Claim Missing Document
Check
Articles

The Relationship Between Body Mass Index with Uric Acid Levels at Puskesmas Kubutambahan II in 2025 Widana, I Nengah Krisna Murthi Ary; Rahmayani, Irma; Budiawan, Made; Arsani, Ni Luh Kadek Alit
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v4i3.4892

Abstract

Population growth has contributed to gout becoming a global health issue with a significant prevalence rate. According to WHO data in 2017, the global prevalence of gout reached 34.2%. In Indonesia, the prevalence of doctor-diagnosed gout among the population aged ≥ 15 years reached 7.30%, with Bali recording 10.46% and Buleleng Regency reaching 12.93% (Riskesdas, 2018). WHO has recognized Body Mass Index (BMI) as the best epidemiological measure to evaluate overweight or underweight and is a potential risk factor for various metabolic problems, including increased uric acid levels. This study aimed to determine the relationship between BMI and uric acid levels at Kubutambahan II Public Health Center in 2025. This study used an observational analytic design with a cross-sectional approach, aiming to analyze the relationship between variables at a single point in time. Secondary data were used, consisting of medical records with a sample size of 45 patients. Data analysis included univariate analysis to determine the frequency distribution of the independent variable (BMI) and dependent variable (uric acid levels), as well as bivariate analysis using the Spearman correlation test to examine the relationship between the two variables. The results showed a weak positive correlation between BMI and uric acid levels, with a correlation coefficient (r) of 0.344 (0.20-0.399) which Indicated an increase in BMI tends to be followed by an increase in uric acid levels. The results also showed a p- value of 0.021 (< 0.05), indicating a significant relationship between BMI and uric acid levels.
Efek Probiotik sebagai Terapi Adjuvan pada Pasien Depresi: Tinjauan Sistematis Ni Kadek Indah Melati; Ni Luh Kadek Alit Arsani; Ni Made Mirah Candrawati; Pande Bagus Andhika Maharthanegara; Tjokorda Prawira Putra Pemayun; I Komang Nirartha Nusaryanda
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.926

Abstract

Pendahuluan: Gangguan depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum di seluruh dunia dan sering kali bersifat kronis serta sulit ditangani secara tuntas. Dalam beberapa tahun terakhir, munculnya konsep hubungan antara mikrobiota usus dan otak (gut–brain axis) telah membuka peluang baru dalam terapi gangguan mood, termasuk penggunaan probiotik sebagai intervensi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis efek probiotik sebagai  terapi adjuvan pada penderita depresi. Metode: Tinjauan sistematis dilakukan dengan mengikuti pedoman PRISMA melalui pencarian literatur pada basis data PubMed dan Google Scholar. Artikel yang dianalisis adalah penelitian asli dalam rentang tahun 2015-2025 yang membahas mengenai efek probiotik sebagai terapi adjuvan pada pasien depresi. Pembahasan: Tujuh artikel yang dikaji menunjukkan bahwa bahwa penggunaan probiotik sebagai terapi adjuvan memiliki efek yang baik dalam penurunan gejala depresi berdasarkan skor BDI ataupun HAM-D. Efek probiotik akan optimal jika diberikan langsung bersamaan dengan obat antidepressan yang telah diresepkan oleh dokter. Simpulan: Penggunaan probiotik, selama minimal 6–8 minggu, dapat menurunkan skor gejala depresi (BDI, HAM-D) secara signifikan, sebagai terapi terapi adjuvan. Namun, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menentukan protokol strain, dosis, dan durasi yang paling optimal serta pemahaman lebih dalam mengenai mekanisme individual respon pasien.         Kata Kunci: probiotik, terapi adjuvant, depresi, sumbu otak-usus, mikrobiota usus
Hubungan Derajat Keparahan Akne Vulgaris dengan Tingkat Kepercayaan Diri pada Mahasiswi Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha Ni Kt. Selma Rigatiani Contana; Ni Putu Dewi Sri Wahyuni; Ni Luh Kadek Alit Arsani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.51725

Abstract

Wajah memiliki dampak besar pada penampilan visual, Akne vulgaris dapat mempengaruhi fungsi emosional, sosial, dan psikologis, serta kualitas hidup seseorang. Akne vulgaris merupakan peradangan kronis pada unit pilosebasea ditandai dengan komedo, papula, pustula, dan terkadang nodul atau kista, terutama pada wajah, dada, dan punggung. Di Indonesia, prevalensi akne juga cukup tinggi, terutama pada usia produktif, termasuk mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Akne vulgaris dengan tingkat kepercayaan diri pada mahasiswi. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional study. Responden yang dilibatkan sebagai sampel penelitian adalah 67 orang yang diambil menggunakan metode purposive sampling. Uji statistik menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Dari hasil penelitian ini berdasarkan hasil analisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman, diperoleh nilai koefisien korelasi (rₛ) = -0,311 dengan nilai signifikansi (p) = 0,011 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dengan kekuatan sedang dan signifikan secara statistik antara derajat akne vulgaris dan tingkat kepercayaan diri pada remaja. Kata Kunci: akne vulgarisi, kepercayaan diri, remaja.
PERAN HORMONAL TERHADAP TERJADINYA OSTEOARTHRITIS LUTUT PADA PEREMPUAN POST MENOPAUSE : SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: THE ROLE OF HORMONES IN THE DEVELOPMENT OF KNEE OSTEOARTHRITIS IN POSTMENOPAUSAL WOMEN: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Rosalia, Putu Clara; Dharmapala, Ekanova; Arsani, Ni Luh Kadek Alit
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 14 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v14i2.1026

