Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Hubungan Pekerjaan dan Jarak Pelayanan Kesehatan terhadap Peningkatan Kasus Penyakit Hepatitis B pada Ibu Hamil : Employment Relationship and Health Service Distance to Increase in Hepatitis B Cases in Pregnant Women L.O, Elsi Setiandari; Widyarni, Ari; Noorhidayah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.303 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v4i4.1865

Abstract

Hepatitis B merupakan salah satu jenis penyakit menular dan tergolong berbahaya di dunia, jumlah penderita hepatitis B di dunia diperkirakan 350 juta, prevalensi rata-rata hepatitis B di Indonesia adalah 10%, dengan variasi antara 3,4-20,3% di setiap area. Infeksi hepatitis B kronis ditemukan pada sekitar 90% bayi yang terinfeksi sejak lahir, 25-50% anak terinfeksi dalam 1-5 tahun. Penularan virus hepatitis B dapat terjadi melalui paparan darah dan cairan tubuh dari pasien yang terinfeksi hepatitis B. Jenis Penelitian merupakan penelitian kuantitatif dan rancangan non eksperimental, data yang dikumpulkan menggunakan desain cross sectional. Jumlah responden yang diteliti sebanyak 40 orang. Uji statistik yang digunakan dalam analisis data adalah uji chi square. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari ketiga variabel bebas yang diteliti terdapat hubungan yang signifikan p = 0,000 (p <0,05). Lingkungan dan sanitasi tempat tinggal yang sangat padat menjadi mudah penularan penyakit Hepatitis B. Tingginya Pendidikan pada ibu hamil dan banyaknya ibu hamil yang bekerja membuat mereka malas dan malu untuk melakukan kunjungan ibu hamil ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat sehingga terjadinya penemuan kasus penyakit Hepatitis B pada ibu hamil serta Jauhnya jarak tempuh menuju fasilitas pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau.
Hubungan Pengetahuan, Pekerjaan dan Genetik (riwayat hipertensi dalam keluarga) Terhadap Perilaku Pencegahan Penyakit Hipertensi: Knowledge, Work and Genetic Relationship (family history of hypertension) to Hypertensive Disease Prevention Behavior Elsi Setiandari L.O
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 4 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.35 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v5i4.2386

Abstract

Latar Belakang: Penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah 140 mmHg (tekanan sistolik) dan atau 90 mmHg (tekanan diastolik). Hipertensi sering disebut sebagai silent killer atau the silent disease, karena pada umumnya penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksa tekanan darahnya. Orang yang mengidap hipertensi hanya satu-pertiga mencapai target darah yang optimal/normal. Metode: Jenis Penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan non eksperimental, data yang dikumpulkan dengan desain “cross sectional. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Accidental Sampling, besar sampel yang di gunakan peneliti dalam penelitian ini adalah sebesar 106 responden. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square. Hasil: Dari ketiga variabel bebas yang diteliti terdapat hubungan yang signifikan, Dari hasil uji statistik menunjukan bahwa perilaku pencegahan hipertensi yang baik berdasarkan pengetahuan responden p value 0,028, berdasarkan pekerjaan p value 0,002, responden yang ada riwayat keluarga (genetik) menderita hipertensi p value 0,005. Kesimpulan: Dari seluruh responden yang diteliti lebih dari separuh (67,9%) yang tidak melakukan pencegahan terhadap penyakit hipertensi. Keluarga yang memiliki riwayat penyakit hipertensi akan semakin dominan terkena hipertensi. Diharapkan kepada seluruh anggota keluarga untuk senantiasa melakukan upaya perilaku pencegahan terhadap penyakit hipertensi.
Hubungan Faktor Fisiologis, Keamanan Kerja dan Penghargaan terhadap Kinerja Petuas Kesehatan : The Relationship of Physiological Factors, Work Safety and Rewards to the Performance of Health Administrators Noorhidayah; Elsi Setiandari Lely Octaviana
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 2 (2023): February 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i2.3078

