Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERDAYAAN KADER POSBINDU LANSIA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI DESA KANGKUNG DEMAK Yunie Armiyati; Edy Soesanto; Tri Hartiti
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL - HASIL PENELITIAN & PENGABDIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.344 KB)

Abstract

An increasing number of elderly people will have an impact on the socioeconomic well in the family, society and the government. The aging process resulted in a decrease in the physical, psychological, decreased independence, inability to work and the impact on the non-fulfillmentof their daily needs and social needs of the community. Posbindu as an effort to empower elderly people to optimize promotive, preventive, curative and rehabilitative for the problems of the elderly need to engage in activities that can support these efforts through posyandu elderly,providing support to the elderly and to optimize the utilization of plant family medicine for curative measures for the health problems of the elderly. Support for improving community participation in pokjakes and optimizing health worker roles and community service activities conducted through science and technology-based community empowerment elderly health cadres. The purpose of this community service activities was to apply science and technology to the community-based elderly health cadres. Activities undertaken include the making of a media health promotion leaflets and flipcharts, conducting a training cadre posyandu elderly health prevention and treatment of diseases of the elderly, physical examination and simple laboratory tests in the elderly, as well as the management of complementary therapies in elderly empower the community in producing extracts family of traditional medicine in the packaging. Other activities carried out by holding the equipment to cultivate medicinal plants, medicinal plants cultivation training and training of traditional medicine-making family. Having done community service activities, increased numbers of cadres and cadres liveliness, increasedtraffic posbindu elderly and increased knowledge and skills in the management of elderly health problems as well as increase the ability of cadres in the processing of herbal ingredients.
HIPOTENSI DAN HIPERTENSI INTRADIALISISPADA PASIENCHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) SAAT MENJALANI HEMODIALISIS DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Yunie Armiyati
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2012: SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.785 KB)

Abstract

Hemodialisis adalah terapi pengganti ginjal yang banyak dipilih pasien CKD (Chronic KidneyDisease) dengan ERSD (End Stage Renal Disease). Komplikasi hipotensi dan hipertensi intradialisisdapat dialami pasien selama hemodialisis. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan hipotensidan hipertensi intradialisis pada pasien CKD saat menjalani hemodialisis. Desain penelitianmenggunakan desain deskriptif. Lima puluh pasien di unit hemodialisis RS PKU MuhammadiyahYogyakarta dilibatkan dalam penelitian ini. Pasien diobservasi selama hemodialisis untuk mengetahuihipotensi dan hipertensi intradialisis pada pasien. Hasil penelitian menunjukkan 70% pasienmengalami hipertensi intradialisis, 26% mengalami hipotensi intradilisis. Frekwensi hipertensiintradialisis adalah 55% dari keseluruhan prosedur hemodialisis yang diamati dan paling banyakdialami pasien pada jam ke empat. Frekwensi hipotensi intadialisis adalah 12% dari keseluruhanprosedur hemodialisis yang diamati, dan paling banyak dialami pada jam pertama. Rata-rata tekanandarah mengalami penurunan pada jam pertama dan mengalami peningkatan pada jam ke empat.Rekomendasi penelitian ini adalah agar perawat selalu memantau kondisi pasien selama hemodialisisdan melakukan asuhan perawatan pada pasien hemodialisis secara individu untuk mengantisipasikomplikasi agar komplikasi hipotensi dan hipertensi intradialisis bisa diminimalkan.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN PRE OPERASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI HERNIA DI RSUD KUDUS Arif Kurniawan; Yunie Armiyati; Rahayu Astuti
FIKkeS Vol 6, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.03 KB)

