Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI FUROSEMID PADA JAMU PELANGSING YANG BEREDAR DI PASAR TENGAH DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) Nofita Nofita; Niken Feladita; Aldono Fantoro
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.868 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1168

Abstract

Jamu pelangsing merupakan salah satu obat tradisional yang ada di Indonesia yang memiliki khasiat untuk menurunkan berat badan. Dari populasi sampel jamu pelangsing yang berada di Pasar Tengah ada kemungkinan penambahkan bahan  kimia obat (BKO). Berdasarkan Permenkes No. 007 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat, obat tradisional dilarang mengandung bahan kimia obat (BKO). Di dalam jamu pelangsing diduga ditambahkan  BKO furosemid yang berkhasiat sebagai diuretik/pelancar air seni. Identifikasi furosemid pada sampel jamu pelangsing yang beredar di Pasar Tengah yaitu sampel A, B, C, D, dan E menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT merupakan metode pemisahan campuran analit dengan mengelusi analit melalui suatu lempeng kromatografi lalu melihat analit yang terpisah dengan penyemprotan dan visualisasi dibawah sinar ultraviolet. Untuk menarik kesimpulan dapat dilihat dari warna bercak dan selisih antara angka Rf sampel dengan Rf baku pembanding.  Dari hasil pengujian terhadap lima sampel jamu pelangsing, terdapat tiga sampel yang mengandung BKO furosemid, yaitu sampel A, B, dan E. Kata Kunci : jamu pelangsing, furosemid, KLT
PENGARUH MASSA DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK INDUSTRI RUMAH TANGGA SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV Niken Feladita; Nofita Nofita; Tyas Putri Wulandari
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.81 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i2.1173

Abstract

Kafein adalah salah satu alkaloid yang banyak terdapat pada biji kopi, daun teh, dan biji coklat. Pada pria maupun wanita dewasa asupan maksimal kafein kedalam tubuh yaitu 400 mg. Kelebihan mengkonsumsi kafein dapat menyebabkan gangguan pencernaan, insomnia, kegelisahan, dan ketidakterarturan detak jantung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar kafein dalam kopi bubuk industri rumah tangga yang biasa diminum masyarakat Perumahan Karunia Indah Bandar Lampung. Dengan memvariasikan massa dan waktu penyeduhan yaitu 3, 4,5, dan 6 gram masing-masing selama 5,7, dan 10 menit untuk melihat ada atau tidak nya peningkatan yang dipengaruhi oleh massa dan waktu penyeduhan tersebut. Pengukuran kadar kafein ditentukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV dengan panjang gelombang 274nm. Didapatkan kadar kafein dari bubuk kopi industri rumah tangga dengan massa Sampel 3 g yang diseduh selama 5, 7, 10 menit yaitu, 1,66 %, 4,67%, 5,42%. Sampel 4,5g yang diseduh selama 5, 7, 10 menit yaitu, 3,52%, 3,78%, 5,25%. Sampel 6g yang diseduh selama 5, 7, 10 menit yaitu, 3,32%, 3,66%, 5,89%. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa semakin banyak massa dan semakin lama waktu penyeduhan maka kadar kafein semakin besar. Kata kunci : Kopi, Kafein, Spektrofotometri UV
PENETAPAN KADAR KADMIUM (Cd) PADA WORTEL YANG DITANAM DI DAERAH LIWA SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM DETERMINATION OF CADMIUM CONTENT IN CARROTS GROW IN THE AREA OF LIWA WITH ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETRY Nofita Nofita; Annisa Primadiamanti
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 2 (2018): Volume 3 Nomor 2
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.753 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i2.2786

