaha ayam broiler, namun masih menghadapi beberapa kendala seperti biaya produksi yang tinggi, risiko penyakit, dan fluktuasi harga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pengembangan peternakan ayam broiler di Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang berdasarkan aspek teknis, ekonomi, dan faktor pendukung maupun penghambat usaha. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari–Februari 2025 menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data penelitian terdiri atas data primer yang diperoleh melalui wawancara terhadap 20 peternak ayam broiler dan data sekunder dari instansi terkait. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan melihat karakteristik usaha, produktivitas ternak, analisis ekonomi, serta faktor potensi pengembangan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha peternakan ayam broiler di Kecamatan Mertoyudan dilakukan secara intensif dengan sistem kemitraan, rata-rata populasi pemeliharaan 5.000 ekor/periode, umur panen 35 hari, bobot badan panen 2,4 kg/ekor, FCR 1,58, mortalitas 3,2%, dan nilai indeks performa (IP) sebesar 350. Analisis ekonomi menunjukkan total biaya produksi sebesar Rp243.380.000 dengan pendapatan sebesar Rp252.000.000 sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp8.620.000/periode pemeliharaan. Potensi pengembangan usaha didukung oleh ketersediaan lahan, tenaga kerja, meningkatnya permintaan daging ayam, serta adanya sistem kemitraan. Faktor penghambat pengembangan meliputi risiko penyakit dan perubahan harga input produksi terutama pakan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peternakan ayam broiler di Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang memiliki peluang pengembangan yang cukup baik. Peningkatan efisiensi pakan, penerapan manajemen pemeliharaan yang optimal, penguatan biosecurity, dan pemanfaatan teknologi kandang menjadi strategi penting untuk meningkatkan keberlanjutan usaha.
Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Kejadian Repeat Breeding Pada Sapi Perah Nain Ufidiyati; Aqil Adyatama
Jurnal Javanica Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Terapan Agribisnis
Publisher : Politeknik Negeri Banyuwangi Jl. Raya Jember km. 13 Labanasem, Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur (68461) Telp. (0333) 636780

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57203/javanica.v5i1.2026.12-26

Abstract

This study analyzed environmental factors influencing repeat breeding in dairy cattle in Ngablak District, Magelang Regency. A quantitative survey involved 336 productive cows purposively selected from 462 populations across 15 villages. Primary data were collected through questionnaires, observations, and interviews, while secondary data came from the Livestock Service. Risk factors analyzed included drinking water availability, barn design, water source, temperature, humidity, and barn cleanliness. Data were analyzed using Chi-Square and Odds Ratio (95% CI). The prevalence of repeat breeding was 27.67%. Significant factors were lack of ad libitum water (OR=2.59), absence of water source inside the barn (OR=22.5), high humidity, and poor cleanliness (OR=17.7). Barn design and temperature were not significant. High humidity and poor cleanliness triggered heat stress and postpartum infections, impairing reproduction. Suboptimal husbandry management is the main cause. Improvements to husbandry practices are essential.
Correlation between body condition score with estrus and reproductive performance in dairy cow post ovary hypofunction Aqil Adyatama; Anis Muktiani; Daud Samsudewa
Livestock and Animal Research Vol 22, No 1 (2024): Livestock and Animal Research
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/lar.v22i1.72066

Abstract

Objective: The objective of this research is to determine the relationship between body condition score (BCS) with estrus performance and reproductive performance in dairy cow post ovary hypofunction.Methods: Observational method by collecting primary and secondary data were used in this research. Primary data includes BCS and estrus performance. Secondary data includes reproductive performance. Purposive sampling method with criteria minimum parity 1 were used. Correlation and simple linear regression were used to analyze the data.Results: The results showed moderate correlation coefficient and regression equation of BCS with redness of vulva (0.531 and Y = 1.389+0.958 X), behavior changing (0.597 and Y = 0.75+0.896 X), mucus cervix intensity (0.503 and Y = 0.889+1.583 X), uterine erection (0.597 and Y = 1.500+1.792 X), service per conception (0.459 and Y = 4.33–1.09 X), estrus post-partum (0.594 and Y= 202.3–38.831 X) and days open (0.498 and Y= 217.271–40.832 X).Conclusions: The conclusion of this research is dairy cow with minimum BCS 3 is needed during mating post ovary hypofunction.
PENGARUH DOLOMIT TERHADAP NITROGEN DAN pH PUPUK ORGANIK CAIR URIN DOMBA LOKAL Zaenal Nur Riyadi; Nunur Nuraeni; Aqil Adyatama
Jurnal Agriovet Vol. 8 No. 2 (2026): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/bmj4e239

Abstract

Sheep are a significant contributor of organic waste. Dolomite has the ability to neutralize acidity. The addition of dolomite to sheep urine is thought to lower the pH, while increasing the nutrient content in the resulting POC. The purpose of the research carried out was to analyze the effect of dolomite addition on pH, determine the effect of dolomite addition on nutrient content (Nitrogen) and determine the optimal dose of dolomite addition that produces the best pH and nutrient content in sheep urine POC. The research was conducted in Klegenrejo Village, Klirong District, Kebumen Regency. The research will be carried out in December 2025. The research was carried out using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications, namely P0 (without dolomite addition), P1 (Addition of 1% dolomite per liter of sheep urine), P2 (Addition of 3% dolomite per liter of sheep urine) and P3 (Addition of 6% dolomite per liter of sheep urine). The data obtained will be subjected to Descriptive Test, Normality Test, T Test between treatments (one way ANNOVA). The results of the study showed that the addition of dolomite to sheep urine POC had no significant effect on pH levels and nitrogen nutrients in each treatment given with a significance value (P>0.05), but treatment P3 (addition of 6% dolomite) was the most optimal administration with a pH of 7.55 and a nitrogen nutrient content of 0.110%. Keywords: Dolomite, Liquid Organic Fertilizer, Sheep, pH, Nutrients