Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

The Effectiveness Between Tamsulosin and Solifenacin Combined with Tamsulosin on Treatment of Ureteral Stent-Related Symptoms Berry Erida Hasbi; Muhammad Asykar Palinrungi; Khoirul Kholis; Syarif Bakri; Syakri Syahrir; Firdaus Kasim
Nusantara Medical Science Journal Volume 6 Issue 1, January - June 2021
Publisher : Faculty of Medicine, Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/nmsj.v6i1.14263

Abstract

Introduction: The clinical usage of the ureteral stent caused several stent-related symptoms (SRSs), including lower urinary tract symptoms, pain, general health, work performance, sexual matter and additional problems. This study aims to evaluate the effectiveness between tamsulosin and solifenacin combined with tamsulosin for SRSs.Methods: This double blind randomized controlled trial used 50 patients. Between September 2020 and February 2021, patients underwent double-J stenting after retrograde ureteroscopy were analyzed. All patients would be randomized in a 1:1 ratio in a 1:1 ratio to receive either tamsulosin 0,4 mg (Group A: 25 participants) or tamsulosin 0,4 mg & solifenacin 5 mg combination (group B: 25 participants).We used the Ureteral Symptoms Score Questionnaire (USSQ) as an outcome measure at 1s, 2nd, 3rd and 4th weeks after stent insertion. Results: Group A was found more in women, while in group B was more in men. The highest age in group A and group B was 50-60 years old (36% and 64%). The location of stenting in group A was found more in left (60%), while the group B in the right (52%). Both groups had more patients who were normal nutritional status (60%). There was an improvement in pain and work performance after treatment in both groups, meanwhile group B showed better improvement than group A at all weeks. in addition, there was an improvement in urinary symptoms and sexual matter in group B better than in group A at 2nd to 4th week. Furthermore, group B showed better improvement in general health and additional problem only at 4th week. Conclusions: Combination therapy with tamsulosin and solifenacin improved USSQ score more than the monotherapy group. This implied that combination therapy is optimal for improving SRSs.
UJI EFEKTIVITAS DAUN SALIARA (LANTANA CAMARA L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT (VULNUS LACERATUM) DAN MEMAR (VULNUS CONTUSSUM) TERHADAP MENCIT (MUS MUSCULUS) Muh. Gufron; Andi Dhedie Prasatia Sam; Marzelina Karim; Berry Erida Hasbi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.22204

Abstract

Jumlah penduduk yang mengalami luka atau cedera secara nasional di Indonesia meningkat dari 7,5% (2012) menjadi 8,2% (2013), yang umumnya disebabkan oleh terjatuh (40,9%) dan kecelakaan kendaraan bermotor (40,6%), lecet atau memar (70,9%), keseleo (27,5%), dan laserasi (23,2%). Setiap manusia melakukan aktivitas, besar kemungkinannya akan mengalami cedera. Mengetahui uji efektivitas daun Saliara terhadap penyembuhan luka sayat (Vulnus Laceratum) dan memar (Vulnus Contussum) terhadap mencit (Mus musculus). Jenis penelitian kuantitatif eksperimental dengan desain penelitian Post-test Control Group Design. Analisis data menggunakan uji T-test untuk melihat pengaruh daun Saliara terhadap penyembuhan luka sayat dan luka memar. Hasil penelitian diperoleh bahwa lama waktu penyembuhan luka sayat pada mencit dengan daun Saliara yaitu 9 hari, baik pada kelompok kontrol maupun intervensi. Sementara itu, lama waktu penyembuhan luka memar pada mencit dengan daun Saliara yaitu 6 hari, sedangkan pada kelompok kontrol membutuhkan lama waktu 8 hari. Secara statistik, terdapat perbedaan signifikan yaitu nilai p<0,05 rata-rata lama waktu penyembuhan daun Saliara terhadap luka sayat dan luka memar pada kedua kelompok perlakuan (0,000 < 0,05). Dalam hal ini, Daun Saliara efektif dalam penyembuhan luka sayat dan luka memar dengan masing-masing lama waktu secara berturut-turut, yaitu 9 hari dan 6 hari. Daun Saliara berpengaruh terhadap penyembuhan luka sayat dan luka memar pada mencit.
Literature Review : Torsio Testis Berry Erida Hasbi
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 2 No. 3 (2022): Maret
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v2i3.36