Abstract

Wortel sering kali diberi pestisida dan pupuk kimia agar hasil panen bagus dankualitasnya baik. Pupuk dan pestisida yang digunakan secara berlebihan akanmenjadi sumber cemaran logam berat seperti kadmium (Cd)bagi wortel tersebut.Badan Standardisasi Nasional telah menetapkan batas maksimum cemaran kadmium dalam sayuran berupa umbi yaitu 0,2 mg/kg.Toksisitas kronis Cd bisa merusak sistem fisiologis tubuh, antara lain sistem urinaria, respirasi, sirkulasi darah dan jantung, juga mengakibatkan kerapuhan tulang. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai penetapan kadar kadmium pada wortel yang ditanam di daerah Liwa_ secara spektrofotometri serapan atom dengan tujuan untuk mengetahui apakah kadar kadmium dalam wortel didaerah tersebut memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh badan standardisasi nasional.Metode spektrofotometri serapan atom dalam analisis logam memiliki beberapa keunggulan yaitu akurat, sensitif dan cepat. Sebelum dapat dianalisis terlebih dahulu dilakukan preparasi sampel, sampel diubah menjadi abu menggunakan tanur pada suhu 250°C sampai 500°C agar zat organik yang terdapat dalam sampel dapat lebur dan tersisa logam yang akan dianalisis. Abu putih hasil preparasi kemudian dilarutkan dengan HNO; 1%.Setelah itu larutan sampel dapat langsung dianalisis menggunakan spektrofotometri serapan atom. Dari hasil penelitian kadar rata- rata kadmium dalam wortel A  sebesar 0,0338 mg/kg dan wortel B sebesar 0,0348 mg/kg. Maka dapat disimpulkan kadar kadmium dari wortel yang ditanam di Daerah Liwa memenuhi persyaratan yaitu kurang dari 0,2 mg/kg.Kata kunci: Kadmium (Cd), Logam Berat, Spektrofotometri Serapan Atom, Wortel
PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT PADA PEMBERSIH WAJAH (FACIAL FOAM) YANG DI JUAL DI PASAR TENGAH BANDAR LAMPUNG DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE Nofita Nofita; Gusti Ayu Rai Saputri; Atika Septiani
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 1 (2018): Volume 3 Nomor 1
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.983 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i1.2775

Abstract

Pembersih wajah (Facial foam) adalah sabun muka yang teksturnya halus. Fungsi utama untuk membersihkan kotoran (debu, sisa kosmetik) fungsi lainnya tergantung varian dan merk (ada yang untuk mengurangi minyak, mencerahkan, anti jerawat, dan lain-lain). Salah satu senyawa yang sering ditambahkan ke dalam facial foam adalah asam salisilat. Asam salisilat merupakan zat anti acne sekaligus keratolitik yang lazim diberikan secara topikal. Berdasarkan keputusan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.00.05.42.1018 Tahun 2010 tentang kosmetik, asam salisilat dipergunakan dalam kosmetik dengan kadar maksimum 2%. Telah dilakukan penelitian penetapan kadar asam salisilat pada pembersih wajah (facial foam) yangdi jual di Pasar Tengah Bandar Lampung dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah lima sampel, dengan kriteria pembersih wajah (facial foam) yang tidak mencantumkan kadar asam salisilat pada produk kosmetika pembersih wajah tersebut. Penelitian penetapan kadar asam salisilat menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 533 nm. Dari hasil penelitian didapatkan kadar rata-rata : A mendapat kadar rata-rata 0,014 0/0, sampel B mendapat kadar rata-rata 0,0097 %, sampel C mendapat kadar rata-rata 0,0042 0/0, sampel D mendapat kadar rata-rata 0,0058 %, dan sampel E mendapat kadar rata-rata 0,0016 0/0. Kelima sampel tersebut masih memenuhi syarat perizinan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.00.05.42,1018 Tahun 2010. Kata Kunci : Asam Salisilat, Pembersih Wajah (Facial Foam), Spektrofotometri UV-VIS
PERBANDINGAN KADAR ZAT BESI (Fe) PADA BAYAM HIJAU DAN BAYAM MERAH YANG DIJUAL DI PASAR SMEP BANDAR LAMPUNG SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM Nofita Nofita; Robby Candra Purnama; Mochammad Arief Hidayat
Jurnal Analis Farmasi Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.779 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v6i1.5491

