This research explores how schools in peri-urban areas reflect structural and symbolic inequalities in the Indonesian education system. The aim of this research is to understand how educational spaces are produced, interpreted and negotiated by school communities. Using a qualitative educational ethnography approach, this study collected data through in-depth interviews, participatory observation and visual documentation in two secondary schools on the outskirts of Makassar City. The research sample included teachers, students, school staff and parents, who were selected through purposive and snowball sampling techniques. This study uses space theory (Lefebvre), social theory (Bourdieu), and infrapolitics (Scott) to analyze how marginalized communities live and resist marginalization in neglected educational spaces. Field results show that peripheral schools do not only function as places of learning, but also as social arenas filled with resistance, aspirations and symbolic negotiations. Key findings show that spatial injustice and symbolic violence go hand in hand with grassroots resilience. The study concludes that education cannot be separated from the politics of space, and that urban education policies should consider equity in both physical infrastructure and community participation. This research contributes to urban critical education studies through grounded ethnographic narratives of forgotten school communities.ABSTRAKPenelitian ini mengeksplorasi bagaimana sekolah-sekolah di wilayah pinggiran kota mencerminkan ketimpangan struktural dan simbolik dalam sistem pendidikan Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana ruang pendidikan diproduksi, dimaknai, dan dinegosiasikan oleh komunitas sekolah. Dengan menggunakan pendekatan etnografi pendidikan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi visual di dua sekolah menengah di pinggiran Kota Makassar. Sampel penelitian mencakup guru, siswa, staf sekolah, dan orang tua, yang dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling. Studi ini menggunakan teori ruang (Lefebvre), teori sosial (Bourdieu), dan infrapolitik (Scott) untuk menganalisis bagaimana komunitas marjinal menghidupi dan melawan keterpinggiran dalam ruang pendidikan yang terabaikan. Hasil lapangan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah pinggiran tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai arena sosial yang dipenuhi perlawanan, aspirasi, dan negosiasi simbolik. Temuan utama menunjukkan bahwa ketidakadilan spasial dan kekerasan simbolik berjalan berdampingan dengan ketangguhan akar rumput. Studi ini menyimpulkan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari politik ruang, dan bahwa kebijakan pendidikan perkotaan harus mempertimbangkan keadilan baik dalam infrastruktur fisik maupun partisipasi komunitas. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian pendidikan kritis perkotaan melalui narasi etnografis yang membumi tentang komunitas sekolah yang terlupakan.