Abstract

Torsio testis adalah akut skrotum yang sebagian besar kasus terjadi pada pasien yang lebih muda (<25 tahun). Torsi testis menyumbang sekitar seperempat dari keluhan skrotum yang muncul di unit gawat darurat. Keluhan spontan, dipengaruhi aktivitas, atau, dalam kasus yang lebih sedikit, dikaitkan dengan trauma. Torsio testis ditandai dengan keluhan berupa nyeri, pembengkakan dan atau nyeri tekan pada skrotum, hilangnya refleks cremaster, Deming’s sign dan Angell’s sign. Ultrasonografi adalah modalitas pencitraan yang ideal untuk mengevaluasi skrotum dan menyingkirkan diagnosis banding. Viabilitas testis menurun secara signifikan 6 jam setelah timbulnya gejala oleh karena itu diagnosis dini adalah kuncinya. Tatalaksana adalah mulai dari detorsi manual hingga operasi orkidopeksi. Diagnosis yang terlewat atau tertunda dapat menyebabkan testis nekrotik dan gangren, atrofi testis, infertilitas, dan spermatogenesis yang abnormal.
Karakteristik Penderita Kanker Kolorektal di Rumah Sakit Pendidikan Ibnu Sina Makassar Tahun 2022 Asmaul Husnah; Andi Kartini Eka Yanti; Arina Fathiyyah Arifin; Berry Erida Hasbi; Dzul Ikram
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 4 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v4i1.435

Abstract

Di Indonesia, kanker kolorektal merupakan pembunuh utama. Mengacu pada tumor ganas di usus besar dan rektum, kami mengatakan bahwa kanker ini berkembang dari jaringan epitel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil tipe orang yang terdiagnosis kanker kolorektal di Rumah Sakit Pendidikan Ibnu Sina Makassar pada tahun 2022. Penelitian deskriptif observasional dilakukan. Total sampling digunakan untuk mengumpulkan sampel penelitian sebanyak 55 pasien, yang diambil dari populasi pasien kanker kolorektal di Rumah Sakit Pendidikan Ibnu Sina Makassar. Kriteria inklusi diperhitungkan selama pengumpulan sampel, yaitu pasien kanker kolorektal dengan data rekam medik lengkap. Data diolah dengan metode univariat. Mayoritas pasien kanker kolorektal berusia 46-55 tahun (38,2%), didominasi oleh laki-laki (52,7%), riwayat keluarga yaitu yang tidak memiliki riwayat keluarga (80,0%), tingkat pendidikan terbanyak SD (36,4%), jenis pekerjaan sebagai IRT (30,9%), berdasarkan suku yaitu makassar (58,2%), riwayat sering konsumsi daging merah dengan pasien yang memiliki riwayat (80,0%), riwayat merokok dengan pasien yang tidak memiliki riwayat (52,7%), lokasi tersering berada di rektum (69,1%), gambaran histopatologi adenokarsinoma (96,4%) dan jenis kemoterapi yaitu regimen FOLFOX (56,4%. Usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, pendidikan, pekerjaan, suku, riwayat konsumsi daging merah, riwayat merokok, lokasi kanker, gambaran histopatologi serta jenis kemoterapi dari pasien kanker kolorektal merupakan hal yang perlu untuk diperhatikan.
Literature Review : Efek Pemberian Jahe (Zingiber Officinale) Terhadap Reinfeksi Covid-19 Tritiro Pasigai, St Ramadina Puteri; Wahyu, Sri; Erida Hasbi, Berry; Pandu Wiryansya, Edward; Royani, Ida
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.7677

