Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Psychology Science

Pengaruh Mindful Parenting terhadap Stres Pengasuhan Orang Tua yang Memiliki Anak Usia Dini Ayu Puspa Kinanti; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 3 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.725 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2859

Abstract

Abstract. Parenting for early childhood-age children is the challenges and pressures tasks of the parents so that if the parents is unable to handle these challenges and pressures, the parents will be vulnerable to parenting stress. Therefore, parents need a parenting concept that can regulate parenting stress. Mindful parenting is a conscious parenting concept by enjoying the moment with the child, accepting the child's condition as it is, and not giving judgment. Mindful parenting is considered to reduce parenting stress and parents can build more positive parenting. This study aims to examine the effect of mindful parenting on parenting stress in parents who have early childhood. This study used a quantitative approach with a total of 136 research participants, which were divided into 122 mothers and 14 fathers aged 21-60 years. Single stage stratified random sampling was used to the collected the data. Mindful parenting was measured using the Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) with a reliability of .920, while parenting stress was measured using the Parental Stress Scale (PSS) with a reliability of .718. The result of the hypothesis using simple linear regression analysis showed that there’s a negative role of mindful parenting towards parenting stress in parent of early childhood-age children (R2 = .059 ; p =.005 < .05). When parents implement mindful parenting, it can make the parenting stress experienced low. There are also differences in mindful parenting and parenting stress on fathers and mothers who have early childhood-age children based on sociodemography. Abstrak. Mengasuh anak usia dini merupakan tugas orang tua yang penuh dengan tantangan dan tekanan sehingga jika orang tua tidak mampu menangani tantangan dan tekanan ini, maka orang tua akan rentan untuk mengalami stres pengasuhan. Maka dari itu, diperlukan sebuah konsep pengasuhan yang dapat meregulasi stres pengasuhan. Mindful parenting adalah sebuah konsep pengasuhan yang berkesadaran dengan menikmati momen bersama anak, menerima kondisi anak apa adanya, dan tidak memberi penghakiman. Mindful parenting dianggap dapat membuat stres pengasuhan menjadi lebih rendah dan orang tua dapat membangun pengasuhan yang lebih positif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji pengaruh mindful parenting terhadap stres pengasuhan pada orang tua yang memiliki anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah partisipan penelitian sebanyak 136 orang, yang terbagi atas 122 ibu dan 14 ayah yang berusia 21-60 tahun. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah single stage stratified random sampling. Mindful parenting diukur menggunakan Mindfulness in Parenting Questionnaire (MIPQ) dengan reabilitas .920, sementara stres pengasuhan diukur menggunakan Parental Stress Scale (PSS) dengan reabilitas .718. Hasil hipotesis menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa terdapat peran negatif pada mindful parenting terhadap stres pengasuhan pada orang tua (R2 = .059 ; p = .005 < .05). Ketika orang tua mengimplementasikan mindful parenting maka dapat membuat stres pengasuhan yang dialami menjadi rendah. Terdapat juga perbedaan mindful parenting dan stres pengasuhan pada ayah dan ibu yang memiliki anak usia dini berdasarkan sosiodemografis.
Hubungan Kematangan Karir dengan Psychological Well-being pada Fresh Graduate di Kota Bandung Syafirah Mutiara Hakim; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.917 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3078