Abstract

Kecemasan dapat terjadi pada semua pasien yang akan menjalani operasi, termasuk pada pasien yang akan menjalani operasi hernia. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam pembedahan dan tindakan pembiusan. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan pre operasi terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi hernia di RSUD Kudus. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan penelitian ini ialah one group pretest posttest dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling yaitu berjumlah 15 orang. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik T dependent / Paired T-test. Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh sebagian besar responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan mengalami cemas sedang yaitu sebanyak 11 orang (73,3%), sedangkan yang mengalami cemas ringan dan cemas berat masing-masing yaitu sebanyak 2 orang (13,3%) dengan rata-rata 52,67. sebelum diberikan pendidikan kesehatan mengalami cemas ringan yaitu sebanyak 8 orang (53,3%), sedangkan yang mengalami cemas sedang sebanyak 5 orang (33,3%), dan yang tidak mengalami cemas sebanyak 2 orang (13,3%). Ada pengaruh yang signifikan antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi hernia skrotalis yaitu dengan p value = 0,000 < ? (0,05). Rekomendasi yang dapat diberikan adalah agar perawat dapat melaksanakan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan pada setiap pasien yang akan dilakukan tindakan operasi.Kata kunci: tingkat kecemasan, pendidikan kesehatan, operasi hernia
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN LAMA KERJA PERAWAT DENGAN PENERAPAN PRINSIP "ENAM TEPAT" DALAM PEMBERIAN OBAT DI RUANG RAWAT INAP RS Dr. KARIADI SEMARANG Yunie Armiyati; Ernawati -; Riwayati -
FIKkeS Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Keperawatan
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11650.07 KB)

Abstract

Terkait dengan peran kolaborasi, perawat tidak bisa lepas dari kegiatan pemberian obat pada pasien. Pemberian obat pada pasien seharusnya menggunakan prinsip enam tepat agar terhindar dari kesalahan. Enam tepat pemberian obat meliputi tepat pasien (right client), tepat obat (right drug), tepat dosis (right dosis), tepat waktu (right time), tepat cara (right route) dan tepat dokumentasi (right documentation). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan prinsip enam tepat dalam pemberian obat diruangan rawat inap RS Dr Kariadi Semarang danmengetahui hubungan tingkat pendidikan dan lama kerja perawat dengan penerapan prinsip enam tepat dalam pemberian obat diruang rawat inap RS Dr Kariadi Semarang. Desain yang digunakan adalah deskriptif analitik menggunakan pendekafan cross sectional. Responden adalah perawat yang terlibat dengan kegiatan pemberian obat di ruang rawat inap RSUP Dr. Kariadi Semarang sejumlah 70 orang. Data dikumpulkan sebanyk dua kali untuk masing-masing responden dengan melakukan observasi perilaku perawat terkait dengan penerapan prinsip "enam tepat" dalam memberikan obat dengan panduan observasi. Data juga dikumpulkan dengan kuesioner terkait dengan karakteristik perawat. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa semua perawat belum menerapkan prinsip penerapan "enam tepat" dalam pemberian obat secara keseluruhan dengan urutan ketepatan adalah sebagai berikut: (1) tepat dosis, (2) tepat waktu, (3) tepat pasien, (4) tepat pendokumentasian, (5) tepat cara dan terakhir adalah (6) tepat obat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara tingkat pendidikan dan lama keria perawat dengan prinsip "enam tepat" dalam pemberian obat. Masih banyak faktor lain yang tampaknya dapat mempengaruhi penerapan prinsip "enam tepat" dalam pemberian obat oleh perawat. Upaya mempertahakan dan meningkatkan penerapan prinsip "enam tepat" dilakukan dengan pelatihan dan pendidikan perawat berkelanjutan.Kata kunci: prinsip enam tepat pemberian obat, tingkat pendidikan perawat, lama kerja perawat
PEMBERSIHAN URIN BAG DENGAN KLORIN TERHADAP JUMLAH KUMAN DALAM URIN PADA PASIEN DENGAN KATETER MENETAP DI RUANG B1 SARAF RSUP DR. KARIADI SEMARANG Yunie Armiyati; Zaenal Arifin
Jurnal Keperawatan Medikal Bedah Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Medikal Bedah
Publisher : Jurnal Keperawatan Medikal Bedah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.343 KB)