Abstract

Bayam merupakan sayuran hijau yang tumbuh sepanjang tahun, bayam yang dijual di pasaran dan biasa dikonsumsi dikenal bayam hijau dan bayam merah. Bayam banyak dikonsumsi karena banya mengandung zat besi (Fe). Zat besi berguna untuk mencegah anemia. Masyarakat masih menganggap bayam merah yang masih musiman lebih banyak mengandung zat besi dari pada bayam hijau yang bisa ditemui kapan saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan signifikan antara bayam hijau dan bayam merah. Sampel didapatkan dari Pasar Tradisional Di Bandar Lampung yaitu Pasar Smep. Sampel dilakukan secara random, sampel yang digunakan sebanyak dua sampel. Sampel yang akan dianalisa terlebih dahulu dipreparasi. Instrumen yang digunakan untuk analisa zat besi yaitu Spektrofotometri Serapan Atom SHIMADZU AA-7000 dengan didapat panjang gelombang 248,44 nm. Didapat persamaan regresi linear y = 0,105456x + 0,002378 dengan nilai koefisien korelasi (r) = 0,9999. Kadar rata-rata zat besi pada bayam hijau 0,0740 mg/100g dan rata-rata zat besi pada bayam merah 2,0744 mg/100g. Dari perhitungan uji t didapat thitung= 6,6744 yang dibandingkan dengan ttabeldengan taraf kepercayaan 99% yaitu 4,60. Jika thitunglebih besar dari ttabelmaka Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak dan terdapat perbedaan signifikan antara bayam hijau dan bayam merah yang dijual di Pasar Smep Bandar Lampung.Dengan demikian, kadar Fe bayam merah lebih besar dari bayam hijau.Kata kunci : Fe, bayam hijau, bayam merah, spektrofotometri serapan atom
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAUN SUKUN BASAH DAN KERING TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLIMENGGUNAKAN METODE CAKRAM Agustina Retnaningsih; Nofita Nofita; Nur Hasanah
Jurnal Analis Farmasi Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.603 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v5i2.4087

Abstract

Tanaman sukun (Artocarpus altilis) merupakan bahan alam Indonesia yang selama ini dikenal memiliki khasiat obat.Daun sukun mengandung senyawa yang bersifat antibakteri seperti flavonoid, tanin dan saponin.Pemanfaatan daun sukun dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti diare, sariawan dan keputihan.Escherichia colimerupakan bakteri penyebab diare.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol daun sukun basah dan kering terhadap bakteri Escherichia colimenggunakan metode cakram.Daun sukun di ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%.Konsentrasi ekstrak daun sukun yang digunakan 20%,40%,60%,80% dan 100%. Antibiotik sebagai kontrol positif yang digunakan yaitu Kloramfenikol.Penelitian ini mengunakan metode cakram dengan mengukur zona bening disekitar kertas cakram sebagai zona hambat zat uji terhadap bakteri pertumbuhan bakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak daun sukun kering pada konsentrasi 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli sebesar 8,28mm dan pada daun sukun basah tidak menghambat pertumbuhan bakteri. Kesimpulan yang didapat ekstrak daun sukun kering memiliki aktivitas antibakteri khususnya Escherichia coli.Kata kunci : Daun Sukun (Artocarpus altilis), bakteri Escherichia coli,zona hambat
ANALISIS KANDUNGAN NATRIUM NITRIT PADA DAGING SAPI OLAHANDENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Ade Maria Ulfa; Nofita Nofita; Anisa Lutfiana
Jurnal Analis Farmasi Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.731 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v5i2.4077

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang analisis kandungan natrium nitrit pada daging sapi olahan dengan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini menggunakan empat sampel daging sapi olahan yang diperoleh dari online shopesecara Purposive Samplingsehingga diperoleh sampel B, C, K dan S. Untuk mengetahui adanya natrium nitrit dalam daging sapi olahan dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif. Pada pengujian kualitatif dengan metode reaksi pengendapan menggunakan baku pembanding didapat endapan kristalin putih, dan diperoleh hasil bahwa semua sampel mengandung pengawet natrium nitrit. Pada penetapan kadar natrium nitrit dengan metode Spektrofotometri UV-Visibel. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi antara asam sulfanilat oleh asam nitrit yang diikuti reaksi pengikat dengan naftilendiamin membentuk suatu senyawa yang berwarna dan diukur absorbansinya padapanjang gelombang maksimum 545 nm, diperoleh persamaan garis regresi linier yaitu Y = 0,7538 . X -0,0050 dengan koefisien korelasi (r) yaitu 0,99989. Kadar rata-rata natrium nitrit dari sampel B 1,81 mg/kg, sampel C 0,85 mg/kg, sampel K 0,38 mg/kg, dan sampel S 2,19 mg/kg. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari keempat sampel tersebut diperoleh hasil yang memenuhi batasmaksimum penggunaan natrium nitrit sesuai dengan Peraturan Kepala BPOM RI Nomor 36 Tahun 2013 yaitu sebesar 30 mg/kg.Kata kunci :Natrium nitrit, daging sapi olahan, reaksi pengendapan,Spektrofotometri UV-Vis.
UJI STABILITAS ASETOSAL BENTUK SEDIAAN TABLET DAN TABLET SALUT ENTERIK Annisa Primadiamanti; Nofita Nofita; Davit Muhamad Muslim
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.069 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1162