Abstract

Abstract. One of the developmental tasks of emerging adulthood is to explore identity in the workplace. Same as the task of fresh graduates to find their work identity. On the other hand, fresh graduates experience feelings of anxiety due to the increasing number of unemployment and job competition, are unable to establish a settled personal identity, and tend not to want to discuss development tasks they have to deal with. These concerns illustrate that most of them are not ready to face the world of work, which in Super's definition (1977) is said to be a low level of career maturity. Failure to develop a career identity has been found in several studies to be associated with psychological well-being . The purpose of this study was to determine the relationship between career maturity and psychological well-being on fresh graduates in Bandung City. The method used is a correlational design with a quantitative approach with the number of participants as many as 200 people. The measuring instrument used aspects of Super career maturity by Dewi Sartika (2003) which was tried out again and Ryff's Psychological Well-being Scale using the Spearman Rank correlation test analysis technique. The results of the analysis show a positive relationship between career maturity and psychological well-being on fresh graduates in Bandung City (rs = 0.728), meaning that the higher the career maturity on fresh graduates, the higher their psychological well-being. Abstrak. Salah satu tugas perkembangan emerging adulthood adalah mengeksplorasi identitas di bidang pekerjaan. Hal tersebut sejalan dengan tugas fresh graduate untuk mencari identitas kerjanya. Disisi lain, fresh graduate mengalami perasaan cemas akibat meningkatnya jumlah pengangguran dan persaingan lapangan kerja, tidak mampu menetapkan identitas pribadi yang settle, dan cenderung untuk tidak ingin membahas tugas perkembangan yang harus dihadapinya. Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar dari mereka memang belum siap untuk menghadapi dunia kerja, dimana dalam pengertian Super (1977) kekhawatiran tersebut dikatakan sebagai tingkat kematangan karir yang rendah. Kegagalan untuk mengembangkan identitas karir telah ditemukan dalam beberapa penelitian mengindikasikan psychological well-being individu yang rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa erat hubungan kematangan karir dengan psychological well-being pada fresh graduate di Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah desain korelasional dengan pendekatan kuantitatif dengan jumlah partisipan sebanyak 200 orang. Alat ukur yang digunakan adalah penurunan aspek-aspek kematangan karir Super oleh Dewi Sartika (2003) yang di try out ulang dan Ryff’s Psychological Well-being Scale dengan menggunakan teknik analisis uji korelasi Rank Spearman. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang positif antara kematangan karir dengan psychological well-being pada fresh graduate di Kota Bandung (rs = 0.728), artinya semakin tinggi kematangan karir fresh graduate semakin tinggi psychological well-being-nya.
Gambaran Subjective Well Being Mahasiswa Kedokteran Kota Bandung Disa Aurea Annisa Nureffa; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.527 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3099

Abstract

Abstract. The existence of the COVID-19 pandemic phenomenon has increased the need for medical personnel, the number of doctors, so that medical faculty students are urgently needed. The stressors faced by medical students come from academic and non-academic so that medical students have extraordinary challenges in their lives and affect their subjective well being. However, the COVID-19 pandemic has also made medical faculty students better prepare themselves before entering society. The research was conducted to determine the SWB of Medical Faculty students in Bandung City. Measuring tools used. Positive Affect and Negative Affect Scales developed by Watson. Clark. and Tellegen and Diener's Life Satisfaction scale adapted by Hanif Akhtar. Respondents were students of the medical faculty of Bandung City, amounting to 332 people. The study used a convenience sampling technique. The data analysis technique used descriptive analysis. The results showed that overall medical students showed high subjective well being as many as 182 people (55%) and classified as having low subjective well being as many as 150 people (45%). Based on gender, women had lower SWB (M=64.58) than men (M=68.84). Based on age, 17 years old had low SWB (M=61.25) compared to 23 years old with high SWB (M=73.64). Based on the level, level 1 students have lower SWB (M=64.10) while level 3 students have high SWB (M=68.61). Abstrak. Adanya fenomena pandemi COVID-19 menjadikan meningkatnya kebutuhan akan tenaga medis, jumlah dokter, sehingga mahasiswa fakultas kedokteran sangat dibutuhkan. Penghayatan stressor yang dihadapi oleh mahasiswa fakultas kedokteran berasal dari akademik dan non akademik sehingga mahasiswa kedokteran memiliki tantangan yang luar biasa dalam kehidupannya dan mempengaruhi Subjective well being mereka. Namun pandemi COVID-19 juga membuat mahasiswa fakultas kedokteran lebih mempersiapkan diri sebelum terjun kedalam masyarakat. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui SWB pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan. Positive Affect and Negative Affect Scales yang dikembangkan oleh Watson. Clark. dan Tellegen dan skala kepuasan hidup (Life Satisfaction) yang dibuat oleh Diener yang diadaptasi oleh Hanif Akhtar. Responden adalah mahasiswa fakultas kedokteran Kota Bandung yang berjumlah 332 orang. Penelitian menggunakan teknik convenience sampling. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan secara keseluruhan mahasiswa fakultas kedokteran menunjukan Subjective well being yang tinggi sebanyak 182 orang (55%) dan tergolong memiliki subjective well being rendah sebanyak 150 orang (45%). Berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki SWB rendah (M=64.58) daripada laki-laki (M=68.84). Berdasarkan usia, 17 tahun memiliki SWB rendah (M=61.25) dibandingkan usia 23 tahun dengan SWB tinggi (M=73.64). Berdasarkan tingkat mahasiswa tingkat 1 memiliki SWB lebih rendah (M=64.10) sedangkan mahasiswa tingkat 3 memiliki SWB yang tinggi (M=68.61).
Mindful Parenting pada Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja Awal di Kota Bandung Timur Kavita Hayatunnisa; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.638 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3149

