Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN HORMONAL TERHADAP TERJADINYA OSTEOARTHRITIS LUTUT PADA PEREMPUAN POST MENOPAUSE : SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: THE ROLE OF HORMONES IN THE DEVELOPMENT OF KNEE OSTEOARTHRITIS IN POSTMENOPAUSAL WOMEN: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Rosalia, Putu Clara; Dharmapala, Ekanova; Arsani, Ni Luh Kadek Alit
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 14 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v14i2.1026

Abstract

Osteoartritis (OA) lutut merupakan penyebab utama kecacatan pada usia lanjut, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan pascamenopause akibat penurunan estrogen. Defisiensi estrogen berperan dalam inflamasi, degradasi matriks tulang rawan, dan kerusakan tulang subkondral. Penelitian ini menggunakan systematic literature review (SLR) untuk menganalisis hubungan menopause dan perubahan hormonal dengan kejadian OA lutut. Literatur ditelusuri menggunakan pedoman PRISMA melalui PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect, dengan inklusi studi kohort, kasus-kontrol, atau potong lintang pada wanita pascamenopause ≥45 tahun, penelitian rentang tahun 2015-2025. Dari 226 artikel yang ditemukan, diperoleh 9 artikel yang memenuhi kriteria. 6 artikel menilai hubungan estrogen dengan OA, dimana 5 menunjukkan hubungan positif bahwa semakin rendah kadar estrogen, seperti pada menopause dini, maka progresivitas OA semakin meningkat. Sebaliknya, 1 artikel menunjukkan hubungan negatif, yaitu penggunaan terapi hormon (HT) dengan suplementasi estrogen dikaitkan dengan peningkatan risiko OA lutut. Selain itu, 2 artikel menyoroti peran Anti-Müllerian Hormone (AMH) sebagai biomarker deteksi dini OA, dan 1 artikel membahas peran Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dalam patofisiologi OA. Kesimpulannya, perubahan hormonal pada menopause, terutama defisiensi estrogen, rendahnya AMH, dan tingginya FSH, memiliki kontribusi penting terhadap patogenesis OA lutut.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Menopause Dini: Tinjauan Literatur Ni Putu Ayu Mira Kusuma Dewi; Ni Luh Kadek Alit Arsani; Ni Putu Dewi Sri Wahyuni
Jurnal Kesehatan Mahardika Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Mahardika
Publisher : LPPM ITEKES Mahardika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54867/jkm.v12i2.280

Abstract

Menopause is a natural phase marking the end of a woman’s reproductive period, with the average age in Indonesia being 49.98 years. However, the prevalence of early menopause has increased from 14% in 2019 to 20.2% in 2021, impacting quality of life and raising the risk of degenerative diseases. This study aims to examine the factors influencing early menopause through a literature review. Findings show that this condition is shaped by a complex interaction of various factors. Biological factors such as age at menarche, age at childbirth, and contraceptive use are associated with the timing of menopause. Lifestyle factors including physical activity, diet, smoking habits, stress, and weight-loss drug use also play a role. Health history such as chronic illness, hormonal disorders, and non-ideal body mass index can accelerate menopause. Socio-demographic factors, including education and occupation, affect women’s health behavior and knowledge. Therefore, early menopause is the result of biological, lifestyle, health, and social interactions. Education, health promotion, and interventions are needed to prepare women and reduce its negative impacts. Keywords: Menopause Factors, Reproductive Health, Early Menopause.
The Relationship Between Body Mass Index with Uric Acid Levels at Puskesmas Kubutambahan II in 2025 Widana, I Nengah Krisna Murthi Ary; Rahmayani, Irma; Budiawan, Made; Arsani, Ni Luh Kadek Alit
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v4i3.4892

Abstract

Population growth has contributed to gout becoming a global health issue with a significant prevalence rate. According to WHO data in 2017, the global prevalence of gout reached 34.2%. In Indonesia, the prevalence of doctor-diagnosed gout among the population aged ≥ 15 years reached 7.30%, with Bali recording 10.46% and Buleleng Regency reaching 12.93% (Riskesdas, 2018). WHO has recognized Body Mass Index (BMI) as the best epidemiological measure to evaluate overweight or underweight and is a potential risk factor for various metabolic problems, including increased uric acid levels. This study aimed to determine the relationship between BMI and uric acid levels at Kubutambahan II Public Health Center in 2025. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach, aiming to analyze the relationship between variables at a single point in time. Secondary data were used, consisting of medical records with a sample size of 45 patients. Data analysis included univariate analysis to determine the frequency distribution of the independent variable (BMI) and dependent variable (uric acid levels), as well as bivariate analysis using the Spearman correlation test to examine the relationship between the two variables. The results showed a weak positive correlation between BMI and uric acid levels, with a correlation coefficient (r) of 0.344 (0.20-0.399) which Indicated an increase in BMI tends to be followed by an increase in uric acid levels. The results also showed a p- value of 0.021 (< 0.05), indicating a significant relationship between BMI and uric acid levels.
Studi Literatur: Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi: Literature Study: The Relationship between Body Mass Index and Menstrual Cycle in Female College Students Ni Kadek Depi Novera Arisanti; Ni Luh Kadek Alit Arsani; Aditya Prabawa
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 12: Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9636

