Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Longitudinal Study of Student Self-Regulation and Mental Health in Merdeka Digital Learning Widyaningtyas, Prasita Ayu; Wirawati, Denik; Apriyanto, Sigit; Yuliana, Roma; Anum, Adelina
Journal Corner of Education, Linguistics, and Literature Vol. 5 No. 2 (2025): November
Publisher : CV. Tripe Konsultan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54012/jcell.v5i2.651

Abstract

The rapid growth of digital learning within the Merdeka Curriculum has introduced new challenges concerning students’ digital wellbeing, self-regulation, and mental health. This study aimed to examine the longitudinal relationship among these variables among Year 10 students at SMA Negeri 9 Bandar Lampung over one semester. Employing a quantitative approach with repeated-measures design, data were collected at the beginning, middle, and end of the semester through structured questionnaires. The findings revealed a significant improvement in students’ digital wellbeing and self-regulation, accompanied by a gradual reduction in academic stress. Further analysis indicated that self-regulation acted as a mediating factor between digital wellbeing and mental health. These results support Zimmerman’s self-regulated learning theory and highlight the need to integrate digital literacy and self-regulation training within the implementation of the Merdeka Curriculum. Practically, the study provides insights for developing balanced learning strategies that promote both effective technology use and students’ psychological wellbeing in the digital era.
DAMPAK PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL, MASALAH KESEHATAN MENTAL, DAN IKLAN TEMBAKAU TERHADAP KECEMASAN REMAJA Saputra, Maman; Wibowo, Heribertus Rinto; Sancoko, Cahyo Harry; Goodwin, Nicholas; Basrowi, Ray Wagiu; Yuliana, Roma
Jurnal Riset Kesehatan Vol 14 No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrk.v14i2.14063

Abstract

This study examined the relationship between digital media consumption, peer influence, tobacco advertising exposure, and anxiety levels among adolescents in Jakarta, Indonesia. Using a mixed methods approach, data were collected from 1,278 junior and senior high school students through multi-stage cluster sampling surveys and focus group discussions. Quantitative results showed that 72.8% of respondents experienced anxiety, social media usage (p = 0.000), social media use at late night (OR = 2.153; 95% CI: 1.643–2.822; p = 0.000), and peer influence (OR = 2.434; 95% CI: 1.772–3.342; p = 0.000) were significantly associated with anxiety. Peer influence was identified as the strongest predictor of anxiety, nearly doubling the likelihood of experiencing anxiety. Exposure to tobacco advertising on social media showed no statistically significant association with anxiety (p = 0.162). Qualitative findings highlighted the role of peer relationships in providing emotional support and influencing smoking behaviors as coping mechanisms for anxiety. These findings emphasize the need to address social dynamics and digital media habits in adolescent mental health interventions. Policymakers and educators should prioritize strategies promoting moderated social media use and supportive peer environments to mitigate anxiety in youth within Indonesia’s evolving digital landscape.
Midwives' readiness for handling postpartum Perinatal Mental Health (PMH) disorders: a mixed-methods study Harahap, Ana Pujianti; Amini, Aulia; Setyowati, Dina Lusiana; Basrowi, Ray Wagiu; Yuliana, Roma
Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah Vol. 21 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jkk.4086

Abstract

Perinatal mental health (PMH) disorders affect 15.6–37% of postpartum women, yet midwives report low confidence in detection and management due to inadequate training and protocols. This study evaluated midwives' readiness to handle postpartum PMH disorders in community health centers. A convergent parallel mixed-methods design was used in eight Mataram City health centers (December 2023–January 2024). Quantitatively, 102 purposively sampled midwives completed validated questionnaires on sociodemographics, screening practices, and PMH handling, analyzed via chi-square tests. Qualitatively, thematic analysis of in-depth interviews with six informants (managers, midwives, and mental health nurses) explored referral experiences using N-Vivo. Most midwives (86.27%) did not handle PMH appropriately. The implementation of PMH data assessment (37.25%), screening (37.26%), and classification (22.56%) was low. Handling PMH significance association with screening (p=0.001, OR 14.31), classification (p=0.001, OR 23.22), and data assessment (p=0.009, OR 9.43). Age, education, experience, and training were not associated. Themes emphasized referral collaboration with family consent, consultation with mental health nurses/doctors, and hospitalization for the most serious cases. Midwives are not yet sufficiently prepared to address the perinatal mental health (PMH) needs of postnatal women. Poor screening uptake is a consequence of the absence of protocols and time limitations, and this highlights requirements for training and standardized pathways. Referral dependence is compensatory but inconsistent, mirroring global appeals for inter-professional approaches. Targeted PMH training and referral protocols are crucial in order to assist the development of midwives' skills to provide prompt care and reduce maternal-infant risk. Interventions should be tested in longitudinal studies across a variety of Indonesian contexts.
Pemetaaan Kerawanan dan Penentuan Prioritas Penanganan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Padang : Vulnerability Mapping and Handling Priority of Dengue Hemorrhagic Fever in Padang City Yuliana, Roma; Martya Rahmaniati; Inna Apriantini; Robet Triarjunet
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 5 (2022): May 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.836 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v5i5.2278