Abstract

Abstract. When children are in the early adolescence phase, they experience physical, psychological, social and behavioral changes that make this phase difficult for both teenager and the whole family. It is often increases the tension of behavior and relationships that are not good and less harmonious between parents and adolescents, so parents need to adjust their parenting strategies and one of which is mindful parenting. This study aims to determine the description of mindful parenting in parents who have children in early adolescence phase in East Bandung. The measuring instrument used in this research is Interpersonal Mindfulness in Parenting (IMP) developed by Duncan et. al (2009). This study uses a quantitative approach with descriptive analysis. The sampling technique in this study is Cluster Random Sampling. The respondents of this study involved 233 mothers and 72 fathers who have children in early adolescence phase in East Bandung. The result showed that mothers who have children in early adolescence phase at 19 junior high schools in East Bandung have high Mindful Parenting. Abstrak. Ketika anak berada pada fase remaja awal, remaja mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial dan perilaku yang mengakibatkan fase ini sulit baik bagi remaja maupun seluruh keluarga sehingga seringkali meningkatkan ketegangan perilaku dan hubungan yang kurang baik dan kurang harmonis antara orang tua dengan anak. Sehingga orang tua perlu menyesuaikan strategi pengasuhan mereka, salah satunya dengan mindful parenting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mindful parenting pada orang tua yang memiliki anak remaja awal di Bandung Timur. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Interpersonal Mindfulness in Parenting (IMP) yang dikembangkan oleh oleh Duncan et. al (2009). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan Cluster Random Sampling. Responden penelitian ini melibatkan 233 ibu dan 72 ayah yang memiliki anak remaja awal di Bandung Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memiliki anak remaja awal di 19 SMP di Bandung Timur memiliki Mindful Parenting yang tinggi.
Mindfulness pada Remaja Awal Santri Pondok Pesantren Afifah Nurfadhilah Hasna; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5467

Abstract

Abstract. Adolescence is a period of transition from childhood to adulthood. One of the transitions felt by adolescence is when they start entering junior high school, especially those who continue their education to Islamic Boarding Schools. Islamic Boarding Schools is an educational model that has distinctive characteristics with very busy daily activities starting when students wake up until students go back to sleep and have almost the same schedules every day. Student will be able to live the busy daily life by applying mindfulness. The purpose of this study was to obtain empirical data regarding mindfulness in early adolescents of Islamic Boarding School students. The method used in this research was descriptive statistical analysis. The measuring instrument used was the Child and Adolescent Mindfulness Measure (CAMM) to measure the level of mindfulness in 340 student respondents who came from 6 Islamic Boarding Schools in West Bandung City and selected through a Two Stage Cluster Sampling. The results showed that 189 students (55.6%) had low levels of mindfulness (M= 15.88; SD= 3.41) and 151 students (44.4%) had high levels of mindfulness (M= 25.33; SD= 3.16). Abtrak. Masa remaja ialah masa transisi dari kanak-kanak hingga dewasa. Salah satu transisi yang dirasakan oleh remaja adalah ketika mereka mulai memasuki sekolah menengah pertama, terlebih lagi bagi remaja yang melanjutkan sekolahnya ke pondok pesantren. Pesantren adalah model pendidikan yang memiliki karakteristik khas dengan keseharian yang sangat padat sekali dimulai ketika bangun tidur hingga santri tidur kembali dan jadwal yang hampir sama setiap harinya. Santri akan dapat menghayati keseharian yang padat tersebut dengan menerapkan mindfulness. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh data empiris mengenai mindfulness pada remaja awal santri pondok pesantren. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Pada penelitian ini memiliki partisipan sebanyak 340 santri yang berasal dari 6 pondok pesantren di Kota Bandung Bagian Barat. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah Two Stage Cluster Sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat mindfulness adalah alat ukur Child and Adolescent Mindfulness Measure (CAMM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 189 santri (55.6%) memiliki tingkat mindfulness yang rendah (M= 15.88; SD= 3.41) dan sebanyak 151 santri (44.4%) memiliki tingkat mindfulness yang tinggi (M= 25.33; SD= 3.16).
Studi Mindfulness terhadap Body Image pada Remaja Putri Wafa Aulia Nafisyah; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5469