Abstract

Menstruasi merupakan tanda vital kesehatan reproduksi wanita usia produktif. Namun, gangguan siklus menstruasi beberapa tahun terakhir telah menjadi isu yang cukup memprihatinkan pada wanita usia produktif, terutama pada kelompok remaja dan mahasiswa. Salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap keteraturan siklus menstruasi adalah status gizi, yang seringkali berubah pada mahasiswi akibat stres akademik dan gaya hidup. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan indikator status gizi yang mencerminkan proporsi lemak tubuh. Ketidakseimbangan status gizi, baik kekurangan maupun kelebihan berat badan dapat menyebabkan gangguan hormonal yang berujung pada ketidakteraturan siklus menstruasi. Analisis literatur diperlukan untuk mengkaji variasi temuan studi mengenai hubungan ini. Menganalisis dan mengkaji hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan siklus menstruasi pada mahasiswi melalui tinjauan literatur. Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review. Penelusuran artikel dilakukan melalui basis data elektronik spserti Google Scholar, PubMed, dan ScientDirect menggunakan kata kunci spesifik (“indeks massa tubuh”, “IMT”, “body mass index”, “BMI”, “siklus menstruasi”, “menstrual cycle”, “mahasiswi”, “college student”). Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah literatur yang membahas IMT dan siklus menstruasi pada mahasiswi, memiliki desain yang relevan, dan diterbitkan antara antara tahun 2020 hingga 2025. Kemudian, data dari literatur terpilih dianalisis dengan membandingkan masing-masing temuan. Tinjauan terhadap delapan penelitian yang relevan menunjukan bahwa mayoritas (enam dari delapan) studi melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara IMT dengan keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi. Gangguan siklus menstruasi lebih sering ditemukan pada mahasiswi dengan IMT tidak normal (kurang atau berlebih) dibandingkan dengan IMT normal. Indeks Massa Tubuh (IMT) berperan penting dalam keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi melalui pengaruhnya terhadap keseimbangan hormonal, namun bukan merupakan satu-satunya faktor penentu.
Efek Probiotik sebagai Terapi Adjuvan pada Pasien Depresi: Tinjauan Sistematis Ni Kadek Indah Melati; Ni Luh Kadek Alit Arsani; Ni Made Mirah Candrawati; Pande Bagus Andhika Maharthanegara; Tjokorda Prawira Putra Pemayun; I Komang Nirartha Nusaryanda
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.926

Abstract

Pendahuluan: Gangguan depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum di seluruh dunia dan sering kali bersifat kronis serta sulit ditangani secara tuntas. Dalam beberapa tahun terakhir, munculnya konsep hubungan antara mikrobiota usus dan otak (gut–brain axis) telah membuka peluang baru dalam terapi gangguan mood, termasuk penggunaan probiotik sebagai intervensi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis efek probiotik sebagai  terapi adjuvan pada penderita depresi. Metode: Tinjauan sistematis dilakukan dengan mengikuti pedoman PRISMA melalui pencarian literatur pada basis data PubMed dan Google Scholar. Artikel yang dianalisis adalah penelitian asli dalam rentang tahun 2015-2025 yang membahas mengenai efek probiotik sebagai terapi adjuvan pada pasien depresi. Pembahasan: Tujuh artikel yang dikaji menunjukkan bahwa bahwa penggunaan probiotik sebagai terapi adjuvan memiliki efek yang baik dalam penurunan gejala depresi berdasarkan skor BDI ataupun HAM-D. Efek probiotik akan optimal jika diberikan langsung bersamaan dengan obat antidepressan yang telah diresepkan oleh dokter. Simpulan: Penggunaan probiotik, selama minimal 6–8 minggu, dapat menurunkan skor gejala depresi (BDI, HAM-D) secara signifikan, sebagai terapi terapi adjuvan. Namun, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menentukan protokol strain, dosis, dan durasi yang paling optimal serta pemahaman lebih dalam mengenai mekanisme individual respon pasien.         Kata Kunci: probiotik, terapi adjuvant, depresi, sumbu otak-usus, mikrobiota usus
Hubungan Derajat Keparahan Akne Vulgaris dengan Tingkat Kepercayaan Diri pada Mahasiswi Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha Ni Kt. Selma Rigatiani Contana; Ni Putu Dewi Sri Wahyuni; Ni Luh Kadek Alit Arsani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.51725

Abstract

Wajah memiliki dampak besar pada penampilan visual, Akne vulgaris dapat mempengaruhi fungsi emosional, sosial, dan psikologis, serta kualitas hidup seseorang. Akne vulgaris merupakan peradangan kronis pada unit pilosebasea ditandai dengan komedo, papula, pustula, dan terkadang nodul atau kista, terutama pada wajah, dada, dan punggung. Di Indonesia, prevalensi akne juga cukup tinggi, terutama pada usia produktif, termasuk mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Akne vulgaris dengan tingkat kepercayaan diri pada mahasiswi. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional study. Responden yang dilibatkan sebagai sampel penelitian adalah 67 orang yang diambil menggunakan metode purposive sampling. Uji statistik menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Dari hasil penelitian ini berdasarkan hasil analisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman, diperoleh nilai koefisien korelasi (rₛ) = -0,311 dengan nilai signifikansi (p) = 0,011 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dengan kekuatan sedang dan signifikan secara statistik antara derajat akne vulgaris dan tingkat kepercayaan diri pada remaja. Kata Kunci: akne vulgarisi, kepercayaan diri, remaja.