Abstract

Uji stabilitas merupakan salah satu parameter kualitas dan dilakukan untuk mengetahui kemampuan suatu produk obat untuk bertahan dalam batas spesifikasi yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan. Suhu dan waktu penyimpanan termasuk faktor yang mempengaruhi stabilitas obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya penurunan kadar asetosal sediaan tablet dan tablet salut enterik terhadap pengaruh suhu selama periode waktu tertentu. Dengan pengaruh faktor suhu dan waktu. dengan menggunakan dua sampel, sampel A (tablet) dan Sampel B (tablet salut enterik), faktor suhu yaitu 600C, periode waktu yaitu 24 jam. Analisis kadar menggunakan metode spektrofotometri UV. Hasil peneltian didapat lmaks 228nm, dan nilai a=-0,0331, b=0,06805 dan r=0,09979 dengan hasil kadar sebelum dan sesudah perlakuan sebesar A=94,45±1,1568%, A’=76,47±0,9295% dan B=104,54±0,4728%, B’=88,81±0,3722%. Kadar asetosal yang didapat setelah perlakuan penyimpanan pada suhu 600C selama 24 jam baik bentuk sediaan tablet ataupun tablet salut enterik keduanya sudah tidak memenuhi persyaratan FI IV, dengan persentase penurunan sebesar A=19,04% dan B=15,05,%. Katakunci : Stabilitas, Suhu, Penyimpanan, Asetosal, Tablet, Tablet Salut Enterik 
PENETAPAN KADARNATRIUM(Na)dan KALIUM (K)PADA DAGING SAPI SEGAR SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM Nofita Nofita
Jurnal Analis Farmasi Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.049 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v5i1.3978

Abstract

Daging sapi merupakan salah satu sumber Na dan K, ketidakseimbangan Na dan K berperan pada kenaikkan tekanan darah (Hipertensi). Hipertensi adalah gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen terhambat sampai kejaringanyang membutuhkannya. Konsumsi Na dan K dibatasi2400 mg perhari. Pemotongan daging sapi dapat dibedakan dari bagian paha belakang, paha depan, has dalam dan has luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa kadar Na dan K pada beberapa bagian daging sapi. Penetapan kadar Na dan K pada daging sapi dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom Shimadzu AA-7000, untuk Na dilakukan penetapan kadar pada panjang gelombang Na 589,0 nm dan diperoleh persamaan regresi Y= 0,8147x+ 0,1475 dengan koefisien korelasi r = 0,9993. Penetapan kadar K pada panjang gelombang 766,5 nm dan diperoleh persamaan regresi Y = 0,3520 x-0,0086 dengan koefisien korelasi r = 0,9997. Kadar rata-rata Kpada sampel HD 266,30 mg/100g, PB 293,25 mg/100g, PD 298,21 mg/100g dan HL 302,94 mg/100g dan untuk kadar rata-rata Na sampel HD 88,84 mg/100g, PB 107,55 mg/100g, PD 95,13 mg/100g dan HL 90,80 mg/100g. sehingga dapat disimpulkan sampel bagian PB memiliki kadar Na lebih dari 93 mg dan kadar Kdiperoleh kadar dibawah 378 mg sehingga tidak memenuhi syarat yaitu setiap 100 g daging sapi mengandung Na kurang dari 93 mg dan K lebih dari 378 mg.Kata kunci :Daging Sapi, Natrium, Kalium, Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)
IDENTIFIKASI VITAMIN B1 PADA JAMU PENGUAT TUBUH YANG BEREDAR DI BANDAR JAYA SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Nofita Nofita; Niken Feladita
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.347 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i4.2140