Abstract

Abstract. Various physical changes occur during adolescence, such as enlarged hips, weight gain due to increased body fat, etc. The occurrence of physical changes causes unwanted psychological effects. Adolescence is a critical period in the development of body image. This can make young women's body image tend to be negative, which shows a dislike of the body, excessive evaluation, etc. To avoid the impact of negative body image and make a positive body image is to use mindfulness. This study aims to obtain empirical data on mindfulness's effect on adolescent girls' body image. This study uses a quantitative approach with causality design and data analysis with a simple linear regression technique. This study involved 374 respondents who were female students in 6 senior high schools spread across the city of Bandung aged 15-17 years. The data collection technique used is cluster random sampling. The measuring instrument used to measure the level of Mindfulness is Child and Adolescent Mindfulness (CAMM), while measuring the level of Body Image using the Multidimensional Body Self Relation Questionnaire (MBSRQ). The results of calculations using the t-test indicate that (R2 = .533; p = .000 < .05; tcount = 20,623 > ttable; mean = 23.14) there is an effect of mindfulness on the body image of adolescent girls by 53.3%. This means that when young women implement mindfulness, they can increase their body image to be positive. In the descriptive analysis, participants have low mindfulness and body image. Abstrak. Berbagai perubahan fisik terjadi selama masa remaja, seperti pinggul yang membesar, bertambahnya berat badan karena lemak tubuh yang meningkat dsb. Terjadinya perubahan fisik menimbulkan dampak psikologis yang tidak diinginkan. Masa remaja merupakan masa kritis dalam perkembangan body image. Hal ini dapat membuat body image remaja putri cenderung negatif yang menunjukkan ketidaksukaan terhadap tubuh, evaluasi yang berlebihan dsb. Untuk menghindari dampak body image negatif dan menjadikan body image positif adalah dengan mindfulness. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data empirik mengenai pengaruh mindfulness terhadap body image remaja putri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas dan analisis data dengan teknik regresi linier sederhana. Penelitian ini melibatkan 374 responden yang merupakan siswi putri di 6 SMAN yang tersebar di Kota Bandung berusia 15-17 Tahun. Teknik pengambilan data yang digunakan yaitu cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur tingkat Mindfulness yaitu Child and Adolescent Mindfulness (CAMM), sedangkan untuk mengukur tingkat Body Image menggunakan alat ukur Multidimensional Body Self Relation Questionnaire (MBSRQ). Hasil perhitungan menggunakan uji t menunjukkan bahwa (R2 = .533 ; p = .000 < .05 ; thitung = 20.623 > ttabel ; mean = 23.14) terdapat pengaruh mindfulness terhadap body image remaja putri sebesar 53.3%. Yang memiliki arti bahwa saat remaja putri mengimplementasikan mindfulness, dapat meningkatkan body image yang dimiliki menjadi positif. Secara analisis deskriptif partisipan memiliki mindfulness dan body image yang rendah.
Pengukuran Implicit Association terhadap Istilah yang Berkaitan dengan Narkoba pada Kelompok Remaja Beresiko Faizza Haya Diliana; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7371