Abstract

Latar Belakang: Demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan permasalahan serius di Kota Padang dan penyumbang kasus terbanyak di Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 2020, terdapat 292 kasus DBD di Kota Padang, namun belum diketahui bagaimana sebaran kasus tersebut secara spasial dikaitkan dengan faktor lingkungan dan demografi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran (kasus DBD, kepadatan penduduk, suhu udara), memetakan tingkat kerawanan DBD dan penentuan prioritas penanganan penyakit DBD berdasarkan unit kelurahan di Kota Padang Tahun 2020. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan teknik skoring dan overlay. Data penelitian berupa data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Padang, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang dan United State Geological Survey tahun 2020. Hasil: Penelitian ini menunjukkan dari 104 kelurahan, terdapat 11 kelurahan dengan tingkat kerawanan tinggi dengan prioritas penanganan pertama yaitu Kelurahan Kuranji, seterusnya yaitu Kelurahan Korong Gadang, Surang Gadang, Dadok Tunggul Hitam, Pasar Ambacang, Lubuk Buaya, Bungo Pasang, Batang Kabung, Jati, Jati Baru, dan Alai Parak Kopi. Pemerintah diharapkan untuk dapat meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan penyakit DBD dengan memfokuskan pada kelurahan dengan tingkat kerawanan tinggi Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemetaaan tingkat Kerawanan DBD di Kota Padang dengan menggunakan parameter (kasus DBD, kepadatan penduduk dan suhu udara tahun 2020) menunjukkan dari 104 kelurahan yaitu pada tingkat kerawanan tinggi (11 kelurahan), sedang (41 kelurahan), rendah (40 kelurahan) dan sangat rendah (12 kelurahan).
Analisis Spasial Determinan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi Kalimantan Timur: Spatial Analysis of Determinants of Low Birth Weight (LBW) in East Kalimantan Province Erlingga Prihandani; Ahmad Syafiq; Roma Yuliana
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 9 (2022): September 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i9.2337

Abstract

Latar Belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat, banyak faktor untuk terjadinya BBLR antara lain cakupan kunjungan ibu hamil (K4), Pemberian Tablet Tambah Darah, KEK pada ibu hamil serta sulitnya akses ke fasilitas kesehatan. Provinsi Kalimantan Timur memiliki angka kasus BBLR yang masih tinggi. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi kasus BBLR berdasarkan faktor dengan pendekatan pemetaan wilayah. Metode: Studi ini merupakan studi ekologi dengan pendekatan pemetaan wilayah. Data diperoleh dari profil kesehatan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2019 dan Riskesdas Tahun 2018. Unit observasi adalah Kabupaten/Kota. Pemetaan distribusi kasus BBLR dan faktor resiko terjadinya BBLR dilakukan dengan menggunakan aplikasi Quantum GIS. Analisis data menggunakan Teknik Overlay. Hasil: Dari hasil penelitian, didapatkan hasil pemetaan distribusi kasus BBLR di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2019 dengan presentase yang cukup tinggi ada di 3 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Mahakam Ulu, Kutai Barat dan Kota Bontang. Cakupan K4 sudah cukup tinggi secara keseluruhan sehingga cakupan K4 bukan menjadi penyebab BBLR. Presentase Pemberian TTD yang masih tergolong rendah serta kejadian KEK yang tergolong tinggi menjadi penyebab BBLR serta sangat sulitnya akses ke Fasyankes yang masih tergolong rendah. Kesimpulan: Kasus BBLR tertinggi di Provinsi Kalimantan Timur yang disebabkan oleh pemberian TTD dan KEK berada di Kabupaten Kutai Barat.
DEPRESSION-RELATED FACTORS IN PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS: SECONDARY ANALYSIS OF THE INDONESIAN HEALTH SURVEY 2023: Faktor Terkait Depresi pada Kasus Tuberkulosis Paru: Analisis Sekunder Survei Kesehatan Indonesia 2023 Regina, Agave; Nasution, Helmi Suryani; Syukri, Muhammad; Halim, Rd.; Putra, Ashar Nuzulul; Pratiwi, Dessy; Yuliana, Roma
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Berkala Epidemiologi (Periodic Epidemiology Journal)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V14I12026.62-71