Abstract

Pengobatan tradisional merupakan upaya yang diselenggarakan dengan cara tradisional untuk meningkatkan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitative). Pengobatan tradisional yang masih banyak diminati masyarakat adalah dengan meminum jamu. Salah satunya, jamu penguat tubuh. Jamu penguat tubuh biasanya diindikasikan untuk memelihara stamina kesehatan, atau daya tahan tubuh, serta menyegarkan badan. Agar produk yang dihasilkan dapat laku dengan keras dalam persaingan, perdagangan suatu industri obat tradisional mungkin menambahkan bahan kimia obat vitamin B1 dalam jamu penguat tubuh, karena akan memberikan efek yang lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya vitamin B1 yang terdapat dalam jamu yang beredar di daerah Bandar Jaya. Penelitian dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) karena metode ini memberikan fleksiblitas yang lebih besar dalam pemilihan fase gerak,memerlukan waktu yang relatif singkat, mudah dilakukan dan biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah. KLT merupakan proses pemisahan senyawa berdasarkan perbedaan kepolarannya, penelitiaan ini menggunakan fase gerak berupa campuran air : piridina : ammonia : methanol : asam asetat glassial (6:6:5:1:1) dan fase diamnya silica gel GF 254nm. Diperoleh hasil denga selisih harga Rf ≤ 0,05 Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua sampel jamu penguat tubuh positif mengandung BKO Vitamin B1,dan tidak memenuhi syarat peraturan Menteri Kesehatan nomor 006 Tahun 2012, pada pasal 37 .Kata Kunci : Jamu Penguat, Vitamin B1, KLT
Co-Authors Ade Maria Ulfa Aldono Fantoro Alexander Zultoni Angga Saputra Yasir Angga Saputra Yasir Anike Putri Anisa Lutfiana Anjar Jaulin Aprilia Indah Sijabat Arini Susanti Atika Septiani Aulia Fitri Handayani Siregar Aulia Gita Wardhani Bella Afni Ganis Berliana Nadila Bonita Bian Tiara Putri Chusairil Pasa Chusairil Pasa Cicih Ratnasari Clarissa Agie Novilda David Desbrianto davit muhamad muslim Davit Muhamad Muslim Deby Amabel Dhika Azzahra Diah Evita Diah Ningrum Uli Rosidah Dimas Ramadhan Dwi Wijaya Efrida Warganegara Eka Setia Ningsih Elviana Noerdianningsih Erviana Ekasari Farikha Nur Azizah Febi Dian Nadera Fitri Rohana Gusti Ayu Rai Saputri Gusti Ayu Rai Saputri Gusti Ayu Saputri Hesi Arista Ibnu Fajar Isnaini Hatta Putri Linda Safitri Luciana Cindy Maharani Lukman Diarto Mahathir Farhan Muhammad Maria Ulfa, Ade Martianus Perangin Angin Martianus Perangin Angin Mashuri Yusuf Mega Ayuning Phakerti Mochammad Arief Hidayat Niken Feladita Niken Feladita Santoso NUR HASANAH nurmalasari, yesi Pipit Apriani Primadiamanti, Annisa Purnama, Robby Candra Rahayu Septia Ayuni Randi Wahyu Ariska Restu Septia Ningsih Retnaningsih, Agustina Rica Novia Sari Risna Dayanti Rizka Damei Yanti Rizky Hidayaturahmah Ruth Sri Agus Murniningsih Selvi Marcellia Shinta Shinta Siti Aisyah Istiqomah Sriana Sriana Supardi Supardi Tantri Super Tiwi Tiara Veronica Inezia Tutik Tutik Tya Garini Tyas Putri Wulandari Vivit Millani Putri Wahyuni Wahyuni Winahyu, Diah Astika Wira Irawan Yuliana Yuliana Yunitauly Hutagalung