Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Praktik Akad Nikah Bagi Mempelai Tunawicara dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam Baihaqi, Achmad; Abadi, Said
AL-MANHAJ: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Syariah INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almanhaj.v3i2.1171

Abstract

The author is interested in researching the practice of the marriage contract with the bride and groom who have limitations in pronouncing the contract (impaired), from practice in the field it is often the case that the marriage contract of the non-verbal bride is carried out by a representative but without a clear power of attorney, it is not entirely wrong. Because sometimes both parties believe that there will be no dispute in the appointment of representatives. The bride and groom base the implementation of their marriage contract on the encouragement of the community, clerics, customs, and indeed an agreement between the two parties. The approach method used in this paper is a juridical-normative approach in the study of fiqh. A juridical approach by examining legal rules and a normative approach in the study of fiqh is used in analyzing problems that occur in society. For provisions that require the granting of power in writing, basically it is not stipulated in the book of fiqh. In fact, fiqh explicitly stipulates that it can be in the form of words (عبارة) or in written form. There is nothing wrong with the provisions stipulated by the Compilation of Islamic Law, which are promulgated, following the rules of al-maslahah al-mursalah which have been explained or the concept in the book of Bughyah al-Mustarsyidn which says that government decrees which are not forbidden by the Shari'a must be obeyed physically and mentally. If it is against the Shari'a, such as obliging something that is haram, then it is enough to obey outwardly. In article 17 paragraph (3) of the KHI which reads "For the prospective bride and groom who suffers from speech impairment or deafness, consent can be stated in writing or signs that can be understood," so without a power of attorney there is nothing wrong or allowed. What is clear is that the marriage is still valid, the KUA does not require the speech-impaired bride and groom to make or show a power of attorney.
TEKNIK APLIKASI Trichoderma Sp. TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) Baihaqi, Achmad; Nawawi, Mochammad; Abadi, Abdul Latief
Produksi Tanaman Vol. 1 No. 3 (2013)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari Penelitian ini ialah untuk mengetahui interaksi konsentrasi dan waktu aplikasi Trichoderma sp. terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang (Solanum tuberosum L.). Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cangar, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berada di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu pada ketinggian tempat 1650 mdpl. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) Faktorial yakni dengan dua faktor. Faktor pertama sebagai petak utama ialah konsentrasi Trichoderma sp. cair terdiri atas T1: konsentrasi 5 ml.l-1, T2: konsentrasi 10 ml.l-1. Faktor kedua sebagai anak petak ialah waktu aplikasi Trichoderma sp. cair terdiri atas W0: aplikasi sekali, W1: aplikasi 2 hari sekali, W2: aplikasi 4 hari sekali, W3: aplikasi 6 hari sekali, W4: aplikasi 8 hari sekali. Terdapat 10 perlakuan kombinasi dengan setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali dan diperoleh 30 petak percobaan. Berdasarkan hasil percobaan terdapat interaksi nyata antara konsentrasi Trichoderma sp. dan waktu aplikasi terhadap saat muncul serangan penyakit hawar daun, namun tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil umbi kentang. Hasil bobot umbi kentang tertinggi pada konsentrasi Trichoderma sp. 10 ml l-1 dengan waktu aplikasi delapan hari sekali (T2W4) ialah 2,34 ton ha-1.
Fenomena Jasa Nikah Siri di Masyarakat Indonesia: Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif Baihaqi, Achmad; Romadani, M. Alwi; Abdurrahim, Abdurrahim; Maisari, Nor; Maisarah, Siti; Liya, Siti Lavina
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : SPT. haria Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1755

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah memengaruhi praktik perkawinan di Indonesia, salah satunya melalui maraknya jasa nikah siri yang ditawarkan secara daring. Fenomena ini menimbulkan persoalan hukum dan sosial karena menggeser praktik nikah siri dari ranah privat ke ruang digital yang bersifat terbuka dan komersial. Artikel ini bertujuan menganalisis jasa nikah siri dalam perspektif Hukum Islam dan hukum positif Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian peraturan perundang-undangan dan literatur fikih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nikah siri dapat dipandang sah secara normatif dalam Hukum Islam apabila rukun dan syarat nikah terpenuhi, namun dalam hukum positif Indonesia pencatatan perkawinan merupakan kewajiban administratif yang menentukan pengakuan dan perlindungan hukum. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi antara Hukum Islam dan hukum positif yang berorientasi pada kemaslahatan guna menjamin kepastian dan perlindungan hukum dalam praktik perkawinan di era digital.
Keabsahan Wasiat Online Berbasis Rekaman di Era Artificial Intelligence (AI): Analisis Hukum Islam Dan Hukum Positif Baihaqi, Achmad; Mariani, Mariani
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : SPT. haria Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i1.1789

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong munculnya praktik wasiat online berbasis rekaman video maupun audio sebagai alternatif dari bentuk wasiat konvensional. Fenomena ini menghadirkan kemudahan dalam penyampaian kehendak terakhir seseorang, namun sekaligus menimbulkan persoalan hukum baru, terutama di era Artificial Intelligence (AI) yang memungkinkan manipulasi rekaman melalui teknologi deepfake dan voice cloning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keabsahan wasiat online berbasis rekaman ditinjau dari perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, serta menggunakan teknik studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hukum Islam, wasiat berbasis rekaman pada prinsipnya dapat diterima sebagai bentuk penyampaian kehendak selama keaslian (autentisitas) dan kejelasannya dapat dipastikan. Namun, apabila terdapat keraguan (syubhat), maka keabsahannya dapat gugur. Sementara itu, dalam hukum positif Indonesia yang mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, keabsahan wasiat sangat bergantung pada pemenuhan syarat formal, sehingga rekaman digital tidak secara otomatis diakui sebagai wasiat yang sah dan hanya berpotensi sebagai alat bukti tambahan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan hukum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi guna menjamin kepastian hukum serta perlindungan terhadap kehendak pewasiat dan hak-hak ahli waris.
Keabsahan Talak Dalam Kondisi Ighlaq: Reinterpretasi Hadis Melalui Pendekatan Maqasid Al-Syari‘ah Kontemporer Baihaqi, Achmad; Romadani, M. Alwi; Ruvita, Nia; Rahmaniah, Amelia
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : SPT. haria Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v4i2.1814

Abstract

Persoalan talak yang diucapkan dalam kondisi emosional telah lama menjadi perdebatan dalam khazanah hukum Islam. Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan hal tersebut adalah ighlāq, yang dipahami sebagai keadaan tertutupnya kesadaran akibat marah yang ekstrem. Artikel ini bertujuan untuk mereinterpretasi hadis tentang ighlāq melalui pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan konseptual melalui kajian literatur klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa talak dalam kondisi ighlāq tidak sepenuhnya dapat dinyatakan sah karena tidak terpenuhinya unsur kehendak sadar. Dalam perspektif maqāṣid, kondisi tersebut bertentangan dengan prinsip perlindungan akal (ḥifẓ al-‘aql) dan perlindungan keluarga (ḥifẓ al-nasl). Oleh karena itu, keabsahan talak tidak cukup didasarkan pada ucapan formal, tetapi juga harus mempertimbangkan kesadaran dan kualitas kehendak pelaku. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan pendekatan hukum keluarga Islam yang lebih substantif.