Abstract

Abstract. This study aims to determine the level of implicit association with the terms narkoba, NAPZA, pecandu, and penyalahguna in at-risk adolescent groups. The study employs a quantitative method tested on 11 adolescent participants using convenience sampling technique for sample collection. The measurement instrument used in this research is the GNAT (Go No-Go Association Task), which measures the strength of implicit association with the target words narkoba, NAPZA, pecandu, and penyalahguna, and pairs them with positif and negatif evaluatif attributes. The data analysis for this study employs d-prime (d), which measures the sensitivity of each term, where higher sensitivity indicates a stronger association between the target category and evaluatif attributes. The analysis of mean score differences is performed using the Jamovi program. The results show that there are differences in the level of implicit association with the terms narkoba and NAPZA, with the strongest to weakest association sequence being NAPZA + positif (d=3.00) > narkoba + negatif (d=2.80) > NAPZA + negatif (d=2.75) > narkoba + positif (d=2.16). Furthermore, there are differences in the level of implicit association with the terms pecandu and penyalahguna, with the strongest to weakest association sequence being pecandu + negatif (d=3.14) > penyalahguna + negatif (d=2.85) > penyalahguna + positif (d=2.72) > pecandu + positif (d=2.67). Additionally, the analysis of d-prime based on relationship type reveals that there are differences in the level of implicit association based on relationship type in at-risk adolescent groups regarding the terms narkoba, NAPZA, pecandu, and penyalahguna. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui level implicit association terhadap istilah narkoba, NAPZA, pecandu, dan penyalahguna pada kelompok remaja beresiko. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang diujikan pada 11 partisipan remaja dengan metode pengambilan sampel menggunakan teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan GNAT (Go No-Go Association Task) yang mengukur kekuatan implicit association pada kata target narkoba, NAPZA, pecandu, dan penyalahgunadan dipasangkan dengan atribut evaluatif positif dan negatif. Analisis data penelitian ini menggunakan d-prime (d) yaitu mengukur sensitivitas dari setiap istilah dimana sensitivitas yang lebih besar menunjukkan asosiasi yang lebih kuat antara kategori target dan atribut evaluatif .Analisa perbedaan skor mean dilakukan menggunakan program Jamovi. Diperoleh bahwa terdapat perbedaan level implicit association pada istilah narkoba dan NAPZA dengan urutan asoasi terkuat hingga terendah yaitu NAPZA + positif (d=3.00 ) > narkoba + negatif (d=2.80 ) > NAPZA + negatif (d=2.75 ) > narkoba + positif (d=2.16 ). Dan terdapat perbedaan level implicit association pada istilah pecandu dan penyalahguna dengan urutan asosiasi terkuat hingga terendah yaitu pecandu + negatif (d=3.14 ) > penyalahguna + negatif (d=2.85 ) > penyalahguna + positif (d=2.72 ) > pecandu + positif (d=2.67 ). Selain itu, hasil analisa d-prime yang dilakukan berdasarkan jenis relasi ditemukan bahwa terdapat perbedaan level implicit association berdasakan jenis relasi pada kelompok remaja beresiko terhadap istilah narkoba, NAPZA, pecandu, dan penyalahguna.
Pengukuran Implicit Association terhadap Istilah yang Berkaitan dengan Narkoba pada Remaja SMA Salwa Azzahra; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7658

Abstract

The problem of drugs in Indonesia is becoming serious because the cases are increasing among teenagers. The National Narcotics Agency has carried out various prevention program efforts, one of which is the "Anti-Drugs" campaign. There are various terms used in drug prevention campaigns. There is an impact of the terms used, one of which is the effect on the implicit association. This study aims to look at the different levels of implicit association with the terms narkoba, NAPZA, pecandu, dan penyalahguna in adolescents at SMA Telkom Bandung. This study uses a quantitative method with a nonprobability sampling technique, namely convenience sampling. Researchers create a google form to select participants according to the characteristics of the sample. The measuring tool used in this study uses the GNAT (Go No-Go Association Task) which measures the strength of the implicit association on the target words narkoba, NAPZA, pecandu, and penyalahguna paired with evaluative attributes. Data analysis in this study uses d-prime (d), which measures the sensitivity of each term where greater sensitivity indicates a stronger association with the term. Hypothesis testing with data processing is done with the JASP program. The results show that there is a level of implicit association in the terms narkoba, NAPZA, pecandu, and penyalahguna with positive and negative evaluative attributes. Permasalahan narkoba di Indonesia marak terjadi dan kasusnya meningkat di kalangan remaja. Oleh karena itu berbagai upaya pencegahan dilakukan salah satunya seperti kampanye “Anti Narkoba”. Terdapat istilah yang bervariasi yang digunakan dalam kampanye pencegahan narkoba. Terdapat dampak dari istilah yang digunakan tersebut salah satunya berpengaruh pada implicit association. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan level implicit association terhadap istilah narkoba, NAPZA, pecandu, dan penyalahguna terhadap remaja SMA. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik sampling nonprobability yaituconvenience sampling. Peneliti menyebarkan google form untuk menjaring partisipan. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan GNAT (Go No-Go Association Task) yang mengukur kekuatan implicit association pada kata target narkoba, NAPZA, pecandu, dan penyalahguna dipasangkan dengan atribut evaluatif. Analisis data penelitian ini menggunakan d-prime (d’) yaitu mengukur sensitivitas dari setiap istilah dimana sensitivitas yang lebih besar menunjukkan asosiasi yang lebih kuat pada istilah. Uji hipotesis dengan pengolahan data dilakukan dengan program JASP. Hasil menunjukkan bahwa terdapat level implicit association pada istilah narkoba, NAPZA, pecandu, dan penyalahguna dengan atribut evaluatif positif dan negatif.
Pengaruh Sikap Mengenai Bullying terhadap Perilaku Prososial Santri Bystander di Pondok Pesantren Khoirotun Nisa, Luthfiah; Nurul Khasanah, Andhita
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10051