Abstract

Osteoartritis (OA) lutut merupakan penyebab utama kecacatan pada usia lanjut, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan pascamenopause akibat penurunan estrogen. Defisiensi estrogen berperan dalam inflamasi, degradasi matriks tulang rawan, dan kerusakan tulang subkondral. Penelitian ini menggunakan systematic literature review (SLR) untuk menganalisis hubungan menopause dan perubahan hormonal dengan kejadian OA lutut. Literatur ditelusuri menggunakan pedoman PRISMA melalui PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect, dengan inklusi studi kohort, kasus-kontrol, atau potong lintang pada wanita pascamenopause ≥45 tahun, penelitian rentang tahun 2015-2025. Dari 226 artikel yang ditemukan, diperoleh 9 artikel yang memenuhi kriteria. 6 artikel menilai hubungan estrogen dengan OA, dimana 5 menunjukkan hubungan positif bahwa semakin rendah kadar estrogen, seperti pada menopause dini, maka progresivitas OA semakin meningkat. Sebaliknya, 1 artikel menunjukkan hubungan negatif, yaitu penggunaan terapi hormon (HT) dengan suplementasi estrogen dikaitkan dengan peningkatan risiko OA lutut. Selain itu, 2 artikel menyoroti peran Anti-Müllerian Hormone (AMH) sebagai biomarker deteksi dini OA, dan 1 artikel membahas peran Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dalam patofisiologi OA. Kesimpulannya, perubahan hormonal pada menopause, terutama defisiensi estrogen, rendahnya AMH, dan tingginya FSH, memiliki kontribusi penting terhadap patogenesis OA lutut.
Cognitive Function of the Elderly in Banjar Busana, Desa Sibanggede, Badung Regency: A Descriptive Study Harry Bawana; Ni Nyoman Mestri Agustini; I Gede Surya Dinata; Ni Luh Kadek Alit Arsani
WMJ (Warmadewa Medical Journal) Vol 9 No 1 (2024): May 2024
Publisher : Warmadewa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmj.9.1.8657.5-10

Abstract

Countries around the world are currently entering an aging population era, where the number of elderly individuals is increasing. In the elderly, there is a decline in intrinsic capacities such as physical, mental, and cognitive capacities, which hampers their functional abilities. Cognitive function impairment is an early stage of cognitive decline and is a risk factor for dementia, which significantly disrupts daily activities. Banjar Busana, Desa Sibanggede, is one of the banjars with a relatively large elderly population, totalling 117 individuals. However, data on the cognitive function profile in Banjar Busana, Desa Sibanggede, is not yet definitively available. This study aims to determine the cognitive function profile of the elderly in Banjar Busana, Desa Sibanggede, Badung Regency. The population of this study comprises all elderly individuals in Banjar Busana in 2023, totalling 117 people. The sample size was calculated using the formula by Dean et al., 2013, with a 95% confidence level, resulting in a sample size of 90 individuals. The sample was then selected using simple random sampling. Cognitive function was measured using the MoCA-INA questionnaire. The data were analyzed descriptively and quantitatively. The results showed that the majority of respondents were aged 60-69 years (59%), with more male respondents (51%) than female respondents (49%). Respondents experiencing cognitive function impairment amounted to 47%, while those without cognitive function impairment were 53%. It is recommended to provide more education to the community regarding the dangers of cognitive function impairment and preventive efforts.
Literature Review: Dampak Tersembunyi Sinar Biru pada Era Digital terhadap Keseimbangan Hormon dan Kepuasan Seksual Manusia Made Yuda Rindawan; Ni Luh Kadek Alit Arsani; Putu Masayu Cahyaning Lestari; Daud Hasangapon Karsen Purba; I Gusti Ayu Agung Adelia Maharani; I Gde Pramana Gangga Bendesa
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.758

Abstract

Paparan sinar biru (blue light) nokturnal di era digital dicurigai memiliki dampak tersembunyi melampaui disrupsi tidur. Tinjauan ini menguji hipotesis bahwa paparan kronis ini berfungsi sebagai disruptor endokrin berbasis perilaku, dengan fokus pada fisiologi reproduksi dan kesehatan seksual. Tujuan penelitian ini adalah memetakan jalur mekanisme paparan sinar biru terhadap hormon kunci (melatonin, kortisol, testosteron) dan mengevaluasi dampaknya pada kesehatan reproduksi serta libido. Pencarian sistematis (PubMed, Google Scholar) hingga Oktober 2025 dilakukan mengikuti pedoman PRISMA. Sebelas (11) studi—termasuk studi primer (RCT dan observasional) serta tinjauan sistematis/teoretis yang relevan—dianalisis secara naratif. Analisis menunjukkan bukti kausal (dari RCT) bahwa sinar biru secara signifikan menekan melatonin dan mendisregulasi sumbu HPA, yang ditandai dengan melemahnya Cortisol Awakening Response. Bukti lebih lanjut menghubungkan disrupsi sirkadian ini dengan sumbu HPG, termanifestasi sebagai deplesi testosteron (proksi restriksi tidur) dan akselerasi pubertas. Secara krusial, tidak ditemukan studi empiris primer yang secara langsung mengukur 'libido' atau 'kepuasan seksual' sebagai hasil akhir. Paparan sinar biru nokturnal harus dikonseptualisasikan sebagai disruptor endokrin berbasis perilaku. Penurunan libido bukanlah konsekuensi terisolasi, melainkan sequelae klinis (gejala lanjutan) yang logis dari disrupsi hormonal sistemik ini. Tinjauan ini mengidentifikasi kesenjangan bukti yang fundamental, yang mendesak perlunya investigasi empiris primer terhadap variabel psikoseksual dan reproduksi.