Abstract

Pemasangan kateter menetap dalam saluran kemih meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Koloni bakteri dalam urin (bakteriuria) akan terjadi dan beresiko terhadap peningkatan kejadian infeksi saluran kemih.   Pembersihan  urin  bag  dengan  desinfektan  seperti  larutan  klorin  diharapkan  dapat menekan pertumbuhan kuman penyebab infeksi saluran kemih. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pembersihan urin bag dengan larutan klorin terhadap perubahan jumlah kuman dalam urin. Penelitian menggunakan  desain  quasi  eksperimen dengan  rancangan  Nonrandomized  Control  Group,  Pretest– Posttest Design. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang terpasang kateter di Ruang B1 Saraf RSUP Dr. Kariadi Semarang dalam rentang waktu 2 bulan berjumlah 12 orang berdasarkan teknik Consecutive  Sampling.  Analisa  data  menggunakan  uji  Wilcoxon dan  Mann  Whitney  U  test.  Hasil penelitian menujukkan jumlah kuman rata-rata pada hari ke 3 pemasangan kateter pada kelompok yang kontrol sebesar 34911,883 µl sedangkan pada kelompok intervensi 59171,433 µl. Rata-rata jumlah kuman dalam  urin  pada  hari  ke  7  pemasangan  kateter  pada  kelompok  kontrol  lebih  tinggi  yaitu  sebesar 37258,683 µl sedangkan pada kelompok perlakuan lebih rendah yaitu sebesar  1019,5 µl. Tidak ada perbedaan jumlah kuman dalam urin pada kelompok kontrol (p value = 0,463). Ada perbedaan kuman dalam urin pada kelompok yang dilakukan pembersihan urin bag (p value = 0,028). Ada perbedaan jumlah  kuman  pada responden  yang  dilakukan  pembersihan  urin  bag  dengan  larutan  klorin  dengan responden yang tidak dilakukan pembersihan (p value = 0,037), larutan klorin efektif menurunkan jumlah kuman dalam urin. Rekomendasi yang dapat diberikan agar perawat dapat mengaplikasikan pembersihan urin bag dengan larutan klorin pada pasien yang terpasang kateter menetap.
Pengaruh Perangsangan Auditori Murrotal (Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an) terhadap Nyeri pada Pasien yang terpasang Ventilator Mekanik di Ruang ICU Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang - Sokeh; Yunie Armiyati; - Chanif
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2013: PROSIDING KONFERENSI NASIONAL PPNI JAWA TENGAH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.562 KB)

Abstract

Nyeri merupakan salah satu masalah yang dialami pasien di ICU yang terpasang ventilator mekanik. Nyeri dapat menimbulkan dampak yang buruk bila tidak dilakukan penatalaksanaan, baik farmakologi dan nonfarmakolgi. Perangsangan auditori murrotal merupakan salah satu intervensi yang dapat dilakukan perawat secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perangsangan auditori murrotal terhadap nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik. Desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan Pre dan Posttest  one group yang dilakukan di ruang ICU Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang dengan jumlah Responden sebanyak 15. Hasil penelitian menunujukkan ada perbedaan yang signifikan intensitas nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik setelah pemberian perangsangan auditori murotal ( p = 0.000). Hasil penelitian ini merekomendasikan perlunya  penatalaksanaan nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik menggunakan perangsangan auditori murrotal.Kata kunci: Auditori murrotal, nyeri, ventilator mekanik
FAKTOR YANG BERKORELASI TERHADAP MEKANISME KOPING PASIEN CKD YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD KOTA SEMARANG (Correlating factors of coping mechanism on CKD patients undergoing Hemodialysis in RSUD Kota Semarang) Yunie Armiyati; Desi Ariyana Rahayu
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL - HASIL PENELITIAN & PENGABDIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.931 KB)