Abstract

Abstract. Islamic boarding schools are schools with the characteristic of teaching Islamic religious values. Adolescents who are in Islamic boarding schools will adapt or adjust themselves to various conditions within the scope of Islamic boarding schools. Cases of bullying in Islamic boarding schools are increasing because there are teenagers who become observers (bystanders) watching bullying incidents directly in front of their eyes which makes the perpetrators of bullying become reinforcements in carrying out bullying behavior. This research used a quantitative experimental method with a total of 344 MTS Islamic boarding school students in Bandung City as subjects. The measuring instrument used in this research uses the Attitude Scale which measures attitudes regarding bullying and the Prosocial Tendencies Measure (PTM) measuring instrument which measures prosocial behavior. The research results show that there is no influence of bullying attitudes on the prosocial behavior of Islamic boarding school observer students (Sig. 0.167 > 0.05). Abstrak. Pondok pesantren merupakan sekolah dengan ciri khas mengajarkan nilai agama islam. Remaja yang berada di pondok pesantren akan beradaptasi atau menyesuiakan dirinya dengan berbagai macam kondisi dalam ruang lingkup pondok pesantren. Kasus bullying di dalam pesantren semakin meningkat karena terdapat remaja yang menjadi pengamat (bystander) menonton kejadian bullying secara langsung di depan mata yang menjadikan pelaku bullying sebagai penguat dalam melakukan perilaku bullying. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan jumlah subjek 344 santri MTS pondok pesantren di Kota Bandung. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Attitude Scale yang mengukur sikap mengenai bullying dan alat ukur Prosocial Tendencies Measure (PTM) yang mengukur perilaku prososial. Uji hipotesis dengan pengolahan data dilakukan dengan program SPSS. Hasil penelitan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh sikap mengenai bullying terhadap perilaku prososial santri pengamat pondok pesantren (Sig. 0,167 > 0,05).
Gambaran Intimacy terhadap Pria Dewasa Azizah Khairunnisa; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10056

Abstract

Abstract. The issue of infidelity that is rampant in Indonesia is mostly found in men because the perception of marital intimacy in men itself can vary depending on various factors. One of them is individual experience in sharing intimate experiences in several areas in the hope that the relationship can last over time. This study aims to determine the picture of intimacy in adult men. This study uses descriptive statistical technique method with non probability sampling technique, namely purposive sampling. The measuring instrument used in this study uses the Personal Assessment of Intimacy in Relationship (PAIR) which measures the intimacy of romantic relationships. The research location was in Bandung City with a total of 101 participants who were married men in young adulthood with a marriage age of 1-5 years. The results of this study indicate that the intimacy of adult men is in the high category (50.5%) which means that they have intimacy in their relationship with their partner. Abstrak. Isu perselingkuhan yang marak terjadi di Indonesia banyak ditemukan pada pria karena persepsi keintiman pernikahan pada pria itu sendiri bisa berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor. Salah satunya adalah pengalaman individu dalam berbagi pengalaman intim di beberapa area dengan harapan hubungan tersebut dapat bertahan dari waktu ke waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keintiman pada pria dewasa. Penelitian ini menggunakan metode teknik statistik deskriptif dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling, yaitu purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Personal Assessment of Intimacy in Relationship (PAIR) yang mengukur keintiman hubungan romantis. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Bandung dengan jumlah partisipan sebanyak 101 orang pria yang sudah menikah pada usia dewasa muda dengan usia pernikahan 1-5 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keintiman pria dewasa berada pada kategori tinggi (50,5%) yang berarti memiliki keintiman dalam hubungannya dengan pasangan.