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa akitf jahe (Zingiber Officinale) terhadap penderita COVID-19, dan untuk mengetahui gambaran pemanfaatan jahe (Zingiber Officinale) di Indonesia, khususnya terhadap penderita COVID-19. Jenis penelitian ini adalah literature review. Literature terdiri dari, jurnal ilmiah terakreditasi internasional, jurnal ilmiah terakreditasi nasional, sitasi tulisan dosen berupa penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus, Referensi Clinical Key, Referensi Wellness, Text book, dan Procedingbook. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jahe mengandung lebih dari 400 senyawa berbeda, namun efek farmakologis jahe sebagian besar disebabkan oleh senyawa terpene dan fenoliknya.  Kandungan terpene pada jahe antara lain zingiberene, bisabolene, farnesene, sesquiphellandrene, limonene, cineole, linalool, borneol, geranial dan curcumene. Berdasarkan beberapa jurnal yang telah dikaji, dapat disimpulkan bahwa mengkonsumsi jahe (zingiber officinale) dapat memberikan efek penghambatan langsung dan tidak langsung pada siklus hidup virus, termasuk pengikatan, pemasukan, replikasi, pengemasan dan perakitan, mungkin melalui interaksi dengan protein dan enzim kunci virus. Jahe dapat memengaruhi proses fundamental utama yang berperan dalam patogenesis COVID-19 karena sifat anti-virus, anti-inflamasi, imunomodulator, dan antioksidannya.
Karakteristik Faktor Risiko Terhadap Kejadian Fraktur Femur di Rs Ibnu Sina Makassar Tahun 2021-2022 Cahyani, Nafila; Wahyu, Sri; Erida Hasbi, Berry; Harahap, Muh. Wirawan; Mula Putra, Fadil
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.7688

Abstract

Latar Belakang: Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang akibat trauma kecelakaan lalu lintas dan osteoporosis. Data WHO menunjukkan tingginya angka kematian dan kejadian fraktur akibat kecelakaan lalu lintas terutama pada ekstremitas bawah yang memiliki  dampak signifikan terhadap rawat inap dan operasi. Tujuan: Mengetahui karakteristik faktor risiko terhadap kejadian fraktur  femur di RS Ibnu Sina Makassar Tahun 2021-2022. Metode: Penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari pasien fraktur femur di RS. Ibnu Sina Makassar Tahun 2021-2022 dengan total sampel sebanyak 24 sampel. Hasil: Penelitian ini melibatkan analisis data 24 pasien dengan fraktur femur dengan distribusi usia terbanyak terjadi pada kelompok >65 tahun 8 pasien (33,33%). Mayoritas pasien adalah perempuan 16 pasien (66,67%). Seluruh kasus fraktur termasuk jenis terbuka (100%) dan fraktur proksimal femur merupakan lokasi paling umum melibatkan 17 pasien (73,83%). Durasi masa rawat inap terbanyak terdistribusi antara 4-6 hari dan >10 hari masing- masing melibatkan 8 pasien (33,3%). Sebanyak 16 pasien (66,67%) tidak memiliki riwayat medis yang signifikan. Kesimpulan: Fraktur femur cenderung terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun dengan mayoritas pasien perempuan. Jenis fraktur yang umumnya terjadi adalah fraktur terbuka dan lokasi paling umum berada pada bagian proksimal femur. Durasi masa rawat inap bervariasi antara 4-6 hari dan lebih dari 10 hari dan sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat medis yang signifikan.
Analysis Of The Relationship Between Risk Factors Hemorrhoids In Pregnant Women In Sinjai District M. Raihan Nabil Hadinata; Anna Sari Dewi; Sigit Dwi Pramono; M. Hamsah; Berry Erida Hasbi
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 01 (2025): Jurnal EduHealt, Edition January - March, 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pregnancy often causes various changes in a woman's body , one of which is hemorrhoids , which generally occur in the second and third trimesters . This study aims to analyze the relationship between risk factors such as trimester of pregnancy , defecation position , and constipation with the incidence of hemorrhoids in pregnancy women in Sinjai Regency. The method used is an analytical observational approach with a case-control design at the Restu Ibu Maternity Clinic , with the case group consisting of pregnant women who experienced hemorrhoids and a control group who did not experience them . Data collection was carried out through medical records and direct interviews , and statistical analysis using the Chi- square test . The results showed that constipation had been significant relationship with the incidence of hemorrhoids (p = 0.003), while parity and defecation position factors did not show a significant relationship . This study suggests that constipation management should be the main step in preventing hemorrhoids in pregnancy women , as well as providing important insights for health workers and the community to increase awareness of hemorrhoid prevention during pregnancy .
Hubungan Kebiasaan Buang Air Besar Pasien Hemoroid dengan Penggunaan Toilet Duduk atau Jongkok Muhammad Isma'il Asmi; Reeny Purnamasari Juhamran; Muhammad Alfian Jafar; Dian Amlelia Abdi; Berry Erida Hasbi
Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran Vol. 6 No. 1 (2026): March
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/fmj.v6i1.619