Abstract

Background: Depression is highly prevalent among tuberculosis (TB) patients, with reported rates reaching 31-61%, and it is strongly associated with poor medication adherence and adverse treatment outcomes. Despite this considerable burden, mental health screening for TB patients has not yet been integrated into routine TB care. Purpose: This study aimed to identify factors associated with depression among TB patients. Methods: This secondary data analysis used the Survei Kesehatan Indonesia (SKI) or Indonesian Health Survey 2023 with a cross-sectional design. A total sampling approach was applied, to all TB patients who met the inclusion criteria, resulting in 1,163 respondents. Statistical analyses included the chi-square test and multiple logistic regression, with a significance level of p < 0.05. Results: The prevalence of depression among TB patients was 5.38% (95% CI: 3.26–8.76%). Multivariate analysis showed that being female [aPOR = 15.90, 95% CI (1.99-143.09)], age 15-40 years [aPOR = 5.80, 95% CI (1.17-28.67)], TB treatment duration ≤6 months [aPOR = 5.22, 95% CI (1.67-16.34)], smoking [aPOR = 11.33, 95% CI (2.07-61.97)], and stress [aPOR = 39.04, 95% CI (11.23-135.66)] were significantly associated with depression in TB patients. Stress was identified as the most influential factor. Conclusion: Depression remains a relevant issue among TB patients in Indonesia, with stress emerging as the strongest associated factor. Routine depression screening and integrated mental health support within TB programs are strongly warranted, particularly for high-risk groups such as women, younger adults, patients in the early phase of treatment, smokers, and those experiencing stress.
PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KESEHATAN SOSIOEMOSIONAL DAN MENTAL PADA REMAJA: A SCOPING REVIEW Imtinani, Alifia Irbah; Muthmainnah, Muthmainnah; Devi, Yuli Puspita; Khoiriyah, Imas Elva; Setiawati, Lintang Qusnul Budi; Bilqis, Tiber Raniar Inner Beauty; Rahmah, Linda Auliyaur; Dwi Maharsi, Hera Ratna; Sundjaya, Tonny; Yuliana, Roma
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 13, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.13.4.2025.736-748

Abstract

Penggunaan media sosial di kalangan remaja telah menjadi isu darurat karena potensi dampak sosial dan emosionalnya. Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis dampak media sosial terhadap kesehatan psikologis dan emosional remaja. Pencarian penelitian secara sistematis dilakukan pada basis data Google Scholar dan PubMed yang terbit diantara tahun 2015 sampai dengan 2025 dengan menggunakan Arksey and O’Malley’s framework serta PRISMA-ScR checklist. Dalam pencariannya terdapat 13 penelitian yang diidentifikasi dan memenuhi kriteria inklusi. Namun, penggunaan media sosial juga dihubungkan dengan dampak positif, seperti peningkatan dukungan sosial dan ekspresi diri, terutama ketika dinamika dalam keluarga kuat. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan dihubungkan dengan konsekuensi negatif termasuk kecemasan, gejala depresi, Fear of Missing Out (FoMO), dan paparan cyberbullying yang dapat merusak kesejahteraan sosial-emosional remaja. Temuan ini menunjukkan perlunya intervensi yang strategis, termasuk program literasi digital dan peningkatan keterlibatan orangtua. Studi longitudinal lebih lanjut diperlukan untuk menilai efek jangka panjang dalam penggunaan media sosial pada kesehatan mental remaja. Kerangka kebijakan yang mengintegrasukan pendidikan, bimbingan orangtua, dan kesejahteraan digital sangat penting untuk mengurangi risiko dan meningkatkan menafaat penggunaan media sosial bagi remaja.