Abstract

Chronic Kidney Disease (CKD) patients who undergo hemodialysis can experience a variety ofproblems that arise as a result of a malfunction of the kidneys and hemodialysis process. Thoseproblems will cause stres and different coping mechanism, such as maladaptive copingmechanism. Nurses need to identify the various factors that correlate to the patient's copingmechanism in order to help identify contributing factors. The purpose of this study is to analyzethe factors that contribute to coping mechanism of CKD patients undergoing hemodialysis. Thisresearch used descriptive correlation design with samples of 39 hemodialysis patients at RSUDKota Semarang. The results show that there is no correlation between age and coping mechanism of response (p = 0.976> 0.05), there is a correlation between length of CKD withcoping mechanism (p = 0.015 <0.05), there is a correlation between length of undergoing HDwith coping mechanism (p = 0.002 <0.05) and there is a significant correlation betweenreceived of stres response to coping mechanisms (p = 0.008 <0.05), the more positive responseof receiving stres, the more adaptive coping mechanisms that is used by the patients.Recommendation of this study is that nurses can apply effective stres management for patients,so that the patient's coping mechanism become more adaptive.Keywords: Coping mechanism, Chronic Kidney Disease (CKD), Hemodialysis
Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Dengan Terapi Foot Massage : Studi Kasus Anisatun Niswah; Yunie Armiyati; Amin Samiasih; Chanif Chanif
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 5 (2022): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Guna Menunjang Pencapaian Sustainable Developm
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi yang tidak diatasi dengan baik bisa menyebabkan berbagai komplikasi, sehingga perlu dilakukan pengendalian tekanan darah. Pengendalian tekanan darah penderita hipertensi dapat dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi antara lain dengan menggunakan terapi foot massage. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penurunan tekanan darah penderita hipertensi setelah dilakukan foot massage. Studi kasus ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan proseskeperawatan. Subyek studi kasus adalah penderita hipertensi yang dipilih sesuai kriteria inklusi yaitu subyek yang memiliki hipertensi derajat 1 dan 2 dan mengonsumsi obat antihipertensi yang sama. Instrumen untuk mengukur penurunan tekanan darah menggunakan sphygmomanometer aneroid, stetoskop dan lembar observasi. Foot massage pada kedua kaki di mulai dari telapak kaki sampai dengan bagian jari – jari kaki dilakukan selama  3 hari berturut-turut pada sore hari jam 14.00 WIB dengan durasi waktu 15 menit tiap sesi. Pemberian foot massage selama 3 hari mampu penurunan tekanan darahsistolik, diastolik dan mean arterial pressure (MAP) pada ketiga subyek studi dengan rerata penurunantekanan darah adalah 23,8 mmHg. Foot massage efektif untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi dan dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi mandiri perawat yang aman dan efektif.   Kata kunci : Hipertensi, tekanan darah, foot massage
Factors Contributing to Intradialytic Hypertension in Hemodialysis Patients Armiyati, Yunie; Hadisaputro, Suharyo; Chasani, Shofa; Sujianto, Untung
South East Asia Nursing Research Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.3.2.2021.73-80

Abstract

Intradialytic hypertension (IDH) is the most common complication of hemodialysis patients in Indonesia. It must be controlled, to maintain the patient's quality of life and prevent worsening conditions. Some factors affecting IDH include predialysis fluid overload characterized by excessive interdialytic weight gain (IDWG), low adherence to fluid restriction and increased ultrafiltration during haemodialysis. The study aims to identify contributing factors of IDH. A case-control design was used in this study. A purposive sampling technique was used to recruit 92 samples at two centres of dialysis in Semarang, which was divided into case group (n=46) and control group (n=46). Data were analyzed using the Chi-square test by calculating Odds Ratios (OR). The finding showed that excessive IDWG (p=0,000, OR=16.95, 95% CI:5,56-51,65), low fluid adherence (p=0,001, OR=4,41, 95% CI:1,82-10,68) and excessive ultrafiltration (p=0,000, OR = 29,52, 95% CI:9,23-94,46) showed significant result. However, the incidence of IDH was not correlated with sex, age and length of haemodialysis. A greater increase in interdialytic weight requires lower fluid and higher ultrafiltration factors must be controlled precisely because those are considered as the risk factors for the high incidence of IDH. Excessive ultrafiltration is the most dominant risk factor in the high incidence of IDH.
Filial Therapy-based Family for Children Disabilities to Reduce the Family Stress in COVID-19 Pandemic Setyawati, Dewi; Al Jihad, Much Nurkharistna; Alfiyanti, Dera; Armiyati, Yunie
South East Asia Nursing Research Vol 4, No 4 (2022)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.4.4.2022.1-5

Abstract

Filial therapy is a psychoeducational intervention designed to improve parent-child relationships, reduce problematic behavior in children, and reduce parental stress by including parents as therapeutic agents. Parent access-group sessions are facilitated by therapists who teach adult skills based on play therapy techniques, which parents then implement with their children under the supervision of a facilitator. The objective of this research is to determine differences in family stress between those who do Filial Therapy and those who do not receive Filial Therapy. The method used in this study is a quasi-experimental approach with a non-equivalent pre-post-test approach with a control group. Identification of respondents according to the criteria, namely families with ABK and school-age children with special needs (7-12 years) at SLB Semarang. The instrument used was a questionnaire of Perceived Stress Scale. Before treatment, the average stress level in the control group was higher than that in the intervention group, 17.25 (Standard Deviation ± 5.01). The average stress level in the control and intervention groups before Filial therapy was carried out was relatively the same at 17.25 and 16.87. In contrast, after Filial therapy was performed in both groups, the stress level decreased by 15.62 and 10.00. The analysis using the independent t-test showed differences in the reduction in stress levels in the control and intervention groups before and after Filial therapy (p-value = 0.000). Conclusion: it can be concluded that filial therapy can significantly reduce the stress level of families with children's disabilities.