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan buang air besar (BAB), meliputi frekuensi, durasi, dan tekanan mengejan, dengan jenis toilet yang digunakan (toilet duduk atau jongkok) pada pasien hemoroid di Rumah Sakit Ibnu Sina YW. UMI Makassar. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional dengan pendekatan observasi dan pengumpulan data dilakukan secara bersamaan pada satu waktu. Populasi penelitian adalah pasien hemoroid di Rumah Sakit Ibnu Sina YW. UMI Makassar, dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 47 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara frekuensi BAB dengan jenis toilet (p=0,001), durasi BAB dengan jenis toilet (p=0,002), dan tekanan mengejan berlebihan saat BAB dengan jenis toilet (p=0,013). Secara keseluruhan, jenis toilet, khususnya toilet jongkok, memiliki peran penting dalam mendukung pola defekasi yang sehat, baik dari segi frekuensi, efisiensi waktu, maupun tingkat tekanan yang dibutuhkan saat mengejan.
Relationship between Clinical Examination, Ultrasonography, and Histopathological Findings in Breast Tumors Muh Asri Jaya; Nasrudin Andi Mappaware; Berry Erida Hasbi; Reeny Purnamasari; Febie Irsandy
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 10 No 02 (2026): Qanun Medika Vol 10 No 02 July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jqm.v10i02.31552

Abstract

Breast cancer is a global health issue and one of the leading causes of death among women in Indonesia, accounting for approximately 65% of cases. Various factors, such as lifestyle, genetics, and delayed diagnosis, contribute to the high mortality rate. This study aims to analyze the application of triple diagnosis, which includes clinical examination, ultrasound, and histopathology in the diagnosis of breast tumors at Ibnu Sina Hospital in Makassar. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach. A total sampling method was applied to all breast tumor patients who underwent clinical examination, ultrasonography, and histopathological examination during 2023–2024. Data were obtained from medical records and analyzed descriptively using frequencies and percentages. The association between clinical examination, ultrasonography, and histopathological findings was assessed using the Chi-square test. The results showed that most patients were young women and that benign tumors were more common than malignant tumors. Clinical examination and ultrasonography findings were predominantly benign. Histopathological examination showed that fibroadenoma mammae was the most common benign tumor, while invasive breast carcinoma of no special type was the most common malignant tumor. The Chi-square test showed a significant association between clinical examination, ultrasonography, and histopathological findings. These findings indicate diagnostic concordance among the three examination methods and support the role of integrated diagnostic assessment in assisting clinical decision-making for breast tumor management.
Appendisitis Akut pada Perempuan Usia 18 Tahun: Laporan Kasus St Ramadina Puteri Tri Tiro Pasigai; Berry Erida Hasbi; Erwin Syarifuddin
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.981

Abstract

Appendicitis is an inflammation of the vermiform appendix that is generally caused by a bacterial infection process. This disease is one of the most common causes of acute abdominal surgical emergencies. Delayed diagnosis may increase the risk of perforation and postoperative complications. This case report aims to describe the clinical presentation, diagnosis, and management of acute appendicitis in a patient. This study used a descriptive design in the form of a case report involving an 18-year-old female patient who presented with right lower quadrant abdominal pain accompanied by nausea and vomiting. Clinical examination revealed typical signs of acute appendicitis with an Alvarado score of 7. Laboratory examination showed leukocytosis, while abdominal ultrasonography and abdominal MSCT findings supported the diagnosis of acute appendicitis. Following appendectomy, the patient’s clinical condition showed significant improvement. Right lower quadrant abdominal pain gradually decreased, and the patient’s vital signs remained stable. Gastrointestinal function also gradually recovered, as indicated by good dietary tolerance and the return of bowel movements. The patient demonstrated a good prognosis without postoperative complications such as perforation, intra-abdominal abscess, or surgical site infection. The patient was discharged in stable condition with oral antibiotics, analgesics, and outpatient follow-up education. This case demonstrates that early diagnosis of acute appendicitis is essential to prevent serious complications such as perforation and peritonitis.