Abstract

Latar belakang: Sehubungan dengan pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia serta keberhasilan suatu organisasi dapat diukur melalui kualitas kinerja pegawai. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan diperoleh hasil yaitu, di dalam menyelesaikan pekerjaan terdapat beberapa pegawai yang rangkap jabatan serta beberapa pekerjaan yang diberikan oleh pimpinan terkadang membuat petugas harus segera menyelesaikan dalam waktu yang bersamaan. Lokasi dan jarak tempuh menuju tempat kerja serta insentif yang diberikan kepada pegawai selama ini sudah sesuai dan cukup, tetapi untuk insentif yang diberikan kepada petugas kesehatan yang masih tenaga honorer dan kontrak dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya masih belum cukup. Hal tersebut dapat mempengaruhi dan menjadi beban kerja petugas kesehatan. Tujuan: Menganalisis faktor yang berhubungan dengan fisiologis, keamanan kerja dan penghargaan terhadap kinerja petuas kesehatan di Puskesmas. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan desain cross sectional pada petugas di Puskesmas. Analisis data secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil: Ada hubungan fisiologi dan keamanan kerja dengan kinerja nilai signifikan (p-value = 0,000) dan Tidak ada hubungan penghargaan dengan kinerja petugas kesehatan dengan nilai signifikan (p-value = 0,221 ). Saran: Diharapkan kepada pimpinan dan petugas puskesmas dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) agar dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tetap memperhatikan dan menjalankan pekerjaan sesuai dengan standar operasional prosedur SOP yang berlaku di Puskesmas
Analisis Hubungan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI terhadap Status Gizi Baduta di Wilayah Kerja Kelurahan Sungai Andai Banjarmasin Utara Ari Widyarni; Netty Netty; Husnul Khatimatun Inayah; Elsi Setiandari Lely Octaviana; Noorhidayah Noorhidayah; Eka Handayani
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 12, No 2 (2025): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (DESEMBER)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v12i2.21267

Abstract

Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992 pasal 17 ayat 2 yang mengatur penyelenggaraan kesehatan anak, menyebutkan peningkatan kesehatan anak dilakukan sejak dalam kandungan, masa bayi, masa Baduta, usia prasekolah dan usia sekolah. Prevalensi kurang gizi di Kalimantan masih tinggi, pada tahun 2022, tercatat sebanyak 1,51% Baduta gizi buruk dan sebanyak 13,38% Baduta gizi kurang. Persentase status gizi Baduta Kota Banjarmasin pada tahun 2022/2023 tercatat sebesar 2,48% Baduta gizi buruk, 28,09% Baduta gizi kurang dan 6,22% Baduta dengan gizi lebih. Jumlah Baduta yang dinyatakan gizi buruk di Kota Banjarmasin pada tahun 2024 mencapai 113 Baduta, sehingga perlu diadakan perbaikan status gizi, salah satunya yaitu dengan memperhatikan pemberian makanan bayi atau Baduta dengan tepat dan sesuai kebutuhan mereka. Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dan sampel adalah ibu yang memiliki Baduta berumur 6-24 bulan dengan besar sampel sebanyak 114 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, hasil pengumpulan data dianalisis statistik univariat dan bivariat dengan uji Chi Square Test dengan nilai signifikansi (α) 0,05. Hasil penelitian didapatkan karakteristik berdasarkan umur sebagian besar responden berumur 30-34 tahun sebanyak 30,7% serta umur Baduta terbanyak pada umur 13-24 bulan sebanyak 64%. Analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat konsumsi energi dalam kategori defisit yaitu sebesar 49,1%, sebagian besar tingkat konsumsi protein dalam kategori baik sebesar 42,1% dan sebagian besar Baduta dengan status gizi baik sebesar 50,8%. Analisis bivariat menunjukkan hasil bahwa ada hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI menurut tingkat konsumsi energi dengan status gizi Baduta (p-value = 0,027) dan ada hubungan antara pola pemberian MP-ASI menurut tingkat konsumsi protein dengan status gizi Baduta (p-value = 0,001). Diharapkan bagi pemegang kepentingan melakukan program pemberian MP-ASI secara tepat sesuai dengan kebutuhan Baduta dan bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor-faktor lain yang belum diteliti dalam penelitian ini yang berhubungan dengan status gizi Baduta.
Analisis Implementasi Kebijakan Rekam Medis Elektronik (RME) di Puskesmas Cempaka Kota Banjarmasin Tahun 2025 Cahaya, Rojib Bakti Alphalah Ilham; Hayati, Ridha; Mahmudah; LO, Elsi Setiandari; Yusida, Hikmah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 2 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i2.867

Abstract

Pendahuluan: Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di Puskesmas Cempaka Kota Banjarmasin di hadapkan dengan berbagai kendala antara lain dari segi sumber daya manusia dan sarana prasarana sistem dan aplikasi. Tujuan: menganalisis Implementasi Kebijakan Rekam Medis Elektronik (RME) di Puskesmas Cempaka Kota Banjarmasin berdasarkan faktor komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil: Penelitian menunjukan bahwa komunikasi yang efektif melalui pertemuan resmi atau lokakarya mini (lokmin) sangat berperan dalam kesuksesan implementasi RME di Puskesmas Cempaka Kota Banjarmasin, meskipun ada tantangan terkait pemahaman pasien mengenai RME belum merata. Keterlibatan pegawai terlihat solid, masih terdapat kekurangan dalam hal sumber daya, seperti aplikasi BPJS, sistem E-pus atau jaringan internet serta dalam hal dukungan pelatihan yang memadai atau berkelanjutan dan belum adanya tenaga IT yang langsung berada di Puskesmas. Disposisi positif staf terhadap penggunaan RME menunjukan potensi keberhasilan, meskipun masih perlu perbaikan dan peningkatan dalam integrasi data atau sistem dan pelatihan. Struktur birokrasi dari SOP dan struktur organisasi juga merupakan suatu hal yang penting dalam keberhasilan implementasi RME. Simpulan: dari penelitian ini merekomendasikan peningkatan dalam sistem E-pus, aplikasi BPJS dan jaringan internet serta peningkatan dari Sumber Daya dan pengadaan pelatihan secara berkelanjutan serta pengadaan tenaga IT yang langsung berada di Puskesmas sangat mendukung untuk efektivitas implementasi RME di Puskesmas Cempaka Kota Banjarmasin.
Factors Associated with the Nutritional Status of Pregnant Women in Banjarmasin City: A Cross-Sectional Analytical Study Ari Widyarni; M. Bahrul Ilmi; Netty Netty; Elsi Setiandari Lely Octaviana; M. Febriza Aquarista; Edy Ariyanto; Husnul Khatimatun Inayah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 3 (2026): March 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i3.8925

Abstract

Introduction: The nutritional status of pregnant women is a critical indicator of maternal and fetal health. Chronic Energy Deficiency (CED) during pregnancy increases the risk of obstetric complications, low birth weight, stunting, and contributes indirectly to maternal mortality. Indonesia continues to report one of the highest maternal mortality ratios in Southeast Asia. This study aimed to analyze factors associated with the nutritional status of pregnant women in Banjarmasin City. Methods: This analytical cross-sectional study involved 100 pregnant women selected using accidental sampling. Nutritional status was assessed based on mid-upper arm circumference (MUAC), with MUAC <23.5 cm indicating CED. Independent variables included maternal knowledge, parity, maternal age, and toothbrushing habits. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. Effect sizes were reported as prevalence ratios (PR) with a significance level of 0.05. Results: The prevalence of CED among pregnant women was 52%. The majority of respondents had low levels of knowledge (59%), risk parity (88%), risk maternal age (63%), and bad toothbrushing habits (58%). Bivariate analysis showed significant associations between maternal knowledge (PR=2.08; p=0.001), maternal age (PR=1.59; p=0.012), and toothbrushing habits (PR=1.95; p=0.000) with nutritional status. Parity was not significantly associated with nutritional status (p=0.076). Conclusion: Maternal knowledge, age, and toothbrushing habits were significantly associated with the nutritional status of pregnant women in Banjarmasin City. Strengthening nutrition education and healthy lifestyle behaviors through Posyandu services and antenatal education programs is essential to prevent CED and improve maternal and fetal health outcomes.
Training on Preparing a Balanced Nutritional Food Menu During Fasting for Cheerful Mutiara Cadres of Sungai Andai, Banjarmasin City Widyarni, Ari; Octaviana, Elsi Setiandari Lely; Ilmi, M. Bahrul; Ariyanto, Edy; Netty, Netty; Inayah, Husnul Khatimatun; Noorhidayah, Noorhidayah; Aquarista, M. Febriza
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/r2qm7b25

Abstract

Fasting is practiced by Muslims, especially during the month of Ramadan. Fasting is believed tohave numerous benefits and is a form of therapy (fasting therapy) for curing several degenerativediseases. People in Banjarmasin City often eat foods high in fat and sugar during fasting, andmany use excessive amounts of food coloring and flavoring. Lack of knowledge about healthyeating habits during fasting is a factor that can affect health. This has resulted in an increase indegenerative diseases such as hypertension, cholesterol, heart disease, and diabetes mellitus. Thiscommunity service program aims to improve the knowledge and skills of mothers, who play a rolein providing food for their families and developing nutritious diets, based on the awareness of theimportance of balanced nutrition according to the "isi piringku" guidelines established to reducethe morbidity rate of degenerative diseases. The implementation method includes a pretest,nutrition education, and training in developing balanced nutritional menus during fasting,followed by a posttest to measure the success of the activity. The community service programinvolved mothers from the Mutiara Ceria Integrated Health Post (Posyandu) and several elderlypeople at risk of developing degenerative diseases. The results showed an increase in knowledgeabout balanced nutrition, from 17% to 82%. The skills of cadres can be improved through trainingin preparing balanced nutritional meals during fasting. Optimizing health and nutrition education,especially regarding food menus during fasting, thereby increasing public understanding andawareness in preventing degenerative diseases and improving public health status.